
Masih ada keraguan yang hinggap di raut wajah itu. Aku berusaha menampakkan wajah memelas, berusaha terisak agar Tante Iren tersentuh hatinya.
"Hiks, Tante ... Wulan mau ketemu kakek nenek." Kepala ini menunduk dalam.
"Eum, jawabannya," kepalaku mendongak menatap bola mata itu.
"Yang terakhir." Akhirnya jawaban itu meluncur juga dari mulut Tante Iren.
"Nama kakek nenek Wulan siapa, Tan? Di mana kampung mereka? Bojonegoro, kan luas." Lagi-lagi aku mengorek informasi.
"Udah ya, Tante harus melihat persiapan di dapur. Tante udah jawab tiga pertanyaan. Selebihnya, kamu cari tahu sendiri." Tante meninggalkan aku seorang diri di ruang tengah.
"Gimana nih, kalau cuma tahu Bojonegoro ajah. Gak tahu alamat tepatnya yang mana." Aku bersandar pada kepala sofa, menghembuskan napas berkali-kali.
Tak berapa lama, hidung ini mengendus wangi yang semerbak. Aku mencari arah wangi-wangian itu.
"Damar, wangi bener. Mau ke mana?" Pria itu tengah menyisir rambutnya dengan kelima jari.
"Gue mau nganterin Elu pulang. Ayo pergi naik motor!"
ajaknya dengan wajah sumringah.
"Aman gak? Emangnya boleh langsung di pake? Bukannya harus ada kelengkapan surat-surat lengkap biar gak kena tilang? Itu plat nomornya ajah belum dipasang." Dia pikir bisa mengelabuiku.
"Eh iya, besok orang dealer gue suruh ke sini. Baru kali ini gue beli motor. Jadi, ya, wajar kalau belum tahu apapun." Dia menyengir sekilas.
"Emangnya dulu motor siapa yang kamu pakai?" tanyaku mengingat kembali kecelakaan yang pernah dia alami ketika naik motor.
"Motor lama Papi. Gue make motor itu ketika sekolah."
"Ayo pulang! Gue anterin sekalian gue mampir ke suatu tempat." Dia menarik lenganku, menggeretnya cepat.
"Kasar sekali kamu, Mar. Bisa gak sih pegangnya yang biasa ajah?" Aku menggerutu.
"Sorry, kalau megang yang biasa tuh yang begini ya." Aku tidak sempat mengelak, dia mencium telapak tangan ini yang dicengkeram sejak tadi.
"Huaaa, bisa-bisa tanganku rabies." Aku menarik tangan dan mengusap-usap di baju.
"Sialan Eluu, Lan! Udah nyivm bibir gue tapi gak inget, sekarang belagak jijik karena kecupan di tangan." Dia meninggalkan aku seorang diri, melangkah pergi ke halaman rumah.
__ADS_1
Aku berusaha mencerna perkataan Damar. Civman bibir? Kapan? Aku tidak pernah melakukan itu, mencium bibir seorang pria? Tidak, aku tidak akan pernah melakukannya kecuali dengan kekasih halalku nantinya.
"Damar, kalau ngomong disaring dulu! Aku gak pernah nyivm kamu di bibir." Tanpa rasa canggung, aku menyusulnya mendekati mobil.
"Elu masih gak inget juga?" Tatapannya begitu nyalang.
"Bukannya gak inget, tapi aku gak pernah mencium kamu di bibir. Aku bukan seorang perempuan yang seperti itu." Tentu saja aku tidak terima.
"Kalau begitu, masuk sekarang! Gue kembali ke lokasi." Dia membuka pintu kendaraan, mendorong tubuhku agar bergegas masuk. Dia memutari mobil dan duduk di balik kemudi.
Kembali ke lokasi, apa sih maksudnya? Damar ini aneh-aneh ajah.
Kami berdua terdiam, tak ada percakapan apa pun diantara kami. Sesekali aku melirik dia yang menyetir, rahangnya mengeras. Tangannya sesekali mengepal sampai uratnya bertonjolan. Reaksi seperti ini bukan pertama kalinya aku melihatnya, tapi, ada raut wajah yang berbeda dengan sebelumnya.
Aku diam, tak mau berucap apa-apa. Bisa-bisa dia mengamuk dan menghajarku seperti Zayn dahulu. Aku bergidik memikirkannya. Tak lama berselang, kendaraan berhenti tepat di sebuah hotel. Sepertinya, aku pernah melihat tempat ini.
"Kenapa diam saja? Ke luar!" pekiknya tiba-tiba sampai membuatku terlonjak dari tempat duduk.
Aku ke luar dari kendaraan, Damar menyeretku karena masih mematung di tempat.
"Damar, ngapain kita ke sini?" Aku berontak melepaskan diri. Tapi, cengkeramannya begitu kuat.
Aku berusaha menormalkan emosi, semakin aku melawan, Damar semakin mencengkram erat. Kami masuk ke dalam lift, kebetulan tidak ada orang lain di tempat ini.
"Damar, kamu mau bawa aku ke mana? Tanganku sakit." Nada suaraku biasa saja, aku sudah capek melawannya, tenagaku sepertinya sudah berkurang.
Dia mengungkung tubuhku di sudut lift, napasnya memburu, hidungnya kembang kempis.
"Kamu diam saja! Aku akan membuat ingatanmu kembali." Ucapannya membuatku ketakutan, seringainya yang tidak biasa membuatku bergidik.
Suara lift menyadarkan kami berdua, Damar tidak mau melepaskan tanganku. Koridor hotel ini tidak ramai, hanya ada beberapa orang yang lewat. Damar membuka pintu kamar, aku terkejut melihatnya.
"Damar, kita ngapain di sini?" Aku menepuk pundaknya dengan keras.
Pria itu menutup pintu, dia menarikku ke ranjang dan mendorong tubuhku di atasnya.
"Damar, kamu jangan macam-macam!" Aku menjerit ketakutan. Ekspresi Damar sudah berubah, aku belum pernah melihatnya yang seperti ini.
"Gue mau nunjukin civman itu, biar otak Elu yang kek udang itu bisa ingat." Dia menyeringai lebar.
__ADS_1
Aku beranjak dari ranjang, menjauh darinya. Tapi, dia malah semakin cepat memelukku dan membaringkannya di atas ranjang.
"Damar, sadar!" teriakanku tidak digubris olehnya.
Kedua kakinya mengunci pergerakan kakiku. Kedua tanganku dia lingkarkan ke lehernya. Napasnya yang memburu terasa hangat menyapu wajah ini.
"Damar, tolong lepaskan aku! Jangan bercanda!" Aku berusaha mendorong tubuhnya.
"Tenang saja, ini hanya civman. Gue hanya ingin membuat Elu mengingatnya, Elu yang mencivm gue duluan. Tapi, Elu malah santai gak ingat apa-apa." Seringainya semakin lebar.
Wajah pria itu semakin mendekat, kedua tanganku dikunci di atas kepala. Aku merasa lemah menjadi seorang perempuan. Melawannya membuat tenagaku terkuras habis.
"Damar, aku mohon lepaskan aku! Kamu tidak mungkin mau bercivman dengan seorang perempuan yang tidak kamu cintai." Aku terisak, berusaha untuk menyadarkannya. Tak menyangka, ucapanku tadi malah semakin membuatnya kalap.
Bibir itu menempel cepat di bibirku. Seiring civman itu, air mata mengalir deras. Ada yang aneh, aku merasakan sesuatu sensasi yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Ingin sekali aku menampiknya, tapi rasanya sungguh berat. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?
Dia semakin kalap mencumbu, kali ini bukan hanya bibirku yang menjadi mangsanya, bibirnya juga menyentuh leherku.
"Damar, aku mohon, lepaskan aku!" pintaku dengan suara serak.
"Tidak, gue gak bisa. Gue gak bisa menahannya lagi." Dadanya naik turun karena emosi. Tatapan kami beradu sepersekian detik, kemudian wajah itu kembali mendekat ke wajah.
"Damar, ini namanya pelecehan. Tolong, lepasin aku!" Aku mengiba padanya.
"Kita sudah bertunangan, kenapa Elu sebut ini sebagai pelecehan? Bukankah pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari?" Seringainya semakin lebar.
"Tidak, kita sudah berjanji untuk membuat pernikahan kita batal. Kamu jangan mengada-ada!" Aku memekik tertahan
"Pernikahan kita akan berlangsung, gue gak mau Elu jadi milik orang lain. Mau gak mau, suka gak suka, Elu harus menjadi istri gue, titik!" Nada suaranya meninggi.
"Damar, aku mohon! Tolong jangan sentuh aku!"
"Hahaha, dasar cewek munafik. Bilangnya gak mau disentuh, tapi menyentuh bibir seorang pria dan bahkan mencivmnya." Tawa Damar menggema di kamar hotel ini.
"Elu yang sudah merenggut civman pertama gue, jadi, Elu harus menjadi pasangan gue," tambahnya lagi.
"Kamu yang mengambil civman pertamaku. Aku gak suka diginiin!" Aku berusaha mendorong kepalanya dengan kepalaku. Kepala kami berbenturan.
"Heumphh." Mulutku dibekap oleh mulutnya. Ada benda kenyal dan lembab yang masuk ke dalam mulutku. Bola mataku terbelalak melihat wajah Damar yang menempel.
__ADS_1
Tidaaakkk, aku tidak mau diperlakukan seperti ini.