
Dia perempuan yang pernah aku temui di mall. Perempuan yang pernah kutemui bergandengan dengan Riki. Dia ada di sini bersama seorang pria paru baya seumuran Om Purnomo.
"Iya, maaf. Aku gak sengaja." Aku malas mencari ribut. Dengan cepat aku duduk tanpa menoleh ke arahnya.
"Udahlah, gak usah cari masalah! Dia udah minta maaf, Beb." Sayup-sayup terdengar suara pria di sampingnya.
"Ih, norak banget, gak pernah narik kursi di restoran mahal sih, makanya kasar narik kursinya sampai nyenggol orang." Sepertinya dia sengaja bersuara nyaring.
Tanganku mengepal menahan emosi, tanganku bersembunyi di bawah meja agar tidak ada orang yang tahu tentang emosiku.
"Wulan, gak usah dengerin Sayang! Kamu udah minta maaf, itu juga gak sengaja. Dia itu bukan wanita elegan, tapi, bar-bar." Tante Iren menggenggam tanganku yang mengepal. Mengelus punggungku.
"Sudah, kita pesan makanannya sekarang!' Kak Mutiara begitu semangat.
Damar ada di sebelah kiri kursi, dia menyodorkan buku menu. Aku melihat nama-nama masakan Prancis dan Italia yang berbelit. Ada bendera negara itu di buku menu di setiap masakan.
Satu persatu aku membukanya, bingung harus memilih yang mana.
"Lama amat, gak tahu mau mesen apa?" Damar seakan mengerti apa yang ada di pikiranku.
"Hooh, bingung mau milih yang mana. Mau pesan ini takut gak enak, lagian baru pertama kali ke restoran begini."
"Suka spaghetti gak? Atau pilih steak ajah, paling aman. Gimana?" Dia menunjuk lembaran buku menu.
"Kamu ajah yang pilihin, tapi jangan yang susah makannya." Kami berdua sibuk memilih menu yang ingin aku makan.
"Cieee, udah akrab banget nih. Udah kayak soulmate gitu. Nanti lama-lama nyanyi, begitcuuuu syuulit, lupakan Damar. Kikikiki." Selena menggoda, tawanya terkekeh-kekeh.
"Apaan Elu Sel? Berisik." Damar tak menanggapi ucapan adiknya. Selena berhenti menggoda karena tak ada tanggapan dari kakaknya.
"Yang ini ajah deh, kayaknya enak." Aku menunjuk sebuah hidangan steak.
"Tenderloin steak, mau spaghetti gak? Elu kayaknya banyak makan sampai bokong gede begitu."
"Enak saja, sembarangan amat kamu. Kalau banyak makan tuh, perutnya yang gede, bukan bokong." Aku membantah perkataan Damar.
"Ya udah, gue pesenin yang ini ajah. Sama yang ini juga, Elu pasti suka." Akhirnya buku menu berpindah tempat. Kami berdua sudah memesan makanan.
Setelah semua selesai memilih makanan, kami berbincang macam-macam sehingga makanan kami datang, pramusaji menghidangkan makanan di atas meja. Kak Mutia orangnya ramah dan bersahabat, tidak seperti iparnya yang sejak tadi sepertinya melihatku bagaikan mahkluk ghaib diantara ada dan tiada. Kami makan sambil berbincang, sesekali Damar membantu mengiris steak yang ingin kumakan. Aku melirik ke meja perempuan tadi, ternyata mereka sudah pulang, kursinya sudah kosong.
__ADS_1
Malam jam delapan, kami semua kembali ke rumah masing-masing. Dari pagi sampai malam ada di luar, membuat badanku terasa letih. Mending bekerja daripada harus duduk-duduk di restoran. Setidaknya, tubuhku bergerak supaya kesehatan pun terjaga.
Kami tiba di rumah Damar, aku pamit langsung ke kamar. Aku harus membersihkan badan sebelum tidur.
Selang beberapa menit kemudian, aku memakai baju tidur yang disediakan. Berbaring di ranjang, tangan ini telentang, mata melihat langit-langit kamar.
"Baru sehari di sini, udah bosen banget." Baru saja hendak memejamkan mata, ada suara hape yang membuatku urung memejamkan mata.
"Ibu? Tumben." Aku menjawab panggilan itu.
"Iya, Bu. Udah malem tumben nelpon."
"Lan, kamu ada di rumah Iren dan Purnomo ya?"
"Iya, Bu. Memangnya kenapa?"
"Wah, baguslah. Katanya acara pertunangan dipercepat. Seminggu lagi Ibu dan Bapak datang ke Jakarta, seperti biasa, mereka yang ngasih ongkos."
"Bu, jangan seneng gitu! Wulan tuh masih malas dijodohin. Mau nyari cowok selain Damar," ujarku mengungkapkan kekesalan.
"Yakin bisa nyari pria yang lebih dari Damar? Walaupun dia masih asdos, tapi, punya coffe shop juga. Dia bekerja dan berbisnis, kurang apa lagi coba si Damar?" Ucapan Ibu membuatku semakin kesal.
"Ibu gak ngerti sih gimana kelakuannya."
"APAAAA? IBU GAK SALAH?" teriakku karena tak terima dia dipuji seperti itu oleh Ibu.
"Nih anak kebangetan, kuping Ibu sampe berdenging."
"Maaf, Bu. Lagian Ibu itu kalau mau boong, mbok ya dikira-kira dulu."
"Bohong? Bohong tentang apa?"
"Tentang Damar."
"Elu ngomongin gue?" Sosok Damar muncul di depan mata.
"Damar, kenapa kamu bisa ada di kamarku?" Aku mengacuhkan Ibu di seberang telepon.
"Gue di sini karena disuruh Mami. Sono geh! Dan satu lagi, ini bukan kamar Elu, jadi, serah gue mau ke sini kapan ajah selama pintu gak dikunci." Setelah mengucapkan itu, dia melenggang pergi.
__ADS_1
"Hiiiih, tuh cowok pengen aku t0njok kepalanya," geramku sambil mengepalkan tangan.
"Lan, Wulan!" Suara itu berasal dari hape.
"Iya, Bu. Ibu denger sendiri gak? Tadi itu Damar, kayak gitu dibilang baik dan ramah. Yang ada bikin tensi naik. Udah deh, Bu. Wulan mau ke luar kamar dulu. Dipanggil sahabat Ibu tuh." Tanpa menunggu respon Ibu, aku memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Aku ke luar dari kamar, menuju ke ruang keluarga. Mereka semua berkumpul di sana, duduk sambil berceloteh.
"Wulan, sini dong! Masa iya ngendon di kamar ajah." Tante Iren menepuk sofa di sebelahnya.
"Ada apa, Tan?" Aku ragu untuk mendekat.
"Sini, Mami mau bikinin kamu kebaya untuk acara tunangan. Tapi, karena acaranya minggu depan, mepet banget, jadi, kamu pilih ajah deh sendiri di katalog ini!" Beliau menyodorkan hapenya.
"Tante, apa gak berlebihan? Ini kan hanya tunangan?"
"Hanya tunangan kamu bilang?" Sepertinya aku salah bicara, Tante kesal padaku. Wajahnya ditekuk.
"Nurut ajah ngapa sih!"
"Maaf, Tante." Aku mendekati, duduk di sebelahnya kemudian melihat katalog produk pada sebuah akun sosial media. Setelah berbincang mengenai ukuran dan segalanya tentang kebaya, aku memutuskan memilih satu model yang cocok untukku. Tante Iren pun setuju dengan pilihanku.
Aku pamit kembali ke kamar karena sudah mengantuk.
***
Dua hari berganti, sebelum kedatangan Ibu dan Bapak, aku harus mencari kontrakan yang dekat dengan rumah ini. Uangnya sudah ditransfer oleh Tante Iren untuk menyewa rumah itu selama setahun penuh. Seperti biasa, aku mencarinya bersama Damar. Kami berada di mobil, tak ada percakapan diantara kami.
Lampu jalan berubah merah, kendaraan berhenti.
"Mar, tuh lihat di samping depan!" Tunjukku pada jalanan di depan.
"Memangnya ada apa?" Kelopak matanya sampai menyipit.
"Masa iya kamu gak lihat?" Aku melihat Zayn berbincang dengan seorang perempuan di trotoar jalan.
Damar menurunkan jendela kaca, dia menekan klakson beberapa kali sampai telingaku berdenging.
"Kamu ngapain, Mar?"
__ADS_1
"Diam! Mereka bukan hanya berdua, ada lagi yang datang."
Eits, siapa itu, padahal yang aku maksudkan si Zayn, kenapa dia malah membahas orang lain?