
Aku dan Damar saling berpandangan, tak ada apa-apa yang terjadi padanya. Pakaiannya masih rapi seperti tadi, wajahnya juga biasa saja, congkak yang menjengkelkan. Mungkin itu ditujukan ketika melihatku saja, ketika dia menoleh pada Damar, senyumnya merekah sempurna.
"Damar, Elu tadi manggil gue ya? Sorry ya, gue masih sakit perut. Jadi gak bisa langsung ke luar dari toilet." Dengan gaya centil dia mendekati kami yang berkerumun di sekitar pintu utama.
"Elu gak diapa-apain sama cecunguk ini, Kan?" tanya Damar memastikan. Laura menautkan kedua alisnya, dia mengendikkan bahunya seraya menoleh pada Dimas.
"Apa maksudnya, Dimas?" Dia malah bertanya pada Dimas.
"Entah, gue mana tahu apa yang Damar bilang. Gak paham gue." Dimas berpura-pura bodoh.
"Kak Laura, kenapa ada di apartemen Dimas? Kalian berdua memiliki hubungan apa?" Kali ini aku berusaha tersenyum padanya.
"Heh, perempuan gatal! Gak usah ngurusin urusan gue! Ngapain kau kemari? Pergi sana!" Tangannya terulur hendak mendorong tubuhku, tapi, tangan Damar dan Dimas menarik sisi kanan dan kiri. Tubuhku tertarik ke belakang.
"Jangan kasar pada tunangan gue! Kita ke sini cuma ingin memastikan sesuatu. Syukurlah kalau Elu baik-baik saja." Damar menarikku agar mendekati tubuhnya.
"Memangnya Dimas kenapa? Dia gak mungkin ngapa-ngapain gue, kita berdua kan sepupuan."
"Laura!" bentak Dimas.
"Upss, sorry, gue keceplosan, Mas." Laura tersenyum kikuk pada pria itu.
"Kalian berdua sepupu? Kalau begitu kita pulang sekarang, Sayang. Dimas agak akan memangsa saudaranya sendiri." Ucapan dari Damar membuat Dimas geram.
"Jaga tuh mulut, Mar!" Dia tidak terima.
"Sudah, cukup! Maaf kalau kami berdua sudah mengganggu. Silakan dilanjutkan aktivitasnya!" Aku menarik Damar agar segera menjauh pintu unit apartemen Dimas.
Kami kembali ke unit apartemenku, Bapak yang membuka pintunya dari dalam. Beliau heran melihat raut wajah Damar. Bapak melirikku, aku mengedip pada beliau, berusaha memberikan kode-kode, telunjuk juga ditempelkan pada bibir. Setelah Bapak mengangguk, barulah aku bisa bernapas lega.
"Damar, sampai kapan kamu berdiri? Ayo sini duduk!" Aku menarik lengannya agar dia duduk di sampingku.
"Lan, ambilkan minum untuk tunanganmu! Dia pasti haus." Bapak menyuruhku.
"Oke, Pak," sahutku singkat.
"Mar, aku buat minum dulu. Kamu gak usah mikirin mereka lagi!" Aku beranjak dari tempat duduk.
__ADS_1
Bapak ternyata mengekori langkahku sampai ke dapur. Beliau berkata pelan, mungkin karena Damar tidak boleh mendengarnya.
"Lan, Damar emosi kenapa? Kalian berdua bertengkar?" cecar Bapak. Aku masih sibuk menuangkan sirup dan air es pada gelas.
"Enggak, Pak. Ada masalah dengan temannya tadi. Wulan lanjut ke depan lagi ya." Kaki ini melangkah kembali ke ruang tengah. Kepala Damar bersandar pada kepala kursi, matanya terpejam. Napasnya mulai normal.
"Mas, minum dulu nih." Ais, kenapa mulutku spontan memanggil sebutan itu?
Kelopak matanya terbuka lebar, senyum terbit menghiasi wajahnya. Dia meraih kepalaku kemudian bergerak cepat mengecup kening dan pipi.
"Dih, apaan nih? Pelecehan, kamu mau aku laporin ke polisi?" Aku berpura-pura merajuk.
"Hahahaha, bibirmu udah kayak apaan ajah, Yang." Sepertinya suasana hatinya sudah berubah. Aku bisa bernapas lega. Tangannya terulur menarik bibirku yang mengerucut.
"Eheum," deheman Bapak membuat kami berusaha merapikan posisi duduk.
"Sudah maghrib ini, Nak. Kalian berdua mandi saja dulu! Setelah itu barulah lanjut mengobrol lagi." Ah Bapak, bisa saja dia memilih perkataan untuk mengusir Damar secara halus.
"Saya pulang saja, Pak. Kasihan Wulan baru pulang kerja, besok saya ke sini lagi." Dia beranjak dari tempat duduk.
"Minum dulu, Nih!" Kusodorkan gelas itu padanya. Sudah dibuatkan tentunya harus diminum.
"Saya permisi!" pamitnya pada Bapak.
"Eum, hati-hati di jalan!" Bapak menyahuti.
"Pak, Wulan antar Damar ke lobi bentar ya?" Bapak mengiyakan ucapanku.
Aku dan Damar berjalan di koridor, tak henti-hentinya dia mengusap pipiku. Pintu lift terbuka, kami berdua setengah berlari dan masuk ke dalamnya, ada beberapa orang yang ada di sana. Kami berdua tidak berkata-kata, hanya saling beradu pandang. Ternyata begini rasanya menyayangi seseorang. Tanpa ucapan kata pun, rasanya perasaan ini sudah terwakilkan melalui tatapan mata.
Pintu terbuka lebar, kami ke luar dari lift dan berjalan ke arah pintu lobi.
"Besok kalau gak sibuk, aku jemput. Jadwal dari kampus gak tentu." Dia belum melepaskan cengkraman tangannya.
"Gak usah jemput! Aku bisa naik ojol, lho. Murah kok ongkosnya." Aku menolaknya, kasihan juga dia seperti sopir pribadi, kemana-mana harus menjemput dan mengantarku, padahal dia memiliki jadwal pekerjaan sendiri.
"Aku pulang ya." Dia mengecup punggung tangan berkali-kali.
__ADS_1
"Mas, banyak orang ngelihat, aku malu." Kudorong tubuhnya menjauh. Dia menanggapi dengan sebuah senyuman tipis, dia berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya.
"Uhuk, uhuk." Aku menoleh ke asal suara.
"Ibu, Ibu darimana ajah? Udah jam segini malah keluyuran di lobi." Ibu mengernyit mendengar apa yang ke luar dari mulutku.
"Keluyuran katamu? Nih Ibu ambil pesanan, bawa naik ke atas! Ibu capek dari tadi nungguin ini semua." Ibu menyodorkan dua kantong kresek padaku.
"Ini apa, Bu?" Aku mengintip melihat isi plastik.
"Makan malam kita, nanti tinggal panasin bentar. Ayo lekas naik!" Kami berdua akhirnya masuk kembali ke dalam lift.
Selama di dalam lift, Ibu tersenyum sambil menatapku
"Bu, Ibu kenapa aneh begitu? Senyam senyum mulu."
"Ibu ingat reaksimu waktu itu. Waktu pertama kali kamu mendengar tentang perjodohan. Waktu itu kamu ingin menangis, protes pada kami. Eh, sekarang udah bucin ajah, gak bisa dipisahkan. Rasanya seperti kemarin Kami mengutarakan perjodohan itu." Ibu tersenyum tipis.
"Ibu tahu bucin itu apa?" Tumben sekali Wanita yang melahirkan aku ini berucap tentang kata gaul yang dipakai anak muda zaman sekarang.
"Tentu saja tahu, budak cinta. Kayak yang pernah Ibu tonton di hape mesraaa sekali. Eh ketika ada masalah satu negara ribut." Ibu mulai membahas tentang tayangan yang ditonton.
"Udah, Bu! Gak usah ghibah! Pintu lift udah kebuka, kita ke luar sekarang! Wulan udah capek." Aku meninggalkan Ibu yang masih menggerutu di belakang sana.
Ibu mengetuk pintu karena dua tanganku penuh, bapak membukanya, kami berdua masuk. Setelah mandi dan menunaikan kewajiban, kami bertiga makan malam dengan menyantap hidangan yang Ibu pesan. Setelah beberapa jam kemudian, aku masuk ke dalam kamar, mengobrol dengan Damar di telepon. Banyak hal yang kami bahas. Pria itu menyuruhku untuk melanjutkan pendidikan, aku sudah tidak sanggup lagi untuk berpikir. Lebih baik aku fokus pada apa yang harus kujalani, sudah tidak peduli pada gelar sarjana. Entah sudah berapa lama kami berbincang, hapeku terasa panas, aku berusaha memutuskan panggilan.
"Besok kita ngobrol lagi, kupingku udah gak tahan banget. Hapeku juga hape jaman dulu, gak secanggih sekarang. Udah ya."
"Terpaksa, ya udah deh. Aku tutup, tapi, kamu langsung tidur! Gak boleh ke mana-mana!"
"Astaga, Mas, ini sudah malam, memangnya aku mau ke mana? Besok aku harus bekerja lagi, capek tauk." Rasa curiganya terlalu berlebihan.
Akhirnya dia memutuskan panggilan, aku merasa lega. Hape aku sambungkan pada kabel pengisi daya. Setelah itu aku berbaring kembali, berusaha memejamkan mata.
***
Keesokan harinya, aku sudah bersiap-siap. Kaki ini melangkah cepat menuju lift, turun ke lobi. Pak ojek sudah menunggu di depan bangunan utama. Setibanya di sana, aku melihat pemandangan yang tidak biasa.
__ADS_1
Kulihat seseorang yang melepaskan helem di kepalanya, dia melambaikan tangan ke arahku.
"Waduh, bisa-bisa kena marah nih."