Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Salah Tingkah


__ADS_3

Ada Tante Iren dan keluarganya, lengkap tanpa terkecuali. Kak Mutiara dan suaminya juga datang ke tempat ini. Aku tersadar dari lamunan karena sikutan Lena.


"Lan, Elu kenapa? Buruan senyum yang ramah!" Dia berbisik tepat di daun telinga.


"Iii-yaa," tergagap aku menanggapi. Salah satu seragam coffe shop ini harus memakai topi agar rambut tidak jatuh ke dalam makanan ataupun minuman. Segera aku menutup wajah dengan menggunakan visor topi yang kupakai. Walaupun pandanganku tertutup tapi, setidaknya wajah ini tak terlihat jelas.


Aku juga mengatur intonasi suara agar mereka tidak mengenaliku.


Sumpah, kenapa hidupku gini amat ya? Padahal aku ingin tenang bekerja agar bisa mengumpulkan uang. Ternyata, pemilik coffe shop ini adalah keluarga mereka.


"Lan, Wulan!" Kali ini Cindy yang memanggil.


"Shuuut, bisa bisik-bisik gak sih manggilnya?" Aku langsung membekap mulut Cindy, "Aku denger kok. Ada apa?" Kulepaskan bekapan tadi


"Ngapain pake acara nutupin mulut gue sih, Lan."


"Cerewet, ada apa? Buruan bilang!" Aku menatap keluarga itu yang sudah duduk diantar oleh Lena ke meja yang sudah di siapkan. Pelanggan masih berdatangan dan ada juga yang pergi.


"Wulan! Ke sini kamu!" Kami berdua tersentak mendengar suara itu.


"Gak jadi deh, Elu dipanggil si buncit. Buruan ke sana sebelum darah tingginya naik." Aku bergegas menghampiri manager itu.


"Wulan, kamu harus melayani Bos dan keluarganya! Cepat ke meja mereka dan bantu Cindy!" Aku mengangguk lemas, terpaksa menuruti perintah si perut buncit ini daripada urusannya semakin melebar.


Aku mendekati Cindy, berbisik padanya agar membantuku biar tidak terlihat jelas. Tapi, dia malah bertanya kenapa.


"Ah, Kamu tuh gak mau bantuin aku ya?"


"Bukannya kita harus menunjukkan diri agar Bos dan keluarganya hapal dengan nama kita. Kali ajah mau dikasih tip atau bonus." Dia berharap.


"Kak Wulan! Beneran Kak Wulan, kan?" Mampus, Selena mengenaliku. Dia beranjak dari tempat duduknya, menghampiriku di sebelah Cindy.


"Mam, Pap ... dia tuh beneran Kak Wulan." Selena menarik lenganku. Sementara Cindy terperangah melihat kami yang menjauh. Dengan lancangnya Selena menarik topi yang kupakai. Beruntung saja hanya ada aku dan Cindy di dekat mereka. Tak ada karyawan lain.


"Tuh, beberan Kak Wulan, kan?" Aku terdiam mematung. Bingung harus bagaimana menyikapi kejadian ini.

__ADS_1


"Tunggu dulu ... jadi, Elu kerja di sini selama ada di Jakarta?" Damar mulai bersuara. Aku mengangguk pelan.


"Kenapa gue gak pernah lihat Elu mondar-mandir ya? Memangnya Elu selama ini kerja di dapur?" Lagi-lagi dia bertanya.


"Ah iya ... Kakak inget sekarang tuh. Beberapa bulan yang lalu, sebelum pernikahan Mutia, kami pernah makan di sini. Kamu yang melayani kami saat itu, Kan?" Kak Mutia seperti sedang mengintrogasi.


Aku pun mengangguk pelan. Tante Iren dan suaminya menatapku lekat.


"Segera resign dari tempat ini!" Tegas Tante Iren yang membuatku terkejut.


"Tante, kenapa saya harus resign? Saya sudah lama bekerja di tempat ini." Apa jangan-jangan, beliau mengatakan hal ini karena mau membalas dendam akibat perbuatanku di hotel beberapa hari yang lalu?


"Bagus, Damar setuju Mam. Biar dia gak terlihat ketika Damar mulai rutin berada di tempat ini nantinya." Pria ini begitu menginginkan aku agar menjauh dari hidupnya. Huh, apa dia tidak tahu kalau aku juga muak melihatnya.


"Bukan begitu maksud Mami. Pap, jelasin deh sama calon mantu kita!"


"Calon mantu?" Kudengar suara Cindy begitu jelas. Tatapan kami beradu.


"Begini ya, Wulan. Kamu harus resign menjadi karyawan di tempat ini. Agar Damar fokus bekerja dan membuka cabang lainnya di tempat baru. Kamu tidak perlu capek-capek bekerja, kamu pindah saja ke apartemen milik Damar. Biar kami yang akan memberikan kebutuhan sehari-hari kamu."


Aku berusaha mencerna apa maksudnya ini semua.


"Tapi kamu kan calon istri--,"


"Tante, Wulan mohon. Kami berdua belum menikah. Jadi, Wulan harus bisa bertahan hidup dengan tenaga sendiri."


"Sudahlah Mam, Pap! Biarkan saja Wulan bekerja di sini. Bukankah kalian bisa selalu melihatnya kalau berkunjung ke coffe shop kita?" Kak Mutia mendukung keputusanku.


"Tapi, Kak ... gue gak mau dia terlihat di tempat ini!" Damar protes.


"Elu tuh, diem kagak? Elu gak tiap hari harus ke sini, sok banget jadi manusia." Mutiara mencibir adiknya


"Stop! Kita makan dulu baru memperkenalkan diri di hadapan semua karyawan." Om segera menutup perdebatan.


"Wulan permisi mau mengambil pesanan." Aku menarik lengan Cindy.

__ADS_1


"Lan, Elu calon istri Bos baru yang bernama Damar itu, ya?" Cindy malah menanyakan hal ini di saat yang tidak tepat. Dia memancing karyawan lainnya untuk mendekat.


"Ngarang, siapa yang bilang? Kamu tuh kalau ngomongin orang hebat jangan begitu, Cin." Aku membekap mulut Cindy. Membuat kode-kode dengan mengerjapkan mata beberapa kali.


"Kalian berdua kenapa? Cepat antar pesanan Bos kita!"


"Iiiy-iya, Pak." Aku melepas bekapan. Cindy menyikut lenganku dengan keras.


"Awww," rintihku spontan.


"Ada si buncit, Cin."


"Bodo amat, Elu gak ngira-ngira. Main bekap gue segala."


"Maaf, aku hanya mau mulutmu itu diam! Anggap saja kamu salah dengar, ya?!" pintaku memelas.


"Jadi, kamu itu beneran calon istri, Bos Damar?" Dia berbisik.


"Kalian berdua! Cepat bekerja!" Lagi-lagi perut buncit itu melihat kami berdua yang menempel.


"Bbb-baik, Pak." Cindy dan aku segera mengambil nampan.


Kami berdua kembali ke meja—di mana ada keluarga Damar di sana. Dengan sopan, Cindy meletakkan makanan dan minuman yang ada di coffe shop ini.


"Makan dan minum dulu! Istirahat nanti barulah kita berkenalan dengan seluruh karyawan." Om sudah bertitah. Sejak tadi, aku tidak melihat suami Kak Mutia berbicara, atau dia orangnya pendiam tak seperti Damar yang culas.


Damar sengaja mengerjaiku, dia menyuruhku untuk mengambil ini dan itu. Sudah beberapa kali aku melakukan keinginannya.


Kalau dia kemari lagi, bisa-bisa beban kerjaku semakin berat saja.


Jujur saja, aku mulai letih hingga akhirnya waktu istirahat tiba. Kali ini, sengaja coffe shop ditutup selama sepuluh menit. Ada tanda tutup disertai keterangan yang terpampang di depan pintu.


Si perut buncit memulai pembicaraan, dia berpidato seperti orang yang sudah ahli saja. Padahal, tata bahasanya agak kacau dan berantakan. Entah karena gugup atau karena hal lainnya.


Kini, mulailah Mas Riki memperkenalkan diri dan memperkenalkan kami satu per satu.

__ADS_1


"Wulan? Dia namanya Wulan? Ke sini kamu, Wulan!" Damar memanggilku. Tubuhku masih berdiri mematung, tak bergeming sedikit pun.


"Wulan!" Dia kembali memanggil.


__ADS_2