
Selena berbaring lemas, wajahnya masih pucat.
"Kak, gue laper," ucapnya lemah.
"Astaghfirullah, kenapa dari tadi gak ngomong? Tunggu di sini, gue beliin makanan." Aku segera beranjak dari tempat duduk. Membeli makanan berat untuk Selena. Tumben sekali dia sampai kelaparan begitu.
Aku menyerahkan sepiring nasi goreng padanya. Asap nasi goreng itu masih mengepul. Dengan lahap dia memakan nasi goreng tersebut.
"Pelan makannya, Sel! Nanti keselek lho." Aku menggeleng melihat caranya makan.
"Uhuk, uhukk. Minum, Kak." Aku lupa membelikannya minuman. Segera aku membeli air mineral kemasan botol, memberikannya pada Selena.
"Akhh, alhamdulillah." Tampaknya dia menikmati makanannya.
Entah berapa lama dia menghabiskan nasi goreng itu. Tak tersisa sebutir nasi pun di atas piring.
"Ebuset, laper bener Elu ya." Selena mengangguk bersemangat.
"Gue belum makan sejak bangun tadi. Sekarang udah sore, wajar dong kalau gue laper."
"Eh iya, Elu belum makan."
Keasyikan ngelihat Wulan di kamar, malah lupa beliin dia makanan. Kalau dia tahu, dia bisa ngamuk.
"Udah kenyang banget nih, Kak. Kita pulang yukk! Gue pengen tidur sampe besok pagi, badan gue pegel-pegel." Adikku mengoceh tanpa henti.
"Ya sudah, jangan lupa bilang seperti tadi kalau Mami nanya lagi. Hubungi Wulan juga supaya dia gak lupa!"
"Hubungi Kak Wulan? Gak salah? Hape gue udah Elu sita, Kak."
"Mana gue dihukum sampai gak makan segala." Selena menambahkan, bibirnya mengerucut.
"Gue gak hukum sampai segitunya, masa iya gak bolehin Elu makan. Gue lupa kalau Elu belum makan. Sorry." Dia sudah bertenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan. Kami berdua beranjak dari tempat duduk. Keluar dari tempat ini setelah membereskan tas milik kami berdua. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Hari sudah gelap ketika kami sampai di rumah. Tadi kami sempat singgah di masjid untuk melaksanakan sholat maghrib.
"Astaghfirullah, dua anak ini darimana ajah?" Mami berkacak pinggang setibanya kami memasuki rumah.
"Sorry, Mam. Keasyikan berenang jadi lupa pulang." Selena menyalami Mami, mencium punggung tangan beliau.
"Kalian ini harus beristirahat yang cukup! Lusa itu acara wisuda Kakakmu." Ah iya, aku sampai lupa dengan wisuda sendiri.
__ADS_1
Dari yang menjadi asdos, semoga saja bisa naik pangkat menjadi dosen. Aku harus bisa menjadi dosen sekaligus pebisnis coffe shop yang sukses.
"Damar!" Mami membuatku tersentak dari pikiran tadi.
"Apaan, Mam?"
"Kamu jemput Wulan sana! Suruh dia tidur di rumah kita! Sekalian makan malam di sini." Aku melongo mendengar perintah Mami.
"Mami gak salah? Jangan ajak dia ke rumah ini!"
"Pokoknya, Mami gak mau tahu. Jemput dia sekarang! Ajak dia belanja setelah makan malam." Aku tak mengerti apa yang sebenarnya Mami inginkan.
"Tapi, Mam--,"
"Gak ada tapi-tapian! Pergi sekarang, jemput dia!" Mami meninggalkan aku seorang diri yang masih tak bergeming di ruang depan. Sementara Selena dan Mami pergi begitu saja.
Terpaksa aku harus menjemput Wulan ke kost-annya. Kaki ini segera melangkah pergi, masuk ke dalam mobil dan menekan pedal gas. Kendaraan ini kembali melaju di jalan raya. Tak sampai setengah jam, aku sudah tiba di depan bangunan kost-an lantai dua. Penjaga itu mungkin hapal dengan wajahku, dia tidak banyak tanya seperti waktu pertama kali aku datang ke tempat ini.
Pintu kamar Wulan aku ketuk dengan keras, ya, bisa dibilang menggedor daun pintu itu.
"Tunggu sebentar!" serunya dari dalam.
"Siapa ya? Kok gak sopan gitu maen gedor segala." Kepalanya mendongak menatapku. Kami bertemu pandang sepersekian detik.
"Gue disuruh Mami jemput Elu makan malam bareng di rumah. Terus, Mami bilang ngajak Elu belanja."
"Tunggu, tunggu ... aku gak salah denger nih?"
"Gak usah cerewet! Cepat ganti baju! Gue tunggu di mobil. Awas ajah kalau lama!" Setelah mengancamnya, aku segera pergi dari hadapan Wulan. Entah kenapa aku ingin sekali menghindari bertemu dengannya. Ketika bertemu tadi, jantung ini berdebar lebih kencang dari biasanya. Ada desiran hangat yang membuncah di dada.
Aku duduk di balik kemudi, menyalakan musik agar pikiran ini teralihkan.
"Lama." Ada pintu belakang yang terbuka.
"Lama apanya? Ini ajah udah sat set sat set kok." Wajahnya merengut.
"Siapa suruh duduk di belakang? Gue bukan sopir pribadi, Elu ya."
"Mas iya harus pindah?"
"kalau gak mau pindah, mobil ini gak akan bergerak sedikit pun." Aku mengancamnya lagi.
__ADS_1
"ck," decakannya begitu keras. Perempuan itu berpindah duduk di samping kursi kemudi. Kendaraan ini melaju ke rumahku. Kali ini aku sedikit mengebut karena perut agak lapar.
Kami berdua turun dari mobil setelah tiba di depan rumah. Kami berjalan beriringan tanpa berkata-kata. Wulan mengucapkan salam, terdengar suara tapak kaki yang mendekat. Suara Mami menjawab salam dan menghampiri kami di ruang depan.
"Nak Wulan, ayo kita langsung ke meja makan saja! Kamu pasti laper, kan, Sayang?" Mami menuntun Wulan. Beliau mengacuhkan aku yang nota benenya adalah anak kandung.
"Mam, Damar pengen yang itu!" Setelah duduk mengitari meja makan, aku menginginkan hidangan yang ada di depan Mami.
"Ambil sendiri! Gak usah manja! Gak malu ya sama Wulan?" Apa hubungannya coba, meminta makanan dengan Wulan sama rasa malu. Mami ini memang agak-agak.
Suara sendok garpu yang beradu dengan piring berakhir seiring kami menyudahi makan malam ini. Mami menyuruhku untuk menemani Wulan membeli baju pasangan yang cocok untuk dipakai di acara wisuda esok lusa.
"Wisuda? Kerjaan Wulan gimana dong, Tan?" Dia tampak tak nyaman.
"Izin saja, atau bisa bolos sekalian. Kamu minta duit ajah tuh sama calon suamimu."
"Mami."
"Tante." Aku dan dia berucap bersamaan.
"Kalian berdua pasti jodoh, kompak banget gitu." Mami menggoda kami, seperti anak kecil saja.
"Kamu harus hadir di acara wisuda calon suamimu! Sebulan lagi kan acara pertunangan kalian. Setelah itu barulah kita pikirkan acara pernikahan." Mami terlihat bersemangat, bola mata beliau berbinar-binar cerah.
"Tante, terlalu cepat untuk itu. Wulan harus bekerja keras." Perempuan itu ternyata pekerja keras. Dia malah menolak untuk dijodohkan denganku yang sebentar lagi menjadi pebisnis dan dosen. Dia bisa menghabiskan uangku untuk bersenang-senang kalau pernikahan itu terjadi.
"Pokoknya, Mami gak mau denger apa-apa lagi dari kalian berdua! Sana pergi! Mall keburu tutup kalau terlalu malam."
Kami beranjak dari tempat duduk dengan terpaksa. Kulihat jam dinding, angkanya menunjukkan pukul tujuh malam lebih dua puluh menit. Terpaksa kami masuk kembali ke dalam mobil. Kendaraan ini meluncur kembali memecah belah jalan raya utama.
Tak berselang lama, kami tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang terbesar yang ada di ibu kota. Kendaraan ini terparkir di basemen gedung ini. Kami naik lift ke lantai dua, di mana outlet pakaian tersebar.
Kami ke luar dari lift seperti orang asing, tak berbicara sepatah kata pun. Wulan mengekori langkahku.
"Masuk saja, mau pilih merek yang mana!" Aku menyuruhnya agar segera memilih, malas jalan berduaan sama perempuan kaku seperti dia.
"Damar, Elu ada di sini?"
Mampos, kenapa ada dia di sini? Alah, ketemu vajing4n yang satu ini.
Aku menarik lengan Wulan dan meninggalkan orang itu. Tapi sayangnya, dia semakin mengejar kami.
__ADS_1
"Kenapa sih ini? Tanganku sakit, jangan ditarik begitu!" Perempuan ini menunjukkan kecerewetannya.