Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Makan Malam?


__ADS_3

Tante Iren menghampiri kami. Pandangan beliau menatap kedua orang yang ada di hadapanku.


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan pada calon menantuku?" Bola mata ini melebar, mulut menganga seketika.


Duh, Tante nih. Bisa-bisanya ngomong begitu. Nanti mas Riki malah berpikiran macam-macam.


"Dia tuh genit sama pacar aku, Bu. Awasin tuh calon mantunya!" Perempuan itu menarik lengan Riki. Sementara Riki masih menatapku tanpa berkedip.


"Gak mungkin dia begitu. Cowok kamu ajah tuh yang keganjenan. Iya, kan Honey?" Aku hanya mampu menanggapi dengan sebuah senyum tipis.


Keduanya pergi begitu saja setelah melihat Tante Iren memberikan barang-barang pada pramuniaga outlet ini.


"Kamu kenal mereka, Sayang? Mendingan jauh-jauh deh, bukan orang baik tuh. Kelihatan banget dari gelagatnya." Aku cuma mampu meringis.


"Wulan cuma kenal sama Mas Riki saja, Tante. Itu pun karena satu tempat kerja."


"Owh, begitu. Mama pikir kenalan darimana."


"Ya sudah deh, nih cobain dulu sepatunya!" Mama memberikan kode pada karyawan tadi.


Dia menata empat pasang sepatu menggunakan hak tinggi.


"Tan, Wulan gak bisa make hak tinggi seperti ini. Bisa lecet dan keseleo nanti." Aku bingung harus bagaimana. Lebih baik aku berbicara jujur pada beliau.


"Astaga, mulai sekarang kamu harus belajar. Gak mungkin dong pakai sepatu flat untuk dipadukan dengan gaun tadi." Beliau menatapku gemas.


"Ta-tapi ...,"


"Udah deh, gak ada tapi-tapian. Coba saja dulu dari keempat sepatu ini. Kalau Mama lihat ada yang cocok, beli yang itu saja. Urusan belajar pake sepatu hak tinggi, serahkan saja pada Mama." Beliau malah memaksa agar aku bisa memakainya. Mau bagaimana lagi, daripada harus mendengar omelan Ibu di kampung, bisa berabe, kan.


Aku berdiri, memakai sepatu itu bergantian. Tante Iren menatapku lekat. Beliau sepertinya tengah berpikir keras.


"Ah, yang Putih mutiara itu bagus. Yang itu lagi, warna hitam metalik, blink-blink gitu kelihatannya."


"Ambil yang dua ini ya! Tasnya cocok yang mini tadi saja. Yang warna peach lembut dan hitam." Tante Iren kembali berbicara pada karyawan sini.

__ADS_1


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya kami selesai berbelanja di tempat ini.


"Wulan, sini Sayang! Kamu harus pakai sepatu ini sambil belajar." Aku terperangah mendengarnya.


"Gak mungkin, Tan. Lantainya licin." Sumpah, aku takut kalau sewaktu-waktu terjatuh menggunakan sepatu ini. Apalagi kalau jatuh di depan banyak orang. Bisa-bisa malu sampai ubun-ubun. Serba salah nih.


"Udah deh, gak usah kebanyakan mikir!" Terpaksa aku menuruti kemauan Tante.


Aku mencoba berjalan perlahan setelah memakainya. Awalnya memang sulit untuk mencapai keseimbangan. Bukan hanya itu, telapak kaki rasanya tidak seperti biasanya. Entah ini karena perasaanku saja karena pertama kali memakainya, ataupun memang begitulah adanya.


"Nah, gitu dong. Udah mulai lancar lho, rajin-rajin jalan pakai hak tinggi ya!"


"Heheh, Wulan coba Tan. Tapi, kalau setiap hari menggunakan sepatu hak tinggi, sepertinya gak sanggup nih." Aku tidak mau menyiksa diri. Menggunakan hak tinggi membuat tulang belakangku terasa aneh.


"Pokoknya, kalau pas acara pertunangan nanti, kamu harus memakai sepatu seperti ini." Aku mengangguk.


Kami sudah kembali ke basemen mall. Mama sengaja tidak menghubungi sopir agar bisa mengajariku berjalan menggunakan sepatu hak tinggi.


"Astaga, Mama lupa ngajak kamu makan siang." Wanita paru baya ini menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi, kalau kamu udah laper lagi, bilang ajah gak usah sungkan, Sayang." Calon mertuaku ini begitu perhatian. Ya, walaupun seringkali terlalu berlebih-lebihan.


Kami masuk ke dalam kendaraan, tas belanjaan tadi dimasukkan ke bagasi oleh pak sopir. Setelah itu pak sopir kembali duduk di balik kemudi. Mobil ini melaju ke luar dari basemen.


Aku tidak bisa lagi menahan kantuk, Tante Iren yang sejak tadi mengajakku mengobrol mulai tidak kuindahkan. Mata ini terpejam begitu saja.


***


"Wulan, Wulan ... bangun, Sayang!" Tepukan lembut di pipi terasa. Aku berusaha membuka mata perlahan.


"Tante," gumamku. Sejenak aku berpikir, Tante Iren tampak mengernyit. Sontak aku kembali sadar sepenuhnya.


"Tante Iren ... maafin Wulan ya. Wulan ketiduran." Aku tidak enak hati. Bisa-bisanya aku tidur begitu nyenyak.


"Tidak apa, pasti kamu lelah karena kebanyakan jalan di mall tadi. Ayo kita turun!" Aku melihat pemandangan di luar sana.

__ADS_1


"Kita ke hotel, Tan? Ngapain?" Aku bingung, kenapa juga harus ke hotel? Bukankah lebih baik aku dibawa pulang saja ke kost-an? Aku belum bisa mencerna maksud Tante Iren. Semburat cahaya jingga mulai meredup, tak terasa sekitar empat jam aku bersama Tante Iren.


"Gak usah berisik! Ayo turun! Kamu harus mandi dan bersiap-siap, Mama yang akan mendandani kamu."


"Dandan? Kenapa Wulan harus dandan, Tan? Memangnya kita mau pergi ke acara resmi?"


"Tidak usah banyak tanya! Ayo kita masuk!" ajak beliau. Pintu kendaraan sudah terbuka karena pak sopir bergegas membukanya.


Kami berjalan beriringan, pintu masuk terbuka otomatis. Pak sopir mengekori langkah kami, di tangannya ada barang belanjaan tadi. Kami langsung menuju ke lantai sembilan. Daripada kena semprot, lebih baik aku menuruti saja kemauan beliau.


Kami memasuki sebuah kamar di ujung lorong. Pak sopir meletakkan tas belanjaan di atas nakas.


"Saya tunggu di bawah, Nyonya." Pria paru baya itu begitu hormat pada Tante Iren. Setelah mendapatkan izin, beliau ke luar dari kamar ini.


"Kamu mandi dulu sana! Yang bersih, sekalian luluran juga, semuanya udah ada di kamar mandi." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Bajunya pakai dres yang maroon ini aja. Paling makan malamnya cuma dua jam." Beliau mengedipkan sebelah matanya.


"Makan malam? Makan malam dengan Tante harus seheboh ini?"


"Sudah, sana buruan mandi!" Beliau mendorong punggungku agar mendekati kamar mandi.


Mataku terbelalak, melihat semua barang yang ada di sini. Sabun mandi, shampo, lulur, bahkan ada masker rambut dan wajah. Aku bergegas memakai lulur dahulu, daripada Tante Iren terlalu lama menunggu. Lima belas menit kemudian, aku ke luar menggunakan handuk kimono yang sudah tersedia.


Aku disuruh memakai body lotion yang ada di nakas. Tak lupa menggunakan pengering rambut. Setelah itu, Tante Iren menyodorkan gaun yang berwarna merah marun tadi. Aku berganti baju di kamar mandi. Setelah ke luar, beliau langsung mengeluarkan isi tas. Banyak produk kosmetik yang tergeletak di ranjang. Kami berdua duduk berhadapan. Tangan Tante Iren begitu ahli memakaikan kosmetik itu padaku.


"Nah, begini saja sudah cukup. Kamu itu sudah cantik dari sononya. Dipoles begini semakin terpancar aura kecantikannya." Senyum begitu sumringah beliau tampakkan.


Aku didorong di depan cermin, sempat tak percaya bahwa di pantulan cermin itu adalah aku. Gaun ini berlengan pendek, tapi, bahunya terbuka lebar. Lekuk tubuhku begitu terlihat. Tante menyodorkan tas hitam metalik dan sepatu hak tinggi dengan warna serupa. Rambutku hanya disisir rapi, digerai begitu saja.


"Oke, sudah siap. Kita berangkat sekarang, Sayang!" Kami berdua berjalan ke luar dari kamar hotel. Turun ke lobi dan menuju restoran milik hotel ini.


"Kamu duduk di sini ya!" Aku disuruh duduk di dalam sebuah ruangan yang hanya ada beberapa di restoran ini. Sementara beliau pergi meninggalkanku.


"Kenapa aku harus menunggu di sini? Bukannya cuma makan malam bareng Tante doang ya?" gumamku.

__ADS_1


Ada suara langkah seseorang yang mendekat. Aku menelan ludah setelah menoleh ke arahnya. Tatapan mata kami saling beradu.


__ADS_2