
Dua orang mahasiswi di kampusnya tengah duduk kemudian berdiri ketika melihat Damar yang mendekat.
"Ngapain kalian ke rumah? Siapa yang memberi alamat rumah ini pada kalian?" Dia bertanya ketus. Wajahnya terlihat menahan emosi. Berani sekali dua mahasiswi ini datang bertamu di rumahnya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
"Memangnya kenapa, Mas? Kami kemari hanya ingin bertanya tentang materi kuliah tadi pagi." Salah satu dari mereka tersenyum kecil.
"Besok saja lanjut di kelas! Saya tidak akan pernah memberikan materi lagi di luar kampus. Kalian harus mengerti itu. Sekarang, silakan pulang! Maaf, kita bicarakan ini besok ketika ada kelas dari saya." Damar begitu tegas dengan apa yang dia ucapkan. Dia tidak mau ada mahasiswi lainnya yang tahu tentang ini. Bisa-bisa, mereka bergantian datang ke rumah ini dengan tak tahu malu. Dan itu pasti akan membuatnya kerepotan.
Asisten dosen itu menatap lekat keduanya yang tengah kikuk. Kedua mahasiswi itu saling berpandangan.
"Silakan pergi! Di sini, bukan kampus, jadi, saya tidak akan pernah membiarkan privasi saya terganggu dengan ulah kalian yang disengaja." Lagi-lagi Damar berkata ketus.
"Kkk-kalau be-begitu ... kami pergi dulu, Mas. Maaf mengganggu." Salah satu dari mereka menyahut sekaligus berpamitan.
Mereka berjalan gontai menuju pintu utama. Ke luar dari rumah menuju gerbang utama.
"Rencana kita gagal nih, susah banget ya mau ngobrol sama mas Damar."
"Banget, udah sampe di sini pun, kita juga diusir tuh." Mereka mengeluh tentang kejadian ini.
"Lho ... udah ketemu Mas Damar, Neng?" Pak securiti yang berjaga di pos jaga menyapa mereka.
"Sudah Pak, urusan kami sudah selesai. Kami bisa pulang sekarang." Salah satu dari mereka menyahut. Keduanya mencoba untuk tersenyum walaupun dipaksa. Mereka berdua akhirnya pergi dari rumah Damar.
"Malem-malem, ganggu orang ajah tuh dua manusia." Damar melangkah pergi dari ruang tamu. Pemuda itu melangkah menyusul anggota keluarga yang lain di ruang makan.
"Lho, kok cepet banget, Nak?" Ibunya mengernyit.
"Udah beres urusannya, Mam. Yuk ah, makan! Damar udah lapar nih." Mereka sekeluarga berkumpul untuk makan malam bersama.
***
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, Wulan yang mengambil jatah libur di hari Rabu terkejut dengan kedatangan dua orang yang ada di depannya. Begitu membuka pintu, mulutnya menganga lebar, dia terpaku di tempatnya berdiri. Siang ini dia begitu terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya yang memang sudah dirindukan sejak lama.
"Ayah, Ibu ... kalian ke sini, kenapa gak ngabarin Wulan?" Rasa haru bercampur bahagia karena sudah hampir setahun tidak bertemu, membuat bola mata gadis itu berkaca-kaca.
"Ibu sama Bapak diundang untuk hadir dalam acara pernikahan anak sahabat kami dulu." Sang Ibu memeluk anaknya dengan erat. Sementara ayah Wulan meletakkan dua tas jinjing yang lumayan besar di dekat ranjang.
Wulan menguraikan pelukan, meraih punggung tangan ibunya dan menciumnya dengan hormat.
"Kalian ngagetin Wulan ajah. Tumben malem-malem begini ada tamu." Wulan bergantian mencium punggung tangan ayahnya.
"Ibu mau ngasih kejutan buat kamu, Nak. Alhamdulillah ternyata kamu terkejut beneran." Ayah Wulan yang menyahut.
"Masuk dulu, Bu, Yah! Tapi, ya beginilah kamar kosan Wulan, sempit." Wulan menghampar sebuah tikar lipat. Mereka bertiga duduk di lantai kamar beralaskan tikar tersebut.
"Kasihan sekali kamu, Nak. Hidup di kamar kosan sendirian, bekerja setiap hari demi membantu kami. Sebaiknya kamu menikah saja, umurmu juga sudah cukup untuk menikah." Wulan terperangah mendengar perkataan sang Ibu.
Dateng dari kampung malah ngomongin nikah segala. Duh, Ibu nih ... malesin deh bahas tentang pernikahan.
"Ibu ... sebaiknya jangan ngomongin itu dulu! Ayah capek, mau istirahat. Tapi, mau mandi dulu nih. Lengket karena keringat." Pria berusia sekitar lima puluhan itu menyela. Wulan bernapas lega karena perbincangan ibunya sudah tidak dibahas lagi.
"Handuknya digantung di pintu kamar mandi, Yah." Pria itu bergegas menuju pintu kamar mandi.
Wulan dan Ibunya kini beralih duduk di pinggiran ranjang berukuran kecil.
"Bu, dapat darimana ongkos ke sini? Bukannya ini akhir bulan? Wulan, kan belum ngirim uang." Sebuah pertanyaan berhasil dia ucapkan.
Ibunya bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau anaknya tahu tentang kedatangannya ke ibu kota. Ningsih ingin sekali mengutarakan maksud kedatangannya ke kota ini. Selain menghadiri undangan pernikahan anak dari sahabatnya, beliau juga ingin memberikan penjelasan pada Wulan tentang apa yang akan dia ucapkan nantinya.
"Bu, kenapa melamun? Ibu banyak pikiran, ya?" Gadis itu menepuk udara tepat di depan wajah ibunya.
"Hus ... enggak sopan sama orang tua. Malah nepuk begitu." Ibundanya tentu saja terkejut dengan gerakan anaknya yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Ibu bengong lama banget. Bukannya jawab pertanyaan Wulan, malah melamun."
"Sahabat Ibu yang mengirimkan ongkos transportasi ke kota ini. Tuh, udah Ibu jawab." Ningsih mencubit gemas pipi anaknya.
"Kalian masih saja ngobrol, mbok Yo belikan Ayah makan siang, Lan! Ayah laper sekali." Ramli—Ayah Wulan sudah ke luar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar walaupun perutnya minta diisi.
"Ngobrol cuma sebentar, Yah. Oh iya, Ayah sama Ibu mau makan apa? Biar Wulan pesenin via online ajah."
"Memangnya uang kamu cukup, Nak?" Ningsih menoleh pada anak satu-satunya.
"Cukup, Bu. Tenang saja ... toh tidak setiap hari pesan makanan online. Biar Ibu dan Ayah bisa beristirahat, gak usah ke luar dari kamar ini."
Wulan mengulurkan hapenya pada sang Ibu. Ayahnya mendekat, melihat menu-menu yang ada di tampilan layar aplikasi. Mereka bingung harus memilih yang mana karena sajiannya begitu menggugah selera.
"Kalau begitu, biar Wulan aja yang milih. Udah sepuluh menit lebih gak beres juga milihnya."
Wulan memilih makanan yang cocok untuk selera kedua orang tuanya. Setelah memesan makanan, Ibunya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Tinggallah sang Ayah dan Wulan yang kini duduk di ranjang.
"Nak, kami berdua minta maaf ya." Bola Mata Ramli begitu sayu.
Wulan tidak mengerti kenapa tiba-tiba Ayahnya meminta maaf. Gadis itu menatap ayahnya lekat.
"Kenapa Ayah ngomong gitu? Kalian berdua tidak salah, ini semua takdir ... jadi, kita harus menjalaninya dengan ikhlas." Mungkin Ayahnya tidak enak hati karena merepotkan Wulan, begitulah pemikiran gadis itu.
"Bukan itu maksud Ayah, Nak. Kami berdua ternyata dicari sahabat ibumu yang sudah berpisah selama dua puluh tahun, sekarang ini ... sahabat Ibumu menagih janji yang mereka buat dulu." Pria berumur lima puluhan tersebut menghela napas panjang.
"Janji? Janji apa, Yah? Apa kalian berdua punya utang pada sahabat Ibu dan belum melunasinya?" Wulan berusaha mencari tahu.
"Tidak, bukan seperti itu. Janji kami harus terikat seumur hidup."
Janji apa yang harus terikat sampai seumur hidup? Wulan masih bertanya-tanya, dia tidak bisa menebak apa janji yang sudah orang tuanya dan sahabatnya sepakati.
__ADS_1