Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pesta Pertunangan


__ADS_3

"Pak Ramli, ngapain dia nyusulin gue sampai ke atas ya?" Aku sempat melihat sosok Bapak Wulan yang menuruni anak tangga dengan cepat.


Besok saja aku pikirkan, aku harus mengumpulkan tenaga untuk acara pertunangan besok. Aku segera kembali ke kamar, merebahkan diri kemudian berusaha memejamkan mata.


***


Paginya, semua anggota keluarga berkumpul di rumah ini. Mulai dari kakek nenek dari pihak ayah yang sengaja datang dari jauh. Kak Mutia dan keluarga suaminya juga turut hadir. Syukurlah Kak Mutia baik-baik saja. Wajahnya tidak pucat seperti yang dibilang semalam oleh suaminya.


Aku, sebagai seorang pria, tentu saja santai dan tak ambil pusing dengan adanya acara ini. Mami, Selena dan anggota keluarga yang lain mengerubungi Wulan di kamarnya, mereka ingin tahu dandanan seperti apa yang digunakan untuk membuat para tamu terkesan. Bagiku, Wulan malah terlihat lebih cantik jika penampilannya biasa saja. Kalau dia berdandan, wajah aslinya tidak terlihat, seperti memakai topeng wajah orang lain.


"Bang, kok belum siap? Udah jam berapa ini?" Selena berkacak pinggang di ambang pintu kamar. Padahal, baru saja aku menghindari kekacauan di lantai bawah.


Eh, anak ini main manggil saja.


"Paan? Baru jam sepuluh, katanya acaranya setelah dzuhur," sahutku acuh.


"Astaghfirullah, masa iya acara setelah dzuhur mau pergi ke sana jam dua belas? Memangnya tamu, telat juga gak masalah. Ini pesta tunangan Abang, loh." Selena membuatku semakin malas.


"Ya udah, gue mandi dulu, bawel." Aku segera masuk ke kamar mandi. Membersihkan badan sebelum memakai baju yang sudah disiapkan.


Entah berapa lama aku menghabiskan waktu di kamar mandi. Aku berganti pakaian yang disiapkan di atas ranjang. Setelah memakai setelan itu, aku merapikan rambut, memakai pomade dan menyemprotkan parfum agar wangi tujuh hari tujuh malam. Lah, kenapa seperti mandi kembang saja.


"Bang, udah siap? Ditunggu lho." Selena memekik.


"Iya, gue turun sekarang juga!" Aku menyambar hape di atas nakas, mengantonginya di saku jas.


Aku merasa tak nyaman memakai setelan seperti ini. Rasanya ada yang mengganjal. Aku melihat banyak keluarga besar yang hadir. Ada yang berbisik-bisik tentang latar belakang keluarga Wulan yang tidak berada.


"Bulek, julidnya masih saja seperti dulu. Ingat, dulu kita juga tidak punya apa-apa. Gak usah belagu sok menghina status sosial orang lain."


Sebenarnya, aku tidak membela Wulan. Hanya saja, aku muak ketika mendengar seseorang yang dihina karena status sosialnya berada di bawah kita. Kita tidak tahu sekeras apa mereka dalam menjalani hidup, kita juga tidak tahu usaha apa saja yang mereka lakukan agar bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menabung untuk masa depan.


"Damar, koe ngomong opo to, Le?"


"Gak usah berkelit, Bulek!" Aku tidak mau menanggapi lagi. Mereka kembali berbisik, entah apa yang dibicarakan.


Kaki ini melangkah santai ke halaman rumah. Baru saja aku membuka pintu kendaraan, Selena mendorongku.

__ADS_1


"Sel, Elu ngapa? Peak amat."


"Hih, Mas Damar tuh yang peak. Acara pertunangan kok main nyetir sendiri sih."


"Memangnya ada yang salah?"


"Pake sopir dong, Mas. Mas Damar duduk di belakang ajah sama Selena."


"Lho, bukannya kamu berangkat bareng mereka? Kok malah di sini?"


"Kelamaan, nanti ajah ngobrolnya. Pak, ayo berangkat!" Tangannya melambai pada seseorang yang tidak kukenal.


"Silakan masuk, Mas!" Aku terpaksa masuk, duduk di samping Selena.


"Sel, barang-barang bawaannya mana ya? Biasanya kalau ada acara pertunangan, ada hantaran juga. Kenapa mereka gak bawa apa-apa?" Aku mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi dipendam.


"Abang gak usah khawatir! Mami udah nyiapin segalanya, udah berangkat sejak pagi tadi. Mami tinggal pesan saja, beres." Selena berbangga diri.


"Gue yang tunangan, Mami yang semangat ya. Padahal anaknya males tunangan." Selena menepuk mulutku.


"Vangke, kur4ng ajar ini bocah." Aku membekap mulutnya agar dia tidak bisa bernapas. Adikku itu memberontak, tangannya meraih kepalaku.


"Pak, embaknya jangan digituin! Nanti beneran gak bisa napas."


"Aarrrrgggghhh," pekikku kesakitan.


"Selena." Aku mencubit dua pipinya dengan geram.


Tanganku digigitnya hingga akhirnya bekapan terlepas, bekas gigitannya tampak dalam.


"Budu, lagian gue gak bisa napas. Kalau gue mati, gimana? Mau Elu masuk penjara?"


"Kagak bakalan gue sampai ngabisin nyawa adik gue sendiri. Elu gila apa gimana, sampe kepikiran begitu?" Aku mengusap bekas gigitannya, rasanya ngilu, agak perih.


"Bisa-bisanya Mas Damar tuh bercandanya garing. Gue gak suka becanda kek gitu. Lipstik gue udah nyemong ke mana-mana nih, belum lagi bedak dan blush-on." Wajahnya merengut sambil melihat cermin yang dia bawa. Dia merapikan dandanannya.


"Siapa suruh nampar mulut gue, jadi, ya begitulah balasannya."

__ADS_1


"Awas ajah nanti, gue aduin ke Kak Wulan."


"Emangnya dia bisa apa?"


"Bukannya kalian udah itu, ya? Jadi, Kak Wulan bisa ngancem Mas Damar gak ngasih jatah." Spontan aku menoyor kepalanya. Sembarangan saja dia bilang begitu.


"Sembarangan, ituan apaan? Di mana?"


"Di hotel kemarin, waktu kita berdua mabuk." Selena seperti berbisik.


"Elu ngarang banget ya. Kagak ada begituan, orang mabuk itu di jaga, bukan di *****-*****." Aku menoyor kepalanya lagi.


Entah kenapa kelakuan Selena ini selalu saja membuatku geram. Apalagi dengan pola hidupnya yang selalu saja bermain-main. Umurnya sudah dua puluh tahun, tapi, ucapan dan perilakunya masih seperti bocah.


"Sudah sampai." Pak sopir sewaan membuat obrolan kami terhenti.


Kami berdua turun dari mobil, Selena merapikan dandanannya yang seperti badut Ancol. Setelah itu dia merapikan penampilanku.


"Gak usah ribet, Sel! Biar gue rapikan sendiri." Aku menepis tangannya dengan cepat. Kaki ini melangkah santai, masuk ke dalam lobi. Ada penunjuk arah menuju tempat acara pertunangan. Aku mengikutinya.


Bola mataku terbelalak melihat Wulan yang duduk diam dengan rasa tak nyaman dan canggung di sana. Dia dikelilingi oleh keluarga besar kami. Raut wajahnya tampak tidak baik-baik saja.


"Gila, pinter juga yang dandanin."


Dua benda yang menonjol itu semakin tampak indah dengan balutan kebaya moderen yang berleher rendah. Belahannya bisa saja terlihat kalau dia menunduk. Dia berusaha duduk tegap, sambil sesekali menaikkan pakaiannya. Rambutnya disanggul sedemikian rupa, ada dua untaian yang disisakan di kiri kanan, menambah kesan anggun dan elegan.


"Lan, apa seharusnya kita menikah saja? Gak usah lanjutin rencana yang sudah aku katakan."


"Mas, ngomong apaan barusan?" Selena membuatku tersadar dari lamunan.


"Ayo, kita ke sana!" Dia menarik lenganku, kami berdua menghampiri meja itu.


Semakin dekat melihat Wulan, semakin sesak untuk bernapas.


Damar, sadar woi! Dia gak cocok buat Elu, dia itu kampungan, gak akan bisa diajak berpikiran maju. C'mon Man, gak usah sampai segitunya melihat dia!


Suara hatiku berusaha untuk menghalau perasaan ini yang entah sejak kapan mulai tumbuh seiring waktu berlalu. Perasaan dan ego bergejolak, beradu, pro dan kontra. Aku harus bisa berpikiran logis, tidak boleh mengandalkan perasaan. Perasaan itu hanya untuk yang namanya perempuan, sementara aku, aku seorang pria yang tentu saja tidak akan membawa perasaan dalam hal ini.

__ADS_1


"Damar," suara itu mengejutkan aku. Kepala ini menoleh ke arahnya.


"Elu ... Elu ngapain di sini?" Aku menariknya menjauh dari keramaian.


__ADS_2