Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pindah Ke Apartemen


__ADS_3

Bibi yang pertama kali melihat kami juga terkejut karena ada Mami di belakangnya.


"Katakan Damar! Selena! Apa yang kalian bicarakan tadi? Jangan-jangan Selena-," Mami tak meneruskan ucapannya. Mendadak wajah beliau pucat, tubuh beliau limbung sampai Bibi menahannya agar tak terjatuh.


"Mami mikirin apaan sih? Selena gak hamil, Mam." Adikku itu pergi menghampiri Mami. Dia bisa menebak apa yang ada di dalam benak Mami.


"Tadi, kenapa kalian membahas hamil di luar nikah? Apa jangan-jangan Wulan yang-,"


"Mami, gak usah negatif thinking begitu! Wulan gak hamil, begitu pun Selena. Damar cuma mau mengingatkan anak bungsu Mami ini agar tidak berpacaran sampai di luar batas." Aku menyela ucapan Mami.


"Alhamdulillah," ucap beliau lega. Badannya sudah kembali tegap, berangsur membaik tidak pucat seperti tadi.


"Awas saja kalau kalian sampai macam-macam sebelum pernikahan berlangsung, Mami akan coret kalian dari KK, mengerti!" Aku melengos, berbalik arah, ke luar dari kamar Selena.


"Damar, bukannya jawab malah maen nyelonong pergi gitu ajah."


"Damar capek, Mam. Mau istirahat di kamar, kasih tahu anak bungsu Mami tuh biar dia gak pacaran terus!" Aku tidak mengindahkan panggilan Selena yang berteriak kencang karena mendengar ucapanku. Aku membuka daun pintu kamar, masuk kemudian menguncinya dari dalam. Malas rasanya mendengar perkataan mereka yang masih membicarakan hal tadi.


"Arrgh, empat hari lagi acara itu." Aku merebahkan diri di atas ranjang. Stres berkepanjangan karena perjodohan si4lan yang harus aku terima walau dengan terpaksa.


"Lihat saja, Mam! Damar dan Wulan akan bekerja sama membatalkan pernikahan nanti." Senyumku sumringah, lebih tepatnya menyeringai lebar.


Aku melihat layar hape, mencari video video trending dan menontonnya. Lumayan untuk menghilangkan rasa jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Entah berapa lama, hape kuletakkan di atas nakas, aku pun tertidur pulas.


***


POV Wulan


Hari kepindahan kami di tempat ini membuat orang tuaku bersemangat. Mereka begitu bahagia begitu tahu unit apartemen yang menampilkan deretan gedung-gedung pencakar langit di balkon.


"Sayang sekali kita cuma bertiga di sini. Seandainya Damar dan Iren mengantar kita, pasti lebih seru." Ibu menghela napas panjang.


"Bu, mereka berdua sibuk. Toh Ibu dan Bapak hanya sementara tinggal di sini."


"Satu bulan itu lumayan lama, Lan. Kita bawa banyak baju nih." Bapak menunjukkan dua tas yang dibawa.


"Sayang sekali Iren sibuk menyiapkan makanan untuk teman-teman arisannya." Ibu menghela napas panjang.


"Bisa saja Tante Iren malu punya calon besan seperti kalian, bisa jadi begitu, kan?" Aku menebak.

__ADS_1


"Hush, gak boleh suudzon! Kamu tuh ya, sama mertua sendiri berburuk sangka. Dia itu baik banget sama kita, syukur-syukur kita dicari walaupun sudah belasan tahun tidak pernah bertemu lagi semenjak dia pindah ke Jakarta." Ibu berceloteh panjang kali lebar, sampai kuping ini rasanya panas seperti oven.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian kami bertiga.


"Biar Wulan yang buka. Ibu dan Bapak bawa tasnya ke kamar." Aku melenggang pergi.


Kubuka pintu sedikit, mengintip dari dalam siapa di luar sana. Keningku mengernyit heran melihatnya di sini.


"Pak Dadang? Ada apa nyusul kami ke sini, Pak? Barang kami gak ada yang ketinggalan di mobil." Kubuka daun pintu lebih lebar.


"Bapak kelupaan mau ngasih ini, Non. Ada di bagasi mobil, gak terlihat oleh bapak, eh kelupaan deh." Sopir pribadi keluarga Damar menyerahkan dua kantong plastik belanjaan berwarna hitam.


"Apa ini, Pak?" Aku meraihnya, ternyata lumayan berat juga. Aku mendengar dentingan kaca beradu.


"Ini bahan-bahan untuk memasak, Non. Ada sayur, buah, bumbu instan, mi instan, dan daging-dagingan. Ibu yang nyuruh Bapak belanja ini, cepat masukkan ke dalam kulkas biar ayamnya gak busuk, Non."


"Oh iya, Pak. Makasih banyak ya, nanti Wulan telpon Tante Iren juga."


"Siap, Non. Bapak permisi dulu."


Aku mendorong daun pintu menggunakan kaki sampai akhirnya tertutup. Kedua tanganku susah payah untuk membawa plastik ini. Segera aku ke dapur, meletakkannya di atas meja.


"Hosh, hosh," napasku tersengal.


"Wulan, siapa tadi? Ibu dengar ada suara lelaki."


"Tadi Pak Dadang, Bu. Ngasih ini nih." Aku melirik ke arah bahan makanan.


"Gilak, banyak sekali, Lan. Siapa yang ngasih ini? Damar?"


"Diiih, ngarep kalau dia yang ngasih. Dari Tante Iren ini, Bu."


"Alhamdulillah, sebulan di sini kalau bahan makanannya segini lebih dari cukup." Ibu bersemangat.


"Ibu bisa memasak, Lan." Ibu berbinar-binar cerah.


Suara ketukan pintu terdengar lagi.


"Biar Wulan saja yang buka pintunya, Bu. Ibu boleh tolong masukkan ke kulkas? Sayuran, buah dan dagingnya?"

__ADS_1


"Tenang saja, kalau ini jadi urusan Ibu. Sana lihat siapa yang datang!" Aku pergi meninggalkan dapur.


Kubuka pintu, melihat pria itu lagi di depan sana.


"Pak Dadang, ada apa?" Aku melirik pada barang bawaannya.


"Ini, masih ada lagi, Non." Beliau menurunkan beras satu karung goni seberat dua puluh lima kilogram, ada juga tabung gas elpiji warna merah muda. Ada keringat yang bercucuran membasahi kening dan pelipisnya.


"Ya Allah, Pak. Kenapa gak manggil Wulan ajah biar Wulan turun bantuin."


"Ah, enggak usah Non. Bapak masih kuat ini."


"Bapak tunggu di sini ya!" Kubiarkan pintu terbuka. Mencari keberadaan Bapak untuk mengangkat beras dan tabung gas elpiji. Aku tidak mau merepotkan Pak Dadang lagi.


"Pak, tolongin Wulan angkat beras dan elpiji di depan pintu ya! Wulan mau ke kamar bentar. Suruh tunggu Pak Dadangnya." Bapak mengangguk singkat.


Aku masuk ke kamar, meraih tas selempang dan merogoh dompet di sana. Kuambil uang pecahan lima puluh ribu. Aku bergegas kembali ke luar, syukurlah Pak Dadang masih ada di sana.


"Ini, Pak! Silakan ambil, makasih banyak karena sudah bantuin Wulan dan keluarga." Kusodorkan satu lembar uang tak seberapa nilainya itu.


"Jangan, Non! Ini sudah perintah dari atasan, bapak hanya manud atasan saja." Beliau menolak tapi aku langsung memberikannya pada telapak tangan beliau.


"Ambil saja, Pak. Tak apa."


"Makasih ya, Non." Akhirnya beliau mau menerima, berlalu meninggalkan pintu apartemen.


Aku kembali masuk ke dalam, pergi ke dapur untuk membantu Ibu.


"Makan siangnya kita kan belum masak. Boleh tuh Bu, masak yang enak." Bapak tersenyum lebar.


"Boleh ajah. Bahannya lengkap gini kok." Bapak mengganti tabung gas yang kosong dengan yang baru.


Kami bertiga sibuk melakukan tugas masing-masing.


Tak berapa lama, ada ketukan pintu terdengar.


"Siapa itu, Lan? Jangan-jangan Pak Dadang lagi." Ibu dan aku saling berpandangan. Aku hanya mengendikkan bahu, menghentikan aktivitas dan berlari kecil menuju pintu utama.


"Iya, Pak Dadang ... masih ada yang ketinggalan lagi ya?" Kubuka pintu lebar-lebar.

__ADS_1


Ada dia yang mengernyit heran, menatapku seolah meminta penjelasan.


"Kamu, ngapain di sini?"


__ADS_2