Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Dealer Motor


__ADS_3

"Kamu ngusir aku apa gimana? Kupikir kita pulang, malah ada di dealer motor." Aku berontak, tak mau didorong olehnya.


"Berisik! Masuk saja ke mobil!" Kami berdua bergelut.


"Gak mau, aku mau tahu kamu ngapain di sini."


"Ck, bandel nih cewek." Dia melepaskan tangannya dari punggungku.


"Elu buta apa gimana? kalau ke dealer, tentu ajah beli motor," ucapnya lagi.


"Beli motor? Bukannya Kamu gak biasa make motor? Kenapa sekarang mau beli motor?"


"Berisik, Elu diam di sini! Gak usah masuk dan ngikutin gue! Gue mau milih-milih motor yang mau gue pake." Dia pergi meninggalkan aku begitu saja.


"Huh, dasar orang gak jelas." Aku duduk di ruang tunggu yang ada di dalam dealer.


Mendadak teringat tentang kartu member yang Aditya berikan.


"Pandora Gym." Mulut ini bersuara, melihat nama yang tertera di sana.


"Aku cari di gooble dulu ah, emangnya berapa kalau jadi member di sini." Segera kurogoh hape dalam tas selempang. Mengetik pencarian nama usaha Aditya.


"Apa? Yang bener ajah." Aku menutup mulut, mata ini terbelalak melihat nominal yang harus dikeluarkan untuk menjadi member di sana.


"Ya Allah, gaji aku tiga bulan kalau dikumpulin." Lemas terasa. Untuk menjadi member premium ekslusif harus merogoh kocek sebesar sepuluh juta rupiah per satu season. Di artikel itu dijelaskan bahwa satu season itu lamanya enam bulan saja. Untuk member tahunan ada diskon. Ada yang bayar harian juga, cukup merogoh kocek karena harus mengeluarkan uang senilai dua ratus ribu rupiah per delapan jam.


"Gilak, Adit pinter banget ngelola bisnisnya. Pasti golongan elit semua nih membernya. Kalau aku bekerja di sana, gimana ya? Tapi, jadi apa?" Aku bermonolog seorang diri dengan suara pelan.


"Wulan, Elu udah kayak orang stres ajah ngomong sendirian." Pria itu membuat lamunanku buyar.


"Jangan ganggu kesenangan orang napa!" Aku menyimpan hape di tempatnya semula.


"Ini kartu tadi ya." Damar menyambar kartu member VIP yang Aditya berikan.


"Balikin!" pekikku sedikit kencang.


"Nih, kartu kek gini ajah kayaknya berharga banget." Dia melempar kartu ringan itu kemudian pergi meninggalkan aku. Kartu itu ada di lantai, tak dapat aku raih.


Aku memungut kartu member kemudian menyimpannya di dompet agar aman dengan kartu kredit dan kartu penduduk. Kulihat ada dua orang yang mengelilingi Damar.


Tak berapa lama, pria itu menyuruhku bangkit. Kami berdua melangkah pergi dari dealer motor ini. Kami sudah berada di dalam mobil, di sana kulihat wajah Damar yang tampak puas. Senyum tipis terbit dari sudut bibirnya.

__ADS_1


"Damar, kamu jadi beli motor di sana?"


"Iya, beli tunai."


"APAAA?" teriakku tepat di sampingnya.


"Woi, gak usah teriak gitu. Kuping gue sakit nih." Damar menghentikan kendaraannya, dia menepikan mobil ini agar tidak dicaci maki kendaraan di belakang.


Tangannya terulur mencubit pipiku dengan kencang.


"Kalau mau teriak, ke luar mobil dulu. Gak usah teriak di samping kuping gue."


"Damarr, sakit banget nih." Aku bergantian mencubit tangannya. Drama cubit-cubitan diantara kami masih berlanjut sampai aku berhasil menjambak rambutnya.


"Lepasin rambut gue! Pake Pomade mahal ini." Kali ini bukan tangannya yang mendekat, tapi tubuhnya bersusah payah mendekati tempat dudukku. Wajahnya begitu sumringah dan mendekati wajah ini sampai embusan napasnya terasa panas.


Terpaksa aku melepaskan tangannya, menjauh darinya. Tubuhku menegang sambil menempel di pintu mobil.


"Hahaha, syukurin! Gue udah tahu kalau harus berurusan dengan Elu. Tinggal nempel nanti pasti Elu yang menjauh, habis perkara." Dia tersenyum lebar, mencemoohku.


"Aku gak suka dipegang-pegang. Makanya aku langsung menjauh." Bibir ini mengerucut.


"Yakin gak suka dipegang? Padahal aslinya suka megang-megang." Dia menuduh.


"Elu pasti gak inget apa yang terjadi waktu kita tidur berdua di hotel." Kendaraan masih tak bergeming dari tempatnya. Damar menatapku serius.


Aku terdiam, berusaha mengingat kembali kejadian apa yang kita lakukan di hotel.


"Kamu gak usah bohong! Aku gak inget apa-apa, kamu pasti menghayal kalau kita berdua sudah ngapa-ngapain."


"Elu mau gue ulang gak, perlakuan apa yang Elu lakukan waktu itu, dengan senang hati gue praktekin sekarang." Damar menyeringai lebar.


"Gak, gak usah! Kita pulang saja sekarang! Aku mau ikut kamu ke rumah Tante." Aku merasa ada yang aneh dengan wajahku. Mendadak tubuhku bergetar karena seringainya. Bisa saja aku ketakutan melihat ekspresi wajah Damar yang tidak biasa.


"Cemen, tinggal bilang iya agar kamu bisa mengingatnya lagi."


"Damar, tolong jangan ungkit dan jangan bahas lagi!" pintaku.


"Oke, gue pulang sekarang. Besok atau lusa, gue pasti mengulang kembali kejadian di malam itu. Gue gak mau Elu melupakannya walau dalam kondisi mabuk." Perkataan Damar membuatku gelisah dan cemas. Pikiran ini berserabut entah ke mana-mana. Aku jadi kepikiran tentang apa yang kita lakukan di malam itu.


Mata ini menatap jalanan, berusaha mengenyahkan hal-hal yang bisa membuatku merasa tidak nyaman dan tak tenang.

__ADS_1


"Lan, kita udah sampe rumah. Mau sampai kapan Elu melamun?" Damar membuka pintu mobil. Aku tidak sadar kalau dia sudah berdiri di luar kendaraan.


"Maaf, aku gak ngeh." Bergegas aku bergerak, ke luar dari kendaraan ini. Damar menutup pintunya.


Pria itu menatap sembari membusungkan dadanya. Objek yang dia amati berada tepat di depan garasi. Pandanganku tak percaya melihat benda itu.


"Damar, kamu yakin mau make motor itu?" tanyaku memastikan. Selama aku mengenalnya, dia belum pernah mengendarai motor. Di garasi juga tidak ada satu motor pun, kecuali motor milik Pak Dadang si sopir.


"Yakin, gue dari dulu suka naik motor. Sayang sekali pernah kecelakaan dan Mami mengharamkan motor untuk gue kendarai." Dia melangkah cepat menuju motor besar itu.


"Kamu pernah kecelakaan? Kapan?" Aku berusaha menyamai langkahnya.


"Waktu sekolah SMA. Gue sampe koma beberapa hari, itu yang gue denger dari mereka." Damar mengelus badan motor. Bola mata itu berkilauan.


"Koma beberapa hari? Parah juga berarti." Aku jadi penasaran tentang kecelakaan yang pernah dia alami.


"Begitulah, menghindari tawuran antar pelajar. Salah satu dari sekolah itu mengira gue ini murid sekolah lawan, mereka ngejar gue yang gak tahu apa-apa. Kebetulan hari itu gue pergi ke rumah temen sepulang sekolah mengenakan seragam tanpa berganti pakaian." Dia bercerita.


"Serem juga ternyata." Aku bergidik ngeri, tak dapat membayangkan kejadian yang Damar alami.


"Tenang saja, pelakunya sudah ditangkap polisi." Dia duduk di jok motor.


"Pantesan ada yang salah sama otak kamu, ternyata pernah mengalami kecelakaan." Aku mulai mencari keributan.


"Perempuan stres, gue kasar bukan karena kecelakaan." Pria itu menatapku sengit.


"Alhamdulillah kalau sadar diri bahwa kamu kasar." Aku bersedekap.


"Karena Elu gue jadi kasar begini." Dia menarik pinggangku.


"Naik di belakang!" Dengan seenaknya dia memerintah.


"Gak mau, aku mau ketemu Tante Iren. Lepasin dong, Mar!" Aku menggeliat, berusaha berontak melepaskan diri.


"Gue ajak keliling rumah dulu, setelah itu ketemu Mami." Dia turun dari motornya, menurunkan standar kendaraan.


"Naik, Lan!" serunya mulai tidak sabar.


"Aku gak mau, lepasin dong!" Tenagaku mulai terkuras.


"Semenit doang!" pintanya.

__ADS_1


"Gak mau, kalau aku jatuh gimana? Kamu itu lama gak naik motor, aku takut kalau dibonceng kamu." Aku masih menolaknya.


"Damar, kalian berdua ngapain? Punya siapa ini?" Suara itu membuat perhatian kami teralihkan.


__ADS_2