
Pria itu tengah duduk di sebelah Selena.
Adik Damar berbisik pada daun telinganya, pria itu manggut-manggut sambil menatapku.
"Kak Wulan, kenalin nih ... pacar Selena, namanya Robi." Pria itu mengulurkan tangannya padaku. Aku ragu untuk menyalaminya. Aku hanya mampu tersenyum kikuk.
"Sel, ngapain kita ke sini? Aku takut banget nih, gak nyaman juga." Jujur saja, aku melihat orang-orang yang baru saja masuk. Mereka berbondong-bondong dan duduk di tempat yang mereka suka.
"Sekali-kali gak apa-apa, Kak. Kita nikmati saja tempat ini!" Musik terdengar kencang sampai aku terperanjat dari tempat duduk. Bau alkohol semakin menguar, membuat hidungku semakin lebih jelas mencium aromanya.
"Udah mulai malem nih, bentar lagi banyak yang ke lantai dansa. Mereka pasti menari berpasangan," Pria itu berteriak padaku. Suaranya memang tidak terlalu terdengar, kalah oleh gaungan musik yang kencang.
Aku tidak suka melihat pacar Selena, gadis itu bukan seseorang yang bisa berada di tempat ini. Sejak kapan gadis itu berani menginjakkan kakinya di tempat ini. Apa, jangan-jangan Damar dan orang tuanya tidak tahu? Aku bingung harus bagaimana dan berbuat apa.
Kulihat Robi dan Selena saling pandang sambil meremas paha masing-masing. Gaya pacaran mereka sepertinya bebas ala jaman sekarang. Sesekali Robi menyingkap rambut Selena, mencium pipinya.
Sepertinya dia mulai menyadari kalau aku memperhatikan mereka. Dia menatapku lekat, ada ekspresi tidak suka yang dia tampakkan. Bibirnya didekatkan pada daun telinga Selena, beberapa detik kemudian dia bangkit dari tempat duduknya.
Aku menggeser posisi, mendekati Selena. Gadis itu menikmati minuman yang dibawa Robi tadi.
"Sel, kita ngapain ada pub seperti ini. Pulang yuk!" Sejak tadi aku merasa tidak nyaman.
"Tenang saja, Kak. Kak Wulan nikmati saja! Gak perlu berpikir aneh-aneh!" Gadis itu meliukkan tubuhnya walaupun dalam posisi duduk. Senyumnya begitu cerah. Omonganku tidak dia gubris sama sekali.
"Wulan, seharusnya kamu berani menolak," gumamku pada diri sendiri.
Robi datang bersama seorang pria, pria yang dibawanya duduk tepat di sampingku. Senyumnya terlihat aneh.
"Hai cantik? Kenapa Elu sendirian ajah? Gue temenin ya?!" Dia menuangkan minuman keras pada gelas yang tersedia.
__ADS_1
"Nih, ambil!" Dia menyodorkan gelas tersebut.
"Eum, aku gak minum alkohol." Kutolak mentah-mentah.
"Air ini enak lho, cantik. Coba cicip sedikit ajah!" Dia masih bersikeras membujukku. Dengan kasar aku menepis gelas itu sampai terlempar dari tangannya, terjatuh di atas lantai dan pecah begitu saja.
Selena dan Robi melihat kami, gadis itu merengut sambil menatap tajam. Mulutnya berdecak di daun telingaku.
"Kak Wulan, gak usah nyari ribut gitu deh, Kak. Gue gak suka Kak Wulan bar-bar kek orang kampung begini. Minum ajah dikit, gak bakalan kenapa-napa." Baru kali ini aku melihat kelakuan Selena. Ternyata, sifatnya tidak semanis yang aku bayangkan sebelumnya.
"Aku mau pulang, Sel! Antar sekarang juga ke kost-an!" Aku tidak kalah berekspresi dalam melawannya.
"Ogah, gue gak mau nganterin. Kita pulang sama-sama, nanti! Sekarang, nikmati dulu, tuh udah ada temennya di samping Kakak!" Dia menunjuk pria di sampingku.
Aku terjebak di tempat ini, kurogoh hape di dalam tas, tapi, tanganku malah dicengkeram kuat oleh pria—temannya Robi.
"Minum sedikit saja!" Mulutku dicekoki, tanganku digenggam dengan kuat olehnya. Hidung ini digigit sampai tak bisa bernapas sepersekian detik. Mulutku terpaksa terbuka, air keras itu lolos begitu saja. Rasanya agak pahit, kerongkongan merasakan panas.
Pikiran dan gerak tubuhku tidak selaras. Kami berdua minum dengan cepat tanpa kusadari. Beberapa kali mulut ini mengoceh sambil berbicara asal. Pikiranku pun mulai melayang. Entah apa yang terjadi, tubuhku digotong seseorang. Penglihatan begitu redup, aku tidak menolak mau dibawa ke mana. Selena cekikikan di belakang sana, aku dapat melihatnya sekilas. Dia berjalan sambil bergandengan begitu mesra dengan Robi.
***
Mata ini kubuka perlahan, ada jaket tebal berwarna hitam yang menutupi tubuh bagian atas. Kepalaku sedikit pusing, kutelisik area di mana kini berada.
"Tunggu dulu, kenapa aku ada di kamar ini? Siapa yang membawaku? Jam berapa sekarang?" Ternyata tubuhku ada di atas ranjang, perut ke bawah ditutupi selimut, tubuh bagian atas memakai jaket tadi.
"Dimana ini?" Aku memekik, berupaya ada yang mendengar ucapan tadi.
Kepala pusing, tubuhku lemas, perut seperti mual—diaduk-aduk isi perut. Ingin sekali aku berdiri, tapi badanku masih lemas tak bertenaga.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" Seorang pria ke luar dari kamar mandi.
"Kamu, ngapain kamu ada di kamar ini? Mana Selena dan Robi? Kenapa aku berada di sini? Jam berapa sekarang?" Aku memberondong banyak pertanyaan padanya.
"Gilak, cerewet amat Elu. Elu gak inget kejadian semalam?" tanyanya sambil bersedekap. pundaknya bersandar pada dinding.
"Semalem ... maksud kamu aku sudah tidur semaleman? Oh tidak, aku harus pergi bekerja." Spontan saja aku menyibak selimut, berusaha bangkit dari ranjang. Aku mengitari seluruh ruangan untuk mencari tas yang kupakai.
"Diam dulu! Badan Elu masih lemas, aku sudah memesan bubur. Tunggu sebentar lagi!"
"Gak bisa, aku harus bekerja sekarang." Telapak kaki menginjak lantai kamar, aku berusaha melangkah tapi karena masih didera rasa pusing, langkahku sempoyongan dan hendak terjatuh.
"Tuh kan, gue bilang apa. Bandel banget." Pria itu menangkap tubuhku.
"Elu libur dulu hari ini, biar gue yang bilang sama Riki." Dia mendudukkan aku pada kisi-kisi ranjang.
"Damar, kenapa kamu ada di sini? Semalam itu apa yang terjadi? Aku tidak ingat apa-apa lagi kecuali kalau aku diajak Selena ke pub malam."
"Sebaiknya kamu tidak usah mengingatnya lagi! Biarkan ingatan itu hilang." Dia kini duduk di sampingku. Aku terbelalak melihat lebam di sudut bibir, pelipis dan rahangnya.
"Ini kenapa?" Aku meraba-raba rahangnya.
"Gak usah banyak tanya! Istirahat saja di sini! Kejadian ini cukup diantara kita bertiga saja. Selena, biar aku yang menghukumnya karena telah bertingkah di luar batas." Aku terperangah melihat sikapnya yang seperti seorang kakak sejati.
"Selena dihukum? Maksud kamu apa?"
"Dia membawa Elu ke tempat begitu. Apalagi dia juga ke sana dengan pacarnya, pria yang menjadi pacarnya itu tidak baik. Dia salah memilih orang, gue mengikuti jejak Robi, mencoba menyelidiki pergaulannya. Malam kemarin gue sengaja mengikutinya agar tahu dia orang yang seperti apa." Kulihat tangannya mengepal kuat sampai uratnya menonjol.
"Kamu, kamu mengikuti kami di pub?"
__ADS_1
"Tidak, sudah kubilang aku mengikuti Robi. Gue kaget banget melihat kalian berdua di sana."
"Sekarang aku mau tanya, kita berdua ada di mana? Kamar siapa ini?" Aku menatapnya lekat. Dia menoleh ke arahku, tatapan mata kami saling beradu. Mulutnya setengah terbuka, wajahnya mendekat perlahan. Aku menahan napas melihat ekspresi wajahnya.