Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Kedatangan Aditya


__ADS_3

Aku bergegas menuju ke pintu depan, mengintip sebentar. Tak ada orang di depan sana.


"Wulan, cari siapa?" Suara itu, aku berbalik arah. melihatnya dengan mata terbelalak.


"Adit, sejak kapan kamu masuk?"


"Bapak yang membukakan pintu untukku. Barusan ajah." Senyumnya merekah.


Dia begitu berbeda, penampilannya bak seorang binaragawan. di balik kemeja itu ada yang menonjol pada bagian lengannya. Otot-ototnya seakan berontak tak mau ditutupi.


"Lan, kenapa melamun?" Dia semakin mendekat sampai embusan napasnya terasa di wajahku.


"Aku pangling melihatmu yang seperti ini." Aku malu, menunduk dalam karena ketahuan menganga ketika melihatnya. Tanganku spontan menutupi mulut ini.


"Nak Adit, ayo kita makan siang dulu!" Akhirnya, napas ini kembali lega.


Kecanggungan yang aku rasakan mulai mencair. Ibu memanggilnya untuk makan bersama kami.


"Baik, Bu. Ayo kita makan bareng, Lan!" Tanpa izin dariku, tangannya mencengkram pergelangan tangan ini. Aku berusaha untuk menormalkan detak jantung yang sejak pertama kali melihatnya, jantung ini berdebar tak karuan. Dia sungguh berbeda dari yang dulu. Penampilannya bak seorang pria metropolis, memakai kacamata yang tidak setebal dulu.


Kami duduk mengitari meja makan, Ibu dan Bapak mencuri-curi pandang beberapa kali, melihat Adit.


"Dit." Aku memulai perbincangan. Rasanya kaku karena tak ada suara yang terdengar selain dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring makan.


"Kenapa, Lan?"


"Tunggu dulu, ini cincin apa? Kenapa make di jari manis?" Adit meraih tangan kiriku.


"Wulan sudah tunangan, Nak Adit." Ibu yang menyahuti.


"Owh, masih tunangan ya, Bu. Kalau Adit ngejar Wulan masih boleh dong. Selama belum ada ijab kabul." Dia tersenyum lebar.


"Gak usah bercanda!" Bapak tampak tak ramah.


"Gak apa, Pak. Kan cuma ngejar, bukan nikahin." Aku menimpali ucapan Bapak sambil terkekeh geli melihat reaksi Adit.


"Sudah, makan dulu saja! Nanti kita ngobrol di depan saja." Seruan Ibu membuat obrolan kami berhenti.


Selang beberapa menit, makanan di atas piring sudah ludes tak bersisa, kecuali punyaku karena memang lagi malas makan. Aku, Bapak dan Adit membantu Ibu membersihkan meja, mencuci piring dan peralatan makan. Setelah semuanya beres, barulah kami pindah tempat ke ruang tengah.


"Maaf ya, Bu, Pak. Saya jadi merepotkan kalian. Mana numpang makan siang."


"Gak merepotkan, Nak. Kebetulan memang sudah waktunya makan siang kami. Jadi, ya sekalian saja kita makan bareng." Ibuku tersenyum tipis. Berbeda dengan Bapak yang sejak tadi menatap Adit dengan pandangan yang berbeda.


"Bapak kenapa mengizinkan dia ke sini? Bapak mengingatnya? Wulan ajah pangling melihatnya tadi." Aku menunjuk pria itu dengan dagu.


"Dia nunjukin foto kalian waktu di SMA. Makanya bapak percaya kalau dia itu beneran temanmu."

__ADS_1


"Jadi begitu rupanya."


"Oh iya," lanjutku lagi.


"Kamu kenapa mendadak mencariku? Ada hal yang penting?"


"Ada, tapi kita ngobrol nanti saja." Adit berbisik di daun telinga.


"Ehem," deheman Bapak membuat Adit menjauhkan kepalanya.


"Kamu kerja di mana, Lan? Bukannya hari ini hari kerja?"


"Aku kerja di coffee shop. Lusa ada pembukaan cabang yang baru. Jadi, aku beristirahat dulu sebentar. Aku pindah ke tempat yang baru."


"Baguslah kalau begitu, aku boleh ngajakin kamu jalan dong. Nanti kita muter-muter kota Jakarta."


Aku menoleh pada Bapak dan Ibu, mereka sepertinya enggan mengizinkan kami berdua jalan-jalan.


"Boleh, kalau kamu mau jalan-jalan, ajak Damar sekalian. Gak etis kalau seorang perempuan yang sudah bertunangan, berduaan dengan seorang pria lainnya." Bapakku menimpali.


"Heheh, iya, Pak. Silakan saja hubungi tunangan Wulan! Biar kami bertiga bisa mengobrol banyak. Saya juga tidak perlu repot-repot untuk meminta izin darinya."


"Wulan, telepon Damar sekarang!"


"Iya, Pak. Nanti saja kalau kita mau ke luar." Ternyata Bapak bisa juga protektif padaku.


"Ndak usah genit-genit gitu sama anak muda!" bisik Bapak yang suaranya masih bisa kami dengar. Aku dan Adit hanya bisa mesam-mesem saja.


"Saya gak kerja, Bu. Sudah jadi owner tempat gym yang ada di sini." Aku terperangah mendengar perkataan yang ke luar dari mulutnya.


"Oner? Jim? Apa itu, Nak?" Aku tertawa melihat Ibu yang plonga-plongo.


"Adit itu udah punya tempat fitness, Bu. Jadi, dia gak kerja, paling mantau anak buahnya." Aku menimpali ucapan Ibu agar beliau tidak salah tanggap lagi.


"Owh, begitu. Hebat ya, udah punya tempat nes, nes, itu. Ngomong-ngomong nes, nes itu apa?" Bapak menggeleng beberapa kali. Menepuk paha Ibu.


"Ibu bikin malu Bapak saja. Makanya kalau nonton video di sosial media itu, jangan nonton gosip tentang artis aja! Nonton berita dan baca artikel, Bu." Bapak terlihat geram melihat Ibu yang wawasannya terbatas.


"Hahaha, Ibu dan Bapak sangat menghibur. Kapan-kapan sepertinya kalian harus pergi ke tempat fitness Adit. Biar Adit berikan kartu member gratis."


"Beneran, Nak Adit? Duh, Ibu jadi malu kalau harus ke sana. Ibu tidak pernah tahu nes, nes itu apa." Ibu menyengir sebentar.


"Bu, tempat fitness itu tempat kita bisa olahraga menggunakan alat-alat yang tersedia di sana," jelasku.


"Owh, olahraga, senam dan robik-robik gitu ya?"


"Bukan, Bu. Kalau gym itu lebih mengendepankan latihan otot." Kali ini Adit yang menimpali.

__ADS_1


"Pantas aja badanmu kekar, Nak Adit. Latihannya yang begituan." Ibu menatap kagum pria yang duduk di sofa tunggal itu.


"Bu, boleh kami berdua ke luar sebentar?" tanya Adit yang membuat Ibu dan Bapak menoleh padaku.


"Wulan sih mau-mau ajah. Toh ini juga udah hampir sore, bukannya malam hari." Dengan santai aku mengiyakan ucapan Adit. Tapi, yang jadi persoalan izin dari Ibu dan Bapak.


"Bapak sudah bilang, kalau kalian ingin pergi, ajak Damar sekalian!"


"Oke, nanti biar Wulan yang menghubungi tunangannya itu. Kita berdua pamit dulu, Pak, Bu." Adit seperti menyeretku.


"Eh, tunggu dulu ... aku mau ngambil tas dan hape."


"Iya, aku tunggu di depan." Adit pamit pada kedua orang tuaku sementara aku kembali ke kamar.


Sekembalinya dari kamar, Bapak mencegah langkahku.


"Wulan, cepat hubungi Damar! Nanti kami akan menghubunginya sebagai bukti kalau kalian pergi bersama. Awas saja kalau kamu berbohong," ancaman beliau seraya melotot.


"Nggeh, Pak. Bapak tenang saja! Wulan gak bakalan bohong."


"Wulan pergi, dulu ya." Aku menyalami tangan beliau.


Kaki ini melangkah pergi, meninggalkan unit apartemen. Adit tengah bersandar di dinding koridor.


"Ayo kita berangkat!" Dia segera menarik lenganku. Kami berdua bergandengan tangan menuju pintu lift.


"Dit, jangan gini! Banyak orang, lagian kita cuma temen. Masa iya tanganku digandeng beginian, nanti pacar kamu marah."


"Oh iya, pacar kamu mana? Pasti dikelilingi cewek-cewek cantik. Secara kamu sudah berubah." Tanpa sadar aku menatapnya lekat. Rahangnya khas pria sejati. Begitu keras dan berjambang walau tipis.


"Aku belum punya pacar, Lan."


Tiiiiing


Suara pintu lift yang terbuka membuat perbincangan kami berhenti sementara. Kami berdua masuk ke dalam lift. Tak ada orang di dalamnya, kami hanya berdua saja.


"Kamu jangan bohong, Dit!"


"Enggak, aku gak bohong. Aku menunggu melamar seseorang yang aku sukai sejak lama, makanya aku berusaha keras untuk sampai di titik ini. Tapi, sayang sekali orang itu sudah memiliki pria lain." Pandangan kami beradu.


"Memangnya dia siapa? Aku kenal tidak? Kamu bilang, kamu menyukainya sejak lama, pasti teman sekolah, kan?"


Suara pintu lift yang terbuka, tidak membuat perhatian kami teralihkan. Sampai seseorang ada yang bersuara keras.


"Wulan, kamu ... siapa dia?" Suara itu berasal dari seorang pria yang baru saja masuk ke dalam lift.


Gawat, kenapa bisa ketemu ini orang lagi.

__ADS_1


Jujur saja, seketika aku canggung menghadapi Adit. Pria itu menatap wajah kami bergantian. Ada ekspresi wajah yang tidak bisa aku artikan ketika dia menatap Adit.


__ADS_2