Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pakaian Couple


__ADS_3

Pria itu memanggilku lagi dan lagi.


"Ada yang manggil tuh." Wulan malah berbalik.


"Gak usah dengerin dia!" Aku menarik lebih keras lengan Wulan.


"Tapi jangan gini juga dong! Tanganku sakit banget nih."


"Eits, kalian mau ke mana?" Aku berdecak kesal melihatnya yang kini ada di depan kami berdua.


"Siapa dia, Damar?" Zayn—mantan pacar Lusi menatap Wulan tanpa kedip.


"Elu gak perlu tahu," jawabku sewot.


"Gila Elu ya, gampang banget dapet cewek. Lusi udah Elu embat, sekarang punya cewek lain." Zayn bertepuk tangan di depan kami. Tatapannya nyalang menatapku dan Wulan bergantian.


Wulan merasa tak nyaman, dia berpindah tempat, berdiri di balik punggungku. Pegangan tangannya semakin erat.


"Elu salah paham, gue dan Lusi tidak memiliki hubungan apa pun selain pertemanan. Alasan dia putus sama Elu, bukan karena gue. Tapi, karena Elu yang kasar sama dia." Sebenarnya malas mengatakan ini. Tapi, dia harus sadar diri.


"Elu gak usah gangguin gue! Gue udah bilang kalau Lusi dan gue itu gak punya hubungan apa pun." Daripada melihat dia lebih lama, sebaiknya aku mengatakannya langsung.


"Yang bener? Gue yakin kalau Elu yang membuat Lusi meninggalkan gue. Dia suka banget sama Elu." Kulihat raut wajahnya yang menahan emosi. Tangan kirinya mengepal erat, rahangnya mengeras.


"Kita pergi ajah yuk!" ajak Wulan mulai bersuara.


"Heh, Elu pacar Damar yang baru ya? Awas ajah, jangan mau sama dia. Dia demen gonta-ganti cewek."


"Jaga mulut Elu ya, Zayn!" Emosiku tidak bisa ditahan lagi.


"Berhenti kalian! Kita jadi tontonan orang-orang. Ayo kita pergi, Mar!" Kali ini Wulan yang menarik lenganku dengan kasar.


"Hati-hati, Elu bisa diputusin kapan ajah. Selingkuhannya banyak tuh." Aku menoleh pada Zayn yang berucap sembarangan. Dia buta karena telah menilaiku yang seperti itu. Padahal, dia sendiri yang bertingkah laku seperti yang mulutnya katakan.


"Kita masuk ke sini ajah deh." Wulan menyeretku masuk ke sebuah outlet.


"Yakin mau pilih-pilih di sini?"


"Sebenarnya sih sekalian menghindar dari temen kamu itu." Ucapannya begitu ketus.


"Dia bukan temen gue, hati-hati kalau ngomong." Aku menepis tangannya. Ternyata, sejak tadi, kami berdua bergandengan tangan tanpa disadari.


"Aku pikir teman kamu. Ya udah deh, aku milih baju dulu." Aku duduk di ruang tunggu yang tersedia.


Dering hape membuatku mengalihkan perhatian.


"Mami, ngapain lagi nelpon." Dengan berat hati, aku menjawab panggilan telepon beliau.

__ADS_1


"Iya Mam," jawabku malas.


"Mana Wulan? Kamu beneran jemput dia di kost-an, kan?"


"Iya, beneran dijemput kok. Wulan lagi milih-milih baju. Mau ngobrol sama dia?"


"Mami mau lihat dia, gak mau ngobrol. Ganti video call deh, kamu tunjukkan wajahnya. Awas aja kalau sampai kamu bohong."


"Mami nih kenapa sih? Sama anaknya sendiri gak percaya gitu." Aku segera mengalihkan panggilan video agar dia bisa melihat Wulan.


Aku mencari keberadaan Wulan, dia sedang memilih kebaya batik modern. Segera aku menyoroti wajahnya.


"Tuh Mam, Wulan ada di sana. Sekarang percaya gak?"


"Oke, Mami percaya kalau kamu benar-benar menjemput Wulan."


"Damar matiin nih, mau mabar bentar."


"Mabar terus, jangan lupa pilih baju couple biar enak dilihat!"


"Iya, Mam. Biar Wulan ajah yang milihin. Damar ngikut aja."


"Udah dulu ya, Mam." Panggilan telepon aku putuskan.


Daripada menunggu dia memilih baju, lebih baik aku bermain game online saja dulu. Lumayan menghabiskan waktu. Aku memulai permainan ini. Ternyata Andre dan Dimas tengah online. Kami main bersama sebagai satu tim.


"Hei, apaan ini? Balikin hape gue!" Wulan merampas hapeku.


"Elu tuh ya ... siniin hape gue!"


"Dari tadi aku panggilin tapi gak nyahut. Ya udah deh aku ambil hapenya." Dia memegang hape itu di tangan kanan. Aku mencoba meraihnya, tapi dia langsung memindahkan hape itu pada tangan kiri.


"Wulan, jangan sampai gue marah. Balikin!"


"Dengerin aku dulu, tadi Tante bilang harus beli baju couple. Jadi, aku pilih yang ini, kamu setuju gak?" Dia meraih dua gantungan baju yang ada di dekat kami.


"Terserah deh, gue gak peduli mau pake baju apaan juga." Aku kembali meraih hape itu.


"Kalau begitu, aku ambil yang ini aja ya. Males milihnya."


"Terserah."


"Ya udah, bayar sana!" Dia meletakkan dua gantungan itu di atas pahaku.


"Berisik banget, balikin dulu hape gue! Nanti gue ambilin kartu kreditnya." Dia menyodorkan hape tersebut.


Ada seorang karyawan yang mendekati kami. Aku merogoh dompet yang ada di dalam tas pinggang. Kuberikan kartu itu pada Wulan.

__ADS_1


"Sono pergi!" Aku menyodorkannya.


"Mari saya bawakan pakaiannya." Karyawan itu menjauh bersama Wulan.


"Mengganggu saja," gerutuku kesal. Aku segera bermain lagi sambil ngedumel. Makin ke sini, kelakuan Wulan mirip sekali sama Mami. Heran deh kalau sampai ada kembaran Mami di rumah. Bisa-bisa rambutku rontok, lama-kelamaan bisa botak mendadak.


"Damar, ngasih kartunya doang. Nomor PINnya aku gak tahu."


"Berisik, gak usah cemberut gitu." Aku menyebutkan angkanya pada Wulan.


"Eh, berapa tadi? Aku lupa." Dia menyengir lebar.


"Sini hape Elu!"


"Buat apaan?" Dia menautkan kedua alisnya.


"Bawel banget sih, buruan!" Dia seperti terpaksa memberikan hapenya.


Aku menekan enam angka sesuai nomor pin kartu ATMku.


"Tuh nomornya." Dia segera kembali ke kasir. Sementara aku melanjutkan mabar.


*POV Wulan


Aku cepat-cepat ke kasir untuk melanjutkan pembayaran. Setelah itu barulah aku menemui Damar yang masih asik bermain game online.


"Damar, ayo pulang! Udah selesai nih belanjanya. Langsung anterin ke kost-an ya!" Dia diam tidak bergeming. Padahal aku sudah mengantuk. Daripada dicuekin terus, aku duduk di sampingnya. Kepala ini bersandar pada kepala kursi. Lebih baik kupejamkan kelopak mata ini sejenak.


"Eh, malah tidur. Bangun, ayo pulang!" Aku menyipitkan mata, melihatnya dari jarak yang begitu dekat.


"Damar, Kamu apa-apaan sih?" Aku mendorong dadanya.


"Lagian, kalau tidur jangan di sini! Ayo pulang!" Dia menarik lenganku.


Aku mengekori langkahnya sampai ke basemen. Tangan kami barulah terlepas ketika masuk ke dalam mobil. Kantong belanjaan itu kuletakkan di kursi belakang.


"Tunggu dulu, kunci kost-an aku kayaknya ketinggalan."


"Ck, Elu gimana sih? Udah mau pulang malah ingat."


"Sana pergi ambil!" Dia membentakku. Aku berlari ke outlet tadi sebelum tutup. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Lega rasanya ketika karyawan itu mengenal wajahku. Dia ternyata menyimpan kunci yang tergeletak di meja kasir. Aku mengucapkan terima kasih dan kembali turun ke basemen.


Belum sempat aku mencari keberadaan mobil Damar, ada sebuah tangan yang membekap mulut ini.


"Hempphhh." Aku tidak bisa berteriak. Tanganku menganggapai kepala orang yang membekapku.


Tangan itu semakin kuat membekap sampai aku kesusahan bernapas.

__ADS_1


__ADS_2