
Mobil yang kami kendarai mengikuti kendaraan itu. Aku dan Damar saling berpandangan heran.
"Yang, bukannya ini arah ke apartemen?" Damar masih tak percaya.
"Iya, ikutin aja mereka mau ke mana? Sudah beberapa kali aku memergoki mereka berdua saja. Ibu sampai suudzon kalau mereka itu pasangan kekasih karena masuk ke unit apartemen berdua saja." Kepalaku menjulur, berusaha untuk melihat apa yang mereka kerjakan di dalam mobil. Lucu memang, tapi aku ingin tahu apa yang mereka lakukan.
"Apa hubungannya Laura dan Dimas? Bukankah mereka belum pernah bertemu sebelumnya? Kalau Adit dan Laura, kita menyaksikannya dengan mata kepala sendiri." Damar masih fokus pada jalanan di depannya.
"Aku juga gak tahu. Mereka berdua pernah mengobrol di balik pintu darurat. Sayang aku gak bisa denger dengan jelas."
"Mereka masuk ke basemen, artinya mereka lama ada di sini." Damar meletakkan mobil ini berjarak beberapa mobil dengan kendaraan Dimas.
"Kita ikuti saja mereka!" titah Damar. Aku yang merasa kepo, tentu saja harus mengikuti mereka.
Kami berdua turun dari mobil, Dimas dan Laura ternyata masuk ke dalam lift yang ada di tempat parkir.
"Nah, mereka naik ke lantai berapa tuh?" Damar menggaruk rambutnya tanda frustasi.
"Tentu saja lantai unit apartemenku. Dia kan punya apartemen di sini, milik pribadi," bisikku.
"Jadi, dia punya apartemen di sini? Kalian berdua sering berpapasan kalau begitu? Kenapa kamu gak ngasih tahu aku? Aku bisa membatalkan pembayaran dan pindah ke tempat lain." Mendengar perkataan yang ke luar dari mulut Damar, membuatku tersentak. Lupa kalau tunanganku yang posesif ini tidak tahu apa-apa tentang apartemen Dimas. Raut wajahnya begitu merah padam.
"Maaf, dia bilang jangan ngasih tahu kamu. Tapi, memangnya kenapa? Bukannya dia sahabat kamu? Seharusnya kamu lega kalau sahabatmu bisa menjagaku." Terlintas begitu saja jadi aku utarakan pada Damar.
"Kamu bisa mikir gak? Waktu itu dia mana tahu kalau kamu itu tunanganku? Kalau terjadi sesuatu yang buruk menimpamu, bagaimana? Siapa akhirnya yang harus bertanggung jawab?" Damar sudah emosi, nada suara meninggi, suara baritonnya seperti menggema.
"Maaf, aku salah." Daripada aku harus berdebat dengannya, lebih baik aku mengalah saja. Kuraih tangannya itu, menggenggamnya erat. Kutatap wajahnya yang masih berusaha menahan emosi.
Dia merengkuh tubuh ini dalam pelukan.
"Aku gak akan bisa maafin diri sendiri kalau kamu dilecehkan oleh Dimas. Dia itu laki-laki br3ngsek, memandang wanita sebelah mata. Dia selalu lolos dari hukum, Lan. Karena itu aku melarangmu dekat-dekat dengan Dimas." Aku mendongak, menatap wajahnya. Informasi tentang Dimas membuatku terkejut.
"Jadi, dia itu suka melecehkan perempuan?" tanyaku memastikan. Damar mengangguk singkat.
"Sudah banyak korbannya, kita bertiga sebagai sahabat sudah sering menasehatinya, tapi, mau bagaimana lagi. Dia sendiri tak mau berubah." Pelukan pria ini semakin erat saja.
"Damar, aa-ku susah napas." Kucoba mengendurkan pelukan.
__ADS_1
"Maaf," kepalanya menunduk menatapku. Mata kami saling berpandangan.
"Astaga, Laura. Jangan-jangan dia korban Dimas selanjutnya." Aku menjerit kecil sampai-sampai ada orang yang berlalu-lalang melihat kami berdua yang masih berpelukan.
"Benar juga, tunjukkan unit apartemen Dimas!" Kami berdua mengurai pelukan, masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Di basemen memang ada lift khusus barang, kami berdua naik melalui lift itu.
Aku tidak sabar menunggu lift terbuka, walau bagaimana pun, Laura harus selamat. Dia tidak boleh menjadi korban Dimas selanjutnya.
Kami berdua saling berpandangan, wajah kami rupanya sudah tegang. Aku meraih tangan Damar sebagai sumber kekuatan. Kami berdua bergandengan tangan, ke luar dari lift dan menuju unit apartemen Dimas.
"Gilak, jadi sedekat ini?" Pria itu melirik ke nomor unit apartemen yang dia sewakan untukku. Tatapannya kemudian beralih pada pintu di depan kami.
"Ketuk saja pintunya!" Aku sudah tidak sabar. Semoga Damar bisa mengendalikan emosinya, aku takut kalau Dimas bisa babak belur seperti Zayn.
"Aku ajah deh yang ngetok." Tunanganku itu masih terdiam, jadi, aku yang harus turun tangan.
"Kalian berdua sedang apa di sana?" Suara yang kami kenal. Kepala kami sontak menoleh ke asal suara.
"Ibu, Ibu mau ke mana sore-sore gini? Sebentar lagi maghrib." Kudekati beliau, tak menggubris keberadaan Damar.
"Nak Damar ngapain?" Ibu bertanya pada tunanganku itu.
"Kalian berdua salah apartemen, di sini unitnya. Bukan di sana!" Ibu menunjukkan pintu unit kami.
"Eh, iya, maaf Bu. Saya lupa." Damar mendekati kami berdua.
"Ya sudah, kalian berdua masuk saja! Ibu mau ambil pesanan dulu." Ibu berjalan menjauh dari kami.
Aku dan Damar bernapas lega melihat kepergian Ibu.
"Wulan, ayo kita lanjutkan menggrebek Dimas!" ajak tunanganku.
"Apa sebaiknya kita menghubungi pihak kepolisian? Biar mereka saja yang menangani, bisa sebagai bukti juga." Aku memberikan saran. Aku tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah.
"Gak usah, aku punya ide yang lebih baik." Damar menarik pinggangku. Posisi kami menempel.
"Kamu bawa hape, kan? Tugasmu di sini merekam apa yang mereka lakukan. Kita mulai merekamnya sebelum aku mendobrak pintu ini. Bukti rekaman itu cukup kuat, kita bisa menjebloskan Dimas ke dalam penjara." Ide Damar bagus juga. Aku setuju dengan ide itu.
__ADS_1
"Bentar dulu! Aku ambil hape lanjut merekam." Kurogoh benda pipih itu yang ada di tas selempang. Menyalakan videonya kemudian mengangguk pada Damar.
Damar menghitung tanpa suara, pada hitungan yang ketiga ternyata pintu sudah terbuka dari dalam. Keseimbangan Damar mulai goyah sehingga dia jatuh tersungkur tepat di tengah-tengah pintu.
"Damar, kamu gak apa-apa?" Aku memekik tertahan, meraih tubuhnya dan membantunya berdiri.
"Kepalaku." Damar mengelus kepalanya yang terbentur lantai. Aku meniup kepalanya berulang kali.
"Damar, Wulan. Kalian berdua ngapain di depan pintu apartemenku?" Dimas berdiri di hadapan kami yang sibuk mengelus kepala.
"Kkk-kami," sahutku tak melanjutkan ucapan. Lidah ini terasa kelu, menelan ludah saja begitu berat.
"Kami mencari keberadaan Laura, di mana dia? Kami berdua melihatnya masuk ke unit ini." Damar mulai bersuara, nadanya sedikit meninggi.
"Mencari Laura? Bukankah Elu udah gak peduli lagi dengan keberadaannya?" Dimas tertawa mengejek Damar.
"Katakan di mana Laura!" Damar mulai emosi.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan liar. Mencari keberadaan gadis itu. Kami berdua akan merasa bersalah kalau dia menjadi korban kebejatan Dimas selanjutnya.
"Kalian berdua pergi dari sini! Kalian berdua tidak ada hubungannya dengan Laura. Gak usah sok nyari Laura." Dia berusaha mendorong tubuh kami berdua.
Tangan Damar mengepal sampai urat bertonjolan, aku berusaha untuk menenangkannya. Dimas masih saja tak mendengarkan kami. Dia terus-menerus mengusir kami
"Keluarlah Laura!" pekik Damar karena tak mendapatkan jawaban dari Dimas.
"Kalian berdua bisa gue laporkan pada pihak keamanan pengelola! Kalian membuat keributan di tempat tinggal orang." Wajah Dimas mulai memerah karena rasa amarah.
"Dimas, aku mohon padamu! Lepaskanlah Laura!" Aku berusaha berbicara sepelan mungkin agar dia tidak terpancing emosi.
"Hahaha, kalian pikir, kalian siapa? Memangnya aku apakan Laura sampai kalian berdua seperti orang kesetanan." Dimas tertawa.
"Jangan banyak alasan lagi! Gue akan mencarinya sampai ketemu." Damar berusaha masuk, menerobos tubuh Dimas.
Baru saja kami melangkah beberapa kali, ada sebuah pintu yang terbuka.
"Laura," panggilku lirih.
__ADS_1