
Damar menarik rambutku kemudian menyelipkannya pada daun telinga, kebetulan lampu jalanan berubah warna merah.
"Apaan nih, sakit tau." Aku memukul pahanya gemas.
"Ada semut rangrang di rambut Elu, tadi gue tarik sekalian gue pites biar mati."
"Owh ... kita mau ke mana? Kenapa semakin jauh dari rumah? Adzan maghrib sudah selesai."
"Kita mampir ke masjid dulu, setelah itu Elu ikut gue!"
"Ke mana?"
Tiiiiiinnnn
Suara klakson saling bersahutan, tak terasa lampu sudah berubah hijau. Kendaraan ini meluncur kembali.
Damar fokus pada jalanan di depannya. Kami terdiam, tidak melanjutkan obrolan tadi yang terhenti. Pertanyaanku menguap begitu saja.
Kami mampir ke masjid sebentar untuk melakukan kewajiban. Setelah itu, kendaraan kembali melaju. Kali ini Damar berhenti di sebuah basemen gedung.
"Lho, kenapa malah ke mall? Emangnya mau ngapain ke sini?"
"Tentu ajah belanja, gue mau beli jam tangan, kaos kaki, sepatu juga boleh, oh iya, kemeja juga." Aku terperangah mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya.
Damar mengetuk kaca jendela, ternyata dia sudah ada di luar sana. Aku terpaksa mengikutinya dari belakang. Kami naik ke lantai tiga dan berkeliling. Damar suka sekali berbelanja, dia sudah memilih dua kemeja dan tiga pasang kaos kaki. Kini, kami beralih pada outlet sepatu Hash Poppies. Tanpa bicara sepatah kata pun, dia mencari sepatu yang disukai sampai harus ke luar masuk outlet lima kali di tempat yang berbeda.
"Damar, kakiku udah pegel. Gak sanggup lagi jalan, aku tunggu di sini ajah." Aku duduk, mencoba mengistirahatkan kaki dan punggung.
"Ya udah, gue juga udah dapet sepatu yang gue incar." Dia kembali melihat-lihat etalase sepatu yang terpajang. Dua kantong belanjaan ada bersamaku.
"Sumpah, dia ini boros banget. Padahal di rumahnya walk in closet ada, penuh juga. Lemari bajunya juga penuh, semua warna ada, kenapa dia beli lagi, beli lagi?" gumamku melirik pria yang mencari-cari sepatu.
Kulihat Damar yang pergi ke arah kasir, membayar belanjaan dan menghampiriku. Dia meraih tas belanjaan dan ke luar dari tempat ini. Kami turun ke lantai dua, mengekori langkahnya menuju outlet jam tangan.
__ADS_1
"Damar ... aku duduk di luar aja. Males lihat kamu muter-muter." Aku duduk di kursi yang tersedia di luar outlet. Pria itu mengacuhkan aku dan berlalu pergi.
Aku menonton video lucu yang tengah viral hari ini. Entah berapa lama dia menghabiskan waktu. Dia kembali dengan wajah sumringah. Dia berjalan tanpa berkata-kata, aku pikir kami kembali ke basemen, tapi, ternyata tidak. Dia masih saja mampir pada beberapa outlet.
"Damar, pulang yuk! Gue udah capek berat."
"Bentar ya, gue masih mau milih dasi dulu." Dia kembali mencoba beberapa warna dasi yang cocok. Aku merengut, menekuk wajah. Aku saja yang seorang perempuan malah malas berbelanja begini, dia sepertinya kalau sudah mood belanja datang, bisa-bisa diborong olehnya. Heran, kenapa dia doyan belanja begini?
Aku melirik layar hape, melihat jam yang tertera. Sebentar lagi jam sepuluh malam, itu tandanya mall bersiap untuk tutup. Akhirnya kami berjalan ke basemen, masuk mobil dan bernapas lega.
"Gila kamu, dari abis maghrib sampai jam segini cuma dihabiskan untuk belanja? Mana barang-barang yang gak penting yang dibeli." Dia urung menyetir kendaraan, menatapku lekat.
"Gak penting Elu bilang? Penting banget ini untuk menunjang penampilan gue," ketusnya membalas perkataanku.
"Kamu itu make baju apa pun ya sama ajah begini, gak akan berubah cakep." Aku sengaja mencibir.
"Yakin? Elu gak tau penampilan gue kalau ngajar. Udah deh, gak usah banyak omong!" Pria itu menyetir kendaraan. Akhirnya pulang juga, aku lupa kalau harus pergi ke kost-an untuk mengambil barang-barang yang ada di sana. Hari ini sudah pertengahan bulan, jadi, aku rugi membayar kost-an bulan ini karena dipaksa pindah oleh Tante Iren.
"Males, besok ajah sama Mami! Biar diantar pak sopir."
Aku diam tak mau membantah. Tak apalah besok pagi aku beres-beresnya. Lagipula sudah letih seharian berkeliling.
Kami akhirnya tiba di rumahnya, turun dari kendaraan. Ada kertas-kertas yang berceceran di teras ketika aku mengikuti langkah Damar. Pria itu sudah tidak terlihat lagi, dia pasti sudah naik ke lantai dua. Aku mengutip kertas-kertas tadi yang ternyata adalah nota pembayaran dari berbagai barang yang Damar beli. Aku melihat satu persatu nominalnya, mata melebar, mulut membentuk huruf O, napasku mendadak sesak, sepertinya udara di sekitar tak mau memberikan oksigennya padaku. Kakiku lemas tak bertulang, Aku terduduk di lantai teras, kepalaku berputar hebat karena syok.
"Wulan, kamu kenapa? Kenapa malah duduk di situ? Melamun apa?" Aku menggeleng pelan tanpa melihat orang yang berbicara. Pandanganku seperti kabur entah ke mana. Tanpa sadar, badan ini merebahkan diri di atas lantai dengan cepat.
"Wulan!" Aku mendengar suara Tante Iren.
Kelopak mata terbuka, tapi sekeliling mendadak buram. Napasku masih butuh banyak oksigen.
"Damar, gendong Wulan ke kamarnya!" Perintah suara itu.
Kesadaranku seperti hendak pingsan tapi tak bisa. Aku merasa badan ini melayang. Lampu-lampu seolah berpijar di atas kepalaku. Tubuhku menyentuh permukaan empuk. Pipi ini di tepuk berkali-kali.
__ADS_1
"Aaaarghh," pekikku akhirnya tersadar 100 persen.
Dadaku naik turun, ada wajah Tante Iren dan Damar yang kulihat pertama kali.
"Lan, Elu kenapa kejang-kejang kayak orang setep? Punya penyakit ayan ya?"
"Ck, gak." Aku menggeleng lemah.
"Damar, masa iya cantik-cantik begini dituduh punya sakit ayan. Terlalu kamu ya." Tante Iren menoyor kepala anaknya. Aku melirik dua orang yang berdiri di samping meja rias, mereka—Selena dan Om Purnomo.
"Aneh aja, Mam ngelihat dia bisa gitu."
"Emangnya Elu kenapa? Apa jangan-jangan efek kolesterol tinggi karena makan sate kambing?" cecarnya.
"Enggak, aku gak punya kolesterol. Aku kaget melihat nota yang tercecer di lantai," jawabku jujur.
"Maksud Elu apa? Bill belanjaan gue?" Damar terperangah melihat aku mengangguk.
"Memangnya bill belanjaan Damar berapa, Sayang? Kenapa kamu sampai mau pingsan begini?" Tante Iren penasaran.
"Ye, si Mami ... kayak gak tahu anak kesayangannya ajah kalau belanja pasti kalap." Selena menimpali.
"Diem Elu, Sel! Berisik, bawel."
"Kalian berdua selalu saja ribut, diem dong, ini kan di kamar Wulan." Tante Iren menengahi keduanya.
"Memangnya berapa nominalnya? Biar Tante tahu apa ajah yang dia beli." Aku ragu untuk mengatakannya.
"Eum, gimana ya Tan," lirikku pada Damar yang menyipitkan matanya.
"Jawab ajah, Kak!" Biar Mama percaya apa yang Selena bilang." Selena bersedekap.
"Harganya macam-macam, banyak barang juga yang dia beli. Satu nota itu totalnya-," Aku tak melanjutkan ucapan, melirik pada mereka satu persatu yang masih menunggu apa yang aku ucapkan.
__ADS_1