
Wulan mengguncang bahu ibunya karena masih terperangah.
"Bu, ada apa? Siapa yang mengirimkan pesan?"
"Sahabat Ibu. Katanya mobil jemputan segera datang. Pantas saja kemarin dia minta lokasi tempat ini." Ningsih tak enak karena merasa merepotkan sahabatnya. Padahal, dia menjadi tuan rumah di acara akad nikah anaknya.
"Jadi, kita nunggu di sini? Gak jadi naik taksi ke sana?" Ramli mulai bersuara.
"Kita tunggu saja, Pak! Mau ditolak juga gak enak."
Akhirnya mereka duduk menepi, duduk di bangku kayu panjang yang ada di sana. Penampilan Wulan begitu sederhana, dia memakai dress batik tanpa lengan dengan panjang yang sebetis. Riasan wajahnya terlihat simple tapi tetap saja tidak memudarkan parasnya yang ayu khas gadis Jawa tulen. Rambutnya dia cepol sedemikan rupa. Tas tangan yang dia kenakan juga terbilang sederhana. Kesederhanaan dan berhemat membuat Wulan merasa lebih tenang karena bisa membantu perekonomian keluarga di kampung.
Selang sepuluh menit menunggu, ada seorang pria yang tergopoh menghampiri mereka bertiga.
"Maaf permisi, saya mencari bangunan kost-an Bu Ningsih. Apakah benar di sini tempatnya?" Pria paru baya tersebut tampak kebingungan.
"Saya Ningsih, Pak. Memangnya ada apa?" Ibunya Wulan menjawab sambil mengerutkan kening.
"Syukurlah sudah ketemu." Pria itu bernapas lega.
"Mari ikuti saya, Bu! Saya sopir yang diutus untuk menjemput Anda dan keluarga." Senyum ramah dari pria tersebut membuat keluarga Wulan lega.
"Ternyata utusan dari Mamanya Mutia ya, Pak."
"Iya, Bu. Mari!" ajak pria itu lagi.
ketiganya beranjak dari tempat duduknya. Mereka kompak mengekori langkah si Bapak. Tak sampai lima menit berjalan, pintu mobil dibuka oleh sopir tadi. Kendaraan itu tidak mewah tapi bisalah mengantar mereka ke tempat acara.
Ketiganya masuk dengan bergantian. Wulan merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak, setelah ini dia harus berkenalan dengan keluarga besar sahabat Ibunya sekaligus mengobrol dengan mereka tentang janji yang harus terikat seumur hidup.
"Lan, tanganmu kenapa berkeringat?" Ningsih memperhatikan gerak-gerik anaknya yang tidak nyaman.
"Enggak kenapa-napa, Bu. paling ini cuma embun karena pendingin udara saja." Gadis itu berbohong.
__ADS_1
Mereka tidak berbicara lagi, lebih tepatnya memfokuskan perhatian pada jalan raya yang begitu ramai. Ningsih dan Ramli menatap gedung-gedung pencakar langit yang belum pernah mereka lihat waktu di kampung dulu.
"Gedungnya tinggi banget, Pak." Ningsih menepuk paha suaminya refleks.
"Iya, Bu. Pasti konglomerat yang punya bangunan tinggi seperti itu." Ramli yang hanya seorang pekerja serabutan di kampung, tengah menikmati pemandangan di jalanan kota.
"Beruntung kamu, Lan. Bisa bekerja di ibu kota." Ningsih menoleh pada anaknya tapi tidak ada respon.
Plaak
"Kenapa melamun? Kamu mikirin apa, Nduk?" Ningsih merasa aneh dengan anaknya. Sejak tadi pagi, gadisnya itu menjadi seorang yang pendiam daripada biasanya.
"Eh ... Ibu, gak melamun kok Bu. Cuma mikirin tentang pekerjaan saja." Wulan merasa bersalah karena harus berbohong pada sang Ibu.
"Jangan pikirkan dulu pekerjaan kamu, Nduk. Kamu gak bakalan dipecat, toh kamu mengambil jatah cuti, bukan meliburkan diri tanpa alasan yang tidak jelas." Ramli berusaha menenangkan anaknya. Padahal, itu hanya alasan Wulan saja.
Hari sudah menjelang senja, mobil berhenti tepat di sebuah masjid terbesar di Jakarta.
"Acaranya di masjid Istiqlal, Pak?" Wulan terperangah karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Iya, Mbak. Akad nikahnya hanya dihadiri dua keluarga besar saja. Setelah itu barulah pindah ke ballroom Sriwijaya hotel untuk acara makan malam bersama nantinya."
"Oh, begitu ya, Pak. Acara orang kaya memang berbeda." Ningsih menatap bangunan megah yang menjadi masjid terbesar di ibu kota.
Mereka mengikuti langkah Pak sopir setelah pria itu memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia. Mereka bertiga tidak henti-hentinya mengedarkan pandangan pada sekeliling.
"Bu, Wulan salah kostum kalau begini. Seharusnya pakai dress panjang dan jilbab." Wulan merasa tidak nyaman karena dia mengenakan dress tanpa lengan.
"Ibu juga tidak tahu tempat acaranya di mana, Nduk. Gimana ini, apa kamu beli outer saja? Mungkin ada toko baju yang dekat di daerah sini."
"Hadeuh, dipikir murah apa beli di dekat sini. Yang ada pasti butik yang harganya ratusan ribu sampai belasan juta," gumam gadis itu dalam hati.
"Masuk saja sekarang! Nanti kamu bisa pinjam sama sahabatmu itu, Iren kan punya anak gadis. Pasti dia bisa meminjamkan baju untuk Wulan."
__ADS_1
"Tapi, Pak, masalahnya ... kalau dia tidak bawa baju ganti, gimana? Mereka itu orang kaya, gak sama kayak kita. Gak seperti dulu, Ibu saja minder waktu ditelpon Iren. Bisa-bisanya dia menemukan lokasi kita setelah belasan tahun tidak bertemu." Ningsih sebenarnya merasa tidak nyaman harus berada di tempat ini. Tapi, di sisi lain dia juga harus membicarakan janji yang mereka ikrarkan di waktu mudanya.
"Maaf, Bu, Pak. Silakan masuk! Acaranya akan dimulai setelah sholat Maghrib."
Kemilau cahaya senja memang sudah tidak terlihat lagi. Sopir tersebut langsung menuntun mereka ke suatu tempat di dalam masjid yang begitu besar.
"Ningsih, Ramli." Kalian sudah datang rupanya.
Ada seorang wanita anggun yang menggunakan pakaian kebaya modern menghampiri mereka. Wanita itu memeluk Ningsih dengan erat.
"Belasan tahun tidak bertemu, akhirnya kita bisa bertemu kembali." Setelah wanita itu melepaskan pelukannya, Ramli mengulurkan tangan untuk bersalaman. Ningsih bingung harus senang atau bahkan sebaliknya. Dia khawatir kalau sahabatnya itu tidak seperti dulu karena strata sosial mereka berdua sudah berbeda.
"Saya permisi dulu, Nyonya. Mau mengecek pekerjaan yang di hotel, mungkin ada yang butuh bantuan saya." Sopir tersebut pamit pada majikannya.
"Makasih ya Pak sudah jemput tamu saya." Ternyata, wanita yang seumuran dengan Ningsih itu begitu ramah.
"Ayo ke arah sini! Kita kenalan dulu sama anak-anakku." Iren menarik lengan sahabatnya.
"Duh, aku malu kalau harus pakai baju beginian di masjid," batinnya. Wulan merasa tidak nyaman. Dia menarik lengan ibunya berulang kali. Mata Ningsih menatapnya yang merasa risih.
"Ren, boleh minta tolong tidak?" Ningsih mengutarakan keinginannya. Iren menatap Wulan yang sejak tadi diam tak mau menyapa. Ternyata, pikiran Iren keliru, anak gadis sahabatnya itu merasa bersalah karena memakai kostum terlalu terbuka.
"Nanti Mama pinjemin jaket rajut milik Selena. Anak Mama selalu bawa baju ganti." Wulan tersenyum kaku.
"Mama? Kenapa dia malah memanggil dirinya Mama?" batinnya bertanya-tanya.
Wulan bingung harus berkata apa, dia hanya mengangguk pelan dan berterima kasih pada Iren.
"Mam, anak kesayangan Mama belum datang lho. Coba telpon gih. Selen udah nelpon tapi gak dijawab juga." Selena—anak Iren paling bungsu merengut kesal.
"Sel, nada bicaranya dikondisikan, Sayang. Ada tamu dari jauh nih."
"Oh iya, kamu siapa namanya, Nak? Kenalan tuh sama anak bungsu Mama." Lagi-lagi Wulan terperangah mendengar perkataan Iren. Ningsih dan Ramli hanya mampu tersenyum tipis melihat Iren.
__ADS_1