
Wulan seketika terdiam mematung, baru kali ini ibunya menghardik keras. Apalagi di depan orang banyak. Wulan harus mengalah karena tidak mau membuat orang tuanya malu.
"Begini saja, setelah acara ini selesai. Kalian semua menginap di rumah kami untuk membahas lebih lanjut tentang ini. Sekarang, berhenti membicarakan hal ini! Kita nikmati acara kebersamaan akad nikah Mutia dan Kelvin." Suami Iren berusaha menengahi.
Mereka terdiam, berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju. Tidak adil rasanya membicarakan hal perjodohan Damar dan Wulan di acara Mutia dan Kelvin. Semuanya kembali bercengkrama membahas mengenai mempelai berdua. Besok pagi sekitar jam sepuluh, acara resepsi pernikahan Mutiara dan Kelvin digelar di hotel ini. Mereka juga membahas tentang persiapan yang telah dilakukan pihak hotel dan wedding organizer.
Wulan sebenarnya tidak setuju untuk menginap di rumah Iren. Tapi, daripada urusannya semakin runyam, dia berusaha untuk menenangkan diri dan menerima dengan lapang dada.
Malam sudah semakin larut, Mutiara dan Kelvin menginap di kamar hotel suite di tempat ini. Mereka tidak pulang ke rumah orang tuanya. Malam ini, akan mereka habiskan di dalam kamar hotel sembari beristirahat untuk acara besok pagi.
Dua keluarga mempelai sudah masuk ke dalam kendaraan masing-masing. Wulan malas untuk memulai obrolan. Yang terdengar hanya percakapan antara Iren dan Ibunya. Beruntunglah Damar tidak berada satu mobil dengannya.
POV Wulan
Haruskah aku mengiyakan perjodohan ini? Aku menyukai pria lain, apa mungkin aku bisa mencintai pria kasar dan angkuh seperti Damar? Sejak tadi aku hanya sibuk memikirkan ini.
Plok
Suara tepuk tangan yang cukup kencang menyadarkan aku dari lamunan.
"Ndalem, Bu." Ternyata Ibuku yang sengaja bertepuk tangan.
"Kamu kenapa diam saja, Nduk? Sakit atau mengantuk?" Aku hanya merespon dengan gelengan kepala saja.
"Biarkan saja, Ning! Nanti kalau sudah tiba di rumah, kita bantai mereka berdua agar tidak dapat mengelak." Tante Iren menatapku lekat.
"Mama sadis amat ya. Kasihan Mbak Wulan harus menikah sama Mas Damar. Bisa-bisa Mbak Wulan ikutan stress berkepanjangan, hihihi." Gadis yang kutahu namanya Selena itu tertawa geli. Entahlah dia menertawakan aku atau kakaknya yang dimaksud.
"Sel, jangan ngaco gitu! Memangnya ada yang salah dengan Damar? Dia selama ini normal-normal ajah tuh." Tante Iren tidak setuju dengan pendapat anak bungsunya.
"Mama gak tahu ajah kalau Mas Damar itu borosnya naudzubillah. Dia itu suka banget menghamburkan uangnya."
"Apa?!" Kali ini bukan hanya Tante Iren yang terkejut. Secara refleks mulut ini juga berucap, kami berdua menyahut bersamaan.
__ADS_1
"Kompak amat calon mantu dan calon mertua, cie, cie." Lagi-lagi Selena melontarkan kata-kata untuk menggoda kami.
"Kamu tuh suka banget sih fitnah Damar. Awas kamu ya, Mama bilangin ke Damar." Tante Iren menjewer telinga anaknya.
"Kalian ini para perempuan selalu saja berisik!" Mungkin saja karena merasa terganggu, suami tante Iren mulai menengahi anak dan istrinya.
"Sorry, Pa. Selena tuh bilang yang sejujurnya lho." Gadis ini tidak mau kalah.
"Udah, nanti kita lanjutkan! Sudah sampai tuh." Tante Iren melihat ke arah depan.
Aku dan Ibu saling berpandangan, kemudian menatap bangunan megah yang ada di depan mata.
Rumah mereka gede banget, sementara rumah ayah dan ibuku kecil khas rumah kampung
Batin ini mulai bergejolak sejak melihat rumah tante Iren.
"Ayo turun! Sampai kapan kalian ada di dalam mobil?" Tante Iren menarik lengan Ibuku.
"Pak, rumah mereka gede. Sebaiknya perjodohan ini dibatalkan saja. Bapak tidak minder punya menantu yang strata sosialnya jauuuhhh lebih tinggi dari keluarga kita?" Aku mencoba untuk membujuk Bapak. Siapa tahu berhasil, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?
"Bukannya malah bagus? Kamu tidak perlu repot-repot bekerja lagi. Kamu sudah cukup harus menjadi istri yang baik dan Ibu yang baik ketika memiliki anak nantinya. Jarang-jarang ada orang kaya yang masih mau melanjutkan perjanjiannya yang telah lama diucap." Bapak malah mendukung.
Pundak ini terasa lemas, kaki seperti tak memiliki tulang. Aku berjalan begitu pelan dengan pundak menurun seperti orang bungkuk.
"Bapak kok gitu?"
"Lho, bukannya yang akan diuntungkan itu adalah kamu? Bapak dan Ibu juga pasti bahagia kalau kamu hidup enak." Beliau tersenyum lebar sambil mengelus kepala. Langkah Bapak dipercepat untuk menyusul ibu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menolak perjodohan ini?" gumamku yang berjalan paling belakang diantara mereka.
"Minggir! Cewek bar-bar." Ada seorang pria yang menghardik.
"Dih, apaan coba. Salah sendiri jalannya seperti kepiting gitu." Aku membalas ucapannya.
__ADS_1
Rasa kesal kembali menyelimuti diri. Pria itu acuh padaku, dengan cepat dia menyusul orang-orang itu. Jujur saja, ingin sekali rasanya aku pulang ke kost-an. Aku tidak mau memaksa perasaan ini. Sebisa mungkin aku akan membujuk Bapak dan Ibu pelan-pelan.
"Wulan, ayo masuk Nak! Kamu udah ditungguin." Tante Iren tidak sabar. Beliau menarik lenganku agar melangkah lebih cepat. Terpaksa aku mengikuti langkah beliau.
Kami masuk ke dalam rumah, ada ruangan yang begitu besar. Kulihat mereka duduk di atas sofa berwarna putih mutiara.
"Duduk sama Mama saja ya!" Tante Iren lagi-lagi berucap demikian yang membuat telinga ini risih.
Aku duduk di samping Tante Iren. Bapak dan Ibu duduk bersebelahan. Suami Tante Iren duduk di sofa tunggal. Sementara Damar dan Selena ada di sofa satunya.
"Sekarang, kita bicarakan lagi tentang perjodohan anak kita." Pria yang terlihat berwibawa tersebut membuka pembicaraan.
"Gak bisa gitu, Pap!" Damar harus menyelesaikan tesis. Belum lagi mengurus coffe shop yang sebentar lagi pindah nama. Damar tidak ada waktu untuk membicarakan perjodohan ini." Jujur kuakui, ucapan yang keluar dari mulutnya begitu tegas. Aku setuju saja dengan apa yang dia utarakan. Walaupun kupikir itu hanya alasannya saja.
"Kamu selesaikan saja tesismu! Mama dan Papa gak akan gangguin kamu. Asalkan perjodohan ini tetap berlanjut. Ingat, usia kamu sudah hampir dua puluh enam tahun."
"Usia Damar masih muda, Mam. Gak mungkin usia segini sudah menikah."
Aku girang mendengar perkataannya.
Yes, semoga saja perjodohan ini dibatalkan. Tanpa sadar senyumku merekah dan terlihat oleh Mama Iren.
"Kamu kenapa, Wulan?"
"Eh, maaf Tante. Wulan ingat sesuatu yang lucu." Aku berusaha menormalkan raut wajah ini.
"Ibu Ningsih dan Pak Ramli bagaimana? Masih mau melanjutkan perjodohan ini, kan?" Kepala keluarga rumah ini bertanya pada orang tuaku.
"Tentu saja, kita sudah berjanji semenjak mereka belum lahir. Bukankah janji itu harus ditepati?" Bapak semakin membuatku merasa tidak tenang.
"Baiklah, kalau begitu tidak ada alasan apapun untuk kalian berdua. Perjodohan ini akan tetap berlanjut ke tahap selanjutnya." Keputusan itu membuatku sontak berdiri.
"Tidak!" Aku dan Damar berpandangan sekilas. Kami berdua ternyata sama, sama-sama menolak perjodohan ini.
__ADS_1