
"Berhenti!" Pria yang bernama Robi itu setengah berlari—mengejarku. Ya, aku mengingatnya sekarang. Dia itu pacarnya Selena, atau mungkin saja sudah menjadi mantan pacar.
Tanpa mengindahkan panggilannya, kaki ini masuk ke dalam bangunan kost.
"Hei, kamu ... berhenti! Gue mau nanya sesuatu." Robi masih saja mengikuti.
"Aku gak tahu apa-apa," pekikku lantang.
Kaki ini melangkah ke pos jaga, sebaiknya aku ke sana untuk menghindari Robi berbuat hal yang tidak-tidak.
"Ada apa, Mbak Wulan?" Pak penjaga bertanya seraya mengernyit heran menatapku.
"Pria itu mengejarki, Pak. Aku tidak mengenalnya."
"Biar Bapak yang menghadapinya."
"Hei, sini kamu! Kita perlu ngomong bentar." Robi sudah berdiri di ambang pintu.
"Kamu sebaiknya tidak mengganggu tamu lain. Kalau ingin bertamu silakan, tapi, yang sopan. Perempuan ini tidak mengenalmu, bagaimana dia bisa mengobrol?" Aku bernapas lega karena ucapan Pak penjaga.
"Tapi, kita saling kenal, Pak. Aku hanya ingin bertanya sesuatu." Robi masih berusaha.
"Bohong, Pak! Aku tidak mengenalnya." Kutepis ucapannya.
"Lebih baik kamu lanjutkan saja urusanmu di kost-an ini! Bapak kasih waktu sepuluh menit dimulai dari sekarang!" tegas si Bapak.
"Ck, awas kamu ya!" Robi berbalik arah setelah menatapku tajam.
Pria itu masuk ke gedung kost. Aku harus pergi dari sini secepatnya, agar kami tidak berpapasan lagi.
"Makasih banyak ya, Pak. Sekarang aku bisa tenang. Lebih baik aku pulang saja." Aku pamit pada beliau.
"Ya sudah kalau begitu, jangan kapok ke sini ya, Mbak."
"Iya, Pak. Makasih sekali lagi." Aku segera berlalu dari tempat pos jaga. Kaki ini melangkah cepat ke coffee shop. Aku harus pergi ke sana karena di sana banyak orang, jadi, aku bisa berbaur dengan pelanggan lainnya.
Sesekali aku berbalik arah, melihat siapa yang ada di belakangku. Rasa ketakutan masih saja mengikuti. Sesampainya di pelataran parkir coffee shop, aku dikejutkan oleh suara seseorang yang mengejutkan.
__ADS_1
"Lan, gue pikir Elu sudah pulang."
"Belum, tadi mampir ke kost bentar, niatnya sih pengen pamitan sama penghuni sebelah. Tapi, malah ada Robi di sana." Sesekali mata ini melirik ke belakang sana.
"Robi? Cowok bajigur itu?" Aku mengiyakan ucapan Damar.
"Dia ngapain Elu? Badan Elu gak ada yang luka, kan?" Pria itu mencengkram kedua bahuku, menggerakkannya ke kiri-kanan.
"Sakit," ringisku.
"Sorry, gue gak sengaja. Elu gak diapa-apain sama Robi, kan?" Aku bernapas lega karena cengkramannya terlepas. Kepala ini menggeleng cepat sambil melirik ke arah jalan.
"Gue anterin Elu pulang sekarang! Ayo masuk mobil!"
"Tapi, aku belum selesai ngobrol sama mereka." Daguku mengarah pada beberapa karyawan yang ada di dalam sana.
"Elu mau papasan sama Robi atau milih pulang bareng gue?" Aku menimbang-nimbang pertanyaan Damar.
"Ya udah, aku pulang ajah." Terpaksa aku mengiyakan.
Kami berdua masuk ke dalam mobil, tadi kulihat sekilas ada beberapa karyawan yang melihat kami berdua dan saling berbisik. Damar seperti orang yang sedang menahan amarah. Aku pernah melihat reaksi seperti ini waktu di basemen gedung pusat perbelanjaan dulu. Ketika dia bertemu dengan Zayn.
"Sebaiknya Elu langsung naik! Gak usah pergi ke mana-mana! Dan satu lagi yang gue minta, jauhi Dimas, mengerti!"
"Iya, iya. Kamu gak mau mampir? Mungkin Ibu sudah masak untuk makan siang."
"Gak, kerjaan gue masih banyak. Sekarang gue mau ke coffee shop yang baru. Lusa, Elu harus siap bekerja."
"Tenang saja! Aku malah suka bekerja."
"Eum, ngomong-ngomong, syarat yang kemarin boleh diperpanjang gak?" Tatapannya begitu lekat.
"Syarat apa?"
"Syarat ini." Dia menunjuk pipi kanannya.
"Boleh aja, tapi nanti aku kecup pake tangan nih." Kuacungkan telapak tangan yang mengepal.
__ADS_1
"Elah, Wulan. Gue cuma bercanda, Elu gak berubah. Masih saja bar-bar sama gue. Kita itu udah bertunangan. Wait, mana cincin Elu?" Dia meraih tanganku, memperhatikan cincin yang sudah tidak ada di tempatnya.
"Gue simpen di tas, ada di sini." Aku merogoh cincin yang aku simpan di dalam kompartemen mungil tanpa resleting.
"Nih, cincinnya." Aku mengacungkan cincin tersebut.
"Pake sekarang juga! Kalau Elu udah make ini, pasti Dimas gak akan deketin Elu. Elu harus jujur sama dia kalau udah punya tunangan biar dia menjauh." Aneh sekali dia ini, ucapannya malah ingin seperti menyebarkan pertunangan kita.
"Gak mau. Ingat sandiwara kita, kita berdua, kan sama-sama terpaksa mengiyakan pertunangan itu. Buat apa aku harus nyebarin pertunangan kita. Gak banget." Aku membantah perkataan Damar.
"Tunggu dulu, mana cincin kamu?" Kuraih tangan kirinya, tak ada cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Berisik, tentu saja gue lepas. Ada di dasbor." Tunjuknya menggunakan dagu. Tangannya menepis tanganku.
"Berarti kita samaan, gak mau pertunangan ini diketahui orang banyak. Kecuali keluarga sendiri. Jadi, gak usah sok ngatur aku harus memakainya atau tidak!" Aku membuka pintu mobil, tubuh ini segera beranjak dari tempat duduk. Menutup pintu mobil dengan keras dan meninggalkan Damar seorang diri.
Begitulah dia, memaksakan kehendak kepada orang lain. Egois tingkat dewa, sama seperti Tante Iren. Kaki ini berjalan di lobi, masuk ke dalam lift yang terbuka. Ada beberapa orang yang tidak kukenal, kami berada di satu lift. Pasti mereka penghuni di unit lainnya. Ingin berbasa-basi tapi moodku sudah hilang duluan karena tingkah Damar.
Sudah sampai di lantai empat belas, aku bergegas turun dari lift. Berjalan di koridor, mengetuk pintu apartemen. Ibu membuka daun pintu.
"Wulan, kenapa wajahmu di tekuk begitu? Ada apa sebenarnya? Coba ceritakan pada Ibu!" Beliau mencecarku. Aku dibimbing ke ruang tengah, duduk di sofa bersebelahan.
Maaf, Bu ... bukannya tidak mau bercerita. Kalau Wulan bicara jujur, pasti aku kena marah lagi. Lebih baik aku bertanya tentang masa lalu kami saja pada Ibu.
"Bu, Wulan Ingin melihat foto-foto masa kecil. Mungkin, kalau Wulan melihat foto itu, aku bisa mengingat kembali kejadian masa silam." Aku merengek pada beliau.
"Jadi, karena masalah ini wajahmu ditekuk begitu?" Aku mengangguk, mengiyakan perkataan beliau.
"Ceritakan, Bu! Wulan juga ingin tahu tentang kakek dan nenek. Masa iya Wulan gak pernah tahu keberadaan kakek nenek sendiri, nama mereka pun Wulan gak tahu. Mereka sudah hidup atau mati pun, Wulan tidak pernah tahu. Sebentar lagi, Wulan berusia dua puluh enam tahun, Ibu dan Bapak tega pada Wulan karena merahasiakan semua itu selama ini." Aku mengeluarkan uneg-uneg tentang pikiran yang berkecamuk selama sebulan terakhir. Dulu, aku terlalu sibuk bekerja sampai melupakan hal itu. Sekarang ini, waktunya aku mencari tahu informasi tentang kedua kakek nenekku.
Ibu masih bungkam, diam seribu bahasa. Bapak menghampiri kami. Beliau duduk di sebelah satunya, aku diapit oleh mereka berdua.
"Bu, lebih baik kita jujur saja! Anak kita sudah dewasa, dia pasti bisa memaklumi kondisi kita." Bapak dan Ibu saling berpandangan.
"Ibu tidak sanggup menceritakan, Pak. Itu aib keluarga kita berdua, bagaimana Ibu bisa menceritakannya pada Wulan? Dia tidak harus tahu tentang siapa kakek dan neneknya." Ibuku menyeka sudut matanya.
"Ibu menangis?" Aku meraih pipi Ibu.
__ADS_1
Kenapa mereka merahasiakan keberadaan orang tua mereka sendiri? Memangnya apa yang orang tua mereka lakukan sampai Ibu dan Bapak tidak pernah mengungkap siapa orang tuanya?