Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Bertemu Mbah Mustofa


__ADS_3

"Pak, kenapa diam saja?" tanyaku penasaran.


"Kalian berdua siapa? Kenapa bisa tahu nama salah satu anaknya adalah Ningsih?" Sopir taksi yang seumuran Bapakku itu kembali bertanya.


"Pak, ini bukan sensus penduduk. Kalau tahu antar saja kami, kalau tidak tahu di mana alamatnya, cukup antar kami ke kompleks perumahan yang ada di sana." Damar tampak tak suka dengan sopir ini.


"Mas Damar." Tanganku menyenggol pinggangnya.


"Pak, maaf ya. Tunanganku memang gak sabaran orangnya." Aku berusaha membujuk sopir ini.


"Kalian jawab dulu pertanyaan saya! Kalau kalian berdua memberikan informasi yang valid, saya akan mengantar kalian ke rumahnya." Suara Bapak ini terkesan memerintah. Damar tidak menyukainya, dia malah membuka pintu taksi, sementara aku menahannya agar tidak gegabah.


Aku berusaha menenangkan diri, tidak ada salahnya mencoba memberikan informasi tentang Ibu.


"Pak, saya ini anaknya Bu Ningsih. Saya mau mencari keberadaan kakek nenek saya sebelum resepsi pernikahan kami." Aku menggenggam erat tangan mas Damar.


"Saya ingin mereka hadir dalam acara kami," lanjutku.


Pak sopir ini tidak menanggapi perkataanku, kendaraan mulai melaju cepat. Aku dan Damar saling berpandangan. Entahlah kendaraan ini dibawa ke mana. Aku yakin kalau Bapak ini bukan oknum sopir yang jahat.


"Yang, kalau gak ketemu gimana? Gak mungkin kita menunda pernikahan." Damar memulai pembicaraan setelah beberapa menit terdiam.


"Jangan pesimis gitu, Mas! Kita harus usaha dulu. Baru aja sebentar nyarinya." Aku berusaha untuk menenangkan Damar.


"Tapi, aku gak mau karena dua kakek nenekmu yang egois itu acara kita harus ditunda. Kalau besok gak ketemu juga, kita pulang dan menikah sesuai rencana." Damar melupakan janjinya.


"Gimana sih? Kamu gak boleh mengingkari janji. Kamu udah janji mau usaha nyari kakek nenekku." Aku dan Damar mulai berdebat.


Ciiittt


Taksi ini mendadak berhenti di pinggir jalan yang sedikit sekali cahaya dari lampu penerangan.


"Kalian berdua bisa diam, tidak? Cepat turun!" bentak sopir ini. Aku dan Damar saling berpandangan heran.


"Kenapa malah Bapak yang sewot? Kita ini bayar, jangan seenaknya!" Damar tersulut emosi.

__ADS_1


"Aku bilang turun ya turun! Rumahnya Pak Mustofa, kan? Masalah bayaran, kalian gak usah bayar. Cepat turun!" Dia kembali membentak kami.


"Pak, beneran di sini rumah Pak Mustofa?" tanyaku memastikan.


"Aku akan mengantar kalian." Sopir itu ke luar dari kendaraan. Aku dan Damar pun tidak menaruh rasa curiga padanya. Wajah Bapak ini terkesan cuek dan datar, bukan wajah-wajah penjahat yang beringas.


Aku melihat rumah lama khas desa yang lumayan luas. Pekarangan khas desa yang ada kandang ayam, belum lagi pohon mangga, pepaya dan pisang yang berjejer.


"Di sini rumah Pak Mustofa?" tanyaku yang diangguki oleh sopir ini.


Pagar terbuat dari bambu, ada rantai yang membelit, rantai digembok dengan ukuran gembok yang besar.


Aku dan Damar berpandangan karena melihat Bapak sopir ini membuka gembok dengan anak kunci yang dia keluarkan dari kantong kemejanya.


"Lho, Bapak yang punya rumah ini?" Damar mendorong tubuhku agar semakin mendekat. Tangannya memegang erat pinggangku.


"Masuklah!" Pria seumuran Bapakku itu tidak menjawab pertanyaan Damar. Dia berjalan santai menuju pintu utama rumah. Dia memberikan salam, ada orang yang menjawab salamnya dari dalam kemudian membuka pintu.


"Rahman, Kamu sudah pulang? Tumben pulang jam segini?" Ada seorang wanita yang sudah keriput berdiri di ambang pintu.


"Ada yang mau ketemu sama Bapak dan Ibu." Pak sopir itu menoleh pada kami.


"Siapa yang mau ketemu Ibu dan Bapak?" Wanita tua itu menatap kami.


"Kita suruh masuk saja, Bu. Biar mereka tahu kondisi Bapak seperti apa." Pak sopir itu masuk ke dalam rumah tanpa memberikan aba-aba pada kami.


"Kalian berdua yang mau bertemu Bapak?" Wanita tua ini berjalan mendekati kami.


"Iya, Bu. Kami berdua ingin bertemu Pak Mustofa." Aku mengangguk singkat.


"Masuk saja, Nak! Ayo, ndak usah sungkan." Aku melirik sekilas pada Damar, dia mengangguk memberikan kode. Kami berdua mengikuti langkah wanita tua ini.


"Duduk saja di sini! Biar Ibu siapkan minum." Wanita itu berjalan pelan.


"Bu, tidak usah repot-repot. Kami ingin sekali bertemu dengan Pak Mustofa dan istrinya." Jujur saja, jantungku berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Pak sopir taksi itu berganti pakaian, aku dan Damar saling berpandangan. Pria paru baya itu menggandeng wanita tua.


"Beliau Ibuku, Ibu Mbak Ningsih juga." Ucapan yang ke luar dari mulutnya membuatku menganga lebar.


"Jadi, Bapak adiknya Ibu? Nenek ini, nenek ini nenek kandungku?" Air mata tak dapat dibendung lagi. Aku memeluk tubuh ringkih itu.


"Lho, dia siapa, Man? Kenapa dia memeluk Ibu?" Suara wanita tua ini membuatku semakin menangis sesenggukan.


"Mbah, aku Wulan—anak Ibu Ningsih." Aku mengurai sedikit pelukan, wanita tua ini seakan tak percaya.


"Ibumu masih hidup? Kenapa menyuruh anaknya yang ke sini?" Aku mendengar nada kecewa yang bercampur amarah.


Wanita tua ini duduk di kursi rotan yang dialasi bantal kecil. Beliau menatapku dan Damar bergantian.


"Mbah, Mbah Mustofa mana? Wulan ingin tahu tentang beliau, Wulan ingin memeluk beliau." Damar menyeka air mataku.


"Mbah, saya Damar tunangannya Wulan." Dia memperkenalkan diri, menyalami tangan Nenek.


"Man, bawa Bapakmu ke sini!" Suara itu membuatku merasa lega. Tatapannya menatap wajah kami berdua bergantian.


Alhamdulillah kakek nenekku masih hidup. Ibu pasti senang kalau tahu tentang orang tuanya yang baik-baik saja. Adik Ibu datang dengan seorang pria tua yang duduk di kursi roda. Dia mendorong kursi roda kemudian berhenti tepat di depan kami.


"Mbah Kakung kenapa, Om?" Aku berjongkok tepat di depan si Mbah. Aku memeluk beliau, Mbahku sadar, kelopak mata itu terbuka tapi tangan dan kakinya tidak bisa merespon gerakanku.


"Bapak terserang stroke sejak lima tahun terakhir. Jadi kondisinya beginilah sampai sekarang." Omku menjelaskan. Aku mengecup tangan keriputnya berkali-kali. Air mata kembali menetes.


"Mbah, ini Wulan cucu Mbah Kakung. Ibu Ningsih kangen sama Mbah." Kepalaku bersandar pada lututnya.


"Kalian berdua kenapa mencari kami?" Suara wanita tua itu sedikit lebih tinggi.


"Bu, Rahman dengar alasan mereka. Mereka tidak akan menikah kalau kalian tidak ditemukan dan bersedia hadir dalam acara mereka." Omku yang bernama Rahman itu menghampiri Nenek.


"Menikah? Kalian berdua mau menikah?" Nenek memastikan, aku mengangguk singkat.


"Mbah ikut kami ke Jakarta, ya? Atau nanti kami susul tiga hari sebelum resepsi." Aku menatapnya, senyum ini merekah sempurna. Bahagia rasanya melihat mereka yang selama ini aku tidak pernah tahu keberadaan mereka di mana.

__ADS_1


"Tidak usah menikah saja kalian kalau begitu. Mbah gak akan pergi ke resepsi kalian." Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Nenek membuatku tersentak.


"Mbah, apa yang Mbah katakan barusan?" Damar berusaha mengendalikan emosinya.


__ADS_2