Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Kelakuan Bapak dan Ibu


__ADS_3

Ibu dan Bapak ternyata jatuh dari sofa, mereka berdua jatuh ke belakang. Pantas saja suaranya begitu keras, ternyata sofa itu berguling ke belakang.


"Bu, Pak, kenapa bisa begini? Kalian berdua tidak apa-apa?" Aku dan Damar bergegas menolong mereka berdua. Perasaan tadi mereka berdua anteng saja menonton TV, sekarang posisi tubuh mereka terbalik, kepala di bawah, kaki di atas.


Aku dan Damar berusaha menarik tubuh keduanya, aku menarik tubuh Ibu sementara Damar menarik lengan Bapak. Setelah mereka berhasil diselamatkan, sofa di dorong kembali oleh Damar. Napasnya tersengal, ada keringat yang bercucuran dari pelipisnya. Dia mengusap keringatnya dengan telapak tangan.


"Wulan kaget, Bu. Kupikir ada apa, eh ternyata kalian berdua malah sudah berganti posisi." Jujur saja, aku ingin tertawa melihat mereka, tapi masih bisa aku tahan. Damar tersenyum lebar, sepertinya dia tidak mampu menahan tawanya. Posisi Ibu dan Bapak membuat kami terperangah sekaligus menggelikan.


"Gara-gara Bapak kamu tuh. Sudah jelas Ibu mau duduk eh dia malah melarang Ibu dan ingin me-" Ibu tidak melanjutkan ucapannya.


"Ingin me- apa, Bu?" Kutelisik raut wajahnya.


"Sudahlah, Ibu masuk ke kamar. Mau minum obat dulu." Ibu meninggalkan kami bertiga.


Aku beralih menatap Bapak, ingin meminta penjelasan. Tapi, beliau tak mengatakan apa pun kemudian menyusul Ibu.


"Hahahah, tingkah Ibu dan Bapak kamu lucu, Yang." Damar berusaha menekan perutnya, mulutnya ditutup olehku agar suara tawanya tidak terdengar di dalam kamar orang tuaku.


"Mas Damar, gak usah keras-keras begitu!"


"Awh," pekikku tertahan. Dia menggigit tanganku kemudian menjilati bekas gigitannya.


"Mas." Lagi-lagi dia mulai atraktif.

__ADS_1


"Saatnya pulang, udah malem. Sabar sampai delapan belas hari lagi." Aku mendorong dadanya dengan kuat.


"Aku kayaknya gak bisa sabar, boleh investasi duluan gak sih?" Dia menggodaku, sebelah matanya berkedip ganjen.


"Ck, gak usah bercanda kalau urusan itu, Mas! Gak lucu ah." Aku kembali mendorong tubuhnya. Akhirnya kami berdua ada di balik pintu masuk.


"Pulang ya, udah malam. Mas harus istirahat, katanya capek." Aku merapikan rambutnya yang acak-acakan. Tangannya meraih tanganku kemudian dikecupnya dengan lembut. Setelah itu bibirnya berpindah pada bibirku, aku meladeninya walau sebentar, tapi dia malah semakin mempererat pelukannya.


"Mas," jeritku tertahan. Tangan ini mendorong kuat tubuhnya agar menjauh dariku.


"Yang, nanggung." Tak kuhiraukan ucapannya.


Aku membuka pintu, mendorongnya dengan kuat, kuraih payung sebagai alat untuk memukulnya.


"Pulang, gak? Udah malam ini."


"Kamu nakal, Mas. Bisa gak sih sabar sebentar saja." Tak kuhiraukan ucapannya, tangan ini menutup daun pintu setelah badannya ke luar sepenuhnya. Kukunci pintu rapat-rapat, dia masih mengetuk pintu beberapa kali, tapi, aku tidak menggubrisnya.


Kaki berjalan ke arah kamar, mencari keberadaan hape dan mengetik pesan singkat pada Damar via aplikasi hijau. Setelah dia membaca pesan dan membalasnya, aku tersenyum tipis. Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang. Besok pagi dia banyak kerjaan, jadi, tidak akan ke apartemen. Aku harus mengambil kesempatan ini, besok aku pasti menghubungi Aditya, memberikan informasi padanya tentang kedatanganku dan Ibu di tempat gym. Tubuh ini berbaring telentang, menatap langit-langit kamar sejenak, kemudian bergeser ke kiri memeluk guling. Tak terasa mata terpejam.


***


Sore hari sekitar pukul tiga, aku dan Ibu bersiap untuk pergi ke gym. Kami menaiki taksi online, bapak yang menjaga apartemen, aku sudah mengajak beliau, tapi beliau keberatan. Dengan gembira aku ke luar dari taksi setelah kami tiba di depan bangunan itu.

__ADS_1


Aditya menyambut kedatangan kami, kami bertiga masuk ke salah satu tempat VVIP, memulai latihan sambil mengobrol santai. Setelah satu jam kami melakukan olahraga dengan trainee sang pemilik gym, akhirnya aku menyerah. Masih pemula dalam urusan gerak tubuh yang satu ini. Kami pamit pulang pada pemilik gym.


Mungkin karena kurang berolahraga, badanku terasa pegal setelah pulang dari tempat itu, Ibu sempat memijatku setelah sampai di apartemen. Sepertinya aku harus melanjutkannya lagi, aku bisa beristirahat dua hari kemudian kembali lagi ke gym Aditya.


Sepuluh hari sebelum pernikahan.


Sudah empat kali ini aku ke tempat Aditya, syukurlah selama ini Damar tidak tahu karena aku memang merahasiakan ini darinya. Aku terpaksa berbohong pada Ibu kalau sudah meminta izin Damar. Syukurlah selama ini semua baik-baik saja, Ibu tidak curiga, begitu pula Damar. Dua sesi latihan lagi, setelah itu aku akan berpamitan pada Aditya dan mengembalikan kartu member VIP yang dia berikan.


Di apartemen, sore hari sebelum berangkat ke tempat gym Aditya. Aku sudah bersiap-siap untuk pergi, sementara Ibu masih ada di dalam kamarnya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Ibu ke luar juga.


"Lan, Ibu gak bisa ikut ke tempat Adit, perut Ibu sakit sekali. Kamu gak usah pergi ya! Temenin Ibu dan Bapak." Ibu duduk di sofa sambil mengelus-elus perutnya.


"Dua sesi latihan lagi, Bu. Nanggung kalau gak datang, Ibu istirahat saja! Biar Wulan pergi sendirian." Mau bagaimana lagi, malas rasanya ada di apartemen ini terus.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya, Nak! Tapi, sebaiknya kamu gak usah pergi, soalnya berdua saja sama Nak Adit." Ibu cemas.


"Hahaha, Ibu ini aneh. Berduaan saja gimana, Bu? Di sana banyak orang selain kami. Ibu tenang saja!" Aku berpamitan pada beliau.


Setibanya di sana, seperti biasa aku berganti pakaian. Adit begitu antusias begitu aku tiba di sana. Kami berdua latihan angkat beban dengan beban ringan terlebih dahulu. Sampai tibalah saatnya aku harus pulang, tenagaku sudah terkuras. Keringat dingin mulai mengering. Aku pamit pada Adit, dia memaksa ingin mengantar, tapi aku menolaknya secara halus, beralasan bahwa Damar yang akan menjemput, jadi, dia tidak memaksa lagi. Karena perut merasa lapar, jadi, aku mampir sebentar di sebuah warung sederhana yang ada di sekitar sana. Dengan santainya aku menyantap hidangan yang sudah aku pilih.


Setelah membayar kemudian kaki ini melangkah menjauh dari warung. Aku harus berjalan kaki di trotoar sebentar untuk membakar kalori. Udara sore ini lumayan panas, padahal sudah pukul empat sore lebih tiga puluh menit, karena inilah ibu kota yang begitu padat, hawanya tidak mengenakkan, terlalu banyak polusi.


Mendadak ada mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di sampingku, mobil itu terbuka dan ada dua orang yang ke luar dari sana. Mereka menggunakan masker.

__ADS_1


"Hei, apa-apaan ini? Siapa kalian?" Aku memberontak, mereka mencekal dua tanganku di kiri kanan. Sial, tenagaku tidak sekuat mereka.


"Lepaskan!" Tubuhku di seret, masuk ke dalam mobil. Mulut ini sempat berteriak untuk meminta pertolongan. Tapi, belum ada yang menolongku, mulut ini dibekap menggunakan sapu tangan. Baunya aneh dan menyengat, sekejap saja mata ini terpejam dan aku tidak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2