Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Nasib Baik atau Buruk?


__ADS_3

Aku berusaha untuk menormalkan detak jantung. Tenggorokan ini begitu susah menelan ludah.


"Pergi! Ngapain kamu di sini? Pergi sana!" Suara perempuan itu segera menutupi tubuhnya yang terlilit handuk dengan selimut yang ada di ranjang. Aku sempat melihat tubuh mulusnya yang terbalut handuk tadi.


"Ada apa ini?" Selena ke luar dari kamar mandi dengan pakaian utuh. Dia melihatku dan Wulan bergantian.


"Ini semua gara-gara Elu, Sel. Elu suruh gue ke sini, eh tahunya diusir sama nih perempuan." Aku berusaha untuk menormalkan kembali detak jantung.


"Maaf ya Kak Wulan. Selena lupa kalau Mas Damar akan kemari untuk mengambil akses kartu kamarnya."


Wulan sama sekali tidak menyahut, perempuan itu masih duduk terpekur di sisi ranjang. Hanya kepalanya saja yang terlihat, badannya tertutupi selimut.


"Mana kartu gue? Buruan!" Aku masih menunggu.


"Sabar ngapa! Gue cari dulu nih." Selena sibuk mengeluarkan isi tasnya.


Pandanganku sekilas menatap Wulan. Tapi, dia sepertinya shock berat. Apa mungkin dia belum pernah berada di posisi seperti ini? Seandainya mahasiswi yang ada di kampus, pasti mereka malah semakin menggodaku.


"Dia berbeda dengan gadis kebanyakan."


"Ngomong apa barusan, Mas? Mas Damar!" Ternyata Selena sudah menyodorkan kartu itu. Aku baru tersadar dari lamunan.


"Eh, enggak apa-apa kok. Gue cabut dulu, mau tidur." Tanpa basa-basi lagi, aku ke kamar sebelah kanan. Membuka pintu itu dan bergegas masuk. Baju ini aku lepas, hanya tersisa kaos singlet dan celana pendek. Tanpa mencuci wajah, aku segera melompat ke atas ranjang.


"Aahhh, akhirnya. Dari pagi sampe sekarang lumayan menguras tenaga." Mata ini terpejam, berusaha tidur untuk mengembalikan kebugaran tubuh.


***


POV Wulan


Anggota tubuhku seperti tak bertulang. Baru kali ini ada seorang pria yang menatapku seperti itu. Matanya terbelalak melihat tubuhku yang dibalut handuk. Beruntung tadi otakku cepat dalam berpikir. Selimut hotel langsung aku raih untuk menutupi tubuhku. Aku bingung harus menyalahkan siapa. Kejadian ini membuatku malu dan trauma.

__ADS_1


Selepas kepergian Damar, Selena menghampiriku. Dia berjongkok di hadapanku.


"Kak Wulan, maafin Selena ya! Mas Damar gak akan kurang ajar masuk sembarangan ke kamar orang lain. Sumpah Selena lupa memberitahu tentang itu pada Kakak. Soalnya tadi sudah gak tahan kebelet pipis." Dia merasa bersalah, raut wajahnya terlihat sendu dan tak enak hati.


"Lain kali jangan begini lagi, Sel. Kakak malu banget, harga diri Kakak seperti dipertaruhkan." Dengan ekspresi datar, aku menyahut perkataannya.


"Iya, Kak. Selena gak sengaja kok. Tapi, Mas Damar tadi gak ngapa-ngapain Kak Wulan, kan?" Aku menggeleng.


"Fuihhh, syukurlah." Dia bernapas lega.


"Sekarang Kakak ganti baju dulu nih! Tapi, ukuran badan Kak Wulan tuh apa ya? Badan Kakak lebih berisi dari aku." Selena tampak ragu untuk menyodorkan pakaiannya.


"Ukuran bajuku bisa M dan bisa L. Aku gak mau make baju ketat. Lebih nyaman pake baju longgar."


"Oh, kalau begitu pake piyama ini ajah, Kak!" Dia membongkar koper bawaan.


Orang kaya, lengkap sekali bawaannya. Belum lagi bawa produk perawatan wajah yang satu tas.


Aku hanya bisa berkata dalam hati. Aku segera memakai piyama yang dia sodorkan. Ingin rasanya pulang, tapi, mau bagaimana lagi. Aku harus tetap di sini sampai acara makan malam bersama dua keluarga besar. Keluarga Tante Iren, suaminya, dan kedua keluarga dari Mas Kelvin. Sekarang saja sudah lelahnya luar biasa. Bukan lelah tenaga, tapi, lelah pikiran.


Keesokan hari, orang tuaku kembali ke kampung halaman. Aku pun sudah bekerja seperti biasanya. Pikiran ini berkecamuk karena sebentar lagi harus bertunangan dengan seorang pria yang tidak aku sukai. Jangankan suka, melihat orangnya saja, rasanya tuh mules bawaannya.


Plakkk


Tepukan di pundak membuatku tersadar dari lamunan. Aku terperanjat, melihat siapa dia. Seketika raut wajah ini berubah. Ingin sekali rasanya membentak dia, tapi, ternyata yang ada di belakang punggung adalah Bapak manager.


"Kamu masih mau cuti? Cuti saja selamanya dari sini!" Ekspresi beliau tampak garang.


"Maaf, Pak. Saya hanya memikirkan orang tua yang belum sampai juga. Mereka belum menghubungi saya." Duh, maaf Bu, Pak, aku beralasan atas nama kalian, berbohong agar tidak kena marah.


"Cuci muka sana! Wajahmu itu sudah seperti orang baru bangun tidur, touch up lagi tuh lipstiknya!" Sebaiknya aku mengiyakan saja daripada harus berdebat dengan beliau. Kaki ini segera melangkah pergi menuju kamar mandi.

__ADS_1


Aku mendengar beberapa orang yang berbincang di luar sana. Mereka bergosip tentang pemilik coffe shop yang sudah menikah. Tapi, sayang sekali tidak ada satupun pekerja di tempat ini yang diundang.


Ealah, ngarep undangan. Memangnya kalau diundang, mereka mau ngasih duit berapa sih? Sadar diri kenapa. Mungkin juga pemilik tempat ini punya rencana lainnya. Aku membatin, hanya mampu menggeleng kepala mendengar percakapan mereka.


Aku tidak peduli pada apa yang mereka bicarakan. Setelah mencuci wajah dan memakai dandanan tipis-tipis, barulah ke luar lagi untuk melanjutkan pekerjaan.


"Wulan, kamu jaga kasir dulu ya! Sepuluh menit saja, Riska lagi ke kamar mandi tuh." Aku mengangguk saja mendengar arahan dari kepala outlet ini.


Sudah delapan jam aku bekerja, tapi, tetap saja pikiran ini terlalu fokus pada hal perjodohan. Aku bersiap untuk pulang, memakai jaket agar seragam yang kukenakan tidak terlihat. Sore ini waktunya aku berjalan kaki, walaupun berjarak sekitar dua kilometer, tapi, aku selalu bersemangat untuk berjalan agar tidak mengeluarkan uang transportasi.


Baru saja aku ke luar dari pintu utama coffe shop. Ada beberapa pria yang hendak masuk. Mereka berlima memperhatikan aku.


"Eh, Mbak sendirian ajah. Gabung sama kita yuk!" ajak salah satu dari mereka.


"Saya mau pulang." Dengan cepat aku setengah berlari meninggalkan mereka.


"Huuu, Elu sih ... Mbaknya takut tuh." Aku mendengar sayup-sayup suara lainnya.


Bruaaakk


Saking tidak fokus pada apa yang ada di depan, aku bertabrakan dengan seseorang. Aku jatuh terduduk, untung saja tulang ekorku baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri karena terbentur. Tas ransel yang kupakai menyelamatkan hidupku.


"Hei, kalau jalan tuh pakai mata!" Gawat, ternyata aku menabrak seorang pria.


"Maaf, Mas. Saya gak sengaja." Aku belum melihat wajahnya. Dia sudah berdiri, berada di depanku yang masih terduduk di lantai.


"Lain kali jaga tuh mata!" Suaranya terdengar begitu menyeramkan.


"Sekali lagi maaf." Kepala ini mendongak, menatap wajah pria itu.


Kami berdua saling berpandangan, wajahnya semakin memerah menahan emosi diri.

__ADS_1


"Sumpah ya, pengen gue bunuh rasanya." Ucapannya membuatku semakin terkejut.


Duh, kenapa bisa begini sih.


__ADS_2