
Tubuh ini di dorong oleh Lena yang ada di dekatku.
"Iiiy-iya ... saya Wulan, Bos." Sial, aku malah gugup.
"Damar!" Kulihat Tante Iren menarik lengan anaknya pelan.
"Wulan, ke sini kamu!" panggilnya.
Aku mendekat padanya, kami berdua berdiri saling berhadapan.
"Balik arah! Lihat rekan kerjamu satu persatu!" titahnya.
"Hentikan, Damar!" Suara Om mulai berat.
"Ya sudah, kembali ke tempatmu!" Aku berjalan mundur, mendekati Lena dan Cindy.
"Kita semua sudah berkenalan dan saling tahu nama masing-masing. Saya harap kerja sama ini akan berlanjut sampai cabang coffe shop ini dibuka di tempat lain. Kalian bekerja lah sebaik-baiknya, satu orang yang beruntung akan saya naikkan jabatannya di tempat yang baru. Mengerti?" tegas Damar.
"Baik Bos." Kami menjawab kompak.
"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian! Sudah sepuluh menit lebih kita tutup tempat ini. Buka kembali dan selama bekerja." Aku bisa bernapas lega.
"Yang namanya Wulan, tunggu di sini! Ada yang ingin saya bicarakan." Aku terperangah mendengar perintah Damar.
****** juga nih orang, mentang-mentang udah jadi Bos, aku malah di panggil terus.
Mereka meninggalkan aku di ruangan rapat ini bersama Damar dan keluarganya.
"Damar, kamu ngapain panggil-panggil Wulan terus?" Tante Iren cemas.
"Tenang saja, Mam! Damar cuma ingin memastikan satu hal penting padanya." Alis ini bertaut.
"Sudahlah, kami ke luar saja." Kak Mutiara dan suaminya melangkah pergi.
"Selena di sini ajah deh, kayaknya seru nih." Gadis itu menyengir lebar. Umurnya tidak jauh berbeda, paling beda tiga tahunan saja. Tapi, tingkahnya seperti remaja yang selalu saja ingin bersenang-senang.
Tante dan Om menggeleng cepat melihat kelakuan dua anaknya. Mereka kini duduk di kursi yang ada di ruangan sempit ini.
"Wulan."
"Iya, Pak."
"Yang bener dong jawabnya!" Nada suaranya meninggi.
__ADS_1
"Saya Wulan, Pak Bos."
Pengen aku tendang tuh mulutnya, kurang ajar sekali kelakuannya, mentang-mentang aku karyawan di tempat usahanya.
Aku hanya mampu membatin, dongkol diperlakukan spesial olehnya. Ya, spesial karena selalu saja memanggil namaku. Semoga saja aku betah bekerja di sini. Kalau aku sudah tidak tahan, aku akan mencari kerjaan lainnya demi kewarasan mental dan pikiran.
"Kamu dilarang menyebarkan rumor tentang perjodohan kita!" Aku terbelalak menatapnya.
"Tunggu dulu ... Saya yakin Bapak Damar salah menebak. Saya juga tidak mau kalau sampai mereka tahu tentang perjodohan ini." Hidungku kembang kempis, mencoba menahan emosi.
"Baguslah kalau begitu ... sekarang, lanjutkan pekerjaan kamu!" Aku melangkah tanpa menatap wajah di depanku ini.
Dengan rasa dongkol, aku menghentakkan kaki dan bergabung bersama karyawan lainnya.
"Pengen aku solder ajah tuh mulut." Geram mendengar perkataannya yang selalu percaya diri. Padahal, bukan dia saja yang menolak perjodohan ini.
POV Damar
Aku melihat tampang Wulan yang merengut ketika ke luar dari tempat ini. Kini, aku melangkah menuju kursi kosong dan bergabung dengan Mami dan Papi.
"Damar, kamu itu keterlaluan banget ya. Padahal sebulan lebih kalian berdua akan bertunangan." Mami masih saja mengungkit hal itu.
"Tunda dulu, deh Mam! Damar harus melakukan pembenahan pada sistem coffe shop ini." Aku menolak tegas.
"Tapi, Mam ... tetap saja--,"
"Banyak omong, lebih baik sedikit bicara banyak bekerja!" Papi mulai mengoceh. Sebaiknya aku diam kalau Papi sudah mulai bicara. Bisa-bisa jatah bulanan dipotong, ya, itu yang selalu beliau jadikan ancaman untukku kalau membantah ucapannya.
"Damar pulang dulu, mau ngurusin berkas untuk mengajar besok." Sebaiknya aku pergi dari sini. Toh acara perkenalan tadi sudah selesai.
"Mas Damar, gue ikut ya! Gue bosen nih lihat orang kerja." Selena menghampiri.
"Kalian berdua gak mau pulang bareng Mami, Papi dan Kakak kalian?" Mami seketika berdiri.
"Kalau masih lama, terpaksa Damar pulang duluan Mi. Ayo Sel, kalau kamu sudah mau pulang." Adikku satu-satunya itu mengangguk cepat.
"Kita pulang duluan ya, Mam, Pap. Oh iya, tanya tuh sama Kak Mutiara, sepertinya ada yang dia tutupi dari kita." Selena menyalami punggung tangan orang tua kami bergantian dan berlalu pergi. Dia membuat kami penasaran dengan ucapannya barusan.
"Ngomong apaan sih tuh anak." Mami menggerutu.
"Bye, Mam!" Aku menuju pintu ke luar.
Aku menarik kerah baju Selena, menariknya agar dia menunggu sejenak. Aku harus memastikan mereka bekerja dengan baik sebelum meninggalkan tempat ini. Aku berkeliling, melihat pelanggan yang datang dan pergi. Para karyawan juga bersikap ramah pada pelanggan. Pelayanan mereka sama seperti aku ketika nongkrong di coffe shop ini sebelum mereka mengenalku sebagai Bos baru. Pelayanan mereka sama, sejak dulu sampai sekarang, tetap ramah dan hangat pada konsumen.
__ADS_1
Aku menghampiri Selena, mengajaknya pergi dari tempat ini. Kami melangkah beriringan, memasuki kendaraan yang ada di pelataran parkir. Seperti biasa, mobilku ini bukan merek mahal, tapi, tetap bisa mengaung di jalanan.
Di tengah perjalanan, "Mas Damar, gue lupa mau ngasih tahu ini sama Elu." Konsentrasiku buyar seketika.
"Elu ngagetin orang ajah, Sel." Kucubit pipinya menggunakan tangan kiri.
"Sorry, Mas. Gue cuma mau bilang ini sama Elu." Sesekali aku melirik ke arahnya sambil menyetir.
"Emang mau bilang apaan?"
"Waktu makan malam kalian tuh. Kak Wulan memberontak sebelum pulang. Mami lho, ngotot banget nyuruh Kak Wulan nginep. Dengan garang kak Wulan membentak Mami. Mami langsung syok, gue juga diem gak tahu harus bilang apa."
"Hah ... yakin? Elu gak salah ngomong, kan? Kenapa baru ngasih tahu gue sekarang?" Aku menepikan kendaraan.
"Sorry, Gue lupa. Tapi, ya ... Elu tahu kagak apa yang Mami bilang ke gue?"
"Apaan emangnya?" Entah kenapa aku begitu tertarik dengan pembahasan Selena. Apalagi ini tentang Mami yang dibentak seorang gadis yang tidak lama dikenal. Aku harus mengambil kesempatan ini, akhirnya keberuntungan berpihak padaku.
"Tunggu dulu!" Aku menutup mulut Selena. Tangannya mencubit punggung tanganku.
"Apaan sih, Bang. Mau Selena gak bisa napas ya?" Dia menonjok dadaku.
"Gue tebak dulu reaksi Mami karena udah dibentak Wulan." Sudut bibir ini tersenyum.
"Coba ajah tebak!"
"Gampang itu, Elu dengerin gue baik-baik!" Kami berdua saling berpandangan.
"Pasti Wulan di bentak balik sama Mami. Elu tahu sendiri, kan kalau Mami gak pernah dibentak." Aku mengerjapkan mata berulang kali.
"Sok tahu, Mas Damar nih," Dia mencibir.
"Pasti Mami mengumpat dan membentak Wulan balik, kan? Ngaku ajah deh!" Senyum ini semakin lebar.
"Eum, eum ... salah besar Mas!"
"Gak mungkin, Elu ngada-ngada."
"Iya ... gue juga kaget awalnya karena Kak Wulan berani banget membentak. Mami syok, setelah Kak Wulan ke luar kamar hotel, Mami tertawa terbahak-bahak seperti ada yang lucu."
"Hah? Gue gak salah denger nih?" Aku tidak menyangka dengan respon Mami yang diluar dugaan."
"Beneran, Mami bilang Kak Wulan itu ...
__ADS_1