Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Memulai Pencarian di Bojonegoro


__ADS_3

"Janji dulu kalau kamu gak bakalan bilang pada siapa pun." Damar menghentikan langkahnya. Kepala ini mengangguk cepat.


"Aku punya bisnis properti, awalnya hanya menjadi makelar tanah sejak semester lima, sekarang merambat ke bisnis properti. Alhamdulillah walau pun belum besar, setidaknya bisa memenuhi keinginanku shopping." Dia sungguh luar biasa, menjadi asdos, sebentar lagi statusnya menjadi dosen. Memiliki dua coffee shop dan slot saham yang tersebar di beberapa perusahaan besar, walau hanya satu persen saja, nilainya tidak main-main.


"Mas, kamu itu pinter banget. Bisa memanfaatkan peluang." Aku kagum pada lelaki di depanku ini.


"Ketika berkeluarga nanti, aku tidak mau menyusahkan istri dan anak-anak. Mereka harus bahagia dan bangga memiliki ayah yang bertanggung jawab. Aku tidak mau mereka seperti masa remajaku yang kesusahan. Kamu pasti sudah tahu ceritanya dari Mami." Lelaki ini mengelus rambutku. Dibalik sikapnya yang berubah-ubah, hatinya begitu baik.


"Anak-anak kita nanti pasti bangga dengan perjuangan ayahnya." Aku tak tahan lagi untuk memeluknya.


Kami berpelukan erat, beberapa pasang mata menatap kami. Aku yang mulai risih mengurai pelukan. Kami melanjutkan lagi ke luar masuk toko sesuai keinginan tunanganku itu.


Siang telah kami lalui bersama, sekitar jam tiga sore, kami berdua pulang ke rumah keluarga Damar. Aku harus mengajak Selena agar rencana kami berhasil. Dia itu orangnya gampang kasihan, tinggal menunjukkan raut wajah memelas dan sedih, dia pasti menuruti kemauan kita.


Kami berdua berjalan sambil bergandengan, aku bergelayut mesra di lengannya. Sekarang, aku melakukannya dengan suka rela, bukan karena paksaan.


"Ehem, lengket banget." Orang yang menjadi target kami muncul di depan mata.


"Bentar lagi mau nginguk-nginguk, makanya harus lengket dari sekarang." Damar menyahut.


"Mas, apaan coba." Aku memukul lengannya.


Selena memegang sebuah gelas kaca berisi minuman sirup. Aku mengerlingkan sebelah mata pada Damar, memberikan kode untuk mendekati Selena.


"Sel, boleh kita bicara berdua saja? Kakak mau ngobrol sama kamu bentar, sebenernya mau minta tolong juga." Aku melepaskan genggaman tangan. Kudorong tubuh Damar agar menjauh dari kami.


"Sayang, kenapa aku diusir? Memangnya kamu mau ngobrol apa dengan Selena?" Aku sengaja mendorong tubuhnya menjauh.


"Mas tunggu di sini ajah deh, aku mau ngobrol bentar sama Selena." Kaki ini menjauh dari Damar. Dia berpura-pura kesal padaku, aktingnya boleh juga.

__ADS_1


"Kak, yakin mau ngobrol sama gue? Tuh lihat dia!" Tunjuk Selena pada Abangnya.


"Yakin, ayo ke kamarmu saja!" Aku menarik Selena, kami menapaki anak tangga satu persatu.


Sesampainya di lantai dua, Selena membuka pintu kamarnya. Kami berdua duduk di pinggiran ranjang.


"Sel, duh ... gimana ngomongnya ya?" Wajah ini kupaksakan gelisah dan ragu.


"Memangnya Kakak mau ngomongin apa? Ayo dong cerita!" Gadis ini meneguk minuman kemudian meletakkan gelas kosong itu di atas meja rias. Sekembalinya Selena, aku memulai pembicaraan lagi.


"Begini, Sel ... Damar ngajak Kakak liburan ke Bojonegoro, mana liburannya nginep. Dia bilang dua hari satu malam. Kakak gak berani minta izin sama Ibu dan Bapak kalau begitu, tahu sendiri kalau orang tua Kakak gak mungkin ngizinin anaknya pergi berdua saja dengan lawan jenis walau pun itu tunangannya sendiri." Kucoba untuk membuat raut wajah sesedih mungkin.


"Lah, apa hubungannya dengan gue, Kak?" Dia bertanya.


"Eum, gimana ya ... seandainya kamu ikut Kakak minta izin sama Ibu dan Bapak, pasti mereka bakalan ngizinin. Aku mau ngajak kamu liburan bareng." Kujelaskan padanya.


"Ayolah, Sel! Damar gak tahu tentang rencanaku yang ngajak kamu liburan. Kita kasih kejutan buat dia." Aku kembali meminta padanya.


"Jadi, Mas Damar gak tahu tentang ini?" tanyanya memastikan, aku menggeleng cepat.


"Heum, gimana ya ... Selena pikir-pikir dulu deh. Kayaknya seru juga ngelihat tampang bete Mas Damar." Yes, dia mulai tertarik.


"Gak usah lama-lama! Besok kita pergi ke apartemen, izin sama Ibu dan Bapak. Tapi, kamu gak usah bilang kita ke mana dan sama siapa. Kakak takut kalau gak diizinin," cerocosku.


Akhirnya Selena setuju dengan apa yang kupinta. Aku bisa bernapas lega. Aku harus pergi bekerja, walau telat tak mengapa, Damar menyuruh satu orang agar pulang terlambat untuk menggantikan aku. Sepulang bekerja, aku bisa tidur dengan nyenyak karena rencana kami berhasil. Besok pagi, Selena akan ke sini dan menyampaikan maksud kedatangannya.


Keesokan paginya, sekitar jam delapan pagi, gadis itu berdiri di depan pintu. Kebetulan Ibu yang membuka pintunya. Gadis itu tersenyum ramah pada orang tuaku. Setelah sedikit berbasa-basi, Selena mengutarakan maksudnya. Tak harus menunggu lama-lama, izin dari orang tuaku sudah kami kantongi. Setelah beberapa saat mereka kembali mengobrol, ada suara telpon dari hape Selena. Gadis itu terpaksa pergi karena ada panggilan mendesak dari kampusnya.


Setelah kepergian Selena, aku harus bersiap pergi bekerja. Senyum terkembang sejak izin dari Ibu dan Bapak terdengar.

__ADS_1


"Lan, ingat, di mana pun kamu berada, harus bisa jaga diri." Ibu memperingatkan sebelum aku pergi bekerja. Aku memeluk beliau begitu lama.


Aku pamit pada Ibu dan Bapak, melangkah menuju koridor. Ah, rasanya langkahku semakin dekat dengan mereka—kakek nenekku. Ingin rasanya aku merangkul tubuh ringkih mereka semua satu persatu. Damar menyusulku, dia menunggu di lobi. Sengaja aku memasang tampang sedih di depannya, berpura-pura tidak mendapatkan izin.


"Kamu yakin, Yang?" Wajahnya berubah murung.


"Yakin, tapi ... tapi, boong." Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya yang frustasi.


"Sayang, gak lucu." Dia mencubit kedua pipiku, rasanya perih.


"Aduh, sakit," ringisku.


"Sorry, lagian kamu itu gemesin banget." Pria ini mengecup pipi kanan kiri.


"Banyak orang, ayo kita berangkat kerja!" ajakku. Kami berdua masuk ke dalam mobil.


Dua hari telah berlalu sejak mendapatkan izin. Hari ini jadwal keberangkatan kami bertiga. Kami sudah ada di stasiun Gambir, keberangkatan kereta kurang tiga puluh menit lagi. Kami masuk sesuai gerbong dan nomor tempat duduk yang tertera pada tiket. Damar sengaja cemberut sejak kami berangkat tadi. Dia menatap Selena dengan sinis, tapi, yang ditatap malah tersenyum lebar, terkadang terkekeh geli.


Kami berada di dalam kereta api selama tujuh jam tiga puluh menit. Syukurlah kami mendapat tiket keberangkatan pagi, sore jam tiga lewat tiga puluh menit, kami ke luar dari gerbong kereta. Stasiun di sini tidak seperti di ibu kota. Damar memanggil taksi yang ada di sana. Bertanya pada pak sopir di mana alamat wisata kayangan api.


"Mas, ngapain liburan di sana? Gak seru ah kalau ke sana." Tiba-tiba Selena protes, padahal di kereta tadi dia begitu bersemangat.


"Kalau gak mau ikut, kita ke hotel ajah dulu! Setelah itu Elu bebas mau ke mana saja asal gak ngilang ajah di sini." Damar menoleh ke belakang, dia duduk di samping pak sopir.


"Terserah deh," ujarnya pasrah.


"Tapi, tunggu dulu ... kenapa kalian berdua liburan di sini? Kenapa gak ke kota besar? Malah pergi ke kota kecil seperti ini?" Selena tampaknya mulai curiga.


Aku dan Damar saling melirik melalui kaca spion yang ada di atas dasbor.

__ADS_1


__ADS_2