
"Jelaskan sekarang, Pak!" Aku memaksa sampai tak sadar kalau suara ini begitu keras.
"Wulan, apa yang harus dijelaskan?" Ibu menimpali.
"Gak ada apa-apa, Bu. Wulan hanya mau tahu tentang kondisi kampung kita." Bapak berbohong.
"Kalian berdua sudah dulu! Mandi dulu sana! Istirahat dulu, sudah senja ini." Tante Iren menghentikan obrolan kami.
Orang tuaku masuk ke kamar tamu. Sementara aku menemani Tante Iren yang sibuk menonton video. Sesekali beliau melirikku.
"Ada apa, Tan? Kok seperti ada yang mau disampaikan?"
"Memangnya apa yang mau Mam sampaikan? Gak ada tuh." Beliau mengelak.
"Kelihatan dari gestur dan mimik wajah Tante, katakan saja apa yang mau Tante bicarakan!" paksaku.
"Eum, gimana ya. Mami bingung mau mau mulai dari mana." Hape diletakkan di atas sofa sebelahnya.
"Memangnya ada apa, Tan? Serius sekali sepertinya." Tatapan mata ini menelisik raut wajah di sampingku.
"Eum, begini ... besok tuh ada acara arisan di rumah ini. Kamu dan orang tuamu kan harus beres-beres di apartemennya, jadi, Mami gak bisa nganterin kalian. Biar Pak Dadang saja yang antar."
"Wulan pikir apa, Tan. Begitu saja Tante merasa gak enakan, santai ajah, Tan! Malah seharusnya kami yang merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Tante selama ini." Kutatap wajah beliau yang sekarang ini terlihat tenang.
"Ini bukan apa-apa, ini semua karena janji kami berdua yang harus ditepati. Kami berjanji pada Ibu-," Beliau tidak melanjutkan ucapannya..
"Ibu, Ibu siapa, Tan?" Aku mengernyit.
"Eh, ada telpon nih. Mami jawab telpon dulu." Beliau bergegas pergi meninggalkan aku seorang diri di ruang keluarga.
__ADS_1
"Aneh," lirihku sambil mengintip keberadaan Tante.
Lebih baik aku masuk ke kamar saja, mandi dan berganti pakaian.
***
POV Damar
Sudah sejak pagi sampai siang, aku berada di kampus. Banyak mahasiswi yang menanyakan tentang siapa sebenarnya Wulan. Komentar mereka beragam ketika melihat Wulan di acara wisuda kemarin. Ada yang bilang dia cantik, manis, bahkan tak sedikit yang bilang kalau dia tidak cocok ketika bersanding denganku, kata mereka umur Wulan seperti orang yang lebih tua dariku. Padahal, kami seumuran, hanya beda bulan kelahiran saja. Tapi, aku tidak mau ambil pusing, tak menjawab pertanyaan mereka. Hanya menanggapi dengan senyuman tipis nan singkat.
Pukul dua siang, tugasku di kampus sudah selesai. Peran untuk menjadi asisten dosen sudah selesai, kini, aku harus bertukar peran menjadi seorang bos coffe shop yang seminggu lagi akan dibuka. Aku mengendarai mobil ke sana, melihat persiapan yang harus kami lakukan. Ada orang kepercayaanku di sana, tapi, tetap saja aku tidak boleh lepas tangan.
Sesampainya di sana, aku menyapa mereka. Memberikan botol minuman soda yang sudah aku beli dalam perjalanan. Aku meletakkannya di atas meja. Kudekati Pria yang aku percaya untuk melakukan ini.
"Ridwan, gimana persiapannya?"
"Pengecatan udah selesai tadi. Kita hias dikit menggunakan mural." Ridwan sepertinya mulai letih dengan tugas borongan yang dia kerjakan.
"Belum juga buka udah mau minta hasilnya, jangan tanam modal kalau begitu!" sahutku singkat.
"Gue juga mau punya passive income, gak mau kerja mulu. Capek banget gue, sumpah."
"Makanya sabar dulu! Doa terus menerus biar usaha kita ini lancar!"
"Jangan khawatir kalau itu, gak bisa gue lupakan kalau tentang urusan langit." Dia menyengir lebar.
"Tapi, yakin bayaran Elu sengaja untuk menambah modal tempat ini?" Dia mengangguk mantap.
"Cuma ini jalan satu-satunya, Mar. Lumayan tiga puluh juta yang Elu tawarkan untuk bayaran gue, bisa gue alihkan ke tempat ini."
__ADS_1
"Oke, kita lihat perkembangan selama tiga bulan ke depannya."
"Santai saja, asalkan kuat di marketing, gue yakin coffe shop ini bakalan rame seperti sebelumnya." Aku mengangguk setuju.
Tempat ini cabang terbaru yang akan kami buka, harapannya tentu saja agar lebih banyak orang yang tahu tentang keberadaan coffe shop Leaves, nama tempat usahaku.
Ada tiga orang berlalu lalang, ada yang membersihkan dapur, kamar mandi, loker untuk pekerja, dapur, dan ruang utama. Di satu sudut, ada bermacam-macam jenis pohon yang ada di dalam pot bunga tengah menunggu untuk di susun.
"Seminggu lagi harus on time grand openingnya! Tiga hari dari sekarang sudah harus selesai 100 persen, agar stok bahan keperluan dapur bisa dimasukkan keesokan harinya." Aku berpesan pada Ridwan.
"Beres, Bos. Serahkan pada kami!" Dia menggodaku.
Aku berkeliling sejenak untuk melihat kinerja mereka. Memperhatikan pekerjaan yang dilakukan mereka. Aku masuk ke dalam ruang loker, semuanya serupa dengan coffe shop sebelumnya, hanya saja ada sedikit perbedaan pada dinding ruangan.
Entah sudah berapa lama aku berada di sini, pundakku mulai letih, aku harus pulang dan beristirahat. Tapi, sebaiknya aku melihat lagi apartemen yang akan ditempati oleh Wulan dan keluarganya mulai besok hari. Mumpung kuncinya ada di tanganku.
Aku pamit pada mereka, kendaraanku melaju cepat ke alamat gedung apartemen itu. Tidak butuh waktu lama, aku berjalan santai dan menuju lantai empat belas.
Aku membuka pintu ruangan, melihat kamar tidur yang cukup besar. Dua kamar tidur yang cukup bagus, semua perabotan di dalam sini begitu luxury. Aku yakin sekali yang punya unit ini pasti orang kaya. Kekayaan keluarga kami tidak sepadan dengan kekayaan pemilik tempat ini.
Aku pergi ke dapur, memastikan bahwa tong elpiji sudah benar-benar diganti oleh pemelihara gedung. Kubuka kran air untuk mengecek derasnya kucuran air. Semua lampu aku nyalakan, mana tahu ada bola lampunya yang mati. Semua aman terkendali. Aku membuka pintu kulkas, ternyata dalam kulkasnya sudah bersih, ada yang membersihkannya. Setelah ini, aku harus mengambil kunci cadangannya pada pemeliharaan gedung. Toh, semua tugas mereka sudah siap.
Aku bersiul sambil melangkah ke balkon, pemandangannya khas kota besar, banyak gedung-gedung pencakar langit yang terlihat jelas.
"Elu pasti suka banget tinggal di sini, beda jauh dengan kost-an buluk nan suram itu." Aku meregangkan kedua tangan, melemaskan otot-otot sekitar leher dan punggung.
Entah berapa lama aku melihat pemandangan, kaki ini kembali ke pintu depan. Belum sempat menginjakkan kaki di ambang pintu, ada orang masuk tanpa izin. Dia membuka pintu kamar. Kulihat pintu setengah terbuka. Aku berusaha untuk melihat wajahnya, tapi, karena dia membelakangi tubuhku, aku tidak dapat melihat wajahnya.
"Kamu siapa? Kenapa masuk ke sini diam-diam? Kamu pencuri ya?" Aku bersandar pada dinding, sebenarnya aku tengah waspada, tapi, aku harus bisa tenang untuk mengendalikan amarah. Jangan sampai dia seperti Zayn yang babak belur karena ulahku.
__ADS_1
Dia berbalik arah, kami bertatapan dan saling beradu pandang, mata melotot lebar.