
"Heheh, Tante Iren. Maaf, ya, Wulan harus bekerja karena kemarin sudah libur dadakan." Kucoba tersenyum semanis mungkin.
"Lan, kami duluan ya! Mari Bu, Bos." Keduanya pergi meninggalkan kami dengan tergesa.
Tante Iren menarikku ke salah satu sudut ruangan dekat dengan kaca. Beliau memberikan ceramah panjang kali lebar sampai-sampai aku menjadi pusat perhatian para konsumen di sini. Aku meminta maaf, alasan yang kugunakan juga logis, tapi, Tante Iren tak mau memakluminya. Beliau tidak suka dengan yang namanya kebohongan.
"Sini kamu!" Beliau menyeret lengan kiriku, aku terpaksa mengekori beliau.
"Kalian semua, mana manager tempat ini?" Tante Iren belum hapal dengan nama si buncit itu.
"Iiiyya, saya Bos besar." Buncit itu menghampiri kami di depan kasir dengan tergopoh-gopoh.
"Dalam seminggu ke depan, biarkan Wulan cuti dari tempat ini! Kalian rekrut karyawan lain untuk menggantikannya! Sebentar lagi dia tidak bisa bekerja di tempat ini lagi."
"Tante, kenapa gitu sih? Suka sekali ikut campur dalam urusan pekerjaan Wulan." Aku menepis tangannya dengan kasar. Sejak tadi, aku mencoba diam dan mengalah. Tapi, mendengar ucapan Tante Iren yang sepihak tanpa ada basa-basi denganku membuatku berang tak bisa dikendalikan lagi.
Semua menatapku lekat, ada yang menganga lebar, tak sedikit yang melongo mendengar apa yang aku ucapkan.
"Wulan, kamu itu jangan bandel ya! Kamu bukan anak kecil lagi. Tante berhak marah padamu kalau gak sopan begini."
"Sudahlah, Tan. Wulan mau kembali bekerja." Tak kupedulikan perintah beliau. Aku kembali ke ruang loker dan memakai kembali topi seragam serta celemek yang serupa.
"Wulan, Bos besar ngomel-ngomel tuh di depan." Riki menyusulku. Kini, aku siap untuk kembali bekerja.
"Biar saja, Mas. Aku capek nurutin mulu kemauan Tante."
"Kalian berdua, sedang apa di tempat ini? Berduaan lagi." Wajah orang yang tidak mau aku lihat, tengah berkacak pinggang di ambang pintu ruangan ini.
"Kami mengobrol tentang-,"
"Saya tidak bertanya padamu! Kamu pergi dari sini! Kembali ke tempat kerjamu!" Astaga, mulutnya itu pengen aku suapin cabe pedas level lima puluh. Riki meminta maaf dan ke luar dari tempat ini, padahal, seharusnya dia yang meminta maaf karena berbicara kasar, walaupun pada bawahan sendiri.
"Kenapa diem? Jelasin sekarang juga!"
"Jelasin apaan?" Aku menghentakkan kaki.
__ADS_1
"Kenapa kalian berdua ada di sini? Ingat, kalian hanya 'berdua'!" Wajahnya dicondongkan di depan wajahku sampai deru napasnya berembus tepat di hidung.
"Ini kan, loker. Aku ngambil topi dan celemek untuk kembali bekerja. Tiba-tiba saja Riki datang dan ngasih tahu kalau Tante Iren ngomel-ngomel di luar sana." Secara rinci aku jelaskan agar dia tidak banyak tanya lagi.
"Bohong! Elu gak tahu apa, kalau dia itu ada rasa suka sama Elu?" Aku terperangah mendengar perkataan Damar.
"Yakin? Sejak kapan? Memangnya benar ya? Dia itu udah punya pacar, gak mungkin ah." Aku berkata sambil tersipu malu.
"Heh, ganjen amat jadi cewek. Kenapa senyumnya malu-malu gitu?" Aku mengendikkan bahu tanpa menjawab.
"Gue mau Elu nurutin apa kemauan Mami gue. Cuti seminggu apa salahnya? Gaji Elu tetep gue bayar, tenang saja!"
"Ta-taaa-tapi-," Damar menyela ucapanku.
"Gue gak mau bahas ini lagi! Besok, acara wisuda gue, Elu harus ke rumah malam ini juga. Ini kemauan Mami, gue udah capek dengan tingkah polah Mami. Kita ikuti ajah alur yang Mami buat. Toh ini cuma pertunangan, bukan pernikahan. Nanti, gue pikirkan caranya agar kita tidak jadi menikah." Mendengar ucapannya membuat dadaku bergemuruh hebat saking senangnya.
"Yakin, beneran?" Damar mengangguk singkat.
"Oke, kalau seperti ini, aku mau ikutin rencana kamu." Karena terlalu senang, aku memegang tangan Damar dan berjingkrak-jingkrak gembira.
"Sakit tau." Aku mengusap-usap kening.
"Dah, temuin Mami sana! Dengerin apa yang Mami inginkan! Setelah itu lanjutin ajah kerjanya!" Dia pergi meninggalkan aku seorang diri.
"Yes, akhirnya dia jadi partner untuk memikirkan solusi untuk menggagalkan rencana pernikahan." Aku tersenyum lebar, dadaku berdebar kencang karena terlalu senang.
"Wulan, kamu kenapa?" Mas Riki berada di ambang pintu.
"Gak apa-apa, Mas." Kepala ini menggeleng cepat.
"Bos besar mau ketemu tuh, kamu ke depan sana!" Aku mengangguk, menyanggupi permintaan Maa Riki.
Damar, aku berharap banyak padamu. Hanya ide dari kamu yang bisa membuat pernikahan kita gagal.
Aku meladeni obrolan Tante Iren, setelah beliau mulai bosan kemudian pulang, aku kembali melanjutkan pekerjaan sampai sore hari tiba dan waktunya aku pulang. Aku berjalan seorang diri ke kost-an, bahagia sekali ketika mendengar ucapan itu ke luar dari mulut Damar.
__ADS_1
"Apa aku juga harus membujuk Bapak dan Ibu agar mereka berpikir ulang untuk melanjutkan perjodohan ini?" gumamku seorang diri.
Aku tiba di kost-an, beristirahat sejenak, mandi dan berganti pakaian. Malam sudah tiba, aku mengemas beberapa pasang pakaian untuk bermalam di rumah itu. Satu minggu bukan waktu yang sebentar. Baru saja aku meraih hape di ranjang, ingin memesan ojek online. Eh, ada suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatianku.
Daun pintu kubuka, melihat sosok di sana yang begitu rapi seperti baru pulang kerja. Apa jangan-jangan dia memang baru pulang bekerja?
"Woi, gak usah melamun! Udah jam tujuh lebih, biasanya setan pada ke luar dari sarangnya."
"Damar, apaan sih. Setannya itu Kamu, tau." Aku berdecak kesal.
"Nih, bawain barang-barangku!" Kusodorkan dua kantong plastik padanya.
"Enak aja, gue itu bukan babu Elu. Bawa sendiri! Gak usah manja!" Dia meninggalkan aku, menjauh dari pintu kost-an. Aku menutup pintu kamar, menguncinya dan menyusul Damar yang berjalan begitu cepat.
Kami masuk ke dalam kendaraan, mobil ini pun meluncur memecah jalanan ibu kota di malam hari yang dipenuhi kelap-kelip lampu jalanan dan gedung-gedung tinggi.
Hening, tak ada perbincangan di antara kami. Aku memilih untuk mengambil air pod, memasangnya tepat di daun telinga. Lebih baik aku mendengar lagu dan sesekali bernyanyi mengikuti lirik lagu yang kudengar.
Ada tepukan di bahu, aku menoleh, melihatnya, melepaskan salah satu air pod.
"Apa? Lagi nyanyi kok diganggu?"
"Jangan nyanyi di sini! Telinga gue sakit dengerin suara Elu yang cempreng begitu." Dia menoleh sekilas, konsentrasinya masih pada jalan di depan kami.
"Sumpel ajah tuh telinga, gue mau lanjut nyanyi lagi."
Aku tidak peduli pada apa yang dia katakan.
"Bandel."
"Bodo amat." Aku kembali memasang air pod dan mendengar lagi lagu-lagu kesukaan. Tak berapa lama, aku menguap hingga meneteskan air mata. Aku tertidur hingga akhirnya ada elusan tangan di pipi yang mengganggu tidurku.
Elusan itu semakin intens, elusan itu merambah ke bibirku. Aku berusaha untuk membuka mata.
"Apa-apaan ini? Jangan macam-macam denganku!" Kulihat dia menyeringai lebar dan semakin mendekati tubuhku sampai akhirnya dia mengungkung seluruh tubuh ini.
__ADS_1
"Tidaaak, jangan!" teriakku sambil memukul dada bidangnya.