Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Dimas dan Laura


__ADS_3

"Tenang saja, Sayang. Damar itu sudah cinta mati sama kamu, gak mungkin macam-macam dengan Laura." Tante Iren mengelus rambutku berkali-kali, berusaha menenangkan diri.


"Tante, bukan mas Damar yang Wulan takutin. Tapi, kalau Laura nekat, gimana? Tante pasti tahu tentang karakter perempuan itu, secara dia temen sekolah mas Damar." Aku tetap tidak setuju.


"Kamu tenang saja! Dia tidak akan berani macam-macam kalau di tempat umum. Kita lakukan ini bukan hanya pada Laura, tapi pada Dimas juga. Kita undang mereka dalam waktu bersamaan. Kamu mengundang Dimas, aku mengundang Laura. Kita pertemukan keduanya dalam satu meja. Setelah itu barulah kita berdua datang bersamaan dan memberikan kejutan pada mereka." Baru kali ini aku mendengar Damar berbicara panjang lebar.


"Terserah, aku malas berdebat." Lebih baik aku mengalah saja.


"Kamu tenang saja! Biar kami yang mengurusnya, setidaknya mereka mendapatkan balasan karena telah berani menculikmu." Tante Iren mengelus punggung ini berusaha menenangkan diri.


Damar langsung menghubungi Laura, sementara aku menghubungi Dimas di lain tempat agar suara perbincangan Damar tidak terdengar. Suara Dimas begitu bersemangat ketika menerima telepon dariku. Sengaja aku tidak membahas tentang penculikan kemarin. Dia begitu senang mendapat undangan makan malam berdua saja.


"Aku pasti datang. Kamu bisa cerita apa saja padaku, apalagi tanya-tanya tentang Damar." Suaranya terdengar senang.


"Oke, besok malam kita ketemuan ya. Ada yang ingin aku tanyakan tentang sifat Damar yang sering marah tidak jelas."


"Siap, aku pasti selalu ada untukmu, Lan." Setelah mendapat respon darinya, aku berpamitan. Panggilan telepon disudahi dengan aman.


Kucoba menghela napas sejenak, rasanya ingin sekali memaki Dimas karena berani menculikku. Tapi, di sisi lain ada satu hal yang aku ingat ketika tak lama sadarkan diri dari pingsan. Aku mengingat kembali masa kecil bersama Damar. Ternyata, sewaktu kecil, kami berdua pernah diculik dan alhamdulillah berhasil ditemukan oleh bapak. Kenangan itu samar tapi masih bisa diingat bagian pentingnya. Bisa saja aku dan Damar berusaha untuk melupakan kejadian itu, karena itulah kami tidak mengingat masa kecil masing-masing yang katanya sejak kecil kami selalu bermain bersama.


Aku bersandar pada tiang teras rumah, napas ini berembus cepat, berusaha untuk menenangkan emosi yang sejak tadi membuncah. Suara derap kaki membuatku melirik ke asal suara.


"Gimana, Yang? Dia mau ketemu?" Ternyata tunanganku yang mendekat.


"Tentu saja." Kubalas ucapannya.


"Besok malam kita harus persiapkan kata-kata pancingan agar mereka mengakuinya. Kita bisa membuat bukti hanya dengan cara ini. Mereka berdua harus dihukum seperti Zayn dan dua orang lainnya." Pria ini merengkuh kepalaku, dia mendekapnya.


"Semoga besok malam semuanya berjalan lancar." Aku mendongak, menatap wajahnya.


***


Tiga hari lagi acara pernikahan kami berlangsung. Tapi, malam ini kami harus menjalankan rencana awal dengan cara mengundang Dimas dan Laura.

__ADS_1


Kami berdua masuk ke restoran yang dipesan untuk makan malam. Kami sengaja datang lebih awal, memasang mikrofon di balik meja. Aku dan Damar membawa kamera mini yang berbentuk bolpoin mahal. Damar menyelipkannya di dalam kantong kemeja yang dia pakai, sementara aku menjepitnya di balik baju, terlihat bagian atasnya saja yang menyembul untuk merekam kejadian nanti. Sementara di sofa yang berada di sebelah sudah diletakkan kamera berbentuk kancing sesuai posisi untuk merekam.


"Sekarang waktunya kita bersembunyi. Biarkan Laura dan Dimas bertemu di sini." Damar menarik pinggulku, kami berdua berjalan menjauh. Kami sengaja bekerjasama dengan tempat ini untuk merekam video. Setidaknya sudah mendapatkan izin dari manajemen.


Kami berdua memantau mereka dari jauh. Tak berapa lama, Dimas sudah datang. Dia menghubungiku.


"Mas, Dimas nih." Tanganku menyenggol Damar.


"Jawab saja! Bilang lagi ada di toilet. Kita harus menunggu Laura datang." Dia berbisik.


Tanganku menempelkan benda pipih itu di telinga.


"Iya, Dimas," sahutku santai.


"Kamu di mana, Lan? Aku sudah ada di restoran nih." Suaranya begitu bersemangat.


"Owh begitu, tunggu saja dulu! Duduk saja di meja yang aku pesan, aku masih di toilet nih. Masih sakit perut." Aku berusaha menormalkan nada suara.


"Baiklah, demi kamu apa sih yang enggak. Cuma nunggu gini."


"Dia mau nunggu, Mas."


"Pelanggan lain mulai berdatangan, Laura belum datang juga." Dia mulai cemas.


"Kenapa? Takut kalau dia gak datang? Cemas kalau ada apa-apa di jalan?" Entah kenapa detak jantungku berdebar kencang, napas juga terasa panas dan mendidih.


"Sayang, kamu gak usah cemburu sama dia! Tetap kamu yang Mas cinta." Dia mengelus-elus rambutku.


"Apaan ini? Ngapain elu di sini?" Suara samar itu membuat kami berdua saling berpandangan kemudian menatap Laura yang baru saja datang dan bertemu dengan Dimas.


"Gimana? Kita ke luar sekarang?" tanyaku tak sabaran.


"Tunggu, kita pakai ini dulu agar bisa mendengar lebih jelas." Damar memberikan air pod padaku.

__ADS_1


Kami berdua memakainya sebelah saja. Kali ini suara percakapan Laura dan Dimas terdengar.


"Elu kudu pergi dari sini! Gue mau ketemuan sama Damar." Laura mendorong pundak sepupunya.


"Gue duluan yang ketemuan sama Wulan. Ngapain elu ketemuan di sini juga?" Dimas tak mau kalah.


"Damar yang ngundang gue dinner, tentu saja gue harus datang ke restoran ini." Laura bersedekap.


"Mana dia? Kenapa Damar belum datang? Pasti elu boong, elu cuma alesan doang karena mau ngikutin gue." Dimas menatap Laura malas. Kepalanya sedikit melengos.


"Elu yang boong! Elu pulang ajah sono! Biarkan gue ngobrol dengan Damar berdua aja." Sepertinya mereka masih berdebat.


"Yang, kita ke luar saja! Mereka masih berdebat, kita pancing saja keduanya biar mengaku." Damar merubah posisinya.


"Mereka berdua gak akan selesai berdebat." Aku berusaha bergerak cepat, berdiri di samping Damar.


Kami berdua saling bergandengan tangan, berjalan santai menuju meja yang sudah kami pesan.


Plok, plok, plok.


Suara tepuk tangan tunanganku itu membuat perhatian dua orang itu teralihkan. Mereka langsung berhenti berdebat dan menatap kami dengan tatapan melebar.


"Hai Dimas," sapaku dengan senyum terpaksa.


"Laura, sudah lama menunggu?" Damar pun mulai bersuara.


"Kalian berdua." Dimas dan Laura berucap bersamaan.


"Bukankah pernikahan kalian dibatalkan? Kenapa sekarang ini kalian berdua tampak baik-baik saja?" Laura menghampiri kami lebih dekat.


"Siapa yang bilang pernikahan kami batal? Pernikahan kami akan tetap berlanjut. Kalian berdua sudah gagal menculiknya, sebaiknya kalian mengaku dan menyerahkan diri." Damar tersenyum kecut. Dia menatap Dimas dengan tatapan tak biasa.


"Apa kamu bilang? Menculik perempuan kampung ini? Gak level sama gue, Mar." Laura mencemooh.

__ADS_1


"Rencana kalian tidak akan pernah bisa berjalan lancar. Kalian harus menemani Zayn di dalam penjara!" Damar menatap Dimas, tangannya terkepal erat. Dia menatap Dimas nyalang.


__ADS_2