
"Satu nota puluhan juta, ada lima nota yang berceceran tadi." Aku tidak berani menatap bola mata Damar.
"Damar, sampai kapan kamu boros seperti ini?" Om Purnomo menghampiri anaknya dengan berkacak pinggang.
"Lama gak beli baju, Pap. Sekali-kali aja." Pria itu melirikku sekilas.
"Tuh, Mami denger sendiri, kan kalau Mas Damar tuh rela ngabisin duit 50 juta lebih hanya untuk bersenang-senang." Setelah mengucapkan itu pada Tante Iren, Selena pergi dari kamar ini.
"Jatah dari Papi, cuma tiga puluh juta sebulan. Kamu buat belanja sehari malah kurang tuh duit." Tante Iren menjewer telinga anaknya.
"Gak tiap hari, Mam. Kalau lagi suntuk baru deh belanja." Nada suaranya tidak lantang seperti tadi.
"Setelah kalian berdua resmi menikah, gak ada lagi jatah duit. Kamu kembangin bisnis coffe shop itu tanpa bantuan dana sepeser pun dari Papi, ingat itu!" Om Purnomo segera pergi dari kamar ini.
"Pap, masa gitu. Gaji asdos mana cukup untuk bersenang-senang." Dia terlihat jengkel.
Plaaakkk
Kali ini tangan Tante Iren memukul punggung anaknya geram.
"Syukur, kamu harus tahu rasanya berhemat seperti apa. Anak-anak Mami yang cewek malah biasa ajah mereka, kamu—anak lelaki satu-satu malah borosnya naudzubillah. Mau jadi kepala rumah tangga macam apa kamu, kalau begini, huh?"
"Damar juga butuh barang itu, Mam. Gak asal beli, toh barangnya di pake bukan buat pajangan."
"Kamu harus belajar sama Wulan! Belajar berhemat, Mami lihat dia orangnya sederhana, mengirimkan gajinya untuk orang tuanya. Membeli barang seadanya. Kamu harus belajar sederhana, gak usah beli barang-barang lagi!" Tante Iren masih menasehati anaknya.
"Dia itu kere, Mam, bukan hemat. Coba ajah dia banyak duit, pasti dia boros gak ketulungan karena belum pernah pegang duit sebanyak itu."
Tante Iren membandingkan sifat kami berdua yang bertolak belakang. Aku berhemat memang karena harus membiayai kebutuhan orang tua di kampung. Sampai sekarang pun, aku masih berusaha mengumpulkan uang, entah kenapa malah mereka tidak memperbolehkan aku bekerja di coffe shop.
"Mami yakin padanya, dia tidak akan menghabiskan uang untuk berfoya-foya. Kamu tahu sendiri, waktu Mami membelikan dia gaun, dia malah meninggalkannya begitu saja." Aku harus menyela perdebatan sengit Ibu dan anak ini, kalau tidak, mereka akan berdebat sampai besok pagi. Benar tebakanku selama ini, mereka berdua itu sama. Sama-sama tidak mau mengalah.
"Tante, Wulan pusing, mau beristirahat." Aku berpura-pura memijit pelipis.
"Pusing? Minum obat dulu, ya! Setelah itu langsung tidur." Wajah wanita berusia paru baya ini begitu cemas.
"Damar, ambilin obatnya!"
"Damar ngantuk, Mam. Mau kembali ke kamar. Nanti Damar suruh Bibi ajah yang ambilin obatnya." Damar melangkah pergi.
"Ck, itu anak alasannya adaaa ajah." Tante Iren menggeleng beberapa kali.
__ADS_1
"Kamu tiduran saja dulu! Gak usah syok melihat nominal nota tadi, gak usah dipikirin!" seru Ibunya Damar. Aku mengangguk singkat.
Cup
Suara kecupan di kening membuatku terperangah.
"Selamat malam, Wulan." Baru kali ini aku mendapatkan perhatian seperti ini.
"Malem, Tante." Perhatianku mengikuti langkah beliau sampai punggung itu tidak terlihat lagi. Sejak aku dewasa, kedua orang tuaku pun tidak pernah mengecup keningku. Tapi, Tante Iren malah mengecupnya santai. Perhatian beliau sungguh besar padaku.
Pintu yang setengah terbuka membuat wanita itu tergopoh menghampiri.
"Non, maaf lama. Ini obatnya sudah Bibi siapkan, silakan diminum!"
"Taruh saja di sana, Bi!" Tunjukku mengarah pada atas nakas. Beliau permisi kemudian meninggalkan kamar ini, tak lupa menutup pintu kamar.
Aku bangkit dari tempat tidur, napasku sudah normal sejak tadi setelah berhasil menenangkan diri. Kuambil dua obat itu, membuka bungkusannya kemudian membuangnya di toilet. Air minumnya pun demikian. Itu hanya alasan saja, kalau esok mereka menemukan obatnya masih ada, tentu saja kebohonganku akan terbongkar.
Baru saja aku hendak berbaring, suara dering hape membuat perhatianku teralihkan. Bergegas aku menjawabnya.
"Iya, Bu. Kenapa?"
"Ibu tuh nungguin telpon dari kamu sejak tadi."
"Piye to Nduk (Gimana sih, Nak) Ibu dan Bapak besok ke Jakarta lagi, persiapan acara tunangan kalian. Masa iya kamu gak nelpon entah mau jemput atau gimana." Suara beliau ngegas karena aku cuekin.
"Ibu bilang udah dapat ongkos dari Tante Iren, kenapa masih nagih Wulan jemput segala? Pake taksi ajah ke sini, Bu." Sengaja aku tidak menghiraukan mereka berdua karena keinginanku diabaikan begitu saja.
"Wulan, kami tega biarin Ibu dan Bapak naik taksi dari stasiun?"
"Lha, mau gimana lagi, Bu? Naik taksi kan bagus, gak kepanasan, gak kehujanan. Udah ya, Wulan mau tidur, udah ngantuk." Belum sempat aku memutuskan panggilan, Ibu memekik keras.
"Tunggu dulu!" Kepalaku menjauh dari benda pipih itu.
"Ck, apa lagi, Bu?" tanyaku kesal.
"Wulan, sejak kapan kamu suka membangkang begini? Sampe berdecak segala."
"Ibu mau tahu sejak kapan? Ya, sejak Ibu dan Bapak menjodohkan Wulan dengan Damar," sahutku tak kalah ketus. Baru kali ini aku bernada tinggi pada beliau. Ini semua karena aku selalu menahan amarah yang tak kunjung reda karena dijodohkan. Hari-hari yang kujalani setelah mengenal keluarga Damar, membuatku semakin tertekan. Tak bisa memutuskan keputusan apa yang akan kujalani, mereka semua yang mengaturnya.
"Wulan, jangan buat Ibumu murka, Nduk! Ini semua karena kebaikan kamu, Nduk." Kali ini suara Bapak yang terdengar.
__ADS_1
"Kasih tahu dia biar sopan sama orang tua, Pak!" hardik Ibu kasar. Aku bisa mendengarnya.
"Sudah, Bu." Suara Bapak mencoba untuk menenangkan Ibu.
"Pak, Wulan sudah mengantuk. Besok tidak perlu ke kost-an, naik taksi langsung ke rumah Tante Iren saja, udah dulu ya, Pak." Aku segera memutuskan panggilan telepon. Menonaktifkan jaringan hape agar tidak diteror mereka lagi. Saking mengantuknya, aku sudah tak sadar lagi.
***
Pagi setelah sarapan.
Aku dan Tante Iren pergi ke kost-an diantar Pak sopir yang namanya Pak Dadang. Damar harus mengajar di kampusnya, jadi, dia tidak bisa mengantar kami.
Sesampainya di kost-an, aku memasukkan semua bajuku ke dalam koper besar yang kupunya.
"Wulan, itu baju-baju kamu? Kaos, jaket, kemeja? Kamu ini cowok apa cewek?" Tante Iren memungut bajuku yang kuletakkan di atas lantai beralaskan tikar pandan.
"Tante, Wulan suka kok make baju begini. Simpel banget, gak ribet. Tinggal make celana jeans udah deh." Aku memang jarang memakai rok, gaun atau sejenisnya yang harus dipadukan dengan atasan yang feminim.
"Gak bisa gitu dong. Mutiara anak Mami tuh cantik make rok dan gaun, baju blusnya juga banyak. Kamu beli yang begitu ajah."
"Males, Tan. Ini semua masih bagus. Belum tiga tahunan."
"APA?" pekikan Tante Iren membuatku menutup kedua daun telinga.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian kami, aku membukanya setelah mendengar suara yang memanggil.
"Ada apa, Pak?" tanyaku pada Pak penjaga kost.
"Ada tamu, Neng. Ditungguin di depan."
"Siapa?"
"Cowok, Neng."
"Namanya siapa, Pak?"
"Bapak gak tahu Neng, coba dicek saja!" Bapak penjaga berlalu pergi.
"Siapa, Lan? Cowok katanya, kamu kenal sama pria siapa ajah?"
"Gak tahu siapa, Tan. Mungkin bukan Wulan yang dicari. Wulan ke depan dulu, Tan." Aku pergi meninggalkan Tante Iren sendiri di kamar.
__ADS_1
Kaki melangkah cepat, bergegas ke pintu pagar. Ada sosok pria yang kukenal melambaikan tangannya setelah melihatku.
"Ngapain dia si sini?" Aku gelisah sembari melirik pintu kamar kost.