
Panggilan Lusi mulai terdengar samar. Aku mencari keberadaan Wulan.
"Mas, nyari siapa?" Selena menghampiri.
"Gue nyari Wulan, ada di mana dia?" Kepalaku memanjang, menoleh ke kiri kanan.
"Kak Wulan tadi ke kamar mandi. Kalian gak papasan?"
"Makanya gue nanya Elu, ogeb." Aku tidak mempedulikan Selena. Mata ini sibuk memandangi sekeliling ballroom.
"Wulan!" Aku melihatnya menyalami tangan keluarga Bang Kelvin.
"Wah, disusulin nih. Kenapa? Mau dibawa ke mana anak orang?" Kak Mutia meledekku.
"Gue mau ngomong sama Elu." Setelah bersalaman dengan mereka, aku segera menariknya menjauh. Aku membawanya ke sebuah sudut yang jauh dari para tamu.
"Elu tadi dengerin gue ngobrol sama Lusi?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Maksud kamu?" Dia menautkan kedua alisnya.
"Gue lihat Elu tadi menjauh dari kami. Elu ngelihat kami berdua? Elu dengerin apa yang Lusi ucapkan?"
"Enggak, aku gak tahu apa-apa. Udah dulu ya, mereka manggilin kita tuh. Ayo ke sana!" Dia berlalu pergi begitu saja.
Setelah beberapa menit kemudian, tamu undangan satu persatu pergi meninggalkan ballroom hotel. Aku duduk di samping Wulan, entah karena apa, dia mengacuhkan aku begitu saja.
Semua keluarga bersiap pulang, Mami menyuruhku untuk satu mobil bersama Wulan. Malam ini mungkin mereka sekeluarga pulang ke rumah. Aku melihat Kak Mutia, perutnya dielus beberapa kali oleh Mami.
"Kak, gue mau ngomong bentar."
"Ngomong apa, Mar? Tumben, mau ngomong ajah pake bilang." Mami mencemooh.
"Mam, dipanggil Wulan tuh. Katanya bajunya sesek." Aku berbohong pada Mami agar dia segera berlalu pergi.
Setelah kami berdua saja, aku melihat ke arah perut kak Mutia.
"Kak, Elu hamil ya? Kenapa Mami tadi ngusap itu perut?"
"Tadi pagi nyoba make test pack, ternyata garis dua. Alhamdulillah. Besok baru periksa ke dokter kandungan." Dia tersenyum lebar, wajahnya berbinar-binar.
"Anjirrr, tokcer juga tuh si Kelvin. Baru beberapa bulan udah gol." Aku menggodanya.
"Damar." Dia memukul kepalaku. Raut wajahnya berubah merengut.
"Tunggu, tunggu! Gue bercanda, Kak."
__ADS_1
"Kak, gue mau nanya masa kecil gue yang dulu pas di kampung. Katanya gue selalu main sama Wulan, tapi, kenapa gue gak ingat apa-apa ya? Gue cuma ingat kenangan pas kita tinggal di Jakarta. Nah, Elu sebagai kakak sulung, pasti tahu dong masa kecil kita berdua."
"Eum, gimana ya? Kakak juga lupa tuh." Raut wajahnya berubah gugup.
"Kak, Elu gak usah bohong! Ketahuan tuh mukanya kek apa. Cerita aja, Kak! Gue pengen tahu masa lalu kami. Kami berdua gak ingat apa-apa, sumpah gue penasaran."
"Oh iya, Vin. Aku ke sana!" Kak Mutia melambaikan tangannya.
"Kakak harus pergi, udah dipanggil Kelvin. Coba nanya ajah ke Mami atau Papi, mereka pasti inget masa lalu kalian." Dia pergi meninggalkan aku begitu saja.
"Kelihatan banget kalau Elu bohong, Kak." Aku kembali menemui Wulan, Mami menyuruh kami pulang lebih dulu agar segera beristirahat.
Sopir sewaan itu ternyata sudah menunggu di tempat parkir yang tersedia khusus acara ini. Melihat kami yang menghampiri, dia segera bergerak cepat membuka pintu mobil. Wulan masuk lebih dahulu, aku pun menyusul, duduk tepat di sebelahnya.
"Lan, mukamu kenapa cemberut gitu?" Sengaja aku menoleh, menatap lekat ke arahnya.
"Gak apa-apa, aku capek ajah." Dia melengos ketika tatapan kami beradu sepersekian detik.
"Elu bohong, ekspresi orang capek itu gak begitu. Ekspresi muka Elu, ya cemberut."
"Ck, udah deh. Gak usah sok peduli." Dia bersandar, tangannya dilipat di perut. Kelopak mata itu terpejam.
Aku harus membahas mengenai kenangan itu, dia pasti tertarik untuk mengobrol.
"Gue tadi nanya Kak Mutia, gue nanya tentang masa kecil kita berdua." Dengan cepat dia meraih tanganku. Menggenggam erat kedua tangan ini, diacungkan ke arah atas.
"Lepasin tangan gue!"
"Ups, maaf ... gak sengaja." Dia segera melepaskan cengkeramannya.
"Cepat cerita!"
"Kak Mutia ternyata mengelak."
"Maksud kamu apa?"
"Kak Mutia mengalihkan pembicaraan. Dia segera menghindar dariku. Tak mau bercerita apa pun."
"Yah, kenapa mereka semua aneh ya? Aku yakin ada sesuatu yang janggal. Masa iya mereka gak mau bilang tentang kenangan masa kecil kita dulu." Wulan berpikir keras, ekspresinya membuatku gemas sampai tak sengaja tangan ini mencubit pipinya.
"Aw, kamu stres ya? Sakit." Tangannya terulur membalas.
"Sorry, gue gak sengaja. Abisan tadi gue gem-,"
Sial, gue keceplosan lagi. Bisa geer nih orang kalau gue bilang gitu.
__ADS_1
"Mau bilang apa? Kok diem?"
"Maaf mengganggu, kita sudah sampai." Aku bernapas lega karena Pak sopir menyela pembicaraan kami. Penyelamatku hari ini.
Aku ke luar lebih dulu, setelah itu barulah Wulan menyusul. Dia mengejarku, mencecar dengan pertanyaan.
"Ck, Elu ngapain ngejar-ngejar gue?" Bukannya risih, aku hanya tidak ingin dia bertanya tentang ucapan yang tidak tuntas tadi.
"Kamu pura-pura lupa ya? Aku ingin tahu tentang apa rencana yang sudah kamu buat untuk mencari tahu kenangan kita." Aku berhenti mendadak, otomatis dia ikut berhenti.
"Ehem, udah mulai akrab ya. Kayaknya gak usah lama-lama nih. Sebulan lagi akad nikah." Ibu Ningsih baru saja melangkah menghampiri kami.
"Bu," bisik Wulan sembari menyenggol pinggangnya.
"Kalian ngapain? Ngobrolin apa? Mami ikutan ya?" Wanita yang satu ini pun kepo.
"Kami lagi ngobrol tentang kenangan masa kecil kami, Tante. Tante mau gabung? Wulan boleh nanya-nanya kalau gitu." Wulan tersenyum lebar. Bisa juga dia membuat Mami terdiam.
"Duh, Mami lupa ada hal yang harus diurus dengan Ibumu. Ayo kita tata barang-barang yang harus kamu bawa ke apartemen besok." Mami menarik lengan sahabatnya.
"Lihat mereka! Selalu menghindar, Kak Mutia juga."
"Begitulah, apa kita tanya pada Selena? Mungkin dia ingat walau sedikit." Usul Wulan boleh dicoba.
"Kita coba saja dulu, kalau dia tidak ingat. Kita kembali ke rencana awal. Pulang ikut serta ke kampung halaman." Aku menegaskan kembali.
"Uhukkk, bentar lagi pasti 'sah' jadi, gak usah nempel begitu." Selena datang menggoda kami berdua.
"Nempel gimana maksudnya, Sel?" Wulan yang bertanya. Aku tidak sadar bahwa kami berdiri dan berbincang di dekat pintu masuk. Apalagi tangan kami berpegangan, sejak kapan tangan kami saling menempel? Aku tidak menyadarinya.
"Tuh, nempel kayak perangko." Selena terkekeh geli kemudian berlalu pergi.
"Sial, Selena!" Kami belum sempat menanyakan hal penting tadi.
"Damar, lepasin dulu tangannya! Sakit nih." Dia menepis tangan ini. Pegangan kami terlepas.
Bruaakk
Kami berdua menoleh ke asal suara, aku melihatnya terjatuh.
"Astaghfirullah." Wulan melepas sepatu hak tinggi. Perempuan itu menolong seseorang yang terjatuh tepat di ambang pintu rumah.
Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena tertimbun barang-barang yang dia jatuhkan.
"Kamu gak apa-apa?" Wajah itu terlihat jelas setelah Wulan menepikan barang-barang yang dia jatuhkan.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa, makasih ya." Mata ini menyipit melihat sosok itu. Aku tidak menyangka bahwa dia ada di sini.