
"Jadi ini anak laki-laki kamu satu-satunya, Ren. Ganteng juga ya, perpaduan wajah kamu dan suami." Wanita seusia Mami dengan baju terbuka menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan.
"Kyaaa, Damar. Duh, udah gede ya sekarang. Mau Tante jodohin sama anak Tante, eh anak Tante yang cewek masih sekolah SMA. Mau gak ya kamu sama anak Tante yang usianya baru enam belas tahun." Satu lagi seorang Ibu bersemangat mengelus tanganku.
"Mam," panggilku seraya menggunakan kode melalui mata.
"Punya anak begini, pasti jadi incaran cewek-cewek nih. Matanya bulet banget, rahangnya khas lakik sejati."
"Mam!" bentakku tak tahan lagi. Aku dikelilingi oleh Ibu-ibi temen Mami, entah teman dari planet mana. Mereka menyebalkan dan ganjen.
"Sudah ya, kita duduk sambil ngobrol lagi ajah! Dia pasti capek pulang ngajar." Mami mendorong teman-temannya—entah berapa orang yang mengerling, aku tak peduli.
Setelah mereka pergi, Mami menarik lenganku agar mengikutinya. Kami berbincang di anak tangga paling bawah.
"Damar, kamu kok gitu sih, Nak? Mereka itu teman arisan Mami. Jangan kasar gitu, dong!" Suara Mami terdengar jengkel tapi masih dalam tahap wajar.
"Damar gak suka dipegang, Mam!" Hanya itu tanggapanku. Kaki ini bergegas menapaki anak tangga.
"Damar, Mami belum selesai ngomong!"
"Damar capek, Mam! Nanti ajah kalau Mami masih mau ngobrol." Aku mengacuhkan Mami.
Aku menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam agar tidak ada yang nyelonong masuk. Kurebahkan tubuhku di pembaringan, telentang sambil menatap langit-langit kamar.
"Di mana, Wulan ya?" lirihku spontan.
Moodku berantakan, aku berusaha untuk beristirahat sejenak sebelum mandi sore. Entah karena mengantuk atau mungkin karena letih, aku tertidur pulas.
***
Suara gedoran pintu membuatku pusing, semakin lama suara itu semakin jelas dan kencang, terpaksa aku membuka mata walau sebenarnya masih dilanda kantuk.
"Mas, Damar! Ayo turun, ditungguin Mami." Suara itu kembali mengusik pendengaran.
__ADS_1
"Iya, bentar lagi gue nyusul." Suaraku masih serak.
Aku ketiduran, melihat kondisi lampu yang padam karena memang tidak aku nyalakan. Tepaksa aku bangkit, menekan tombol lampu agar menyala. Setelah kamar ini terang, mataku silau dengan cahayanya, mata ini langsung menyipit.
"Jam berapa sih ini?" Sambil menguap, aku mencari keberadaan hape. Kuraih hape yang tergeletak di lantai, mungkin terjatuh kena senggol waktu tidur. Kulihat layar hape, sudah jam tujuh kurang sepuluh menit. Aku tertidur lumayan lama sampai meninggalkan sholat maghrib. Padahal niatnya hanya ingin beristirahat sejenak.
Bergegas aku masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan badan sebelum turun dan makan malam. Sepuluh menit berselang, aku turun menemui mereka. Ternyata mereka menunggui, belum makan duluan.
Ada yang berbeda dengan pemandangan di meja makan. Tak ada Wulan dan keluarganya, apa mungkin mereka sudah pindah ke unit apartemen yang disewakan Mami? Aku menatap kursi kosong itu, terpaku pada tempat berdiri, tak bergeming sedikit pun.
"Mas, aku duduk! Gue udah laper." Selena mendorong tubuhku yang mematung, aku duduk di sebelahnya. Kami melakukan makan malam bersama tanpa kehadiran keluarga Wulan.
Kami sudah selesai dengan makan malam, rencana yang sudah aku siapkan ternyata mundur. Bergegas aku berganti pakaian, akan harus pergi memantau coffe shop yang lama, mengajak Riki selama tiga bulan untuk memimpin tempat yang baru.
Saking sibuknya, aku lupa menghubunginya. Semua informasi karyawan dipegang Kak Mutia, aku lupa menanyakan berkas itu padanya. Lain kali aku harus fokus, bukan seperti dulu yang asal aku iyakan saja. Melihat berkas mereka juga asal buka dan tidak membacanya dengan jelas.
Baru saja kaki ini melangkah di ambang pintu rumah, Mami sudah memanggil.
"Mau ke mana kamu, Damar?"
"Owh, sekarang merasa memiliki ya. Gak kayak dulu." Mama mendekatiku.
"Dulu masih sibuk kuliah, ngejar tesis, belum lagi jadi asdos. Kegiatannya banyak, Mam."
"Iya, Mami tahu ... makanya kami menyerahkannya setelah sidang tesismu selesai bulan kemarin."
"Ya sudah, Mam. Damar pergi dulu."
"Hati-hati! Gak usah nongkrong gak jelas lagi! Sudah jadi calon suami sekarang."
Aku tidak menggubris perkataan Mami, langkah semakin kupercepat, ke luar dari rumah. Mobil yang sengaja aku parkir di depan teras masih ada di tempatnya, tak bergeser sedikit pun. Aku segera masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin kendaraan. Mobil sudah ke luar rumah, menuju jalanan ibu kota.
Dua puluh menit berselang, aku tiba di pelataran parkir coffe shop. Ada beberapa karyawan yang kulihat berkerumun sambil mengobrol, sesekali mereka terkekeh kecil. Pelanggan yang tengah duduk pun kulihat anteng-anteng saja, pasti pesanan mereka sudah datang, makanya karyawan-karyawan itu bisa asyik mengobrol.
__ADS_1
"Untung saja keadaan coffe kondusif, tapi, awas saja mereka, aku kerjain." Aku turun dari mobil, pakaianku seperti pria kebanyakan, memakai kaos tipis di dalam, mengenakan hoodie, tutup kepala kukenakan agar mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku masuk dengan santai. Kulirik mereka yang masih asyik mengobrol.
"Gak ada yang nyambut," gumamku seorang diri.
Aku segera pergi ke kasir, berpura-pura memilih menu sekaligus membayar. Aku melirik mereka masih awet mengobrolnya. Lain kali aku harus memisahkan shift mereka agar tidak bergerombol seperti sekarang.
Aku memilih tempat duduk, sengaja aku belum membuka tutup kepala agar mereka tidak menyadari kehadiranku. Setelah beberapa saat, pesananku dihidangkan di atas meja, barulah aku melepaskan tutup kepala hoodie.
"Pppp-Pak, Damar." Raut wajah perempuan ini terkejut melihatku.
"Sejak kapan Bapak datang?" Dia tampak salah tingkah.
"Sejak tadi, memangnya kenapa, Mbak?" tanyaku santai. Aku duduk bersandar dengan kedua tangan melipat di dada.
"Owh, begitu ... saya permisi dulu, Pak. Silakan dinikmati." Dia tergopoh-gopoh menjauh.
Kutelisik ruangan ini, tak ada Riki di sana. Apa mungkin dia sudah pulang karena mendapat jatah shift pagi? Sial, kenapa lagi-lagi aku tidak tahu apa-apa tentang karyawan di sini?
Aku menggaruk kepala dengan frustasi, sepertinya kalau Riki aku tarik dari tempat ini, siapa yang akan menggantikan posisinya selanjutnya? Walau cuma tiga bulan, tapi, untuk waktu selama itu tanpa leader, bisa-bisa banyak karyawan yang seenaknya dan bekerja tak maksimal.
Aku harus memilih keputusan yang tepat. Jangan sampai mengendorkan performa coffe shop ini dengan kemunculan cabang terbaru. Aku menghela napas berkali-kali, berusaha untuk mencari solusi yang tepat.
"Pak buncit, apa aku harus berbincang dengannya untuk masalah ini? Kenapa baru kepikiran," lirihku seorang diri.
"Selamat malam, Pak." Ada dua orang karyawan yang menyapaku.
"Eum, ada apa?" tanyaku datar.
"Begini, Pak. Ada yang mau saya sampaikan."
"Katakan saja!" Mereka menelan ludah dengan berat, terlihat sekali dari tenggorokan yang bergerak.
Aku menatap mereka, menunggu sambil bersedekap.
__ADS_1
"Kok lama?" tanyaku setelah mereka tidak bersuara.