
Wulan berusaha mencerna perkataan Ayahnya. Tapi, sampai detik ini pun, dia masih belum bisa menemukan arti perjanjian yang terikat seumur hidup.
"Ayah, katanya biar besok saja pas ketemu mereka. Malah mau bilang sekarang." Tiba-tiba saja Ibunya yang ke luar dari kamar mandi menanggapi.
"Sebenarnya ada apa ini? Kalian menyembunyikan sesuatu yang penting. Coba katakan saja sekarang, Yah, Bu!" Wulan tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Hari Jumat saja kalau kita ketemu di acara akad nikah anak sahabat Ibu. Sekarang biarkan kami menikmati waktu dengan beristirahat setelah perjalanan jauh."
Ada suara pintu diketuk, Wulan yakin kalau itu adalah pengantar makanan yang dia pesan. Bergegas dia ke luar dari kost-an. Tapi, yang mengetuk pintu bukannya sang kurir melainkan teman sebelah.
"Lan, gue kebelet pipis nih. Numpang kamar mandi ya, air di kamar mandi gue mampet tuh, gue nyalain kerannya gak ada airnya." Alis Wulan bertaut.
"Kok bisa sih? Bukannya aliran airnya satu arah ya?"
"Keran air punya gue yang bermasalah. Boleh ya?" tetangga kost-an Wulan membujuk.
"Masuk saja! Tapi, ada orang tua aku di dalam."
"Sebentar doang kok." Gadis yang seumuran dengan Wulan akhirnya masuk dan menyapa kedua orang tua Wulan.
"Maaf mengganggu. Ada yang namanya Mbak Wulan tidak?" Wulan yang hendak menutup pintu, urung menutup pintu kamarnya.
"Ada apa Mas?" ternyata penjaga kost-an yang mencari.
"Mbak pesen makanan ya? Kurirnya ada di depan tuh! Dia bilang gak mau masuk karena ini kost-an khusus cewek."
"Oh begitu, biar Wulan saja yang ke depan sana. Makasih ya Mas karena sudah diberitahu." Gadis itu menutup pintu kamar kemudian melangkah ke arah gerbang kost-an. Dia melihat ada seorang pria yang menenteng kresek menggunakan jaket berwarna oranye.
__ADS_1
"Mas, saya yang namanya Wulan." Pria itu menoleh. Dia menggunakan masker wajah, jadi, wajahnya tidak terlihat jelas.
"Ini pesanannya, Mbak." Pria tersebut menyodorkan kantong kresek pada Wulan.
"Makasih banyak ya, Mas." Wulan meraih kresek itu dan berlalu pergi.
Dia kembali ke kamar kost-an, penghuni kamar sebelah ternyata sudah selesai dengan hajatnya di kamar mandi. Gadis itu meletakkan kantong kresek di atas lantai yang beralaskan tikar.
"Makan dulu nih. Setelah itu istirahat sebentar. Nanti malam Wulan ajak keliling ke tempat dekat sini. Tapi, cuma bisa lihat gedung tinggi saja." Dia menyengir lebar.
"Kami ke sini hanya mau melihat wajahmu secara langsung, Nak. Apalagi sudah enam bulan kamu tidak pulang kampung." Sang Ibu yang tengah sibuk membuka bungkusan makanan berusaha menanggapi perkataan anaknya.
"Sudah, makan saja dulu, Bu! Ngobrolnya nanti saja." Ayahnya menengahi obrolan.
Mereka bertiga akhirnya menikmati makanan tersebut. Tak butuh waktu lama, isi kotak makanan sudah ludes tak bersisa. Hanya tinggal tulang belulangnya saja.
Karena rencana sang orang tua yang menginap sekitar empat harian. Wulan khawatir tidak bisa menjamu mereka dengan baik. Apalagi dia harus bekerja karena jatah libur dalam seminggu hanya satu hari saja. Gadis itu dilema, haruskah dia meminta cuti selama dua hari untuk menemani orang tuanya menghadiri acara sahabat sang Ibu.
"Wulan bingung, Bu. Besok tuh Wulan harus kembali bekerja. Bagaimana nantinya kalau hadir di acara akad maupun resepsi temannya Ibu." Gadis itu menghela napasnya berulang kali.
"Kamu bisa cuti dulu. Hari Jumat dan Sabtu, jadi, besok kamu ajukan saja cutinya. Bisa kan, Nak? Acara lusa itu penting juga untuk keluarga kita." Sepertinya hanya itulah jalan satu-satunya agar Wulan bisa menghadiri acara sahabat Ibunya.
"Wulan usahakan deh, Bu." Sang Ayah hanya terdiam sambil menikmati rokok yang dihisap. Beberapa kali asap rokok mengepul dan terbang di udara.
***
Di kampus tempat Damar menjadi asisten dosen.
__ADS_1
Damar di jemput salah satu teman tongkrongan. Pemuda itu akhirnya berhasil menepati janjinya untuk bertahan hidup dengan uang seratus ribu sehari selama seminggu. Dengan penuh perjuangan, dia akhirnya tahu bahwa bagi beberapa orang, uang seratus ribu sehari itu begitu besar. Dia saja di awal tantangan merasa kesulitan karena selama ini dia selalu berfoya-foya menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang dia sukai.
Damar yang sengaja naik bus dari rumahnya ketika berangkat pagi tadi, kini sudah berada di dalam mobil sahabatnya.
"Keren juga Elu, Mar. Akhirnya bisa jadi cowok hemat." Sahabatnya yang menyetir kendaraan, terkekeh geli tak menyangka tentang usaha Damar untuk bertahan.
"Ini mau Elu bawa ke mana? Gua harus pulang, bokap nyokap mau ngajak ke butik untuk ambil seragam keluarga." Damar tidak merespon ucapan sahabatnya.
"Astaga, gue kok bisa lupa ya. Tapi, bentar doang gak apa-apa, kan? Bokap nyokap Elu kan, punya sopir pribadi. Kenapa Elu harus ikut?" Pria itu masih fokus menatap jalanan.
"Katanya sih biar kita bisa nyobain hasil akhir dari seragam yang sudah dibuat. Aneh-aneh ajah keluarga gue tuh."
"Wajar ya menurutku, ini kan menyangkut acara kak Muti. Santai ajah dulu, nanti setelah dari cafe, gue anterin pulang sebelum sore. Masih jam satu kurang ini."
Akhirnya Damar tidak membantah lagi. Dia duduk bersandar dan mencoba untuk memejamkan mata sejenak. Hari ini lumayan menguras tenaga.
Mereka turun di sebuah Cafetaria dekat dari perusahaan Jazz Holding, di mana salah satu teman mereka, menjadi karyawan di perusahaan tersebut.
Mereka berkumpul untuk makan siang sambil bercengkrama khas pemuda yang obrolannya selalu saja masalah pacar ataupun gebetan. Sementara Damar malas menanggapi karena dia sendiri tidak dekat dengan wanita manapun.
Di tempat kerja Wulan.
Susah payah Wulan meminta cuti dua hari pada kepala outlet. Beruntung dia diizinkan walaupun di awali dengan perdebatan sengit antara manager dan kepala outlet. Karena ini menyangkut kepentingan orang tua, jadi, mau tak mau, sang manager pun memberikan izin pada Wulan untuk mengambil cuti.
Hari Jum'at sore tiba, Wulan dan keluarganya memakai pakaian terbaik mereka untuk pergi ke acara akad nikah anak dari sahabat sang Ibu. Wulan begitu penasaran siapakah sahabat Ibunya sampai-sampai mereka memberikan uang transportasi pada orang tuanya. Sekaya apa mereka, sampai-sampai berani mengundang orang dari kampung.
Sang Ibu memakai tas yang Wulan berikan sebagai hadiah ulang tahun. Ketiganya berjalan dengan santai ke arah pintu gerbang. Ada pesan masuk yang terdengar. Sang Ibu merogoh hape dalam tasnya. Membaca pesan masuk barusan.
__ADS_1
"Astaga." Bola mata Ibu Ningsih melebar sempurna membaca pesan tersebut.
"Ada apa, Bu?" Ayahnya Wulan berhenti berjalan. Wulan dan Ayahnya berpandangan kemudian menatap Ningsih lekat-lekat.