
Senyum yang semula dia tampakkan berubah kesal.
"Masa iya gue gak boleh bertamu di sini?" Kedatangan Dimas membuatku gelisah.
"Aku baru saja pindah, Mas. Jadi, gak bisa nerima tamu dulu. Masih berantakan di dalam, maaf ya." Kepalaku sesekali menoleh ke arah ruang tamu. Melihat keberadaan Ibu dan Bapak.
"Karena itu gue ada di sini, gue mau bantuin beresin barang-barang Elu." Dimas masih kekeuh.
"Gak usah!" pekikku tanpa sadar, segera aku menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
"Gue bantuin malah ditolak. Gue masuk ya." Dimas masih memaksa.
"Tolong banget ya, Mas ... aku capek, mau istirahat setelah beres-beres nanti."
"Mana orang tua Elu? Gue mau kenalan sama mereka. Biar mereka tahu kalau ada yang jagain anaknya selama tinggal di apartemen ini." Dimas mengerjap berkali-kali, tersenyum lebar padaku.
Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dari ambang pintu unit apartemenku.
"Wulan, jangan gitu dong Sayang! Kalau mau dorong jangan didorong di sini, tapi di sini." Dia menunjuk dada bidangnya yang terbalut kemeja kerja. Ada dasi yang terlilit di kerah kemeja itu.
"Dimas, hentikan! Aku masuk dulu ya, kapan-kapan kita bisa mengobrol."
"Yah, padahal gue sengaja ke sini, mau bantuin Elu hari ini." Wajahnya berubah lesu.
"Maaf banget, kamu kan harus kembali bekerja. Barang-barang kita cuma dikit kok. Kamu gak usah khawatir gitu." Aku berusaha tersenyum untuknya.
"Lan, Elu tahu gak? Gue mendadak diabetes nih."
"Eh, apa? Apa maksudnya? Kamu sakit?" Dimas menggeleng lemah.
"Gue gak sakit, lihat senyum manis Elu, diabetes gue jadi bertambah, disuguhi manisan sih."
"Dih, apaan ... gombal itu, gak lucu sama sekali." Pria itu terkekeh geli melihat raut wajahku yang merengut..
"Jangan merengut gitu dong! Hilang deh manisannya."
"Wulan! Siapa di sana, Nak! Kenapa gak balik ke dapur lagi?" pekik Ibuku.
"Bukan siapa-siapa, Bu. Bentar lagi Wulan ke sana," sahutku.
"Bu-," Aku membungkam mulutnya itu dengan cepat. Untung saja suaranya berhasil aku redam.
"Ngapain pake manggil Ibu segala? Udah deh, kamu pergi kerja lagi ajah." Aku terpaksa mendorongnya lebih kuat dan segera menutup pintu.
__ADS_1
"Siapa itu? Seperti ada suara pria." Ibu menghampiri ketika pintu sudah tertutup. Lega rasanya karena beliau tidak melihat Dimas.
"Orang salah alamat, Bu." Aku mendorong punggung beliau agar kembali ke dapur.
"Masa iya? Tuh ada ketukan pintu lagi." Ibu menoleh ke daun pintu.
"Paling suara dari unit sebelah, Bu." Aku harus bisa mengalihkan perhatian Ibu.
Dimas nih, diusir bukannya pergi, malah masih ajah ketuk-ketuk pintu.
"Ibu gak mau ke dapur lagi, Lan. Udah selesai beres-beresnya." Ibu berbalik arah, menatapku lekat.
"Katanya mau masak?"
"Nanti ajah, Ibu mau istirahat sebentar." Beliau meninggalkan aku ke kamarnya.
"Pak, Bapak belum mau makan?" tanyaku pada Bapak yang sudah menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
"Nanti ajah, Lan. Baru jam sebelas ini. Bapak nyusul Ibu dulu ya, nanti sore mau duduk-duduk di balkon lihat gedung tinggi lagi." Aku hanya bisa mengangguk.
Aku bingung harus berbuat apa, bosan rasanya berada di tempat ini, tak beraktivitas seperti biasa.
"Apa aku nelpon Tante Iren ajah ya? Biasanya kan Tante suka ngobrol, gak apa lah walau pun aku dengerin Tante ngoceh." Kaki melangkah ke kamar, meraih hape di atas nakas kemudian mencari nama Ibu Damar.
"Ada apa, Lan?"
"Tante sibuk ya?" tanyaku ragu.
"Begitulah, masih nyiapin cemilan. Setengah jam lagi arisan di mulai. Memangnya ada apa? Butuh sesuatu?"
"Eum, gak ada sih, Tan. Wulan cuma bosen ajah di sini. Pengennya kerja lagi di coffe shop."
"Iren!" Ada suara yang tidak kukenal memanggil nama beliau. Suaranya terdengar samar-samar.
"Nanti kita bicarakan lagi, ya! Temen arisan Mam udah ada yang datang." Panggilan telepon terputus.
"Yah, semuanya sibuk." Aku duduk di pinggiran ranjang dengan lunglai.
"Dimas," lirihku spontan. Sontak kaki ini beranjak dari kamar ke arah pintu utama. Aku membukanya, pria itu sudah tidak terlihat lagi di koridor apartemen.
"Ck, entahlah ... lebih baik aku tidur ajah bentar." Aku memutuskan untuk tidur sejenak sebelum makan siang tiba.
Niat hati ingin tidur, tapi, yang ada malah tidak bisa memejamkan mata. Tubuhku berbalik ke kanan ke kiri, memeluk guling dengan erat.
__ADS_1
"Arrrgggggghhh, gak bisa tidur siang." Aku bangkit setengah duduk, kedua kaki berselonjor.
Lebih baik aku memasak saja, menggantikan Ibu. Lumayan bisa menghabiskan waktu.
Aku berkutat di dapur, mengambil beberapa potong ayam, sayur sop, cabe dan beberapa bumbu instan. Entah sudah berapa lama aku di dapur, menggoreng ayam sudah kulakukan. Memasak sayur sop juga sudah selesai. Kali ini aku meracik sambal, bersiap menggoreng cabe.
"Arrrggh." Cabai itu meledak dan terkena lenganku. Tubuhku menjauh, kutiup lengan yang memerah terkena ledakan.
"Wulan, kamu kenapa, Nduk?" Ibu dan Bapak menghampiri.
"Matikan dulu, Pak!" titah Ibu, Bapak langsung memutar cetekan kompor.
"Kamu ngapain masak segala? Sudah Ibu bilang biar Ibu yang masak. Sini lenganmu!" Beliau mengambil toples berisi tepung, menaburkan tepung itu pada lenganku yang memerah karena cipratan minyak dan cabe.
"Wulan bosen, Bu. Makanya Wulan pikir masak ajah. Lumayan bisa menghabiskan waktu." Kami berdua meninggalkan dapur.
"Kamu itu mana tahu masak? Dari kecil selalu masak masakan Ibu." Beliau melihat kondisi lenganku.
"Masih perih gak?" Ibu khawatir. Aku mengangguk lemah.
"Wulan bisa masak kok. Buktinya bisa goreng ayam dan masak sayur sop." Wajahku merengut.
"Goreng sambel ajah gak tahu, kalau mau goreng cabe itu harus dibelah dulu cabenya, atau ditusuk biar gak lompat kalau terkena panas. Itu ajah hal sepele gak tahu." Ibu malah memarahiku.
Aku malas menanggapi perkataan Ibu. Rasanya lengan ini seperti melepuh. Beruntunglah tadi aku segera menghindar, jadi, tidak banyak terkena cipratan panas dari minyak.
"Udah Bapak bersihkan dapurnya. Bapak juga masak nasi, masa iya ada ayam dan sayur sop tapi gak ada nasi?" Bapak terkekeh geli melihat kelakuanku.
"Maaf, Wulan lupa kalau seharusnya masak nasi dulu."
"Setelah ini, kita ke apotek! Beli salep biar gak ada bekas di kulit. Sebentar lagi mau tunangan malah kena cipratan minyak panas."
"Biar bapak saja yang beli, Bu. Bapak ke luar dulu ya."
"Tunggu! Memangnya Bapak tahu di mana tempatnya? Bapak tahu mencet lift gimana? Bapak tahu caranya turun? Kita di lantai empat belas, Pak." Aku mencecar banyak pertanyaan.
"Eh iya, Bapak lupa." Bapak duduk di sofa.
Ketukan pintu membuat perhatian kami teralihkan.
"Biar Ibu yang buka pintunya." Beliau beranjak pergi.
"Tunggu, Bu! Bisa saja itu unit sebelah." Bisa gawat kalau Dimas lagi yang datang.
__ADS_1
"Bukan di sana, tapi di sini. Udah kamu duduk ajah di sana." Aku cemas melihat Ibu yang melangkah cepat menuju daun pintu.