
"Bu, cepat jawab!" Pikiran ini sudah memikirkan hal-hal yang bisa saja terjadi.
"Begini, mobil yang kami tumpangi mogok di jalan." Aku lega mendengarnya, tubuhku mendadak lemas karena begitu lega. Pikiranku sudah ke mana-mana tadi.
"Ibu, gitu ajah sampai nelpon Wulan segala. Ibu tuh bikin kaget ajah tadi. Untung ajah jantung Wulan masih ada di tempatnya, belum copot."
"Memangnya Ibu kenapa, Lan? Ibu kan mau ngabarin kalau masih dijalan karena taksi mogok."
"Ibu, Wulan sempat khawatir mendengar suara Ibu tadi."
"Suara Ibu bergetar karena belum makan sejak tadi, gara-gara mogok dan jauh dari warung, jadi begini."
"Bu, Ibu dan Bapak lebih baik makan ajah dulu!"
"Makan di mana? Adanya restoran, dan ada huruf M gitu."
"Masuk saja, Bu ke restorannya! Ibu masih punya uang, kan?"
"Iya, ada uangnya. Sisa lima ratus ribu."
"Itu udah lebih dari cukup makan di sana, paling kalau di restoran M itu habis 150-an ribu."
"OPO? LARANG MEN, NDUK (Apa? Mahal sekali, Nak) Ibu gak mau buang-buang duit segitu."
"Astaghfirullah, Ibu. Mau sampai kapan nungguin taksinya? Bisa-bisa pingsan nanti, atau Ibu bisa ganti taksi lain, Ibu bayar ajah deh taksi yang tadi."
"Owh, boleh begitu ya." Aku menepuk jidat karena mendengar ucapan Ibu.
"Boleh, Bu. Asalkan dibayar dulu sebelum pindah taksi."
Ada yang menepuk pahaku, Tante Iren menunjuk dengan dagunya pada bangunan di depan sana
"Bu, udah dulu ya! Wulan harus pergi sekarang, mau fitting kebaya."
"Apa? Mau ngapain kamu, Nduk?"
"Fitting kebaya, Bu."
"Apa itu?"
"Nyobain kebaya yang cocok, ini sama Tante Iren juga. Nanti kita ketemu di rumah Tante Iren."
"Oalah, iya sudah, sana pergi! Cobain ajah mana yang bagus." Panggilan telepon terputus. Aku menghela napas lega.
"Ayo, Sayang! Gak usah ladenin Ibumu lagi! Setelah kamu menikah, kamu langsung jadi anak Mami."
"Maksudnya apa, Tan? Bagaimana pun mereka orang tua Wulan." Heran, sebenarnya apa yang dipikirkan Tante Iren, bisa-bisanya beliau berkata seperti itu. Aku merasa seperti anak yang dijual oleh orang tua sendiri melalui ikatan pernikahan.
__ADS_1
Argh, sudahlah, pusing kalau menuruti kemauan mereka ini. Kami berdua masuk, beberapa karyawan butik melihatku tak suka. Mereka memperlakukan Tante dengan baik dan ramah, sementara aku diperlakukan ketus dan acuh. Kentara sekali dengan senyum terpaksa yang mereka tampakkan.
"Sini, Sayang!" Mereka saling berpandangan, seolah tak percaya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Tante Iren.
"Iya, Tante." Wajahku biasa saja, seperti sebelumnya.
"Mau nyoba yang mana dulu, Sayang?" Beliau menyuruhku untuk memilih kebaya modern yang ekslusif, hanya ada beberapa pcs.
"Eum, Wulan bingung banget, Tan. Tante ajah deh yang milihin!"
"Kamu gimana nih? Kamu yang mau tunangan, masa iya Tante yang milihin?"
"Daripada nanti kalau Wulan yang memilih, Tante pasti gak suka dan disuruh ganti, lebih baik dari awal, Tante ajah deh yang milihin." Sengaja aku mengerucutkan bibir agar dikira merajuk.
Tante Iren mengelus pucuk kepala, Beliau tersenyum tipis.
"Ya sudah, kamu duduk dulu! Biar Tante yang milih, kamu nanti tinggal nyoba ajah."
"Oke, siap Tan." Tante sibuk memilih, aku melihat ada seorang wanita yang sepertinya atasan butik ini menghampiri beliau. Dia berbisik kemudian mengangguk singkat setelah Tante Iren berbicara dengannya.
"Ngomong apaan sih mereka? Jadi penasaran," gumamku. Tak lama, wanita itu menjauhi Tante Iren.
"Silakan dinikmati, Nona!" Aku terperangah melihat orang yang menghidangkan makanan dan cemilan di atas meja. Dia karyawan yang terpaksa tersenyum waktu menyapa tadi.
"Oh iya, Makasih." Aku harus menanggapinya agar tidak dikira tidak sopan.
"Wulan!" Aku meminum minuman yang dihidangkan waktu Tante Iren memanggil.
"Iya, Tan." Kepalaku mendongak menatap Ibu Damar.
"Coba mulai sekarang yuuukkk!" Ada dua orang karyawan butik yang mendampingi.
"Berapa banyak ini, Tan?" Aku melihat tangan dua karyawan itu penuh dengan kebaya.
"Cuma enam saja, Sayang." Tante menyengir lebar.
"Apa? Yang bener ajah, Tan." Mendadak tubuhku lemas tak bertulang.
"Gak usah protes!" Beliau mendorongku untuk pergi ke ruang ganti ditemani dua karyawan tadi.
"Ada mereka yang membantu. Kamu gak usah khawatir."
"Heum," sahutku singkat.
Aku masuk ke ruang ganti, satu persatu semua kebaya dicoba. Tante Iren mengamati dengan saksama.
"Warna putih mutiara bagus tuh. Sama yang biru langit, kami sewa dua itu, ya Mbak! Sekalian sama jas pria yang sepasang." Kedua staf mengangguk singkat kemudian pergi menjauhi kami.
__ADS_1
"Lho, Mbak. Ini belum dilepas." Aku protes karena kebaya ini masih melekat.
"Tunggu saja, mereka pasti datang," sahut Tante.
Beberapa lama kemudian, pembayaran sudah diserahkan. Besok mereka akan mengirimkan dua pasang kebaya tadi ke alamat rumah Tante.
Bersyukur tadi minum dan makan cemilan yang disuguhkan, lumayan untuk mengganjal perut.
Kami sudah ada di dalam mobil, bukannya tidak sopan, aku bersandar pada kepala kursi karena mendadak lemas. Mungkin karena perutku sudah minta diisi.
"Pak, ke restoran biasa! Kita mau makan siang di sana."
"Baik, Nyonya."
"Alhamdulillah," ucapku bersemangat. Aku pikir Tante Iren bisa menahannya, ternyata beliau sudah lapar juga.
"Kenapa, Lan?"
"Wulan bersyukur sekali karena sudah ke luar dari butik." Aku beralasan.
Tak ada sahutan, kendaraan berhenti di depan pelataran parkir.
"Pak, kalau beli makan siang, ini uangnya!" Tante Iren memberikan selembar uang berwarna biru pada Pak Dadang. Sopir itu menerima dengan pandangan yang berbinar.
Kami memasuki restoran, duduk di dekat jendela kaca sambil melihat kendaraan yang melintas. Tante sibuk memesan makanan.
"Wulan, mau pesan apa?" tanya beliau sambil sibuk membuka lembaran buku menu.
"Terserah Tante ajah, Wulan belum pernah makan di restoran seperti ini, Tan."
"Mami khawatir gak sesuai dengan selera kamu, Sayang."
"Wulan gak pilih-pilih makanan, Tante."
"Eum, oke. Mami pilihin yang ini aja deh." Beliau menekan tombol merah yang ada di pinggir meja. Pelayan datang membawa tablet, mencatat pesanan kami.
Pramusaji tadi meninggalkan kami berdua.
"Tan, kenapa gak makan di warteg ajah? Atau mungkin bakso dan mie ayam, pasti enak banget, Tan." Sudah lama aku menginginkan makanan itu, tapi baru sekarang ini aku berani berterus terang.
"Kamu mau makan makanan yang seperti itu?"
"Memangnya kenapa Tante? Gak ada yang salah dengan makanan itu, enak banget dan murah lagi."
"Yang salah itu karena makanan seperti itu tidak pantas untuk orang seperti kami." Kepala ini mendongak, menatap wajah seorang wanita yang menghampiri kami di meja.
Sombong banget ini orang, namanya juga selera, kalian itu cuma gengsi ajah kalau gak makan di tempat seperti ini, padahal rasanya tawar kurang bumbu.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?" tanya Tante Iren padanya.