Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Tetangga Dimas


__ADS_3

Dimas bangkit dari tempatnya yang terjatuh, dia meraih tanganku kemudian membantuku berdiri.


"Elu gak apa-apa?" tanyanya khawatir.


"Gak apa-apa, maaf ya karena udah gak sengaja nabrak."


"Its okay, Elu gak usah khawatir. Badan gue baik-baik saja."


"Ngomong-ngomong, Elu kenapa bisa ada di sini? Bukannya tadi bareng Damar ke cabang baru?" lanjutnya lagi.


Bingung, itulah yang aku pikirkan sekarang. Memikirkan jawaban yang tepat agar dia percaya dengan kebohongan yang kuucapkan.


"Eum, Pak Damar nganterin aku di lobi, kerjaan kami udah beres. Sekarang ini aku lagi mengecek unit apartemen di sini. Sebenarnya ... mulai besok aku udah bisa pindah di sini." Bola matanya melebar.


"Elu pindah di apartemen ini? Mulai besok?" Dia tampak bersemangat sementara aku mengiyakan.


"Wah, hebat ya. Kerja di coffe shop bisa nyewa apartemen." Entah itu pujian atau sindiran.


"Jangan salah paham dulu! Apartemen ini dibayarin saudara dekat orang tuaku. Lusa, orang tuaku datang dari kampung. Agar mereka nyaman, jadi, ya aku mau gak mau harus pindah ke sini." Aku menjelaskan.


"Oh, begitu ya. Pasti saudara orang tua Elu tajir ya, bisa sewa di sini." Aku hanya tersenyum tipis sambil mengendikkan bahu.


Akhirnya, alasanku lumayan masuk akal. Lama-lama emang pinter boong nih nantinya.


"Kamu, kenapa kamu ada di sini?" Tentu saja aku kepo.


"Gue udah dua bulanan pindah di sini. Gue baru beli satu unit." Bola mataku terbelalak mendengar perkataan Dimas.


"Woah, keren banget, Dimas." Aku kagum padanya.


"Oh iya, apartemen yang Elu sewa di mana?"


"Kalau kamu?" tanyaku balik.


"Gue di lantai ini, nomor unit 405," jawabnya.


"Serius? Yakin?" Dia mengangguk.


"Aku di unit 409."


"Wow, kita tetanggaan kalau begitu."


"Hehehe, iya juga ya," cengirku.


Dering hape membuat kami mengalihkan perhatian.


Nama itu tertera di layar, terpaksa aku menjawabnya.

__ADS_1


"Heh, mau turun sekarang atau gue tinggal?" Suara Damar ketus.


"Iya, aku turun sekarang juga." Panggilan telepon langsung terputus.


"Siapa?" Alis Dimas bertaut.


"Eh ini, aku pesen taksi online. Udah ada di bawah katanya. Kalau gitu aku turun duluan ya! Mau beres-beres kamar kost-an juga." Aku berbalik arah.


"Tunggu dulu! Elu tadi nyari gantungan kunci, kan?" Badan berbalik menatap Dimas, kepala mengangguk.


Dia membuka genggaman tangan kiri, ada gantungan kunci yang aku cari di sana.


"Makasih," ucapku seraya meraih benda itu.


"Eis, gue simpen dulu. Kalau Elu udah pindah di sini, Elu harus mau gue ajak makan malam, setelah itu gue balikin gantungan kuncinya, bye Wulan." Pria itu berbalik arah dan meninggalkan aku seorang diri. Belum ada orang yang lewat di koridor lantai ini.


"Dimas!" panggilku, tapi dia tetap acuh.


"Ah, biarin. Udah ditunggu itu manusia angkuh, bisa-bisa aku disemprot habis-habisan." Setengah berlari aku menuju lift.


Beberapa lama kemudian, aku berjalan cepat di lobi. Ke luar dari bangunan, tak ada kendaraan Damar di sini. Mendadak jantungku berdegup kencang karena suara itu membuatku terkejut.


Tiiiiiinnnn


Suara klakson itu mengalihkan perhatian, aku berjalan mendekati mobil Damar. Masuk tanpa banyak bicara. Kendaraan menembus jalanan ibu kota.


"Itu gantungan kunci dari sahabatku yang ada di LN. Dia merajutnya sendiri pake perasaan."


"Nyari lama banget, emangnya ketemu?"


"Udah ketemu."


Hening, tak ada percakapan diantara kami. Aku melihat jalanan yang berbeda.


"Lho, kita mau ke mana? Bukannya kita harus pulang? Udah sore, lho." Aku tidak tahu ini di kawasan mana.


"Cerewet, diem ajah napa! Gue itu laper, mau makan dulu sebelum balik. Dari siang gak makan." Benar juga apa yang dia katakan, aku pun sejak siang belum makan.


"Tapi, kenapa di kawasan ini? Jauh banget dari rumah Elu."


"Berisik, diem ajah dan tunggu bentar lagi sampe."


Selang beberapa menit kemudian, mobil berhenti di sebuah warung sederhana. Ada papan nama sate lengkap di sana. Kami turun dan masuk ke dalam warung. Wangi bakaran sate membuat perutku berbunyi.


"Elu bisa pilih mau makan apa. Ayo!" Dia menarik lenganku menghampiri penjual yang tengah membakar sate dengan semangat. Meja dan kursi banyak yang terisi, hanya ada dua saja yang kosong.


"Pak, gue seperti biasa. Kalau dia-," Damar menyenggol lengan.

__ADS_1


"Sate ayam aja deh."


"Yakin? Sate kambing tuh enak, ada sate lilit dari ikan juga." Dia menawarkan.


"Eum, apa ya." Aku bingung sambil memilih gambar yang ada di poster dinding.


"Terserah kamu ajah mau pesenin apa. Nanti aku makan, kok."


"Kambing ajah, gimana? Gak punya sakit kolesterol, kan?" Aku menggeleng.


"Ya udah, Elu tunggu di sana ajah!" Aku menuju ke sebuah meja kosong, menggeret kursi dan duduk bersandar. Perutku sungguh sudah tidak tahan minta diisi. Tak lama, dia berjalan menghampiri.


Kami duduk berseberangan, saling berpandangan sejenak sebelum aku mengalihkan pandangan. Beberapa menit berselang, ada seorang perempuan yang menghidangkan dua gelas minuman.


"Darimana kamu tahu kalau aku suka jeruk tawar anget?" Aku mencicipi minuman ini. Rasanya seperti yang biasa aku minum.


"Mami," jawabnya singkat.


Akhirnya makanan kami dihidangkan di atas meja. Kelopak mataku terbelalak melihat hidangan ini.


"Damar, kamu yakin ini pesanan kita?" Aku terperangah menatap hidangan di atas meja.


"Yakin, kamu bilang mau sate kambing. Sekalian aku pesenin sate ayam juga. Oh iya, biar tambah kenyang bisa makan sate lilit." Ada empat jenis sate-satean di meja. Ada sambal, kerupuk, lontong dan nasi.


"Ini makanannya gimana?"


"Tinggal makan ajah! Gak usah malu makan di depan gue, gasak ajah satenya, sate di sini terkenal paling enak, bumbu kacangnya juga mantep." Damar berhenti bicara, dia mulai meracik sambal ke dalam bumbu kacang. Sate tadi dibalur oleh bumbu itu. Dia membuka lontong dan segera menyantapnya.


Aku melihat seperti bukan sosok Damar biasanya. Dia seperti pria yang berbeda ketika memakan makanan ini. Dia mengayunkan dagu, membuat kode dengan pandangan mata agar aku langsung memakannya.


Kami berdua memakan dengan lahapnya. Tak sampai lima belas menit, ternyata hidangan yang bagiku banyak, ludes tak tersisa.


"Alhamdulillah," ucapku lirih. Perut sudah terisi, bukannya penuh energi, malah malas bangun karena kekenyangan. Dia selalu menjejalkan mulutku dengan sate lilit tadi.


Kami kembali masuk ke mobil, kali ini kita pasti pulang. Aku yakin sekali kalau malam nanti tidak bisa makan malam bersama karena perut sudah kenyang.


Aku menatap jalanan, semburat jingga menyinari langit ibu kota. Saking terpukau, aku tidak menyadari bahwa kita tidak pulang ke rumahnya.


"Damar, ini di mana lagi? Mau bawa aku ke mana?" Damar menyeringai lebar, matanya mengerjap berkali-kali.


"Jangan macam-macam, kamu ya!" Badanku sontak menjauh karena tatapannya tak biasa.


*


*Note Author


Untuk penggunaan Merek apa pun, akan di plesetkan ya Reader semua 🤭 agar kondusif tak ada CP alias copyright 🤗

__ADS_1


__ADS_2