
"Siapa yang kamu maksud, Mar?"
"Tuh, mereka!" Dia menunjuk tiga pria yang berkumpul di trotoar jalan sebelah kiri kendaraan.
"Memangnya mereka siapa?"
"Sahabat gue, kayaknya kita harus turun di depan. Gue mau nyapa mereka dulu, udah lama gak ketemu."
"Yakin? Aku tunggu di sini saja deh."
"Ayolah, nanti gue kenalin ke mereka."
"Kamu mau ngenalin aku sebagai apa?" Aku ingin tahu dia ini menganggap aku sebagai apa.
"Tentu ajah sebagai pekerja gue di coffe shop. Masih nanya." Aku menelan ludah dengan berat.
"Eum, syukurlah," gumamku singkat.
"Memangnya Elu ngarep bakal gue kenalin sebagai calon tunangan gue? Jangan ngarep!" Kasar sekali dia.
"Siapa yang berpikiran begitu? Amit-amit, emangnya Elu siapa? Cowok kasar, belagu lagi. Bukan pria idamanku." Aku membantah cepat.
"Turun atau gue kunci pintu mobilnya!" Terpaksa aku menuruti perintahnya.
Aku turun dengan wajah ditekuk, melengos ketika tatapan kami beradu.
"Dimas!" Dia memanggil salah satu temannya.
"Damar, Elu ada di sini juga? Gue pikir Elu sibuk karena udah wisuda kemarin. Sorry ya, gue gak bisa dateng," sesal pria yang disapa Damar.
"Its okay, toh itu wisuda pasca sarjana," sahut Damar.
"Mar, Elu sama siapa tuh? Tumben jalan bareng cewek." Teman lainnya menimpali.
"Lho, kamu itu bukannya cewek yang pernah papasan di coffe shop Leaves?" Aku mengingat wajahnya. Rasa-rasanya wajah itu familiar.
"Siapa ya?" Aku berusaha mengingat lagi.
"Gue Dimas, yang jagain Elu pas kalian berdua gak sengaja terbentur."
"Oh iya, aku ingat sekarang. Iya, kamu Dimas." Aku berhasil mengingatnya. Dia yang memaksa ingin membantuku mengantar sampai kost-an tapi aku tolak. Aku menjulurkan tangan sambil tersenyum tipis.
"Apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, gue baik-baik ajah. Gue selalu inget nama Elu, Wulan ... nama yang indah seindah wajahnya." Dimas semakin mengeratkan genggamannya.
"Udah, peak! Dia itu karyawan gue, awas ajah Elu kalau berani gangguin dia." Damar menepis tangan Dimas. Jabatan tangan kami terlepas.
"APA?" Ketiga temannya memekik, melongo menatap Damar.
"Jadi, Elu kerja di coffe shop milik Damar? Terus, kenapa kalian bisa jalan bareng? Emangnya gak kerja?" Pertanyaan Dimas beruntun, aku bingung harus menjawab apa.
"Kalian gak usah kaget gitu deh. Kita ini di luar dalam rangka pekerjaan, mau ke cabang yang baru." Pinter juga dia berbohong.
"Kita sering nongkrong di sana, tapi, kenapa jarang banget ketemu Elu, ya? Kenalin, gue Andre." Tanganku terulur hendak bersalaman.
"Udah, gak usah salaman!" Damar meraih tanganku dan menepisnya.
"Sakit," ringisku menahan sakit.
"Mar, kasar banget sih sama cewek." Dimas tak terima.
"Udah deh, kalian ini bikin ribut ajah!" Pria satu lagi yang sejak tadi terdiam, akhirnya buka suara.
"Kenalin nih, Lan. Gue Roni." Ternyata namanya Roni, dia mengangkat tangannya ke udara sebagai tanda perkenalan.
"Oh iya, Roni ya. Aku Wulan." Aku membalas dengan hal yang sama.
"Lah, gue pikir kalian sengaja ngumpul di sini." Damar menimpali.
"Kagak, kita gak sengaja ketemu. Roni gak bakalan ada waktu, dia kan kerja di luar kota. kebetulan ajah lagi ada survei di Jakarta."
"Ya udah, kita pindah ajah kalau gitu. Tapi, gue gak gak bisa lama ngumpul. Kerjaan gue belum kelar." Damar menyela.
"Ya udah, ayo! Di dekat-dekat sini ajah. Kalau kelamaan parkir di pinggir jalan, bisa-bisa mobil kita diderek." Roni segera berlalu pergi.
Kami masuk ke mobil masing-masing, beruntung jalanan tidak seramai biasanya, mungkin karena bukan jam sibuk. Roni memimpin, mobilnya ada di paling depan, dia berhenti tepat di pelataran parkir Starbooks.
Aku belum pernah menyicipi rasa kopi di tempat ini. Kata orang-orang rasanya enak. Kami masuk, duduk mengitari meja. Salah satu dari mereka memesan kopi yang kita inginkan. Seperti biasa, Damar yang memilihnya untukku. Entah berapa lama mereka mengobrol, bahasannya berkutat pada pekerjaan dan perempuan. Ternyata, obrolan laki-laki begini.
Damar akhirnya bangkit, kami pamit pada mereka. Kupikir dia lupa untuk mencari kontrakan. Kami berjalan ke pelataran parkir, masuk ke dalam mobil. Kendaraan ini meluncur memecah belah jalanan yang mulai padat.
Mobil terjebak macet, aku bosan karena harus melihat lautan kendaraan di kanan kiri. Damar menyetel musik untuk menghilangkan kebosanan. Sesekali dia bernyanyi mengikuti alunan musik.
"Astaghfirullah." Aku menepuk lengannya.
"Apaan?" Dia berhenti bernyanyi.
__ADS_1
"Suara kamu tuh, udah kayak apaan. Kuping aku bisa budeg."
"Namanya juga menjiwai musiknya, jadi harus pake nada melengking." Dia kembali bernyanyi. Perlahan tapi pasti, akhirnya kami bisa ke luar dari kemacetan.
Kami mencoba mencari ke tiga tempat berbeda. Tapi, belum berhasil menemukan yang tepat. Tante Iren selalu pemilih, setiap kami masuk ke salah satu rumah kontrakan, Damar melakukan panggilan video dengan Maminya. Tante melihat-lihat sekeliling ruangan dari layar hape. Kami sudah pergi ke lain rumah, berusaha mencari rumah yang cocok sesuai keinginan Tante Iren.
"Perasaan, aku yang nempatin. Tapi, kenapa Tante Iren yang sibuk?" gumamku seorang diri.
"Damar, aku udah capek nih, kamu lanjutin ajah ya. Mau pilih yang ini, Tante gak suka. Aku pasrahkan sama kalian saja." Aku kembali ke mobil, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Tak lama, Damar kembali masuk ke mobil. Dia meraup wajahnya dengan kasar.
"Gimana, Tante gak suka?"
"Iya, gue gak tahu harus bilang apa lagi."
"Ya udah, lanjut nyari." Kendaraan ini kembali melaju dengan kecepatan sedang.
"Gue coba nyari apartemen dulu, kali ajah Mami suka. Sudah enam rumah ditolak semua. Kurang ini, kurang itu." Damar mengeluh.
"Terserah, aku cuma bisa pasrah dan ngikut."
Damar menghubungi Tante Iren, usul Damar diterima dengan senang hati. Jadi, pria itu kini mencari unit apartemen yang dekat dari kompleks perumahannya.
"Kita balik lagi ke sana, ada tiga unit yang kosong." Cepat sekali dia mendapat informasi. Mobil kembali bergerak menjauh.
Kami tiba di sebuah unit apartemen. Ada yang menyambut kami, mengantar kami ke sebuah unit kosong.
"Lantai empat belas," lirihku hampir tidak terdengar. Kami ke luar dari lift setelah lift berhenti tepat di lantai empat belas.
Kami melihat-lihat ruangan apartemen, seperti biasa, Damar menghubungi Mamanya via panggilan video. Akhirnya ada kata setuju dari beliau. Mereka sibuk dengan urusan pembayaran. Aku dan kedua orang tuaku hanya tinggal menempati saja. Yang aku tidak sukai dari apartemen ini, adalah bagaimana caraku untuk membersihkannya. Bagian yang paling aku suka adalah balkonnya yang begitu indah. Pemandangan ibu kota yang dikelilingi gedung pencakar langit membuatku terkagum-kagum.
"Wulan, ayo pulang! Besok sudah boleh pindah." Aku mengiyakan perkataan Damar. Tak terasa hari sudah sore.
Damar sudah masuk ke dalam lift, tapi aku terlupa sesuatu.
"Mar, kamu duluan saja! Gantungan kunciku terjatuh." Damar berdecak, tapi dia menuruti kemauanku. Aku mencari gantungan kunci, aku baru menyadarinya ketika melihat resleting tas selempang.
"Mana sih?" Kepala ini menunduk sambil mencari-cari gantungan kunci.
Penglihatanku fokus pada lantai hingga akhirnya tak sengaja aku menabrak seseorang sampai kami berdua terjerembab di koridor apartemen.
"Maaf, aku gak sengaja. Lagi fokus nyari gantungan kunci, jadi, gak tahu kalau ada orang di depan." Aku mengusap bokong yang nyeri karena terjatuh.
"Wulan." Pandangan kami bertemu.
__ADS_1
"Kamu, kamu tinggal di sini?" Aku ternganga melihat pria di depanku ini.