
"Wulan, jangan kamu pikir Ibu tidak tahu apa yang kamu rencanakan. Kamu menyuruh Damar untuk mencari keberadaan kakek nenekmu?" Ibu melotot.
"Bu, Wulan cuma main-main saja tadi. Sekarang sudah maghrib, Wulan mau mandi setelah itu sholat." Aku tidak mau berdebat dengan mereka berdua. Lagipula aku malu karena terpergok oleh Bapak di sofa tadi.
"Awas saja kamu! Setelah makan malam, kita bicarakan ini lagi." Aku menutup pintu kamar setelah mereka berdua pergi dari depan pintu.
Kaki ini bergerak cepat ke arah kamar mandi. Mandi air hangat untuk meringankan rasa pegal sejak tadi. Setelah itu, aku melakukan kewajiban. Memakai mukena dan bersujud pada Ilahi.
Pakaian yang dikenakan adalah setelan piyama lama. Ibu mengetuk pintu kamar, menyuruhku makan malam. Sebaiknya aku diam saja ketika mereka mulai membahas kakek nenek. Aku iyakan saja ucapan mereka.
Setelah makan malam selesai, benar saja dugaanku. Mereka berdua mengoceh tanpa henti sampai-sampai telinga ini panas. Entah berapa lama mulut Ibu dan Bapak berkata-kata, setelah mereka kecapekan, aku pamit untuk ke kamar karena harus tidur. Besok aku sudah harus memulai pekerjaan.
Bokongku menempel di kisi-kisi ranjang, suara dering hape membuatku terlonjak. Mata ini awas menatap sekeliling, mencari keberadaan hape. Aku melangkah ke tempat tas selempang berada, merogoh hape di dalamnya.
"Damar." Namanya terpampang jelas di mata.
"Ngapain dia nelpon malam-malam?" Aku masih mengacuhkan panggilannya. Dering itu berhenti, kemudian kembali berbunyi.
"Ck," decakku seraya menjawab panggilan telepon.
"Apaan sih, Mar? Aku mau tidur, besok berangkat kerja." Tanpa memberikan dia kesempatan berbicara, aku langsung berucap tegas.
"Kamu kena marah Ibu dan Bapak tidak?"
Otakku berpikir cepat, "Jadi, kamu yang memberitahu tentangku yang mencari kakek nenek?"
"Maaf, Bapak mengancamku. Jadi, aku terpaksa mengikuti permintaan mereka."
"Tapi, kamu tenang saja! Tidak semudah itu aku menyerah, perjanjian kita masih berlanjut walau pun orang tuamu melarangku."
"Benarkah?" Aku gembira sekali mendengarnya.
"Iya, beneran. Kamu bisa percaya padaku." Dia meyakinkanku.
"Oke, kalau kamu berbohong, aku tidak akan pernah mau mengobrol denganmu lagi."
"Oh iya, kenapa kamu menelponku? Hanya karena Ibu dan Bapak?" lanjutku.
"Bukan karena itu, aku ingin kamu selalu bersiap ketika aku menginginkannya."
"Bersiap kenapa? Memangnya kamu menginginkan apa?"
"Besok saja di coffee shop aku langsung praktekkan."
"Damar, jangan aneh-aneh deh. Memangnya apa itu?" Aku penasaran dengan apa yang dia sampaikan.
"Pokoknya ada. Besok aku jemput, kalau ketemu Dimas dan Adit secara tak sengaja, lebih baik kamu menghindari mereka! Mengerti!"
"Entah, tergantung moodku."
"Wulan, jangan membuatku berpikiran macam-macam. Aku merasa gelisah setiap kamu menyebutkan nama seorang pria. Aku tidak mau mereka menggantikan aku."
__ADS_1
"Udahlah, gak usah dibahas! Aku udah ngantuk berat nih." Mulut menguap. Rasa kantuk sejak tadi sudah terasa.
"Yasudah, kamu tidur saja. Besok aku jemput, gak usah dandan cantik-cantik segala! Aku melarangmu memakai make-up di coffee shop, ingat itu!" Lagi-lagi sifat protektifnya menguasai.
"Eum," sahutku singkat seraya memutuskan panggilan telepon.
"Dasar cowok aneh. Wulan, kenapa kamu suka sama cowok begini sih." Aku menghubungkan kabel pengisi daya pada hape.
Kaki ini kembali melangkah ke arah ranjang, berbaring dan memeluk guling. Wajahku mengukir senyum.
"Sumpah, baru kali ini aku merasakan perasaan yang seperti ini. Dalam satu hari ini, perasaanku berubah-ubah karena Damar." Tanpa sadar kusentuh bibir ini dan menggigit bibir bawah.
"Damar, aku tidak tahu ini perasaan suka atau apa. Semoga saja seiring berjalannya waktu, rasa ini semakin besar."
Kelopak mata mulai terpejam. Rasa kantuk sudah tidak bisa aku tahan lagi.
***
POV Damar
Pagi hari sebelum berangkat ke pembukaan cabang coffee shop yang baru.
"Mas Damar, buruan turun!" Selena mengetuk pintu kamar.
"Iya," sahutku singkat.
Setelah mematut diri di depan cermin, aku meraih tas tangan di atas nakas. Dompet dan hape juga kunci mobil sudah ada di dalamnya. Hari ini rasa bahagia seperti berlipat-lipat.
Kaki ini menuruni anak tangga satu persatu dengan tenang, mulut bersiul sambil sesekali tangan bergerak.
"Biasa Mam, hari ini pembukaan cabang coffee shop. Masa iya Damar harus bersedih?" Aku menggeret kursi, duduk di samping Selena.
"Sudah, kita sarapan dulu!" Papi mulai berkomando.
Tak ada percakapan lagi, yang ada suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Kami berempat menyantap hidangan dengan santai.
Selesai sarapan, aku harus pergi menjemput Wulan. Aku berpamitan pada mereka. Kali ini, dengan rasa penuh percaya diri, aku menjemputnya tepat di depan pintu unit apartemen Wulan. Ibu yang membuka pintu untukku. Tatapannya tak biasa, melihat penampilanku dari atas sampai bawah.
"Bu, Wulannya mana? Ibu malah melamun." Tanganku menepuk udara kosong di depan wajah wanita paru baya ini.
"Tunggu dulu, Ibu panggilkan. Kamu masuk saja dulu!"
"Iya, Bu." Aku melangkah masuk kemudian menutup pintu dan menguncinya, jangan sampai Dimas sembarangan masuk ke tempat ini.
"Damar, aku sudah siap. Ayo kita pergi!" Gadis itu berpenampilan sederhana, tapi tidak mengurangi kecantikan alaminya. Dia berpamitan pada kedua orang tuanya. Kami berdua berjalan beriringan di koridor apartemen
"Kamu tidak bertemu Dimas lagi, kan?" tanyaku memastikan.
"Enggak, semalam langsung tidur setelah menutup telepon."
"Baguslah." Kami masuk ke dalam lift yang membawa kami turun ke lobi.
__ADS_1
Setibanya di bawah, kami sengaja pergi ke arah basemen gedung. Kuraih tangannya, menggenggam kemudian mengecup berkali-kali.
"Damar, hentikan! Ngapain nyium tanganku segala?" Dia berusaha melepaskan diri tapi aku semakin bersemangat untuk mencengkram pergelangan tangannya.
"Kamu diam saja, aku suka mencium tanganmu, wangi." Lagi-lagi aku mengecupnya.
"Besok-besok aku oles tanganku pake terasi ajah biar kamu gak mau nyium lagi." Wajahnya cemberut.
"Wulan." Kutatap dia dengan tajam seolah memberikan ancaman.
"Bodo, terserah aku dong."
Sesampainya di parkiran, aku membuka pintu mobil untuknya. Dia masuk tanpa banyak bicara. Sebelum menutup pintu, aku menyuruhnya untuk meraih barang yang ada di dasbor mobil.
"Yang mana? Barang apa?" tanyanya tak sabar.
"Di sana, coba kamu lihat."
Cup.
"Yes, berhasil." Dengan cepat aku menutup pintu dan menuju kursi di balik kemudi.
"Damar, kamu tuh curang ya." Dia menatapku tajam.
"Jadi, kamu mau kita sama-sama melakukanya?"
"Ck, bukan gitu maksudnya. Udah deh, berangkat saja!" Aku menyalakan mesin kendaraan. Mobil ini bergerak cepat meninggalkan basemen gedung.
Tak sampai sepuluh menit, kendaraan ini sudah memasuki pelataran parkir coffee shop.
"Wah, bagus banget. Ada umbul-umbul juga." Dia menatap hiasan yang ada di parkiran.
"Di dalam lebih banyak lagi."
"Benarkah?"
"Bercanda, masa iya umbul-umbul dipasang di dalam ruangan?" Aku terkekeh geli melihat dia yang merengut.
"Jangan membuatku menginginkanmu, Lan. Mimik wajahmu yang begitu membuatku gemas dan ingin merasakannya lagi."
"Maksudnya apa?"
"Lanjutan yang semalam, aku ingin kita berdua merasakannya dengan kesadaran diri. Bukan karena paksaan atau pun karena emosi yang membuncah." Kuraih tangan itu. Menempelkannya di dada bidangku.
"Damar, ini tempat parkir. Kamu gak malu kalau kita ketahuan berbuat mesum di sini? Semalam aku malu sekali sama Bapak. Itu semua karena kamu." Dia tersipu malu.
"Ya Allah, wajahmu yang begini yang membuatku tidak tahan." Kepala ini menjulur ke arahnya, bibirku berusaha untuk mengecup pipi itu.
"Pak Damar!" Suara ketukan pintu kaca mengalihkan perhatian.
"Sialan, gak bisa lihat orang senang apa gimana?" Aku memukul setir kemudi.
__ADS_1
"Bye Damar." Wulan membuka pintu, bergerak cepat ke luar dari kendaraan ini.
Kulihat siapa yang memanggil tadi, ternyata dia. Kenapa dia malah ada di sini?