Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Dimarahi Damar


__ADS_3

Damar menatap kami bergantian. Aku tidak tahu bahwa dia ada di sini. Kupikir dia pergi ke cabang baru coffee shop ini.


"Damar, Wulan kan libur. Kenapa Elu marah sama dia?"


"Gue gak nanya sama Elu, Mas! Ngapain Elu ke sini?" tatapannya begitu lekat.


"Seperti yang kamu lihat, Bos. Saya dan teman Bos sedang mengobrol."


"Elu, pulang atau gue panggilin Mami!" Dia mengancamku.


"Damar, apa maksudnya ini?" Dimas tentu saja tidak tahu tentang hubungan kita.


"Iya, nanti aku pulang. Sekarang aku mau minum dulu. Selamat bertugas, Bos." Aku harus tersenyum semanis mungkin padanya.


"Awas ajah kalian berdua kalau macam-macam! Gue lihatin kalian dari jauh."


"Tenang saja, Bos Damar." Pria itu akhirnya melangkah pergi meninggalkan meja kami.


"Kalian berdua dekat banget ya?"


"Maksudnya?" Aku menghentikan menyedot kopi ini.


"Damar itu bukan tipikal cowok yang mau basa-basi dengan cewek-cewek di luar sana. Apalagi tadi dia sempat bilang mau manggil Maminya. Ada hubungan apa diantara kalian?" Semoga saja Dimas tidak curiga setelah aku menjawab pertanyaannya.


"Mas, dia itu bos aku. Tentu saja dia harus basa-basi, apalagi lusa aku pindah ke cabang yang baru. Hubungan kami tentu saja antar karyawan dan bos. Memang salah?" Aku berusaha menenangkan detak jantung. Semoga saja Dimas percaya.


"Eum, begitu ya. Setelah dari sini, Elu mau ke mana lagi? Biar gue anterin." Pria ini lagi-lagi menawarkan tumpangan.


"Gak usah, makasih banyak. Kamu harus bekerja setelah dari sini. Aku mau berpamitan pada mereka, lusa sudah pindah tempat kerja. Biar mereka gak kaget kalau aku mendadak pindah tempat."


"Baguslah kalau Elu beneran pindah di sana. Gue gak bakalan datang ke sini lagi, gue mau kalau Elu layanin gue kalau datang ke coffee shop yang baru."


"Boleh, kapan saja bisa, sudah menjadi pekerjaan aku melayani pelanggan." Dimas meraih tanganku yang ada di atas meja.


"Dimas, apa-apaan ini?" Aku menarik lenganku turun.


"Dikit aja, Lan. Cuma megang tangan ajah, gak bakalan gue apa-apain."


"Awalnya pegangan tangan, nanti lama-lama kebiasaan merembet ke mana-mana megangnya." Aku menampakkan ekspresi kesal.


"Sorry, gue udah ngaku sama Elu. Tapi, gue lihat Elu sudah punya cowok yang Elu suka."


"Tolong jangan bicarakan ini lagi!" Aku memohon padanya. Jangan ditanya detak jantungku seperti apa. Dimas sempat membuatku salah tingkah, tapi, aku berusaha untuk menepis perasaan itu.


Suara dering telepon membuat dia mengalihkan perhatian. Dia menerima telepon tadi, menatapku sambil mengernyit heran.


"Oke, gue ke sana sekarang." Mendengar ucapannya, membuatku bernapas lega. Akhirnya dia pergi juga.

__ADS_1


"Lan, sorry ya ... gue harus pergi, ada hal mendadak."


"Iya, gak apa-apa, pergi aja sana!" Aku bisa bernapas lega.


"Malam ini, kita ngobrol di apartemenku, ya!" bisiknya tepat di daun telinga.


"Gak usah ngarep, gak boleh ke mana-mana kalau malam. Ibu sama Bapak ngelarang."


"Owh, kalau begitu, biar gue ke apartemen Elu. Sekalian kenalan sama orang tua Elu." Dia mengedipkan sebelah matanya.


"Bye." Pria itu meninggalkan aku seorang diri di meja.


Selang beberapa menit kemudian, ada seorang pria yang menghampiri. Siapa lagi kalau bukan pemilik tempat ini.


"Elu ngapain sama Dimas tadi? Sejak kapan kalian dekat? Kenapa kalian bisa berduaan ke sininya?" cecarnya menatapku lekat tanpa mengedip.


"Kamu nanya udah kaya polisi mau nangkap maling. Banyak amat pertanyaannya."


"Tinggal jawab aja! Gak usah merembet ke mana-mana!" Damar duduk di seberang meja. Kami duduk berhadapan.


"Kami gak sengaja ketemu di depan. Gak ke sini bareng."


"Lebih baik kamu menjauh dari aku, bisa-bisa ada yang mengetahui rahasia kita." Aku berusaha mengusirnya, tak bisa kupungkiri bahwa ada seseorang yang mengetahui rahasia ini. Tapi, dia itu orangnya bisa dipercaya, jadi aku tidak begitu khawatir.


"Awas kamu kalau sampai berhubungan dekat dengan Dimas."


Apa dia lupa kalau aku mengenal Dimas karenanya.


"Pokoknya, gue gak mau Elu deket-deket sama dia! Jangan sepelekan ucapan gue, mengerti!" Dia membentak sambil menepuk meja.


"Damar! Kita jadi tontonan orang-orang. Tuh, lihat!" tunjukku dengan dagu pada beberapa pelanggan tempat ini.


"Wulan, Elu harus mengiyakan ucapan gue! Jangan dekat-dekat dengan Dimas, mengerti!"


"Iya, aku ngerti." Daripada harus berdebat dengannya, aku iyakan saja, selesai urusan. Pria itu pergi meninggalkan aku seorang diri.


Aku duduk sambil menonton film, lumayan bisa mengunduh film dengan WiFi yang ada di sini. Sebenarnya, sudah mulai jenuh. Menunggu mereka beristirahat ternyata menjemukan.


Selesai menonton film satu judul, kulihat jam di layar hape. Sudah pukul sebelas lebih. Aku beranjak dari tempat duduk, meletakkan hape di dalam tas selempang. Kulihat Lena, Cindy dan beberapa rekan kerja lainnya sudah mulai bertukar posisi.


"Wulan, kamu ke mana ajah? Sudah seminggu lebih gak kerja." Lena menghampiriku.


"Len, dipanggil Pak Riki! Buruan!" Suara Cindy membuatku menoleh ke arahnya. Lena berdecak kesal, dia bergegas pergi meninggalkan aku. Cindy menghampiriku.


"Lan, Kamu jadi nikah sama Bos Damar, ya? Sudah seminggu lebih gak kerja, pasti selama itu Kamu sudah menikah dan pergi bulan madu."


"Cindy, shuttt!" Aku meletakkan jari telunjuk di bibir.

__ADS_1


"Udah, Kamu santai ajah! Aku gak bakalan kasih tahu siapa pun rahasiamu."


"Yakin? Aku pernah denger Kamu dan Lena pernah ngomongin aku di kamar mandi. Kira-kira sebulanan yang lalu."


"Kamu jangan salah paham, aku hanya meladeni Lena. Kalau aku tidak berpura-pura sok ingin tahu, bisa-bisa dia curiga padaku kalau aku menyembunyikan sesuatu." Benar juga apa yang Cindy ucapkan.


"Makasih banyak ya, Cin. Lain kali kalau kamu libur, aku ajak makan ke apartemen. Biar Ibu yang masakin."


"Apartemen?!" Perempuan ini malah memekik.


"Cindy!"


"Maaf, keceplosan."


"Apartemen siapa? Punya bos Damar ya?" Aku menggeleng.


"Apartemennya nyewa kok. Kata adiknya sih, Damar punya rumah, punya apartemen juga. Punya beberapa lot saham. Entah apa lagi, aku gak ngerti. Kalau apartemen yang aku dan orang tuaku huni sekarang, itu mah cuma nyewa." Cindy menganga lebar.


"Cindy, Kamu dengerin apa yang aku omongin, kan?" Dia mengangguk pelan.


"Gilak, kaya juga tuh orang."


"Ada yang lebih kaya dari mereka, itu yang mereka selalu bilang padaku."


"Kalau punya aset di mana-mana, itu mah bisa dikatakan kaya, Lan. Gak kayak kita gini, banting tulang mulu, kerja keras." Cindy menghela napas panjang.


"Eh, ralat ... Kamu gak termasuk soalnya sebentar lagi Kamu udah jadi menantu di keluarga si Bos."


"Hei, kalian berdua kalau mau ngobrol, di luar saja sana!"


"Gawat, aku keasyikan ngobrol. Udah dulu ya, Lan." Cindy meninggalkan aku seorang diri.


"Elu pulang ajah! Gak usah gangguin orang yang lagi bekerja!" Aku berdecak kesal karena Damar mengusirku.bTerpaksa aku ke luar dari tempat ini. Berjalan santai menuju tempat kost. Aku ingin kembali ke sana, menyapa penghuni kost lainnya. Aku tidak sempat berpamitan pada orang-orang yang aku kenal.


Entah berapa lama aku berjalan, kening ini mulai meneteskan keringat. Aku menyapa Pak penjaga tengah duduk di pos jaga.


"Mbak Wulan, mau ngekost di sini lagi?"


"Eh, enggak Pak. Aku mau main ke kost-an yang lainnya. Gak pamitan sama mereka, jadi, sengaja ke sini mau pamitan. Boleh, kan Pak?" tanyaku memastikan.


"Boleh, tapi ada yang masuk sif pagi. Paling ada beberapa yang ada di kamar."


"Baik, Pak. Makasih ya, Pak." Baru saja aku melangkah masuk melewati pintu gerbang, ada seorang pria yang menatapku lekat dari arah parkiran.


"Siapa ya? Kok sepertinya pernah kenal." Aku mencoba mengingat kembali.


"Astaghfirullah, dia itu kan-," kututup mulut ini menggunakan telapak tangan. Aku mundur beberapa langkah, menjauh dan berbalik arah.

__ADS_1


"Tunggu! Mau ke mana, Kamu?!" Suara itu membuat tubuhku bergetar hebat.


__ADS_2