Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Paan Sel? Itu cuma burung, heboh bener." Damar menjitak kepala adiknya.


"Sakit, Mas." Dia mengusap kepalanya bekas jitakan Damar.


"Kalian berdua jadi pusat perhatian, kita masih di dalam mobil. Gak usah berisik." Aku mencubit paha Damar dan Selena bergantian.


Kendaraan ini berhenti di sebuah rumah kecil nan sederhana. Tak ada halaman rumah, hanya ada teras yang luasnya tidak seberapa. Kami semua turun, berkenalan dengan penghuni rumah. Entah kenapa aku masih canggung dengan mereka. Mungkin karena ini adalah momen pertama bertemu mereka semua. Akhirnya tiba juga kami kembali ke Jakarta. Nomor kontak mereka sudah aku simpan, ini bisa jadi kejutan untuk Ibu dan Bapak. Mereka pasti terkejut karena Kakek Nenek akan datang ke pesta pernikahan kami.


Kami bertiga diantar ke stasiun, mereka memberikan kami oleh-oleh khas Bojonegoro. Kami bertiga harus kembali, mereka menitikkan air mata karena harus berpisah denganku. Keluarga yang berpisah selama dua puluh lima tahun akhirnya dapat bertemu kembali. Aku, Selena dan Damar masuk ke dalam gerbong kereta. Tak boleh terlambat agar tidak ketinggalan kereta. Kami bertiga bercengkerama dengan santainya, sesekali menikmati makanan yang Damar beli. Semakin malam, udara semakin dingin. Damar memelukku erat, kami tidur sambil berpelukan di kursi penumpang.


***


Elusan di pipi membuatku terusik, kucoba membuka kelopak mata perlahan. Wajah Damar yang tersenyum lebar membuatku tersadar.


"Bangun, udah shubuh. Sebentar lagi kereta kita tiba di stasiun Gambir." Damar menggosok pipi berulang kali.


"Pagi Kak Wulan," sapa Selena sambil menguap.


Tak sampai sepuluh menit, kereta api berhenti tepat di stasiun Gambir. Kami bertiga turun dengan menggeret koper masing-masing. Oleh-oleh yang diberikan si Mbah dibawa oleh Damar. Damar memanggil taksi yang ada di luar stasiun. Kami bertiga masuk ke dalam mobil. Kulihat jam yang ada di layar hape, sudah jam empat lewat tiga puluh. Pantas saja udaranya masih terasa dingin. Entah berapa lama kami di perjalanan, akhirnya kawasan elit perumahan Damar terlihat jelas.


Kami turun dari taksi, ada yang membuka gerbang untuk kami. Dia juga membawa barang-barang kami satu persatu.


"Sholat dulu, masih jam lima lebih lima menit nih," ajak Damar pada Selena yang sudah tergeletak tak berdaya di ruang keluarga.


"Iya," sahutnya singkat kemudian bangkit dari sofa.


Seperti biasa aku masuk ke dalam kamar tamu. Mandi sebentar kemudian berganti pakaian, setelah itu barulah ke musholla yang ada di belakang rumah, dekat dengan dapur. Setelah sholat shubuh, mata ini tidak tahan lagi. Aku kembali ke kamar tamu dan merebahkan diri di sana.


"Sayang, bangun! Udah jam sembilan nih." Sayup-sayup terdengar suara Damar. Mata ini terbuka perlahan, menangkap cahaya yang hendak menerobos masuk.

__ADS_1


Aku melihat pemandangan indah di depan sana. Damar membuka gorden kamar ini, kacanya memantulkan cahaya mentari yang masuk ke kamar ini. Tubuhnya berpendar terkena kilauan mentari. Siluetnya seketika membuat kelopak mata ini semakin melebar.


"Putri tidur, bangun dong! Ibu dan Bapak sudah ada di ruang tengah." Ucapan Damar membuatku tersentak.


"Hah? Kamu gak bilang-bilang tentang Kakek dan Nenek, kan?" Rasa cemas menelusup.


"Tenang aja! Aku juga udah bilang ke Selena kalau liburan ini rahasia." Dia mendekati ranjang, duduk di pinggiran ranjang. Kepalanya menunduk, mengecup kening ini.


"Ehem, romantis amat pagi-pagi. Dah gak sabaran ya." Suara Selena membuat kami menoleh sekilas padanya. Dia selalu saja datang di saat yang tidak tepat.


"Kita sarapan bareng yok, Kak. Gue laper nih, belum dikasih makan sama Bibi," ajak Selena.


"Nih orang gangguin ajah. Bisa ke luar gak, Sel?" Damar menyeretkm adiknya.


"Mas, gak boleh gitu. Dia udah mau nemenin kita kemarin." Aku berusaha untuk memisahkan mereka.


Kami bertiga akhirnya memutuskan pergi ke meja makan. Rupanya Bibi sudah menyiapkannya untuk kami. Asap masih mengepul dari mangkok kaca yang disajikan. Kami bertiga makan dengan lahapnya.


Aku dan Damar menjauh dari keramaian keluarga. Kuberikan informasi penting ini pada dua kakek nenekku. Mereka berdua sungguh antusias, tidak sabar ingin ke Jakarta dan melihat cucunya ini menikah. Aku bersandar pada bahu Damar, memikirkan pekerjaan.


"Mas, coffee shop-nya gimana? Ada yang ngurusin gak? Aku takut ajah ada hal-hal yang terjadi ketika kita tidak di sana." Kekhawatiran ini begitu tinggi.


"Sudah, kamu tenang saja! Gak usah mikirin itu, itu tanggung jawabku. Kamu istirahat dulu selama menunggu acara pernikahan kita." Dia mengelus rambutku berkali-kali.


"Yakin, Mas? Butuh bantuan gak?" Ingin rasanya tidak memikirkannya, tapi, tak bisa.


"Aku sudah membayar dua orang profesional untuk mengurusnya. Kita berdua fokus saja pada pesta pernikahan. Besok pagi kita, Mami dan Ibu pergi ke butik. Fitting baju pengantin. Kali ini kamu mau tema apa?" Damar begitu bersemangat. Tak menyangka pria di sampingku ini adalah jodohku. Padahal dulu kami selalu berdebat tak mau mengalah.


"Baju akad maunya sih kebaya putih tulang ajah, Mas. Kalau untuk resepsi, pengen yang gold gitu temanya. Sesuai sama konsep pelaminannya gak tuh?"

__ADS_1


"Besok kita bicarakan sama Mami. Sekarang kita berdua di taman ini biar kita menghabiskan waktu. Aku merindukanmu." Pria ini memeluk pinggang erat.


Cup


Dia mencuri kecupan di kening, aku menyikut pinggangnya keras.


"Aw, sakit Yang." Dia mencubit pipiku.


"Gak usah gitu di sini, Mas. Malu kalau ketahuan. Kamu tuh kalau dibilangin ngeyel mulu."


Mendadak aku teringat tentang kartu member gym dari Aditya. Apa aku rayu Damar saja agar aku bisa berolahraga di sana. Lumayan juga untuk menjaga stamina sebelum acara.


"Mas, boleh aku minta sesuatu?" Agak ragu sebenarnya.


"Mau minta apa? Minta cium? Boleh." Dia tertawa mengejekku.


"Kebiasaan nih, gak usah becanda gitu. Aku ingin pergi ke gym sebelum menikah biar stamina terjaga. Biar bisa ngimbangi kamu juga." Sengaja agak menjurus ke sana agar dia mengizinkan.


"Yakin? Memangnya gak capek kalau keseringan?"


"Kan cuma seminggu tiga kali. Please, boleh yah, Mas Damar sendiri yang nganterin." Aku memohon padanya.


"Memangnya mau nge-gym di mana?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.


"Eum, itu ... make kartu member yang dikasih Aditya."


"Kamu stres apa gila? Udah tahu dia suka sama kamu, malah mau ke sana. Gak ada ke gym segala." Dia mulai tersulut emosi.


"Mas, please. Ibu juga pernah bilang kalau pengen ke sana juga. Aku nanti minta ditemenin Ibu biar kamu gak cemburu buta begini." Aku nyaman berolahraga di sana karena ada tempat khusus untuk para perempuan. Ruangan khusus untuk orang yang ingin lebih menjaga privasi.

__ADS_1


"Gak boleh, pokoknya gak boleh! Kamu itu bisa-bisanya ajah beralasan, Yang. Gak mau mikirin perasaanku." Dadanya mulai naik turun.


"Kalian berdua berantem karena apa? Keras sekali suaranya sampai terdengar ke pintu pagar." Kami berdua menatap seseorang yang muncul di depan kami. Aku terkesiap.


__ADS_2