Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Mengacuhkan Lusi


__ADS_3

"Lusi? Kenapa Elu ada di sini?" cecarku setelah melihat jelas wajahnya.


"Eh, itu, gue bantuin bawa barang-barang hantaran ini."


"Ada apa ini? Kenapa dibawa ke sini itu barangnya?" Mami tergopoh menghampiri kami bertiga. Beliau mungkin mendengar suara benda yang terjatuh tadi.


"Tadi disuruh panitia, Tante. Jadi, saya bawa masuk."


"Gak usah repot-repot! Besok dibawa ke apartemen kok. Masukkan ke mobil keluarga saja, ya! Tante lupa bilang kalau hantarannya dibawa ke apartemen Wulan." Lusi mengernyit heran mendengar ucapan Mami.


"Wulan sudah punya apartemen? Apa tinggal di apartemen Elu, Mar?" Dasar ini orang, mau tahu saja urusan orang lain.


Aku menarik lengan Wulan agar pergi dari sana. Tak kugubris pertanyaan darinya. Aku malas meladeninya, bisa-bisa Zayn kembali berbuat ulah. Biarkan saja Lusi berhadapan dengan Mami.


"Dia suka sama kamu, kenapa kamu cuek begitu sama dia?" pertanyaannya membuat kakiku berhenti melangkah. Aku berbalik arah, menatap bola matanya lekat.


"Memangnya kenapa kalau dia suka sama aku? Kamu cemburu ya?"


"Hah? Ya enggak dong, ngapain harus cemburu." Dia pergi meninggalkan aku seorang diri.


"Wulan!" Dia tidak berhenti malah semakin cepat melangkah pergi ke kamarnya.


"Hahaha, dasar cewek. Gue tahu kalau Elu mulai suka sama gue. Wajah merah begitu." Aku menapaki anak tangga dengan senyuman tipis. Mengingat reaksi Wulan tadi membuatku tersenyum lebar.


"Mas Damar, kenapa senyum-senyum begitu?" Ini bocah ternyata sudah ada di lantai dua.


"Kepo." Aku tidak menggubris Selena, langsung masuk ke dalam kamar, berbaring sejenak untuk memulihkan tenaga.


Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib, aku bergegas masuk ke kamar mandi. Mandi air hangat yang mengalir dari heater. Setelah beberapa menit kemudian, aku menjalankan kewajiban.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian. Aku berganti pakaian kemudian melangkah ke pintu kamar.


"Ngapain?" Aku pikir dia Selena, tapi ternyata Wulan berdiri tepat di depanku.


"Tante nyuruh aku ke sini memanggilmu."


"Emangnya udah waktunya makan malam? Perasaan baru jam enam lewat."


"Gak tahu, kamu di suruh turun. Aku turun duluan ya." Dia bergegas menuruni anak tangga. Sejak tadi, dia seperti enggan menatap wajahku.

__ADS_1


"Ada apa lagi." Aku menutup daun pintu kamar. Melangkah pelan menuruni anak tangga.


"Mam, ada apa?" tanyaku malas ketika melihat wanita yang melahirkan aku berdiri sambil berkacak pinggang.


"Damar, kamu lihat ini!" Mami melempar hape di atas sofa yang ada di ruang keluarga.


"Memangnya ada apa, Mam?" Aku menyambar benda pipih itu.


"Terkunci otomatis layarnya." Mami merampas hape tersebut kemudian disodorkan padaku.


"Lihat itu!" Wajah beliau merengut sebal.


"Elah, Mam. Memangnya kenapa? Gak ada yang salah kok, Damar udah berusaha senyum." Aku pikir ada urusan penting ternyata cuma urusan sepele karena hasil foto tadi.


"Senyum kamu gak ikhlas, acara pertunangan sendiri malah maksa senyum begitu."


"Namanya juga terpaksa karena dijodohkan, Mam."


"Kamu ini, bisa legowo gak? Udah jelas Mami bilang kalau kamu harus bisa menerimanya."


"Nih, Damar ngantuk. Mau tidur." Aku tidak menggubris perkataan Mami. Sambil bersiul, kaki ini melangkah santai kembali ke lantai atas.


"Males, gue mau tidur. Nanti bangunnya baru makan." Aku melangkah masuk ke kamar. Merebahkan diri, memeluk guling. Acara siang sampai sore tadi lumayan membuatku pusing. Aku tidak suka keramaian, kecuali kalau berbelanja barang yang aku inginkan.


Beberapa kali mulut ini menguap, aku berusaha memejamkan mata. Mungkin karena kelelahan, aku pun tertidur pulas.


***


Aku merasa kepanasan, tenggorokan rasanya kering. Segera kubuka mata, pantas saja aku terbangun, suhu pendingin ruangan belum aku atur. Lampu kamar pun menyala terang, membuat mata ini menyipit. Kuraih hape yang tergeletak begitu saja di ranjang, sudah hampir tengah malam. Aku menguap sebentar, kaki ini melangkah menjauh dari kamar. Aku ingin minum, rasanya tenggorokan ini begitu kering kerontang sampai ingin menelan ludah saja begitu berat.


Hanya satu lampu yang menyala, lampu ruang tamu yang ada di dekat pintu. Aku bergegas ke dapur, memencet dispenser setelah kuletakkan gelasnya. Tanpa banyak pikir, kuteguk air putih ini sampai tenggorokan basah dan puas.


Kriuuukkk


Suara perut memenuhi dapur, aku melihat tak ada apa pun di atas meja. Terpaksa aku memasak mi instan campur telur dan sayuran. Aku memasak air walau mata dalam kondisi mengantuk. Setelah mi instan sudah siap, aku membawa mangkuk dan gelas air ke meja makan. Lumayan untuk mengisi perut di saat lapar melanda di tengah malam.


Dengan lahapnya aku menikmati mi instan yang kumasak. Setelah isi mangkuk habis, aku meneguk kembali air putih. Rasa lapar berganti kenyang. Kaki ini melangkah kembali ke dapur, meletakkan bekas makan di wastafel. Aku tak menyangka ada sosok yang tengah minum di sana. Ada air yang menetes dari sudut bibirnya.


"Wulan, kamu belum tidur? Apa kebangun?" Dengan cepat dia meletakkan gelas di wastafel. Mengusap sudut bibirnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Aku gak bisa tidur." Kulihat wajahnya yang sendu.


"Emangnya Elu gak capek dan ngerasa ngantuk setelah acara tadi?" Dia menggeleng lemah.


"Capek sih iya, tapi belum bisa tidur."


"Elu banyak pikiran ya?" Dia melangkah pergi, tak menghiraukan keberadaanku.


"Wulan."


"Ck, gak usah ngikutin aku!" Dia berdecak kesal.


"Elu kenapa? Elu bisa banget cerita padaku!"


"Males, kamu juga gak bakalan bisa mengabulkan permintaanku."


"Maksudnya? Kita duduk dulu!" Aku mencengkram pergelangan tangannya. Kami duduk bersebelahan di sofa.


"Tante pernah bilang kalau aku bisa bekerja di coffee shop yang baru. Tadi, aku nanya sama Tante tentang hal itu, tapi, seperti biasa, Tante selalu mengalihkan pembicaraan." Wajahnya ditekuk.


"Elu mau bekerja di sana? Di tempat gue yang baru?" Dia mengangguk singkat.


"Udah seminggu aku gak bekerja, bosan rasanya. Gak betah berlama-lama begini." Dia menghela napasnya sejenak.


"Kalau gue bilang Elu boleh bekerja di sana, aku dapat keuntungan apa?" Bukannya memanfaatkan situasi, namanya juga seorang pebisnis, semua harus mempunyai nilai tambah.


"Alah, kamu pasti bohong. Tante Iren ajah tadi ngalihin topik pas ngobrol."


"Beneran, gue bisa bantu Elu bekerja di coffee shop gue. Tapi, ya seperti tadi yang gue bilang. Gue ingin tahu keuntungan apa yang gue dapetin kalau Elu bisa bekerja kembali." Aku tersenyum tipis, melihat keraguan yang dia tampakkan.


"Eum, aku boleh tahu tidak, memangnya apa syaratnya agar aku bisa menjadi karyawan di sana?" Tangannya saling meremas, bola mata itu menatapku penasaran.


"Mau tahu syaratnya?" Dia mulai yakin karena mengangguk mantap.


"Syaratnya ini!" Aku menatapnya dengan dagu yang diangkat, menunjuk sesuatu.


"Damar!" Gak usah bercanda." Dia memukul dadaku.


"Gue gak bercanda." Aku menangkap tangannya, menatap bola mata itu. Kami saling berpandangan lekat.

__ADS_1


"Mampus." Suara itu mengejutkan kami.


__ADS_2