Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Di Kamar Hotel


__ADS_3

Dia mengambil sesuatu dari rambutku.


"Ini apaan?" Dia memegang benda yang sudah tidak berbentuk.


"Memangnya apa itu?" Kuraih benda itu dari tangannya.


"Owh, ini jepit rambutku. Eh tapi, kenapa bisa rusak begini?" Aku menyayangkan.


"Yah, keluar duit lagi deh," lirihku pelan sambil menggaruk rambut yang ternyata sudah berantakan.


Damar hanya menatapku tanpa berkata-kata. Dia memperhatikan gerak-gerikku.


"Elu berantakan banget, mandi sana! Bau jigong lagi." Akhirnya dari mulutnya itu keluar juga kata-kata kasar. Aku seperti tidak percaya ketika tadi dia diam saja, kupikir salah makan atau apa.


"Kamu belum jawab pertanyaanku, ini di mana? Kamar siapa ini?" tanyaku lagi tak kalah sengit.


"Berisik, buruan mandi! Bentar lagi bubur pesanan gue datang." Dia bangkit dari ranjang.


"Kalau aku mandi, terus pake baju apa? Aku gak bawa baju ganti nih." Aku kebingungan.


Aku tidak canggung sedikit pun walaupun kami hanya berdua saja di kamar. Mungkin karena pria itu selalu ketus dan tidak tertarik padaku, jadi, ya aku pun santai saja berduaan di kamar ini dengannya. Tidak akan terjadi apa-apa padaku.


"Oh iya ... gue turun ke parkiran. Elu mandi saja dulu! Peralatan mandi dan handuk sudah ada di dalam." Dia pergi meninggalkan aku begitu saja. Si4lnya, dia mengunci pintu kamar dari luar. Tanpa berpikir yang aneh-aneh, aku segera masuk ke kamar mandi. Melihat wajah yang awut-awutan pada pantulan cermin.


"Astaga, bau apa ini? Seperti bau muntahan." Aku baru menyadari rambutku yang bau. Pantas saja Damar menyuruhku lekas mandi. Ternyata ini alasannya. Aku bergegas membersihkan badan di bawah pancuran air.


Segar rasanya diguyur air dingin begini.


Entah berapa lama aku di kamar mandi, selesai membersihkan badan, aku memakai handuk yang tergantung di sana, melilitkannya tanpa menggunakan dalaman apapun.


Kubuka pintu kamar mandi sedikit saja, menyembulkan kepala dan mencari keberadaan Damar.


"Yes, dia belum datang." Tanpa berpikir ulang, aku segera ke luar dari kamar mandi.


Mendadak aku mendengar bunyi klik dari pintu yang tertutup. Aku berbalik arah, melihat Damar yang membawa tas belanjaan. Kami berdua terpaku di tempat masing-masing.

__ADS_1


Tok, tok.


Suara ketukan pintu menyadarkan kami, aku tersadar dan masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang terjadi di depan sana. Ingin rasanya aku mengintip tapi aku begitu malu karena kejadian tadi.


"Bajunya gue gantung di depan pintu nih!" Dia mengetuk pintu seraya mengetuk pintu kamar mandi.


Aku membuka pintu, dengan cepat mengambil tas belanjaan itu. Segera aku memakainya.


"Tunggu dulu, dia beliin aku dalaman? Sejak kapan dia tahu ukuranku?" Aku menatap dada ini dan penutupnya yang masih ada di tangan.


"Bisa pas gini, duh Wulan. Apa jangan-jangan semalam dia--, ahhhh aku tidak mau membayangkannya." Diriku gugup, panik dan cemas menjadi satu.


"Buruan gadis bar-bar! Buburnya udah datang, keburu dingin." Dia mengetuk pintu lagi.


Aku memakai pakaian ini dengan cepat, rambutku masih basah karena tak ada alat pengering rambut di sini. Aku ke luar dari kamar mandi dan menundukkan wajah. Malu rasanya ketika ada pria yang melihat tubuhku berbalut handuk.


"Makan sono! Keburu dingin," titahnya menunjuk pada mangkok yang ada di atas nakas.


Lebih baik aku memakannya untuk mengganjal perut. Mengenai pertanyaan yang masih mengganjal di kepala, sebaiknya aku tahan saja dulu. Aku menyuap bubur itu sedikit demi sedikit sampai tak tersisa. Meneguk teh hangat yang tersedia di samping mangkuk.


Selesai sarapan, yah walaupun telat. Aku duduk di kisi-kisi ranjang. Sementara Damar duduk di sofa tunggal yang tersedia.


"Beli di mall dekat sini."


"Terus, ********** juga?" Dia mengangguk cepat.


"Bagaimana ngukurnya? Apa jangan-jangan kamu berbuat mesum padaku semalam?" Aku curiga.


"Vangke, udah ditolong malah nuduh yang enggak-enggak." Nada suaranya meninggi.


"Bukannya apa, kok bisa pas gitu sih ukurannya?"


"Tau, gue cuma bilang sama pramuniaganya. Segini nih ukurannya." Dia membuka telapak tangan seperti mencakar seseorang. Hanya dengan itu tapi bisa pas?Ah, tidak mungkin.


"Yakin?" Dia mengangguk, kali ini tatapannya begitu tajam padaku.

__ADS_1


"Yakin lah, ngapain gue bohong. Gue gak sudi megang badan Elu yang gak ada bagus-bagusnya."


"Gue mau pulang! Anterin gue ke kost-an."


"Ogah, pulang ajah sana! Emangnya gue babu Elu apa, diperintah kek gitu." Dia mendengus dingin.


"Aku gak tahu ini di mana? Tas aku mana? Hape dan dompetku ada di sana, gimana mau pesan ojek online kalau begini." Aku kesal padanya karena enggan mengantarku pulang.


"Ini hotel dekat dari pub semalam."


"Hah? Hotel? Jadi, Elu bawa gue tidur di hotel?"


"Mau gimana lagi? Hanya ini jalan satu-satunya. Gak mungkin gue bawa Elu pulang ke kost-an dengan kondisi mabuk berat, jam dua pagi lagi."


"Apa? Dua pagi? Kamu gak salah lihat jamnya, kan?" Damar menggeleng.


"Tas aku, mana tas aku?" Dia melemparnya.


"Iiiih, dari tadi kek dibalikinnya." Aku menggerutu.


"Bukannya berterima kasih sama gue, malah kesal sama gue. Sikap macam apa itu?" Damar berdiri, dia menghampiriku. Dia kini berkacak pinggang berada tepat di depan wajahku.


"Pergi dan jangan sampai rahasia kita bertiga tersebar! Kamu harus tutup mulut! Ingat itu!" Tatapannya begitu garang.


"Iya, aku tahu. Aku pulang duluan. Makasih karena telah menolongku." Jujur saja aku masih tetap tidak ingat tentang kejadian semalam.


Kata orang-orang, kalau mabuk kita bisa gak ingat apa yang terjadi saat mabuk. Apakah ini yang aku rasakan sekarang? Aku tidak mau memikirkannya lagi.


Aku turun ke lobi, beruntung ada staf hotel lewat yang bisa kutanyakan di mana lobi berada. Kini aku sudah ke luar dari lift, menuju lobi dan segera memesan ojek.


Aku memesan ojek online, sambil menunggu ojek tiba. Aku tiba-tiba teringat sesuatu.


"Oh iya, kenapa aku tidak menanyakan perihal Selena? Aku tidak melihatnya sejak semalam, di mana dia, ya?"


Entah kenapa aku tidak bisa dendam padanya. Semua terjadi karena pengaruh Robi—pacar Selena.

__ADS_1


Aku segera ke luar, di depan sana ada sebuah motor yang tengah menunggu. Setelah melihat nomor kendaraannya, aku langsung naik ke atas jok motor setelah bertukar informasi. Motor ini melaju cepat menyalip beberapa kendaraan. Aku tiba di depan pagar kost-an setelah hampir setengah jam di perjalanan. Setelah turun dan membayar uang ojek, aku segera masuk dalam bangunan dua lantai ini.


Aku melihat hal yang tidak biasa, di depan kamar ada yang berkumpul. Ada apa ini? Kenapa mereka malah berkumpul seperti itu? Kupercepat langkah ini karena begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2