Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Menggali Informasi


__ADS_3

Tante Iren berkacak pinggang, melotot memperhatikan anaknya.


"Ini punya Damar, Mam. Keren, kan?" Dia mengelus jok motornya.


"Siapa yang nyuruh kamu beli motor? Kamu itu gak boleh naik motor sampai kapan pun, mengerti!"


"Mam, Damar sudah dewasa. Jadi, terserah Damar mau naik motor atau mobil." Dia membantah ucapan orang tuanya.


"Damar beli motor karena Wulan. Dia sampai dibonceng teman cowoknya tadi karena Damar gak punya motor." Sialan dia, malah menjadikan aku sebagai alasan agar menghindari perdebatan sengit dengan ibunya sendiri.


Bagus sekali Damar, aku dijadikan kambing hitam. Luar biasa sekali alasannya, batinku geram mendengar perkataannya.


"Lho, enggak Tante. Damar bohong." Aku menampik.


"Bohong? Bukannya kamu boncengan bareng temenmu dari apartemen ke coffee shop gue?" Damar meninggikan sebelah alisnya.


"Eum, kalau itu emang beneran," sahutku singkat.


"Wulan, Kamu itu sudah bertunangan. Kenapa malah pergi bareng pria lain? Mana boncengan segala." Tante Iren memarahiku. Wanita yang dipanggil Mami itu menarik lenganku menuju pintu rumah.


"Damar, ke sini Kamu!" panggilnya pada sang anak. Damar menyusul langkah kami, sesekali aku meliriknya. Dia terkekeh menatapku dan menjulurkan lidahnya.


"Awas Kamu!" Aku berucap tanpa bersuara. Tanganku satunya mengepal dan menunjukkannya pada Damar.


"Kalian berdua duduk!" perintah Tante Iren.


"Mam, kenapa Damar ikutan dimarahi? Seharusnya cuma dia yang kena marah." Pria itu tidak terima.


Tante Iren menjewer telinga Damar sampai dia mengaduh kesakitan.


"Kamu juga sebagai tunangan Wulan tidak bisa menjaganya. Seharusnya kamu menjemput ke apartemen. Malah diantar pria lain."


"Mam, lepasin! Lama-lama ini daun telinga bisa patah." Damar berusaha mengelak tapi tak bisa. Jeweran Tante Iren menempel seperti dilem.


"Mantap." Ups, mulutku segera ditutup menggunakan telapak tangan. Aku menatap Tante Iren, tersenyum kikuk karena perkataan barusan.


"Wulan, jangan harap kamu gak dapat hukuman. Setelah ini, kamu gak boleh ke mana-mana kecuali bersama Damar, ingat itu!" Wanita paru baya tersebut melepaskan jewerannya.


"Besok kalian sudah harus bersiap bekerja di tempat baru. Bukannya beristirahat malah keluyuran sama pria lain." Tante Iren menatapku sengit.


"Dia itu temen Wulan, Tante. Mendadak ada di depan pintu apartemen. Masa iya Wulan biarin begitu saja. Lagipula dia sudah tahu kalau Wulan sudah bertunangan. Makanya kami pamit pada Damar, kami berdua pergi ke coffee shop dan meminta izinnya, dia juga ikut ke tempat gym temen Wulan." Aku tidak mau disalahkan, tentu saja tidak adil bagiku. Ini semua karena Damar yang membeli motor, bukan karena aku mau pun Aditya.

__ADS_1


Tante Iren menatap wajah anaknya, menyipitkan mata seolah sedang meminta penjelasan.


"Damar! Kenapa kamu diam saja?" jeritan Tante Iren membuat kami berdua terlonjak.


"Damar harus bilang apa, Mam? Kan benar apa yang Damar bilang, kalau Wulan dan temannya berboncengan." Pria itu membuatku geram.


"Kenapa malah beli motor?" Tante Iren memukul lengan anaknya.


"Ya karena tadi."


"Bohong!" timpalku cepat.


"Elu gak usah ikutan! Diem ajah tuh mulut!" Tatapannya sengit.


"Aku gak mau diem, kamu yang beli motor malah aku dijadikan alasannya." Diriku tak terima.


"Tante, Wulan mohon, jangan berdebat lagi. Wulan capek." Aku mengeluh karena perdebatan ini. Kalau tidak ada yang mengalah, sampai tengah malam pun pasti masih berdebat.


"Damar ke kamar dulu, Mam. Mau mandi, udah lengket semua nih badan." Dia meninggalkan kami berdua di ruang tengah.


"Wulan, lain kali gak boleh seperti itu, Sayang! Pantas saja Damar marah gak jelas barusan, dia merasa cemburu karena kamu berboncengan dengan pria lain."


"Gak mungkin dia cemburu, Tan. Sejak awal dia menolak perjodohan ini, bukan hanya Damar tapi juga Wulan." Harus berapa kali aku menegaskan kembali tentang perjodohan ini pada beliau, tapi, sepertinya beliau tidak pernah peduli.


"Kamu tidak tahu apa-apa tentang Damar. Kamu harus belajar mengenal sifat dan tabiatnya, Sayang!" Wanita yang melahirkan Damar ini mengelus rambutku.


"Mami menjadi ibunya selama dia hidup, Mami tahu tentang perasaannya. Mami tahu tentang apa yang dia rasakan. Ada nada kecemburuan dan kesal yang bercampur aduk dalam nada suaranya." Aku tidak yakin dengan ucapan wanita di sampingku ini.


"Gak mungkin, Tan." Aku masih berusaha menepisnya.


Diriku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Aku harus menggali informasi tentang kampung halaman Ibu dan Ayah.


"Tante, Wulan mau nanya sesuatu yang penting." Aku beringsut mendekati tubuh beliau.


"Nanya apa, Lan?" Kedua alis bertaut.


"Tante Iren sama Ibu satu sekolah di kampung. Memangnya kampung Tante itu di mana sih?" tanyaku memulai pembicaraan tentang orang tuaku.


"Kampung Ibumu sekarang ini. Kampung Bumi Ayu di Sidoarjo Jawa timur." Aku yakin sekali kalau wanita ini berbohong. Kelopak matanya berkedip berulang kali.


"Tante jangan bohong! Wulan sudah tahu kalau kampung itu bukan kampung asli Tante dan Ibu." Mendengar ucapanku, Tante Iren menatapku lekat, menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Bohong?"


"Tante pasti bohong. Kampung halaman Ibu dan Bapak juga Tante bukan di sana." Aku berusaha mengorek informasi.


"Kamu sudah mengetahuinya ternyata. Apa saja yang Ibumu ucapkan?" Tante Iren menghela napasnya.


"Ibu bercerita tentang kakek nenek Wulan. Wulan ingin sekali bertemu dengan mereka, selama ini Wulan tidak pernah tahu siapa kakek nenek Wulan." Aku menunduk dalam, berusaha mencari empati wanita ini.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau kamu bertemu mereka?"


"Tentu saja Wulan akan memeluk mereka, bertanya kabar mereka. Bertanya keseharian mereka." Aku sudah membayangkan bertemu dengan kakek nenekku di kampung halaman.


"Tante, Wulan mohon bantuannya. Wulan ingin tahu sekaliii ajah sebelum Wulan meninggalkan dunia ini."


"Heh, gak boleh ngomongin kematian! Tarik lagi ucapan kamu, Lan!" Tante berkata keras.


"Iya, Tan, Maaf. Wulan ingin sekali meluapkan kerinduan pada mereka berempat. Tante Iren gak kasihan padaku? Sudah sejak lama aku memendam ini semua, Tan." Aku tidak bisa menyebut ini adalah akting semata, begitulah adanya yang aku rasakan.


Hening, tak ada suara. Tante Iren tampak berpikir keras, menimbang-nimbang ingin mengabulkan keinginanku atau malah sebaliknya.


"Gimana ya, Mami tidak berhak untuk membocorkan informasi ini, Sayang. Bisa-bisa Ibu kamu marah dan memutuskan hubungan persahabatan kami. Tante tidak mau mengambil resiko." Pundakku terasa lemas, kecewa dengan keputusan Tante yang masih merahasiakan hal itu. Wanita ini sungguh setia kawan.


"Tante, tolongin Wulan ya! Setidaknya kasih tahu satu klu agar Wulan bisa mencari informasi tentang itu. Berikan Wulan satu pertanyaan tentang kampung itu."


"Entahlah, Mami juga lama tidak ke sana. Apa ya yang cocok untuk mendeskripsikan kampung halaman kami?" Beliau berpikir keras.


"Coba Tante pikir-pikir lagi! Wulan mau nanya nih."


"Kampung halaman Tante itu di Jawa, Sumatra atau Kalimantan?"


"Pulau yang pertama." Jawaban Tante aku simpan.


"Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jawa Barat?" tanyaku lagi.


"Yang pertama." Aku menyimpan jawaban itu. Secara keseluruhan, beliau tidak berkata apa-apa tentang kampung halamannya. Beliau hanya menjawab pertanyaan singkat dariku. Lumayan memakai trik ini untuk mencari informasi, lama-kelamaan pasti akan ketahuan juga.


"Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Probolinggo, Bojonegoro." Aku hanya menyebutkan tempat secara random yang jauh dari Sidoarjo—tempatku dilahirkan.


Tante Iren menatapku lekat, reaksinya begitu berbeda. Apa jangan-jangan ada di salah satu tempat yang aku sebutkan tadi? Mendadak aku mendapat angin segar.


"Tante, kenapa diam? Kan tinggal jawab ajah!" bujukku lagi.

__ADS_1


__ADS_2