Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Menginap Di Rumah Damar


__ADS_3

Aku memegang baju yang ditarik Tante Iren.


"Yah, kok bisa sobek gini?" Tak kusangka baju itu robek.


"Mana Mama tahu, kamu seharusnya berhati-hati, biar gak sobek begini. Apa karena Damar yang berantem tadi? Kamu dipukulin oleh lawan Damar, ya?" Aku menggeleng cepat.


"Gak, Tan. Aku gak diapa-apain kok."


"Itu karena Damar yang narik bajunya. Tadi waktu Elu mau jatuh, gue tarik ajah tuh baju. Sorry kalau sobek." Dengan nada suara datar dia mengucapkan.


"Duh, kamu gak hati-hati." Tante Iren menatapku cemas.


"Kamu ganti baju saja, Lan! Pake punya Selena, kayaknya badan kalian posturnya mirip."


"Mirip apanya, Mam. Lihat ajah d4danya gede gitu, bokongnya juga. Beda banget sama Selena, gak bakalan muat deh."


Mendengar ucapannya yang tidak sopan, aku memukul dada bidangnya dengan kuat.


"Gak sopan banget."


"Gue ngomong berdasarkan fakta, gak salah, kan?" Dia menangkap tanganku yang memukulnya.


"Obatin luka gue, nih! Gak usah sok mukul, gue bales baru tahu rasa."


"Kalian ini, bikin Mam iri ajah deh. Mam tinggal ajah ah, biar kalian bisa bermesraan."


"Tante."


"Mami." Aku dan Damar berucap bersamaan.


"Wulan, kamu minta antar ke kamar tamu pada Damar ya! Mama mau ke kamar duluan." Wanita paru baya itu pergi meninggalkan kami berdua.


Aku dan Damar diam, tak mampu berkata-kata. Kulihat ekspresi Damar yang santai dan datar.


Dingin tapi perhatian, gak perhatian juga sih. Ahhh, sudahlah, gak usah mikirin orang sinting ini lagi.


Tangan Damar menepuk-nepuk udara kosong di depan wajahku.


"Elu kenapa? Stres ya?"


"Sembarangan."

__ADS_1


"Buktinya, barusan senyum-senyum sendiri."


"Enggak kok, aku tadi cuma inget orang sinting yang lewat. Udah deh, anterin aku ke kamar. Udah ngantuk, besok aku harus pergi bekerja."


"Baju Elu yang sobek itu, gimana? Ganti pake kaos gue ajah, ayo kita ke kamar! Elu bisa nyari kaos yang mau Elu pakai." Entah sadar atau tidak, dia menarik lenganku. Kami berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Menapaki anak tangga. Aku bingung harus berbuat apa, haruskah aku melepaskannya atau membiarkan tangannya?


"Ayo masuk! Ini lemari gue, kalau yang itu walk on closet, tapi, baju-baju di sana untuk pakaian formal."


Damar melepaskan genggaman tangannya, dia membuka pintu lemari.


"Ini kaos koleksi gue." Aku takjub melihatnya. Banyak kaos bermacam warna dan corak. Ada hoodie, jaket fan sweater bermacam warna. Warna ini seperti warna pelangi, tersusun rapi.


"Woi, jadi minjem gak? Buruan pilih!" Saking terkesima, aku belum bisa memilih kaos yang akan kupakai.


"Emangnya ada warna pink?"


"Ada, coba aja cari!"


"Pinky boy." Aku terkekeh geli membayangkan Damar mengenakan warna favorit yang identik dengan perempuan.


"Ck, berisik! Pilih ajah buruan! Gue mau mandi nih. Atau gini ajah, gue tinggal mandi, Elu bisa pilih mau make kaos apa." Ide bagus, aku pun masih bingung memilihnya. Ini seperti satu outlet pakaian ada di dalam satu lemari.


Damar pergi ke arah pintu lainnya, itu pasti pintu kamar mandi. Aku memilih satu persatu kaos yang digantung, melihat corak dan desain.


"Males ah, kegedean banget," gumamku pada diri sendiri.


Entah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk mencari baju yang tepat. Belum pernah aku memilih seperti ini. Semuanya bagus, bahannya dingin dan coraknya lucu serta menggemaskan. Untuk yang satu ini, kuakui kita satu selera.


"Udah milih belum?" Damar ke luar dari pintu itu. Dia memakai lilitan handuk di pinggang. Tangan satunya menggosok rambutnya yang basah. Aku menelan ludah dengan berat. Melihatnya yang seperti ini membuat ingatanku kembali di kamar hotel tadi pagi.


"Eh, Elu liatin paan? Sampe ngiler gitu." Dia menyentuh sudut bibirku kemudian menggosok jarinya tadi pada bajuku.


"Dasar cewek ileran."


"Itu bukan iler, sembarangan." Aku menyeka sudut bibir menggunakan telapak tangan.


"Buruan pilih! Gue udah ngantuk dan capek. Lukanya masih perih lagi." Dia mengeluh.


"Cemen, jadi cowok ngeluh terus." Sengaja aku meledeknya.


"Elu gak sadar apa, kalau ini semua karena Elu. Coba Elu gak ke mobil duluan, pasti wajah gue masih tampan seperti sebelumnya."

__ADS_1


"Cuih, pede banget sih, nih manusia satu." Aku mendecih. Tatapanku meremehkannya.


Dia mendekati aku, mendorong tubuhku ke samping. Dia membuka beberapa gantungan baju, memilih satu baju untukku.


"Nih, pasti cocok buat Elu!" Dia menyodorkan baju berwarna hijau dengan sablonan bergambar larva kuning dan merah.


"Gak mau, aku gak mau make baju ginian, norak." Aku menolak.


"Lagian, milih baju ajah lama banget." Aku mempercepat memilih baju itu, daripada kena semprot. Aku bergegas memilih satu yang terlihat cocok.


"Tapi, celananya gimana?"


"Ini lagi, ngerepotin ajah." Aku mencium aroma sampo dan sabun yang harumnya begitu menguar dari tubuh Damar. Tanpa sadar, kepalaku condong ke arah tubuhnya. Wangi itu seakan menghipnotisku.


"Eh, ngapain deket-deket? Jauhan dikit!" Dia mendorong tubuhku dengan kasar sampai aku tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Aku hendak terjatuh, tanganku meraih handuk itu. Mulutku memanggil namanya.


"Damar!" pekikku sebelum benar-benar terjatuh.


"Wulan, apa-apaan sih." Dia berhasil menangkap tanganku. Tapi, sayangnya dia tidak menyadari bahwa lilitan handuk itu sudah terlepas. Kami berdua tanpa sengaja berpelukan akibat tarikannya yang terlalu kuat. Tangan kananku menempel pada dada bidangnya. Mata ini terpejam.


Damar mendorong pelan tubuhku yang menempel padanya. Aku membuka mata, bola mata ini membola karena melihat pemandangan tak patut aku lihat.


"Arrrgggggghhh."


"Aarrrrgggghhh." Kami berdua berteriak bersamaan.


"Mana, mana handuk gue?" Dia mencari keberadaan handuk itu.


"Ada apa? Ada apa ini? Kalian berdua kenapa ada di sini?" Suara itu, kami menatap Tante Iren yang berada di ambang pintu.


"DAMAR! NGAPAIN KAMU GAK MAKE BAJU GITU?" Tante Iren berteriak begitu keras. Tanganku berpindah menutup kedua daun telinga.


"Mam, Damar dari kamar mandi. Handuknya jatuh." Dengan tergopoh-gopoh dia memakai handuk putih yang dia sambar di atas lantai kamar.


"Wulan, kamu ngapain di sini! Mama bilang kamar kamu ada di kamar tamu. Ngapain di kamar Damar? Jangan-jangan kalian mau berbuat-," Tante Iren tak melanjutkan ucapannya, beliau menutup mulutnya dengan mata terbelalak.


"Tante, bukan begitu, Tan. Tante salah paham."


"Ada apaan sih, Mam? Rame banget." Selena menghampiri kami.


"Ngapain nih ribut-ribut? Kenapa kalian pada ngumpul di sini?"

__ADS_1


Duh, parah, Om Jaya juga ada di sini. Selena, Tante Iren dan Om Jaya menatap kami bergantian. Bola mata mereka memicing tajam ke arah kami berdua. Hening sejenak, setelah itu perkataan dari kepala keluarga ini membuatku bagaikan tersambar petir.


"Kalian berdua, kalau udah ngebet bilang ajah. Besok pagi, Papa nikahkan kalian!"


__ADS_2