Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Kedatangan Laura


__ADS_3

Teman sekolah waktu SMA mendadak ada di depan mata. Waktu itu kami berdua cukup dekat, walau tidak menjalin hubungan khusus, aku sangat menyukainya.


"Damar, kamu tidak rindu padaku? Kenapa kamu malah menghindar?" Perempuan itu ingin merengkuh tubuhku dalam pelukannya.


"Tidak, aku tidak merindukanmu. Tahu darimana kalau aku di sini?" Sebisa mungkin aku menjauhkan diri.


"Damar, udah lama kita gak ketemu. Bolehkah gue memeluk Elu?" Dia berlari menghampiri dan langsung mendekap erat.


"Laura, lepaskan!" Kuurai pelukan, tak nyaman rasanya karena kami berdua menjadi pusat perhatian.


Rasa sukaku padanya sudah lama hilang, perasaan itu sudah tidak ada lagi. Melihatnya di sini bisa mengancam hubunganku dengan Wulan yang baru saja terjalin. Sontak mata ini mengedarkan pandangan pada perempuan yang aku cintai.


"Wulan, kamu di mana?" gumamku seraya mencari keberadaannya.


"Damar!" Laura berulang kali memanggil, aku tidak menggubrisnya.


Aku melihatnya, kulihat Wulan yang membersihkan meja. Dia mengelap meja itu. Tanpa basa-basi lagi aku memeluknya dari belakang. Tubuh tunanganku ini bergetar hebat. Kegiatannya berhenti, tak ada ucapan apa pun yang ke luar dari mulutnya.


"Damar, kenapa Elu memeluknya? Dia itu karyawan Elu, seharusnya Elu meluk gue. Gue kangen banget sama Elu." Tanpa ada rasa malu, Laura menggeret lenganku, tapi, aku berhasil menepisnya.


Wulan berontak dari pelukanku, dia pergi menjauh sambil membawa nampan berisi wadah kotor.


"Wulan!" Aku memekik memanggilnya. Tak kupedulikan orang-orang yang memperhatikan.


"Gila, baru ajah buka ini tempat. Ada tontonan gratis, sepertinya seru." Suara itu, aku mendengarnya. Kupelototi orang yang tengah tersenyum mengejek kami bertiga.


Kaki ini melangkah cepat melihat karyawan yang ada di sana.


"Damar, kita ngobrol sebentar saja! Gue ada di sini malah dicuekin. Dulu, Elu ngarep banget kalau gue gak kuliah di Belanda." Laura menggandeng lenganku.


"Duduk dulu!" Aku menuruti kemauannya. Niatku hanya satu, menjelaskan bahwa aku sudah bertunangan dan dia tidak boleh menyentuhku sembarangan.

__ADS_1


"Damar, Elu tambah ganteng ajah. Nyesel gue gak pacaran sama Elu." Perempuan ini menatapku lekat. Dia tersenyum lebar sambil mengelus telapak tangan.


"Laura, semua sudah berlalu. Elu bisa mencari seseorang yang Elu sukai. Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang ada." Aku berusaha untuk menarik pergelangan tangan. Kedua tanganku kini bersedekap.


"Bener banget, gue suka sama pikiran Elu yang satu ini. Makanya gue kemari mencari keberadaan Elu. Untunglah Elu masih belum menikah, jadi, gue bisa dong mencoba untuk masuk ke dalam hati Elu. Gue tahu kalau Elu suka sama gue sejak kelas sepuluh. Ngaku gak Lo!" Perempuan ini berterus terang tentang perasaannya.


Aku menghela napas sejenak, berusaha untuk menormalkan detak jantung. Aku memang pernah menyukainya, tapi, itu dulu. Sekarang perasaanku hanya untuk Wulan seorang. Hanya Wulan yang mampu membuat hatiku bergetar setelah sekian lama aku mulai tidak percaya lagi pada yang namanya cinta. Kepergian Laura ke luar negeri untuk kuliah, membuatku merasa terpuruk hingga lulus sarjana. Banyak gosip yang beredar kalau aku tidak suka pada perempuan, setiap perempuan yang mendekat selalu aku bentak dan hindari. Itu semua hanya karena aku tidak mau terluka lagi dalam jangka waktu yang lama.


Memendam rasa suka selama bertahun-tahun membuatku cukup menderita. Aku bukanlah seorang pria yang mengutarakan isi hati, tapi, semenjak bertemu Wulan, entah kenapa akhir-akhir ini bisa merubahnya. Aku tidak ingin kehilangannya, dia harus menjadi istriku.


"Damar, Elu melamun? Pasti mikirin gue ya? Gue juga suka sama Elu, kita bisa menikah secepatnya karena kita berdua sama-sama suka." Dia berpindah tempat duduk. Perempuan ini duduk di sampingku, bergelayut manja di lengan kananku.


Hidup di luar negeri membuatnya menjadi lebih terbuka dan blak-blakan tentang apa yang dirasakan.


"Sorry, Ra. Gue udah punya tunangan, sebentar lagi kita berdua menikah." Dia melepaskan tangannya, menatapku tajam.


"Gak mungkin, Elu gak mungkin akan menikah. Elu pikir gue gak tahu kalau Elu itu suka sama gue sejak lama. Elu suka sama gue tapi gak pernah menyatakan rasa suka itu. Biar gue yang menyatakannya, kita berdua bisa menikah dan menikmati kehidupan ini." Laura meraih tanganku. Gadis ini tidak terima ketika aku menjelaskan kehidupan asmara.


"Lepaskan, Ra! Sebaiknya Elu pulang saja! Kita berdua tidak akan pernah bisa bersatu, rasa suka gue sama Elu sudah menghilang tanpa bekas."


Dengan cepat, aku mengurai pelukan, Laura mulai terisak. Aku meninggalkannya seorang diri di meja ini.


Kaki ini melangkah cepat, mencari keberadaan Wulan. Aku tidak mau muncul kesalahpahaman antara kita berdua.


"Pak, sudah jam sembilan malam. Tempat ini tutup jam berapa?" Riki menghalangi langkahku.


"Ck, tentu saja seperti biasa." Aku meninggalkannya.


Dia tidak ada di sini, aku mencarinya ke kamar mandi khusus karyawan. Tak ditemukan juga.


"Dih, itu siapa ya? Nempel-nempel gak jelas sama Pak Bos." Suara itu, suara yang aku kenal, berasal dari ruang loker. Aku mengintip ke dalam, ada tiga karyawan berkumpul di sana, sayangnya tidak ada Wulan diantara mereka.

__ADS_1


"Wulan, kamu di mana?" lirihku hampir tidak terdengar.


Sebaiknya aku pergi ke ruang kerja dahulu. Satu jam lagi tempat ini tutup, aku juga harus bersiap mengambil beberapa berkas yang harus dikerjakan di rumah.


Setelah tas kerja berisi barang-barang yang aku perlukan untuk dikerjakan di rumah, kaki ini kembali ke depan. Ada Lena yang membuka pintu untuk pelanggan yang ke luar dari sini. Setelah dia selesai dengan mereka, aku melambaikan tangan ini.


Lena tergopoh mendekati, "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Dia begitu formal padaku.


"Kamu tahu keberadaan Wulan? Aku mencarinya tapi gak kelihatan." Kepala ini menjulur mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi, gadis itu tidak terlihat.


"Owh, Wulan. Tadi dia bantu-bantu di belakang, Pak. Dia yang mencuci peralatan makan."


"Siapa yang menyuruhnya bekerja di sana? Dia itu lebih pantas bekerja di front line. Panggil dia ke sin!"


"Bb-baiklah, Pak." Lena segera pergi dari hadapanku.


Masih ada dua meja lagi yang terisi, sementara waktu terus berjalan, setengah jam lagi tempat ini tutup. Khusus cabang baru, aku mempunyai ide menarik. Besok, akan aku bincangkan tentang hal ini pada Kak Mutia.


"Itu Pak Damar, aku cabut dulu ya." Kudengar suara itu, walau pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.


"Ada apa, Pak?" Kepala Wulan menunduk, dia sepertinya enggan menatapku.


"Lan, kalau ngobrol sama orang itu harus lihat wajah orangnya! Bukan malah lihat lantai." Akhirnya wajah itu mendongak, menatapku. Aku berusaha tersenyum padanya.


"Duh, sial. Aku kebelet pipis, kamu tunggu aku sebentar! Aku ke toilet dulu." Terpaksa aku meninggalkannya di sana. Panggilan alam sudah tidak bisa dihindari.


Setelah ke luar dari toilet, ada yang mengganggu pendengaran ini. Dengan cepat kaki ini kembali ke ruangan itu. Aku mendengar suara-suara, sepertinya mereka meributkan sesuatu.


Sesampainya di sana, kulihat Lena berusaha untuk memisahkan mereka berdua.


"Ada apa ini? Kenapa kalian malah bertengkar di tempat usaha orang?" Suara baritonku menggema, terdengar menyeramkan.

__ADS_1


Keduanya berhenti, aku bergantian menatap mereka berdua.


"Astaghfirullah, aku tidak menyangka ternyata kalian berdua. Memalukan sekali." Kuntunjuk wajah keduanya satu persatu.


__ADS_2