
Aku mengikuti langkah Ibu, mengintip siapa yang datang. Wajah itu wajah yang kukenal, dia bersemangat ketika melihatku. Aku bernapas lega karena yang datang adalah Selena.
"Kak Wulan, gue mampir bentar sebelum pulang ke rumah." Selena menyalami tangan Bapak.
"Selena mau minum apa?" tanya Ibu.
"Apa ajah boleh, Bu. Selena pasti minum." Dia menghenyakkan bokong di atas sofa.
"Kamu tahu darimana tempat ini?" Aku duduk di sebelahnya.
"Tentu ajah dari Mami. Oh iya kak, furniturnya bagus ya. Selena boleh keliling gak?" Dia tampak bersemangat.
"Boleh, ayo kalau mau lihat-lihat." Kami berdua beranjak dari tempat duduk.
"Pak, izin bawa kak Wulan bentar." Dia menyengir. Bapakku menanggapi dengan senyuman lebar.
"Kamu bisa ajah, Sel." Selena terkekeh geli.
Kami masuk ke kamarku dahulu. Dia melihat sekeliling.
"Wah, beneran bagus kata Mami. Rezeki nomplok kalau begini, Kak."
"Iya, kalau bukan karena Tante Iren, aku gak bisa tinggal di tempat ini, Sel."
"Mas Damar udah punya rumah sendiri dia kak. Kalau udah nikah nanti kalian pasti tinggal di sana."
"Rumah di mana?" Aku tidak menyangka bahwa pria itu sudah memiliki rumah. Sebanyak apa gajinya sampai-sampai sudah punya rumah di usia hampir dua puluh enam tahun.
"Di rumah kami dulu, rumah masa kecil kami bertiga."
"Eh, di mana itu?"
"Di Jakarta juga, tapi ya begitulah keadaannya. Mas Damar bilang ingin menempatinya bersama keluarganya kalau dia sudah menikah. Entah dia sudah lupa atau enggak."
"Jadi begitu ceritanya. Aku pikir dia membeli rumah dengan uangnya sendiri."
"Dia juga punya banyak duit, Kak. Dia itu diam-diam nanam saham di sebuah perusahaan asing. Tiap bulan harga saham itu mengalami kenaikan yang signifikan. Kakak gak usah khawatir kalau nikah sama Mas Damar. Pasti hidupnya enak, nyaman, tinggal menikmati kehidupan di ranjang ajah." Tanpa ragu gadis ini mengucapkan hal yang tabu untuk dibicarakan.
"Selena!" Aku risih mendengar perkataannya. Walau sesama perempuan, tetap saja aku tidak bisa mewajarkan hal itu diungkap ke permukaan.
"Heheh, sorry ... keceplosan." Dia menyengir kuda.
"Kita pindah ke kamar Ibu!" seruku menarik lengannya.
"Izin dulu sama orang tua Kakak, nanti malah dipikirnya Selena lancang."
__ADS_1
"Iya, aku pergi izin dulu."
Setelah mendapat izin dari orang tuaku, kami masuk ke kamar milik Ibu dan Bapak. Selena mengitari ruangan. Dia tiba-tiba berhenti di meja rias Ibu, tatapannya terpaku pada sebuah pigura foto yang terpajang di atas meja.
"Ini foto Kak Wulan waktu kecil, kan?" Dia meraih pigura tersebut. Aku mengangguk singkat.
"Gilaaa, beneran apa yang Mami bilang. Ternyata kita sejak kecil memang suka main bareng. Nih lihat!" Aku belum benar-benar melihat foto itu. Kupikir itu foto masa kecilku yang dipajang.
"Coba lihat!" Aku meraih pigura foto yang disodorkan Selena.
Aku melihat Ibu waktu muda memangku tubuh mungilku dan bocah lelaki, di sebelahnya ada Tante Iren versi muda yang memangku satu orang batita dan seorang anak perempuan kira-kira di atas enam tahun.
"Ini kamu? Ini Damar, dan Kak Mutia?" Tunjukku pada foto itu. Selena mengangguk bersemangat.
"Ya ampun, Selena gak nyangka kalau kita dulunya seakrab itu, Kak. Coba Kakak lihat ekspresi Mas Damar! Gemesin banget nih, nyubit pipinya Kak Wulan sambil tersenyum gemas." Dia meraih kembali foto itu. Melihatnya dengan berbinar-binar.
"Aku belum pernah melihat foto ini. Aku pikir Ibu gak punya kenangan waktu bersama kalian."
"Kenapa bisa begitu? Kakak baru tahu sekarang ini?" Aku mengangguk.
"Mungkin Ibu simpan, Kak. Gak dipajang."
"Hem, bisa jadi sih."
"Ya udah, kita ke luar dari sini! Pindah ke dapur baru ke balkonnya."
"Kak, kenapa gak make kompor tanam ajah? Ribet amat hidupnya, make kompor gas elpiji model lama."
"Ibu gak tahu caranya, Sel. Jadi, mau gimana lagi. Gak apalah make begini, asalkan bisa dipake."
"Tapi merusak pemandangan, Kak. Biasanya rata, enak tinggal mencet. Ini masih cetak cetek." Selena menyayangkan keberadaan kompor itu.
"Udah, gak usah dibahas! Kita pergi ke balkon!" Aku mendorong punggungnya agar lekas pergi dari dapur.
Kubuka pintu geser, membiarkan Selena ke luar lebih dulu.
"Wah, bagus kalau ini tuh." Dia duduk sambil menikmati pemandangan.
"Selena betah kalau lihat gedung tinggi begini, Kak. apalagi kalau malam, lumayan lampunya."
"Iya, Damar pinter milih lokasi apartemen."
"Cieee, udah mulai ada rasa sepertinya."
"Diam, Sel! Biasa ajah lho padahal. Aku belum kepikiran melihat dia sebagai seorang pria. Mungkin karena sejak awal, pertemuan kami gak mengenakkan, jadi, sampai sekarang tuh, bawaannya kesel banget kalau lihat dia." Tanganku saling meremas untuk menunjukkan kekesalan.
__ADS_1
"Yakin gak suka? Mas Damar tuh banyak disukai temen-temen sekolahnya dulu, temen-temen kampusnya juga bahkan mahasiswi yang dia ajar. Yakin mau ngelepas Mas Damar begitu saja?"
"Udah deh, gak usah bahas dia lagi. Eneg lama-lama." Aku meninggalkan Selena, bukannya menghiburku, dia malah terkekeh-kekeh.
"Lho, mana Selena?" Aku duduk di sofa, meraih cemilan di atas meja dan menyuapi mulut.
"Wulan, Ibu nanya malah gak dijawab," pekik beliau membuatku tersadar.
"Di balkon, Bu. Masih betah dia di sana." Sambil mengunyah aku menjawab pertanyaan Ibu.
"Ya sudah, bawa minumannya ke sana! Sekalian cemilannya nih!"
"Males." Aku masih kesal karena Selena selalu membahas Damar
"Wulan!" bentak Ibu.
"Bu, Selena di sini." Dia duduk di sebelah Ibu, meraih gelas dan meminum isinya.
"Sepertinya Selena sudah harus pulang, Bu, Pak, Kak Wulan."
"Kok buru-buru gitu, Nak?" Bapak mulai bersuara.
"Selena mampir karena sekalian lewat, Selena baru pulang dari kampus, Pak. Baju ajah rasanya lengket."
"Owh, pantas ajah ada wangi kecut-kecut gitu," candaan Bapak membuat Selena tertawa.
Aku mengantarnya pulang sampai ke lobi. Dia melambaikan tangannya, kubalas dengan hal serupa. Baru saja tubuhku berbalik arah, aku menabrak seseorang sampai barang yang dia bawa terjatuh di lantai.
"Maaf, saya tidak sengaja." Tanpa melihat siapa dia, aku memungut barang-barang yang berserakan di lantai. Kertas-kertas bertebaran, satu persatu aku meraih lembaran kertas itu, menumpuknya menjadi satu.
Ketika aku berdiri, aku menatap wajahnya. Menelan ludah terasa berat dan seperti menelan batu kerikil besar. Kepalaku menunduk, beruntung dia belum melihat wajahku, dia berjuang, sibuk memungut barang-barang lainnya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Ini kertasnya!" Aku menutup wajah dengan rambut agar wajahku tertutupi separuh.
"Iya, gak apa-apa. Mungkin kamu terburu-buru." Dia berdiri di hadapanku.
"Kenapa wajahmu gak kelihatan? Malu, ya?" Dia meriah kertas yang ada di tanganku.
"Eum, gak juga. Maaf ya, aku harus pergi." Aku berusaha melangkah cepat ke arah lift utama.
"Tunggu! Aku juga mau naik lift, tolong jangan ditutup pintunya!" Aku serba salah, mana tidak ada orang lain di sini.
"Duh, gimana nih," lirihku menimbang-nimbang.
"Tolong jangan tutup dulu!" Aku berusaha menahan tombolnya. Tidak tega rasanya meninggalkan dia dengan berkas-berkas menumpuk seperti itu. Aku meliriknya sekilas, ternyata dia tengah menatapku, tatapan kami beradu sepersekian detik.
__ADS_1
"Hei, itu Elu bukan sih?" Suaranya membuatku menelan ludah dengan berat.