
Aku tidak mengerti kenapa Papi ada di sini. Biasanya beliau melimpahkan tanggung jawab pada Mami ketika ada orang sakit di rumah ini. Beliau mendekati aku yang duduk di pinggiran ranjang.
"Gak ada apa-apa, Om. Kita cuma ngomongin tentang kerjaan." Gadis itu berusaha tersenyum tulus.
"Tadi, Om dengar ada kata curiga gitu."
"Owh, itu cuma biar orang dikerjaan gak tahu kalau Wulan pindah tempat kerja." Karena Wulan sudah menjawab, aku bungkam.
"Oh iya, Pap. Kenapa Papi ke sini? Tumben main nyelonong masuk." Keningku mengernyit heran.
"Papi mau lihat kalian berdua lagi ngapain. Kalau sampai macam-macam sebelum pernikahan, awas saja."
"Suudzon amat, Pap. Kita gak bakalan kek gitu." Aku menegaskan.
"Om, kita itu palingan pegangan tangan. Itu ajah bukan pegangan tangan dalam arti sebenarnya, tarikan sih lebih tepatnya." Wulan menambahkan.
"Siapa bilang cuma pegangan tangan doang? Kita sudah bercc-," sengaja aku tidak meneruskan ucapan. Aku ingin melihat reaksi Wulan.
"Maksud kamu apaan, Mar? Jangan ngada-ngada!" Dia meninju dadaku.
"Gak usah dengerin Damar, Om. Dia itu bohong." Wulan merasa tak nyaman karena ada Papi diantara kami.
"Yah, Elu gak inget waktu di kamar hotel ya?" Sengaja aku ingin memancing reaksi Wulan.
"Damar, Wulan, kalian berdua sudah pernah tidur di hotel? Tidur bareng?" Papi seperti kebakaran jenggot.
"Hahah, santai saja, Pap. Papi percaya sama Damar, kan?"
"Gak usah dengerin Damar, Om. Dia itu kalau bercanda suka kelewatan." Wulan melempar bantal tepat mengenai wajahku. Aku tidak sempat mengelak.
"Kalian berdua bikin Papi jantungan saja. Coba Mami kalian denger bercandaan tadi, pasti dia udah pingsan. Papi ingatkan, gak boleh lama-lama berduaan di kamar!" Pria pemilik rumah ini pergi meninggalkan kami berdua di dalam kamar. Pintu dibiarkan terbuka lebar.
"Damar, kamu tuh ada gila-gilanya ya. Kalau Om Purnomo tahu, kita bisa cepat dinikahi sebelum menjalankan rencana itu." Wajahnya berubah geram.
"Tenang saja! Mereka gak akan senekat itu, butuh waktu untuk menyiapkan acara pernikahan. Gak mungkin buru-buru." Aku yang sudah paham bagaimana watak Mami, sudah bisa memprediksi sejak awal.
"Oh iya, aku lupa mau nanya hal yang penting." Wulan tampak ragu.
"Nanya apa?"
"Eum, begini ... tentang teman-temanmu."
"Memangnya ada apa dengan teman-temanku?" telisikku.
__ADS_1
"Gimana ya, eum ... mereka itu gak kamu undang ke pesta pertunangan, kan?" Gadis ini menggigit bibir bawahnya. Aku menggeleng cepat.
"Ngapain ngundang mereka? Yang ada malah diejek terus-terusan karena hari gini dijodohin." Pertanyaannya menyebalkan.
"Syukurlah," sahutnya menghela napas lega.
"Dahlah, gue mau naik ke kamar. Nanti gue panggil Bibi biar dia bawa tuh piring dan gelas kotor ke dapur." Wulan mengangguk singkat.
"Damar, yang tadi kamu bilang, itu gak bener, kan?" Aku berbalik arah, menatapnya bingung.
"Memangnya apa yang gue bilang tadi?" Aku belum paham arah pertanyaannya.
"Itu, di kamar hotel yang kita berdua sudah-," kepalanya menunduk dalam, sesekali melirikku.
"Kalau kita sudah ciuman, itu maksud Elu, kan?" Dia mengangguk lemah.
"Elu inget-inget aja sendiri! Lagipula yang nyium bukan gue gini."
"Damar, apa maksudmu? Aku gak mungkin seberani itu." Dia menjerit tak terima.
Aku menghampirinya, menyentil keningnya cepat.
"Sakit, peak." Dia berhasil menangkap lenganku dan mencubitnya.
Kepalaku menunduk, menatapnya tajam. Pandangan kami bertemu.
"Coba Elu inget lagi tentang malam itu, waktu Elu mabuk ngapain ajah?" Bola mata Wulan bergerak ke sana kemari, mungkin dia berusaha mengingat kembali kejadian itu.
Kepalanya menggeleng cepat beberapa menit berselang.
"Gak, aku gak inget apa-apa. Kamu pasti bohong."
"Gue tahu rasanya ini, dan apa yang ada di dalamnya." Aku menyentuh bibirnya yang lembut dan kenyal.
"Damar, gak usah ngomong yang aneh-aneh!" Dia mendorong tubuhku kasar.
"Ibu." Wulan menjerit, tatapannya melihat sosok yang ada di ambang pintu.
"Ibu, sejak tadi ada di sana?" tanyanya cemas. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Ibu dan Bapak baru saja mau masuk, memangnya kenapa?" Bapak melenggang masuk begitu saja. Gadis itu bernapas lega.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Ibu khawatir karena tadi kamu mendadak pingsan." Ibu menghampiri Wulan kemudian memeluknya erat.
__ADS_1
Aku melirik pada Wulan, meletakkan telunjuk di bibir. Aku tidak mau dia mengungkit tentang masa lalu kami berdua agar mereka melupakannya seolah hal tadi tidak kami ketahui.
"Bu, Pak, Damar ke luar dulu." Aku bergegas melangkah pergi tanpa menoleh ke arah mereka lagi.
Aku ingin tahu, rahasia apa yang disembunyikan oleh kedua orang tua kami? Kenapa aku dan Wulan sama-sama tidak tahu tentang masa lalu kami ketika duduk di bangku sekolah dasar? Kalau Selena, mungkin saja tidak ingat karena dia lebih muda dari kami pada waktu itu.
"Astaga, gue lupa. Kak Mutia pasti ingat sesuatu. Damar, ogeb amat ya. Kak Mutia umurnya lebih tua tiga tahunan, pasti dia ingat tentang masa kecil kita," lirihku seorang diri.
Kakiku urung menapaki anak tangga. Aku ingin mengobrol dengan Wulan lagi. Aku harus menyampaikannya sebelum acara pertunangan besok.
Aku mengetuk pintu, pundakku lemas karena yang membukanya adalah Pak Ramli.
"Ada perlu apa, Damar?"
"Wulan, Pak. Mau ngobrol bentar, ada yang terlupa tadi."
"Sayang sekali, dia sudah tidur tuh. Baru ajah mereka pelukan tidurnya." Lampu kamar remang-remang, ada dua tubuh saling berpelukan di atas ranjang.
Sudah gede, masih ajah pelukan sama emaknya.
"Ya sudah, Pak. Maaf mengganggu." Aku bergegas kembali ke kamar, mencari keberadaan hape. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih dua puluh menit. Sebaiknya aku menghubungi Kak Mutiara sekarang, aku yakin dia belum tidur.
"Jawab dong, Kak!" Aku tidak sabar menunggu.
Setelah tiga kali panggilan, barulah ada suara di balik sana. Tapi, suara itu membuatku lemas karena Bang Kelvin yang menjawab.
"Ada hal penting apa, Mar?"
"Kak Muti mana, Mas?"
"Kakak Elu udah tidur, dia muntah-muntah sejak pagi tadi. Badannya lemes, semoga besok kita bisa pergi ke acara pertunangan kalian." Aku tidak menghiraukan tentang acara itu, yang aku ingin tahu sekarang tentang kenangan kami.
"Sakit apa Kak Muti?"
"Belum tahu, dia gak mau periksa. Katanya sih masuk angin biasa."
"Ya sudah, Mas. Semoga Kak Mutia baik-baik saja, udah dulu." Panggilan telepon terputus.
Aku meletakkan hape di atas nakas, aku pikir bisa menanyakan hal itu pada Kak Mutia. Pikiranku tidak fokus, aku hanya ingin mencari tahu tentang kenangan itu untuk saat ini.
Blaaamm
Daun pintu kamar mendadak tertutup, ada derap langkah yang terdengar di telinga. Aku segera melihat siapa yang menguping pembicaraan tadi.
__ADS_1
"Selena!" panggilku seraya membuka pintu. Tak ada siapa pun di sini. Aku melihat anak tangga, mana tahu ada yang usil atau apa. Aku mengendap-endap, melihat sosok yang menuruni anak tangga dengan tergesa.