
"TIDAAAKKK!" Aku dan Damar berteriak bersamaan.
"Diam! Tidak apanya? Sudah berduaan di kamar begini. Lihat penampilan kamu, Damar! Lihat juga baju yang Wulan pakai, robek begitu." Om Jaya semakin memojokkan kami.
"Pap, semua ini salah paham. Wulan cuma milih-milih baju yang mau dipake tidur." Damar membantah.
"Selena kan ada, kenapa gak minjem baju dia?" Tante Iren menimpali.
"Ukuran Wulan dengan Selena beda, Tante. Damar nawarin minjem bajunya, jadi, Wulan iyain ajah." Aku tak berani menatap bola mata mereka secara langsung.
Berbagai bantahan kami ucapkan, syukurlah mereka mulai percaya pada apa yang kami ucapkan.
"Kembali ke kamar masing-masing! Hari pertunangan di percepat minggu depan! Mam, siapkan acaranya. Papa serahkan ini pada Mama!" Om Jaya pergi meninggalkan kami.
"Pap, gak bisa gini dong!" Damar memekik memanggil sang Papi.
"Damar! Gak sopan teriak-teriak gitu sama orang tua! Kalian harus beristirahat! Bersiaplah satu minggu lagi, acara pertunangan kalian pasti akan seru dan meriah." Tante Iren meninggalkan kami dengan wajahnya yang berbinar-binar cerah.
"Sebentar lagi bisa gendong cucu dari Mutia dan Damar." Aku sempat mendengar perkataan Tante Iren ketika berjalan tadi. Lemas, lunglai sudah kaki ini seperti tak bertulang. Tidak ada jalan lain untuk membatalkan pesta pertunangan ini.
"Selamat Mas Damar, Kak Wulan. Gue yakin Elu pasti bahagia dapat cewek kayak Kak Wulan, dia orangnya sederhana Mas. Lihat saja, baju sobek begitu masih di pakai." Selena melambaikan tangannya pada kami berdua, dia tertawa jahat, tawa licik seperti mengejek.
Aku menyambar baju dan celana pendek asal. Tak bicara sepatah kata pun, mata ini melotot pada Damar dan melangkah pergi meninggalkan Damar.
Aku frustasi menghadapi semua ini. Besok harus bekerja lagi, lusa menghadiri acara wisuda Damar, kapan aku pergi bekerja kalau begitu? Buncit pasti mengamuk dan memberikan SP padaku kalau terlalu sering bolos. Ini semua karena keluarga ini.
Aku masuk ke dalam kamar tamu, mencuci muka, berganti baju kemudian merebahkan diri. Berhenti melupakan sejenak keputusan mendadak dan sepihak dari keluarga ini. Mata terpejam, aku mulai tertidur pulas.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, aku tidak diperbolehkan pulang dan bekerja. Setelah sarapan Tante Iren ingin mengajakku untuk fitting test kebaya yang tepat untuk acara pertunangan minggu depan. Kepala ini berkecamuk, bingung harus berbuat apa. Ingin rasanya kabur dari acara itu, tapi, orang tuaku pasti malu pada keluarga besar ini dan para tamu undangan. Aku harus apa? Kenapa keluarga ini selalu saja membuatku kerepotan? Aku menghela napas berkali-kali.
"Wulan, ayo ngobrol di ruang tengah!" Tante Iren memecah lamunanku.
"Maaf, Tan. Wulan mau ke toilet sebentar." Aku meninggalkan meja makan dengan cepat. Mereka suka sekali mengobrol di meja makan setelah sarapan selesai.
Aku hanya beralasan saja, kuambil barang-barangku, memesan ojek online kemudian melihat situasi di depan kamar.
"Alhamdulillah, sepi. Aku bisa pulang sekarang." Aku mengendap-endap mendekati pintu utama. Dengan cepat kaki ini bergegas ke halaman rumah.
"Non Wulan, kenapa di sini? Semua orang ada di dalam, Non." Pak penjaga ini memergoki aku yang melangkah terburu-buru.
"Ada paketan barang saya yang datang, Pak. Boleh tolong buka pintunya? Kurirnya sampai dua menit lagi."
"Bapak bisa tutup pagarnya lagi! Kurirnya barusan kirim pesan kalau paketnya telat lima menit."
"Gak apa, Non. Bapak bisa tungguin." Aku tersenyum kikuk. Barangku yang satu tas belanjaan, aku pegang di balik punggung.
Kenapa Bapak ini masih di situ sih? Mana ojek bentar lagi datang.
Aha, sebuah ide melintas di kepala. Aku berpura-pura menelpon.
"Oh iya, Pak. Ada apa? Di depan kompleks? Gak boleh masuk ya?" Sengaja aku mengeraskan suara.
"Yah, ya sudah kalau begitu, saya ke sana, Pak." Aku mengantongi hape di kantong celana pendek milik Damar.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Pak. Mau ke depan ambil paketnya." Setengah berlari aku meninggalkan rumah Damar.
"WULAAAN!" Telinga ini mendengar teriakan Tante Iren.
"Aku ketahuan." Tepat di depan sana, ojek online yang aku pesan sudah tiba, kulihat nomor plat kendaraan yang sama.
"Pak, saya yang pesan." Aku segera naik di jok belakang tanpa ba-bi-bu.
"Langsung tancap, Pak! Helemnya bisa dipake nanti, saya buru-buru." Pak ojek ini segera melajukan motornya. Kepalaku menoleh ke belakang sana. Tak terlihat tanda-tanda keberadaan Tante Iren atau pun penjaga rumah. Aku bernapas lega karena sudah menjauh dari rumah keluarga itu.
Selang beberapa menit kemudian, aku tiba di kost-an. Mandi ulang karena keringat bercucuran. Segera aku memakai seragam kerja dan jaket untuk menutupi seragam bagian atas. Kali ini terpaksa aku menggunakan jasa ojek online lagi karena waktunya mepet.
Setibanya di tempat kerja, aku segera masuk ke ruang loker, meletakkan tas yang kubawa. Hape dimatikan karena tiga menit lagi kami sudah bersiap-siap untuk membersihkan tempat ini sebelum di buka. Rutinitas kerja seperti ini mungkin membuat jenuh bagi sebagian orang. Tapi, aku menyukainya karena aku mendapatkan gaji yang sesuai dengan tenaga yang aku keluarkan.
Kami berbasa-basi sebentar antar karyawan. Mereka tidak mengungkit kenapa aku tidak bekerja di hari kemarin. Pasti rumor dari Riki itu sudah menyebar di tempat ini, rumor bahwa aku sepupu Damar. Ada dua orang yang tadinya cuek bebek, sekarang malah sering mengajakku ngobrol. Beberapa jam kemudian, kami bergantian beristirahat. Aku makan siang seperti biasa, makan dengan tenang.
"Wulan, kenapa gak ngajak kami? Kami penasaran kamu makan di mana. Ternyata di sini ya, sepupu bos makannya di tempat ini." Salah satu dari mereka duduk di samping bangku kayu panjang yang aku duduki.
"Makan di sini, enak, murah dan bersih. Lauk pauknya juga banyak, di tempat lain gak cocok sama lidahku."
"Oh, gitu ya. Ya udah deh, kita makan di sini juga." Mereka berdua memilih lauk pauk dan menemaniku makan siang. Aku tahu kalau mereka ada maunya, makanya bisa menempel begini padaku.
Kami bertiga selesai makan dan segera kembali ke coffe shop. Dalam perjalanan, mereka berdua berceloteh riang membicarakan Damar, rasanya malas sekali telinga ini mendengar ocehan mereka.
"Lan, kalau kamu main ke rumah Pak Damar, ajak-ajak kita, dong!" Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk.
Salah satu dari mereka membuka pintu coffe shop, Aku terperanjat melihat ada seseorang yang berkacak pinggang di sana. Tatapannya seperti ingin memakanku hidup-hidup. Aku berdiri, tak bergeming sedikit pun.
__ADS_1
"Jadi begini ya kelakuan kamu. Licik juga kamu." Orang itu membuatku menulan ludah dengan beratnya.