Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Hukuman Selena


__ADS_3

"Cepat katakan ada apa!" Aku sudah tidak sabar.


"Kamar lain yang Bapak sewa, digedor-gedor pintunya dari dalam. Kamar sebelahnya mengajukan komplain pada kami, Pak." Astaga, aku lupa dengan keberadaan Selena.


"Sebentar lagi saya ke sana." Aku mencari keberadaan anak kunci kamar Selena, menyambarnya di atas sofa tunggal. Kaki ini segera melangkah ke lantai lainnya, setibanya di depan kamar, ada beberapa orang memperhatikan aku.


"Apaan? Gue bukan penculik." Tatapku tajam pada mereka satu persatu. Aku seakan dapat membaca pikiran mereka.


"Selena!" panggilku, sengaja tak kututup pintu kamar agar mereka tahu bahwa yang ada di dalam kamar hotel ini adalah adikku.


"Kak Damar, kenapa ada di sini? Semalam aku pergi bersama Robi, mana dia?" Nih orang mau aku tampar aga gimana ya? Dia malah menanyakan Robi yang kelakuannya vajingan.


"Hei, Elu tuh ya. Kalau mau pacaran, pilih pacar yang bener. Jangan kayak Robi, dia kek sampah busuk yang dikerumuni lalat." Sengaja aku menghina pacar Selena.


"Kakak, jahat banget sih omongannya. Pantesan ajah Kak Wulan malas berhubungan dengan Kakak." Tiba-tiba dia menutup mulutnya dengan dua telapak tangannya.


"Kak Wulan, di mana Kak Wulan? Duh, gawat ... dia gak ada di sini." Selena ternyata mengingat Wulan.


"Dia baru ajah pulang setelah banyak drama tadi pagi."


"Syukurlah, Selen takut banget kalau terjadi sesuatu pada Kak Wulan."


"Gue kasih tahu ya, Sel. Semalam, kalian itu mau di bawa ke tempat yang entah gue gak tahu di mana. Robi itu bukan orang baik-baik, kalian tidak usah bertemu lagi! Awas saja kalau kalian ketemuan lagi!" Aku berkacak pinggang di depannya.


"Apaan sih, dia baik banget kok, Kak." Dia membantah perkataanku.


"Pokoknya, Elu gue hukum gak boleh ke mana-mana selama sebulan. Hape Elu juga gue sita, gue belikan hape biasa yang cuma bisa untuk nelpon dan SMS." Aku harus bersikap tegas padanya.


"Dih, ogah banget ... memangnya Kak Damar itu siapa? Kayak Papi ajah pake menghukum segala." Ucapannya bernada tinggi.


"Elu gak mau? Oke, fine ... gue akan bilang tentang kejadian semalam pada Papi, gue akan bongkar semuanya di depan Papi kalau Elu ke pub malam bareng pacar Elu dan ngajakin Wulan juga. Silakan tinggal pilih mau yang mana." Aku tak kalah sengit. Dia harus diberikan pelajaran agar tidak seenak jidat pergi ke tempat begitu.


"Kak Damar buntutin Kak Wulan ya? Kenapa bisa tahu gue ada di mana?" Dia masih tidak terima.

__ADS_1


"Gue buntutin Robi, bukan Wulan atau pun Elu. Seharusnya, Elu tuh berterima kasih karena gue udah nolongin kalian dari pria-pria hidung belang dan br3ngsek seperti Robi dan temannya."


"Gak mungkin, Kak." Selena menggeleng beberapa kali.


"Kalau gak percaya, kita bisa lihat cctv di pub itu. Ayo ke sana!" ajakku sambil menarik lengannya dengan kuat.


"Lepasin, Kak!"


"Gak bakalan gue lepasin."


"Iya, iya, gue ngaku salah. Gue terima hukuman dari Kakak." Kepalanya menunduk dalam.


"Udah pergi ke pub, minum alkohol, ngajak Wulan juga lagi. Mau jadi apa Elu, Sel! Sini hape Elu!" Segera aku meminta hape itu, tangannku menengadah.


"Nih!" Dia menyodorkannya seperti tidak ikhlas.


"Awas ajah Elu berani ke mana-mana, setelah pulang dari kuliah, Elu langsung pulang ke rumah! Gue akan memantau dari dekat, jangan harap Elu bisa bertemu lagi dengan Robi, ingat itu!" Selena membisu, semangatnya tadi yang membara untuk melawanku, kini melempem seperti kerupuk. Aku harus tegas padanya agar dia tidak berulah lagi. Masih untung aku tidak melaporkan kejadian ini pada Mami dan Papi. Kalau mereka tahu, bisa-bisa dia dimasukkan ke pondok pesantren.


"Tapi, Kak ... gue belum mandi, gak ada baju ganti. Gimana mau pulang?"


"Alah, bacot ... buruan turun dan masuk ke mobil! Ambil tuh tas Elu!" Aku kembali berkata kasar. Entah kenapa mulut ini tidak bisa mengontrolnya.


Selena berjalan di belakang punggung, kami turun ke lobi menggunakan lift. Setelah pintu terbuka, kami melangkah ke arah pelataran parkir. Mobilku yang sengaja aku parkir di sana karena semalam harus bergantian menggendong Selena dan Wulan.


"Kita pergi berenang dulu agar Mami dan Papi tidak curiga. Sebelum itu gue beli baju ganti untuk kita." Aku segera menyetir ke arah toko pakaian yang berjajar rapi.


Setelah memilih pakaian yang cocok, aku segera menyetir mobil kembali. Tak berapa lama, ada dering hape yang membuat perhatian kami teralihkan.


"Sejak kapan hape Elu aktif? Bukannya tadi udah gue matiin?" Mata ini menyipit menatap Selena.


"Sorry, Kak. Gue matiin deh kali ini." Aku tidak sempat melihat siapa yang menelponnya. Selena menonaktifkan hape itu dan meletakkannya di dalam dasbor. Tak lama, ada dering telpon lagi. Kali ini punyaku yang berdering.


"Jawab gih, Sel! Ada di tas pinggang tuh!" tunjukku menggunakan dagu.

__ADS_1


Adikku itu meraih tas dan mengambil benda pipihku.


"Kak, Mami nih." Dia cemas.


"Udah, jawab ajah! Gue gak bakalan ngomong ke mereka. Jawab ajah nginep ke hotel sama Wulan!"


Dia menekan tanda hijau.


"Damar!! Kemana ajah kamu? Kapan kamu menjemput adikmu? Udah sore ini." Suara itu memekakkan telinga.


"Elu pake speaker ya, Sel?" Spontan aku menepikan kendaraan ini.


"Tuh, ngomong sendiri deh sama anak gadis kesayangan Mami!" Selena masih takut-takut, suaranya sedikit bergetar.


Aku memberikan kode-kode padanya agar berucap seperti apa yang kuajarkan tadi. Dia tidak lihai berbohong, rupanya.


Selena, Selena ... padahal gak izin mau ke pub semalam. Bilangnya cuma mau ke kost-an Wulan, ini ditanyai Mami malah kaku gitu. Dasar, bocah!


Setelah Mami sudah lega karena mengobrol dengan anaknya, kendaraan ini kulajukan kembali. Kami sudah tiba di depan gedung kolam renang privat. Hanya yang punya kartu member yang bisa berenang di tempat ini. Kami ke luar dari kendaraan, masuk ke dalam gedung. Tak lupa membawa baju ganti yang sudah dibeli tadi.


"Ingat sel, satu jam ajah ya! Biar kulit Elu belang-belang dikit. Biar Mami percaya kalau Elu habis berenang bareng Wulan." Ya, alasan itulah yang akan kugunakan untuk menjawab pertanyaan Mami nantinya.


Setelah satu jam, adikku itu pergi ke kamar mandi. Selesai membersihkan badan, dia menemuiku sambil memegang perutnya. Wajahnya begitu pucat seperti orang kekurangan banyak darah.


"Sel, Elu kenapa?" Aku membimbing tubuhnya yang lemas agar duduk di kursi panjang.


"Kak Damar!" panggilnya lemas.


"Iya, ada apa? Elu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya!" Tanganku hendak membopongnya.


"Kak ... gue, gue--," Selena tak meneruskan ucapannya. Dia menelan ludahnya dengan begitu berat.


Nih anak kenapa sih?

__ADS_1


__ADS_2