
"Iya, Pak. Saya menjadi asdos di sini sudah bertahan selama satu setengah tahun, Pak," jawabku mantap.
"Hem, baiklah kalau begitu, mulai semester depan, Anda bisa menjadi asisten dosen pembimbing untuk tahun ajaran ini yang akan mengerjakan skripsinya. Anda bisa menghubungi Pak Nandar untuk membahas ini lebih jauh." Aku melongo tak percaya mendengar ucapan Pak Tri.
"Benarkah, Pak?" Beliau mengangguk singkat.
"Kami juga sudah berdiskusi dengan Rektor mengenai hal ini. Beberapa bulan ke depan, kamu sudah bisa melamar menjadi dosen di sini setelah proses menjadi dosen pembimbing selesai." Ucapan Pak Tri membuatku takjub seakan tak percaya. Setidaknya ada harapan yang lebih besar untuk diterima karena para petinggi universitas ini tahu sepak terjangku selama di sini.
"Terima kasih banyak atas kesempatan yang sudah diberikan, Pak. Dengan senang hati saya akan melaksanakan tugas ini." Senyum tersungging.
"Cukup ini saja yang ingin saya sampaikan."
"Baik, Pak. Saya permisi." Aku beranjak dari tempat duduk.
Tak henti-hentinya aku tersenyum lebar, rasanya jerih payah selama ini bertahan dan berjuang lebih keras tidak sia-sia. Impianku pun, satu persatu akan segera terwujud. Dukungan dan Mami dan Papi juga ternyata berdampak besar, sempat aku tidak mau melanjutkan ke pendidikan pasca sarjana. Alhamdulillah kini, gelar sebagai Strata 2 bisa aku capai dan sebentar lagi menuju pencapaian menjadi dosen.
Aku kembali ke kelas, para mahasiswa sudah duduk dengan nyaman, ada juga yang berkelompok dan bergosip ria.
"Ehem," dehemanku membuat aktivitas mereka terhenti. Ada yang kembali ke tempat duduknya masing-masing. Aku memulai mata kuliah hari ini.
Saatnya pulang, matahari sudah terik, cahayanya membuat mata ini silau. Dengan cepat aku kembali ke pelataran parkir kampus. Baru saja membuka pintu mobil, ada tangan yang mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat.
Perhatian teralihkan, aku menatapnya malas. Malas cari ribut karena hari ini adalah hari kebahagiaanku.
"Elu pura-pura gak lihat gue, ya?" Cengkramannya masih sama, tidak berpindah tempat bahkan terlepas.
"Gue males ribut, Elu pulang ajah sana! Lagian Elu udah lama lulus dari kampus ini, ngapain selalu ke sini?" Tatapan mata ini menatapnya nyalang.
"Gue ke sini tentu saja mau menjemput kekasih gue yang bernama Lusi."
"Owh, silakan. Kenapa malah tangan gue diginiin?" Kutahan emosi agar bisa terkendali.
"Elu ngapain di sini? Pake ngobrol sama Lusi segala, tadi. Kalian berdua janjian ya?!" Dia menggeram, giginya bergemeletuk.
__ADS_1
"Gue di sini sebagai asdos, Elu tuh yang seharusnya gak ada di sini."
"Gue tanya, kenapa tadi kalian berjalan berduaan? Ngomongin apa?"
"Zayn!" Suara Lusi terdengar.
Pria itu menoleh mencari asal suara. Lusi tergopoh menghampiri kami. Napasnya memburu, dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Zayn.
"Kita pulang sekarang! Kita bahas ini di luar." Lusi masih berusaha.
"Apalagi yang mau dibahas? Seharusnya Elu kasih penjelasan sama dia kalau kita itu masih pacaran, Elu juga gatel jadi cewek." Zayn menjambak rambut Lusi.
"Zayn, hentikan!" Aku menolong Lusi. Kepalanya sempat mendongak saking kuatnya jambakan Zayn.
"Zayn, ini gak ada hubungannya dengan Damar. Kami hanya berteman, itu saja." Lusi berontak, meronta dari jambakan Zayn.
"Alah, Elu pasti bohong! Elu tukang selingkuh."
"Hentikan kalian semua!" Ada dua pihak keamanan yang menghampiri kami.
Coba mereka gak dateng, gue hajar juga nih lakik banc1, bisa-bisanya nyiksa perempuan.
"Ngapain jam selalu di sini? Kalau menunggu orang, kamu harus duduk dengan tenang di pos jaga." Tangan salah satu pak penjaga menarik lengan Zayn.
"Lepasin gak? Gue ke sini mau jemput dia."
"Ya udah, pulang sana! Jangan membuat keributan di sini!" Salah satunya berkacak pinggang sambil melotot pada Zayn.
"Udah, ayo kita pulang! Gak usah ribut-ribut, malu dilihat orang-orang."Lusi berusaha menenangkan Zayn. Pria itu ditariknya menjauh dari kami.
"Damar gak apa-apa? Ada yang luka?"
"Saya tidak apa-apa, Pak. Makasih karena sudah membantu."
__ADS_1
"Sebenarnya kami tidak membantu Damar, tapi, kami membantu dia itu biar gak masuk RS." Mereka berdua terkekeh geli.
Aku tertawa kecil mendengar perkataan dua orang itu. Wajar saja mereka hapal dengan sifatku, karena kami saling mengenal sudah hampir tujuh tahun.
"Saya harus pulang, Pak. Ada pekerjaan lain." Aku tersenyum tipis.
"Silakan, orang sibuk mah seperti itu."
"Bapak bisa saja." Aku kembali masuk ke dalam mobil. Mengendarai mobil ke luar dari pelataran parkir kampus.
"Lusi, Lusi ... katanya putus malah masih saja pacaran sama lakik ringan tangan itu," gumamku.
Lusi sering mendapat perlakuan kasar dari Zayn, hubungan mereka berdua putus nyambung selama setahun terakhir. Entah apa yang ada di benak perempuan itu, sering mendapat kekerasan tapi selalu berharap Zayn dapat berubah nantinya. Entah sampai kapan harapan itu akan terwujud karena emosi Zayn masih meledak-ledak sampai sekarang. Buat apa bertahan dengan hubungan toxic seperti itu.
Aku kembali melanjutkan perjalanan menuju coffee shop baru. Banyak banner yang sudah tersebar di sepanjang jalan. Semoga cabang baru ini bisa lebih lagi omsetnya dari yang pertama.
"Yang merintis Kak Mutia, yang dapat hasilnya malah gue," lirihku menghentikan kendaraan.
Aku melakukan pengecekan, sehari sebelum acara tunangan, aku harus beristirahat, sudah dikasih peringatan oleh Mami. Jadi, sekarang ini aku hanya bisa mampir sebentar.
Kami mengobrol dengan asyik, perut terasa lapar karena memang aku belum makan siang. Aku pamit pada mereka, menyerahkan pada Ridwan. Selang beberapa menit kemudian, aku berhenti tepat di depan rumah makan sederhana. Tampak sedikit pelanggan yang makan di tempat ini, atau bisa saja karena jam makan siang sudah lewat. Aku memilih menu yang disuka, memakannya dengan lahap.
Beberapa menit kemudian, aku kembali melanjutkan perjalanan pulang. Rasanya badan sudah lengket, mau disiram air. Malasnya pulang karena harus berpapasan dengan mereka lagi.
Akhirnya aku tiba di depan rumah, masuk ketika pintu pagar dibuka. Kuhentikan kendaraan ini tepat di depan teras rumah, karena malam ini aku harus pergi sebentar mengecek coffe shop yang lama. Sudah lama aku tidak ke sana, sekalian memantau pelayanan di sana dari jauh.
Ada beberapa kendaraan yang tidak aku kenal berada di halaman rumah.
"Tumben banget ada tamu jam segini." Kulihat layar hape, jam digital menunjukkan angka tiga lebih empat puluh dua menit.
Aku mengucapkan salam, daripada harus kena teguran dari ibu negara lagi. Yang menjawab salamku begitu banyak, mereka semua menatapku lekat.
"Mami, siapa mereka?" Tak ada Wulan dan keluarganya yang terlihat. Mereka ada di mana?
__ADS_1