Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pembukaan Cabang Baru


__ADS_3

Manager dari tempat yang lama datang berkunjung. Waktunya sungguh tidak tepat. Dengan kesal aku ke luar mobil. Bersedekap pada si perut buncit.


"Ada apa, Pak? Kapan sampainya?" Wajahku datar tanpa ekspresi.


"Baru saja saya sampai, Pak. Saya membawa Riki dan Lena, mereka harus membantu cabang baru selama seminggu, kan?" Pria itu tersenyum tipis.


"Eum, masuklah dahulu! Setelah pembukaan dan memotong pita, Bapak boleh pergi." Dia ini, terlihat sekali ingin merasakan kembali bagaimana enaknya grand opening, makan-makan antar karyawan sebelum coffe shop dibuka. Ya, aku melakukan itu agar tenaga mereka prima.


Aku masuk ke dalam coffee shop, pria itu berjalan di belakang. Kami berdua di sapa oleh karyawan yang ada di sini termasuk Wulan. Tunanganku itu sudah berganti pakaian.


Semua bersiap dengan tugasnya masing-masing. Setelah hampir satu jam berlalu, aku memanggil mereka untuk berdoa bersama. Setelah berdoa, kami makan bersama dalam satu meja, pihak catering yang Mami pesan sudah tiba dan siap menyajikannya. Dua meja didempetkan. Total ada dua belas karyawan termasuk si buncit. Hari ini mereka semua bekerja full time, besok barulah ada pembagian sif.


"Silakan, selamat menikmati." Mereka semua bergantian memilih menu di meja prasmanan.


Aku menghampiri Wulan, dia tampak sibuk memilih makanan apa yang hendak dimakan.


"Lan, ambilin buatku! Terus, nanti suapin ya." Entah kenapa berada di dekatnya membuatku manja. Aku ingin sekali dimanja perempuan ini.


"Dih, males, makan ajah sendiri! Aku mau kerja setelah ini. Kamu mau semua orang protes karena kinerjaku gak becus?" Dia ngedumel sambil memasukkan beberapa lauk pauk ke atas nasinya.


Dia mengacuhkan aku, duduk berbaur dengan karyawan lainnya. Kulihat sekilas Riki yang menatapku, kami beradu sepersekian detik. Kepala pria itu sontak melengos berpura-pura sibuk dengan makanannya.


"Ck, nih orang kayaknya mikir yang enggak-enggak." Aku meninggalkan mereka yang berkutat dengan makanannya.


"Pak Damar, silakan dimakan." Karyawan yang aku kenal bernama Lena menyodorkan piring yang dipenuhi beberapa lauk pauk.Aku menolaknya.


"Kamu makan saja! Lagi males sarapan." Aku meninggalkannya seorang diri.


Kaki ini pergi ke sebuah ruangan kecil yang khusus disediakan untukku. Ada sepasang meja kursi sebagai tempatku duduk dan bekerja. Ada satu sofa tunggal dan sofa panjang yang dekat dengan pintu masuk. Lemari—lebih tepatnya rak buku dan hiasan menempel di dinding. Ada satu lagi yang membuatku tak menyangka. Di sebelah kamar mandi ternyata ada pintu masuk ke sebuah kamar istirahat. Ada satu ranjang khusus untuk satu orang.


"Wah, ternyata mereka tahu apa yang gue inginkan. Lumayan untuk beristirahat." Senyum ini merekah sempurna.


Tok, tok


Suara itu membuat perhatianku teralihkan. "Siapa di sana?" tanyaku tanpa membuka pintu.


"Damar, ini aku." Suara itu, dengan cepat aku membuka pintu. Menarik tangannya dan mengungkungnya di dinding.


"Damar, ini tempat kerja. Jangan begini!" Dia berontak melepaskan diri.

__ADS_1


"Piringnya nanti jatuh." Tangan kanannya masih memegang piring yang berisi makanan.


"Ngapain bawa piring ke sini?" Kedua alisku bertaut.


"Buat sarapan kamu."


"Yasudah, letakkan di atas meja dulu!" Aku membiarkan dia terlepas dari kungkungan.


Wulan meletakkan piring itu tepat di atas meja. Dia kembali menghampiriku.


"Makan tuh sarapannya! Udah hampir jam sembilan, coffee shop udah mau buka." Tangannya sibuk membuka gagang pintu dari dalam.


Dengan cepat aku menghalanginya, mengunci pintu dari dalam dan segera mencabut anak kunci dari tempatnya.


"Damar, aku mau bantu-bantu yang lain. Buka gak?" Dia mendorong tubuhku.


"Gak boleh ke mana-mana dulu, sini duduk di sofa dulu. Kita lanjutkan yang di mobil tadi." Mendengar ucapanku dia bergegas menjauh.


"Wulan." Aku menghardiknya.


"Gak mau, kamu tuh ya. Ini tempat kerja, kalau ada karyawanmu lainnya yang melihat, bagaimana? Mereka bisa salah paham tentang kita."


"Alah, gampang saja, kamu itu tunanganku. Tinggal tunjukkan saja cincin tunangan itu." Aku tidak peduli pada ucapannya.


"Kamu gak usah khawatir! Jangan terlalu over thinking, semua cewek-cewek di muka bumi ini selalu saja over thinking, kayak kamu itu." Aku menarik tubuhnya.


Kudekap dia dengan erat, embusan napasnya terasa menggelitik di ceruk leher. Wangi tubuhnya seperti wangi vanilla yang manis. Aku menyukainya, ingin rasanya aku menjilati wangi manis itu.


"Kamu make parfum apa, Lan?"


"Memangnya kenapa?" Syukurlah dia tidak berontak ketika kuperlakukan seperti ini.


"Aku suka, manis seperti vanilla." Pelukanku merenggang. Kepalaku menunduk, menatap matanya yang bulat.


"Damar," panggilnya lirih.


"Bisa gak sih kalau gak manggil nama?" Aku ingin dia memanggilku dengan sebutan yang lebih baik dari nama.


"Memangnya manggil apa?" Kepalanya mendongak, kami berdua saling menatap.

__ADS_1


"Panggil Mas Damar, panggil Mas atau ayang juga boleh." Senyumku sumringah.


"Dih, lebai banget. Gak mau ah kalau harus manggil ayang." Dia memukul dadaku.


"Panggil Mas ajah kalau begitu." Aku mulai mengelus rambutnya yang masih terurai.


"Eum, gimana ya." Dia menampakkan raut wajahnya yang seperti kebingungan.


Dengan gesit aku menempelkan bibirku pada bibirnya. Berusaha untuk mencari celah agar bisa masuk ke dalam mulutnya. Aku gemas melihatnya yang seperti ini, tidak bisa kuhindari lagi keinginan yang sejak tadi pagi ingin kulakukan.


"Heumpt." Dia berusaha melepaskan diri, tangannya menjambak rambutku dengan keras.


"Wulan." Terpaksa aku melepaskan pagutan ini. Dia seperti Wulan yang dulu, seorang perempuan yang bar-bar dan kuat.


"Sakit." Aku mengelus rambut bekas jambakannya.


"Lagian, ngapain sih nyium-nyium di tempat kerja? Kamu itu bukan seperti Damar yang aku kenal." Gadis itu menggoyang gagang pintu.


"Kalau pintunya gak dibuka juga, aku teriak nih."


"Eh, tunggu! Aku buka sekarang." Terpaksa aku mengabulkan keinginannya.


Perempuan itu membuka pintu dan segera pergi dari tempat ini.


"Dasar, tinggal dikit lagi padahal." Aku mencengkeram pinggirin sofa dengan kuat. Berusaha untuk menenangkan hasrat yang sejak beberapa hari ini tidak bisa dikontrol. Entah kenapa seringkali aku berdesir hebat ketika melihat Wulan, ini pasti karena ciumannya waktu di hotel dulu. Sebelum itu aku tidak pernah melakukannya dengan siapa pun. Dalam keadaan mabuk, Wulan malah menciumku dengan penuh gairah. Pria mana yang tidak bereaksi kalau disentuh seperti itu.


"Wulan." Aku mengacak-acak rambut. Berusaha menenangkan diri.


Suara ketukan pintu membuatku terbangun dari sofa.


"Pak, potong pitanya lima menit lagi. Keluarga Bapak sudah hadir di depan."


"Iya, aku segera ke sana." Aku merapikan penampilan, berjalan ke pelataran parkir karena di sanalah pemotongan pita akan dilaksanakan.


Ada Kak Mutia dan suaminya yang datang, setelah ada aba-aba dari pembawa acara, akhirnya pemotongan pita ini aku lakukan bersama Papi dan Mami. Pandanganku tetap tertuju pada Wulan yang sudah mengenakan topi dan celemek.


"Bagus, dengan begitu tidak akan ada pria yang mendekatimu," lirihku tersenyum tipis.


Selesai acara, pembukaan cabang coffee shop baru ini akhirnya dimulai. Ada beberapa pelanggan yang masuk dan memesan. Biasa, mereka tertarik karena ada promo pembelian. Kalau sudah tahu rasa racikan kopi dan beberapa snek pendamping, aku yakin mereka pasti kembali lagi untuk membeli.

__ADS_1


Keluargaku duduk di satu meja, mereka tampak sumringah menatap sekeliling yang sudah dipenuhi oleh pelanggan. Beberapa meja sudah terisi, hanya tersisa satu dua meja saja yang kosong. Aku memperhatikan Wulan, dia tengah meladeni seorang pelanggan.


"Sial, mereka sengaja membuat Wulan berlama-lama di sana." Bergegas kaki ini melangkah mendekati meja itu. Mata ini terbelalak melihat seorang pria yang kukenal. Tangan ini mengepal erat.


__ADS_2