
Seorang pria masuk dan duduk di balik pintu kemudi. Dia menatap ke arahku dengan nyalang.
"Ngapain Elu duduk di situ? Ke luar sana!" Nada suaranya begitu menggelegar.
"Aku duduk di kursi ini karena di suruh Tante Iren. Kalau gak dipaksa masuk, amit-amit deh dekat-dekat sama manusia angkuh seperti kamu." Aku tak kalah sengit membalas ucapannya.
"Alah, bilang saja kalau Elu memang mau satu mobil sama gue." Tatapannya melengos begitu saja.
Aku tidak mengindahkan ucapannya, pintu mobil kubuka dan segera ke luar. Daripada aku harus mendengarkan ucapannya yang sinis, lebih baik aku naik ojek saja. Mau menjelaskan juga percuma, pria seperti dia gak akan percaya. Segera aku memesan ojek online. Kendaraan yang membawa keluarga Tante Iren dan orang tuaku sudah pergi. Mobil Damar juga menjauh dari halaman rumah.
Tak usah menunggu lama, ojek online datang. Raut wajah Bapak pengendara motor itu terkesiap melihatku.
"Ada apa, Pak? Ada yang aneh dengan wajah saya?" Telunjukku menunjuk wajah.
"Eum, eh ... enggak ada apa-apa, Mbak. Mari naik, saya antar ke tempat tujuan."
"Cantik dan kaya malah naik ojek," gumam beliau pelan tapi, terdengar olehku.
Owh, ternyata beliau tercengang karena itu. Aku maklum saja karena beliau tidak tahu apa-apa.
Motor ini melaju sesuai rute jalan yang ada di aplikasi. Lumayan juga, bisa nyelip ke beberapa kendaraan di jalan. Bapak ini sepertinya sudah handal dengan pekerjaannya.
Tak butuh waktu lama, aku sudah berada di hotel Sriwijaya. Banyak orang berlalu lalang, aku tidak melihat kendaraan Keluarga Damar atau kendaraannya tadi.
"Mereka di mana ya?" Segera aku merogoh tas untuk mengambil hape. Saatnya menelpon Ibu, beliau pasti mencariku kalau sudah sampai.
Suara di seberang menyahut panggilan telepon.
"Ada apa? Kenapa kamu belum sampai? Kami baru saja tiba."
"Wulan baru saja sampai, Bu. Ibu dan Bapak ada di mana? Aku nungguin di lobi ajah ya. Jemput Wulan, Bu!" Sebaiknya aku menunggu saja sampai ada jemputan ke ruangan untuk berkumpulnya keluarga Tante Iren.
Aku duduk dengan santai sambil menonton video yang tengah trending akhir-akhir ini. Kasus pembunuhan berencana di salah satu instansi pemerintah, sungguh membuatku semakin penasaran dengan kasus itu.
"Wulan, sini Sayang! Ikut Mama yuk!" Di depanku sudah berdiri Wanita cantik walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
"Tante Iren." Sontak aku berdiri.
"Panggil Mama ajah! Biar terbiasa."
Aku diam tak menanggapi, hanya mampu tersenyum tipis. Kami berdua berjalan beriringan ke arah ballroom hotel. Baru pertama kalinya aku ke hotel—di mana ada yang melaksanakan resepsi pernikahan. Tampilannya membuatku terpukau.
"Oh iya, Mama lupa mau nanya. Mana Damar? Kenapa belum kelihatan?" Kepala beliau melongo melihat pintu masuk ballroom.
"Owh, tadi Damar bilang mau ke toilet sebentar, Tante."
Ups, Tante lagi. Semoga beliau mau mengerti kenapa aku masih memanggil Tante.
"Ya sudah, kamu masuk saja! Biar di dandanin sekalian. Wajahmu pasti cantik banget kalau menggunakan make-up. Ya, walaupun sebenarnya begini juga manis dan cantik." Beliau mengelus kepalaku dengan lembut.
"Wulan masuk dulu." Beliau mengangguk saja.
"Padahal pengennya dijemput Ibu. Malah Tante Iren yang datang." Aku menghela napas sejenak.
"Wulan!" panggil seseorang yang ada di depan kaca rias. Aku terperangah melihat siapa yang ada di depan sana.
"Iren nyuruh Ibu dandan. Lumayan kan untuk kenang-kenangan. Apalagi ternyata Ibu merasa seperti muda kembali." Beliau begitu bahagia. Sebaiknya aku biarkan saja beliau seperti ini asalkan membuat beliau senang.
"Nona, duduk di sini ya!" Ada seorang perempuan yang lebih muda dariku menunjuk sebuah kursi dengan jarak dua kursi kosong dari tempat duduk Ibu. Aku tidak bisa membantah. Wajah ini pun di permak sedemikian rupa oleh jari jemari MUA yang ada di ruang ini.
***
POV Damar
"Sial, Mama kenapa malah menyuruh gadis bar-bar itu agar masuk ke mobilku? Apes banget." Aku sudah tidak tahan dengan sikap orang tuaku. Gadis itu juga salah, kenapa dia malah menuruti keinginan Mama. Malah mungkin bisa saja dia yang berinisiatif masuk ke dalam mobilku.
Mobil ini melaju meninggalkan perempuan bar-bar tadi setelah dia ke luar dari tempat duduk di sebelah. Aku harus menyetir sampai ke hotel Sriwijaya.
"Akhirnya dia menikah juga. Boleh lah agar Mami dan Papi tidak meminta gue menikah secepatnya. Apalagi kalau harus menikah sama gadis bar-bar itu. Bisa-bisa hidup gue gak tenang. Gue harus nyari jalan keluar agar perjodohan ini batal." Aku bergumam sambil menyetir kendaraan.
Sudah lebih lima belas menit aku berada di jalanan. Pagi ini kendaraan begitu ramai bahkan beberapa kawasan yang aku lalui sempat macet selama lima menitan.
__ADS_1
Tak sabar, aku membunyikan klakson. Di depan sana berjejer kendaraan bermotor.
"Gawat, bisa telat gue kalau macet begini." Setelah menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya mobilku ini tidak terjebak macet lagi.
Aku melihat ada insiden yang terjadi. Karena itulah jalanan begitu padat. Ada penutupan jalan karena kecelakaan motor dengan mobil. Kendaraan yang sudah ringsek itu masih tergeletak di jalanan.
Aku harus menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit bahkan lebih. Kalau begini, alamat kena omel sama Mami. Kalian tahu sendiri kalau beliau selalu cerewet. Entahlah, mungkin ini bakat alami yang terdapat pada emak-emak yang sudah memiliki anak. Walaupun anaknya sudah dewasa.
Akhirnya aku sampai di hotel. Kunci mobil kuserahkan pada pihak keamanan. Biar saja orang hotel yang memarkirkan mobilku. Aku mencari ballroom hotel.
"Fiuuuh, lega kalau udah datang walaupun telat." Aku menghela napas sejenak.
"Damar, kamu dari mana saja sih? Kenapa baru ajah masuk? Dandan dulu sana!" Mami tiba-tiba saja ada di depan mata. Perasaan tadi aku tidak melihat keberadaan beliau.
"Apaan Mam, Damar gak perlu dandan segala. Lagian tadi tuh macet banget. Damar mau istirahat sebentar aja deh, kejebak macet lebih setengah jam." Daripada beliau mengomel lagi. sebaiknya aku mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Tunggu dulu, kenapa kamu bilang macet? Bukannya Wulan sudah sampai sekitar lima belas menitan. Kamu boong ya!" Mamiku bersedekap.
Sial, ternyata gadis bar-bar itu sudah duluan sampai.
"Wulan! Ke sini, Sayang!" Wanita di depanku ini memanggil sebuah nama yang malas sekali aku dengar.
"Ada apa, Tante?" Aku malas menatapnya, sengaja mata ini menatap wajah Mama.
"Kamu bilang kalau Damar tadi pergi ke toilet. Tuh, dia barusan saja sampai. Dia bilang macet di jalan, pasti dia boong kan?"
"Mungkin saja Damar malu karena harus buang air besar begitu lama. Makanya dia bilang macet, Tante."
Gilak, ini mulut gadis bar-bar. Bisa-bisanya dia membuatku semakin meradang. Alasan yang tidak masuk akal.
"Heh, apa yang Elu bilang tadi? Jangan ngada-ngada ya! Sejak kapan gue ke toilet?"
"Tunggu dulu sebentar!" Mami menatap kami bergantian.
"Kalian berdua pasti--," Beliau tidak melanjutkan ucapannya. Bola mata beliau menatap kami bergantian dengan begitu lekat.
__ADS_1