Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Rasa Jengkel


__ADS_3

Aku berusaha bangkit, menahan rasa nyeri. Melihatnya yang ada di depan mata membuatku malas. Kenapa harus ketemu dia di sini?


"Heh? Selain bar-bar, Elu juga buta ya. Main tabrak orang segala." Dia bersedekap, tatapan mata begitu tajam.


"Aku udah bilang gak sengaja. Udah minta maaf juga. Jadi, udah beres kan?" Aku berusaha membalas tatapan matanya, tak kalah nyalang.


"Woi, Bro. Elu udah datang? Ada apa ini?" Seorang pria menghampiri kami berdua. Pria itu adalah pria yang berpapasan di depan pintu masuk tadi.


"Gak pa-pa, ayo kita masuk! Nanti malah ada gadis bar-bar yang ngikutin." Aku lega sekaligus marah dengan ucapannya itu. Tanpa berkata-kata lagi, keduanya melangkah pergi.


Teman Damar menoleh, menatapku walaupun dia ditarik oleh Damar.


"Ayo masuk!" ajak Damar pada temannya.


Entahlah, bisa dikatakan penyelamat atau tidak. Yang terpenting Damar sudah tidak mengomel seperti emak-emak yang lagi PMS. Aku berusaha untuk berjalan walaupun tertatih menahan sakit.


Tak tahan rasanya, tapi, aku harus bisa berjalan sampai di kost-an. Pelan-pelan saja asalkan sampai ke tempat tujuan.


"Mbak! Tunggu dulu!" Suara itu berasal dari balik punggungku.


Kepala ini menoleh, melihat siapa dia.


"Lho, kamu kan yang tadi. Kenapa mengikuti aku?" Entah kenapa aku merasa ketakutan karena telah diikuti pria ini. Walaupun dia teman Damar, tapi, tetap saja aku khawatir kalau dia ingin berniat jahat.


"Aku sengaja ngikutin Mbaknya karena tadi, aku melihat Mbak itu susah jalan. Bagaimana kalau aku antar ke tempat Mbak tinggal?" Dia menawarkan bantuan.


"Eh, tidak perlu repot-repot! Terima kasih, kost-an saya gak jauh dari sini." Aku menolak secara halus.


"Ayolah, Mbak! Tadi, aku sudah bilang sama temenku agar dia menyusul si Mbak. Tapi, dia tidak mau." Dia memasang raut wajah memelas.


"Santai saja, Mas! Udah mendingan lho sekarang. Lebih baik Masnya lanjut saja ngobrol sama teman-temannya. Ditungguin lho." Aku berusaha tersenyum tipis.


"Tapi--," ucapannya terhenti.


"Biar gue ajah yang nganterin dia pulang. Ini, kan yang Elu mau?" Tiba-tiba saja ada Damar di tengah-tengah kami.

__ADS_1


"Kalau Elu keberatan, biar gue ajah gak apa-apa kok."


Aku mengernyitkan kening mendengar ucapannya. Jadi, sebenarnya siapa nih yang mau nganterin aku? Kenapa mereka berdua malah seperti berebut?


"Elu tunggu sini! Biar gue ambil mobil dulu." Damar pergi meninggalkan kami berdua. Dia setengah berlari.


"Kalau begitu, kita tunggu saja dulu, Mbak! Biar aku jaga Mbaknya sebelum temenku itu datang." Aku hanya bisa mengangguk, tak tahu harus merespon apa.


"Kenalin, nama aku Dimas." Pria di sampingku mengulurkan tangannya.


"Wulan." Daripada dibilang tidak sopan, aku menyalami tangannya walaupun sebentar.


Beberapa menit kemudian, ada sebuah kendaraan yang berhenti tepat di pinggir jalan tempat kami berdiri.


"Masuk!" Damar menatapku.


"Dimas, Elu balik ajah! Gue anterin dia pulang." Dia menyuruh temannya agar kembali ke coffe shop.


Aku membuka pintu belakang, "Eh ... gue bukan sopir Elu. Duduk depan dong!" ucapnya kasar.


"Kenapa diem?" katanya sambil menyetir tanpa melihat ke arahku.


"Emangnya aku harus ngomong apa?"


"Astaga, udah bar-bar ternyata lemot juga tuh isi kepala. Gue gak tahu tempat Elu tinggal." Dengan nada suara meninggi, dia menjawab pertanyaanku.


"Oh iya, bukannya lemot. Aku lupa. kost-an aku di ujung jalan, ada belokan ke kiri. Nanti ada tuh bangunan dua lantai. Di sana kost-annya." Sial, aku malah lupa memberitahu alamat kost-an. Kena omel lagi, kan. Pria ini benar-benar membuat orang emosi ketika ada di dekatnya.


Dia tidak menyahut ataupun bersuara. Kami terdiam cukup lama sampai akhirnya bangunan lantai dua sudah terlihat jelas. Mobilnya berhenti, aku segera turun sambil berkata terima kasih. Ya, walaupun sebenarnya gak ikhlas juga berkata terima kasih padanya.


Aku menutup pintu, kendaraan itu memutar arah dan segera berlalu dari hadapanku.


"Amit-amit deh kalau harus tunangan sama dia. Apalagi kalau nikah nanti, bisa-bisa aku udah kayak triplek—kurus kering karena stres berkepanjangan." Aku bergidik membayangkannya.


Segera aku masuk ke dalam pagar, berusaha berjalan senormal mungkin. Ada Bapak penjaga di pos keamanan, aku menyapa pak penjaga.

__ADS_1


"Wah, pacarnya ya Mbak? Sudah lama di sini, baru kali ini dianterin pulang cowok." Aku hanya tersenyum simpul. Males kalau sudah membahas Damar.


***


POV Damar


Melihat bangunan lantai dua di depan sana, segera mobil ini kuhentikan. Gadis bar-bar ini ternyata masih punya etika, dia mengucapkan terima kasih walaupun tanpa melihat wajahku. Tanpa basa-basi, aku kembali ke coffe shop untuk kembali membahas mengenai bisnis kuliner yang ingin Andre kerjakan.


Setelah memarkirkan mobil di pelataran parkir coffe shop. Aku bergegas masuk, mereka ternyata sudah memesan minuman.


"Woiii, pesen dulu sana!" Andre tertawa kecil.


Aku menyebut nama minuman favorit pada barista kemudian menuju tempat duduk di mana teman-temanku berada.


"Abis nganterin cewek pulang nih. Udah dapat nomer hapenya gak tuh?" Roni—orang yang paling resek membuatku menoyor kepalanya.


"Gue ajah tadi cuma tahu namanya doang. Seandainya Elu gak datang, gue pasti udah tahu nomornya." Sambung Dimas.


"Kita ke sini ngumpul mau ngebahas bisnis Andre. Kenapa malah bahas gadis bar-bar tadi?" Dengan raut wajah datar, aku menghentikan obrolan tentang Wulan.


"Gadis bar-bar? Wuih, mata Elu emang rada-rada nih. Cewek baik, lembut, sopan begitu dibilang Gadis bar-bar." Dimas tak terima, dia menyanggah ucapanku.


Mata ini menyipit, melihat Dimas. Kenapa dia membela Wulan? Apa jangan-jangan dia, ah sudahlah. Bukan urusanku kalau Dimas suka atau enggak pada Wulan.


"Wulan udah pulang ya?" Mendadak aku mendengar percakapan.


"Udah, Pak. Dia pulang segera waktu kerjanya habis," sahut suara lainnya. Aku mengedarkan pandangan, melihat sekitar meja dari tempat duduk.


Dia tadi menyebut nama Wulan, kan? Gue gak salah denger?


Aku berusaha menajamkan telinga untuk mendengar percakapan mereka lebih jauh. Ada tiga orang berdiri, dua karyawan coffe shop karena memakai seragam. Yang satunya seorang pria paru baya yang usianya di bawah Papaku.


"Bapak ada perlu dengan Wulan?" Aku masih memperhatikan mereka.


"Iya, ada hal penting yang harus Bapak katakan padanya." Dua karyawan lainnya mengendikkan bahu. Mereka pamit bekerja kembali karena ada beberapa pelanggan yang baru datang.

__ADS_1


"Kenapa dia nyari Wulan? Bukankah Wulan nama gadis bar-bar itu? Apa jangan-jangan Bapak itu, dia--," gumamku seketika terhenti.


__ADS_2